PULANG MEMBANGUN DESA
Roman Inspiratif tentang Cinta, Pengabdian, dan Harapan dari Pelosok
Negeri
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Roman Pulang untuk Membangun Desa
adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, organisasi,
serta konflik yang terdapat di dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi
penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama,
tempat, latar, maupun peristiwa dengan keadaan nyata, hal tersebut semata-mata
merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.
Karya ini ditulis sebagai refleksi
tentang semangat pengabdian, gotong royong, cinta terhadap tanah kelahiran,
serta keyakinan bahwa perubahan di desa dapat tumbuh dari keberanian
orang-orang yang memilih untuk peduli.
PROLOG
Jalan yang Membawa Pulang
Sore itu, langit di atas Desa Suka
Makmur berwarna kelabu kemerahan. Matahari perlahan tenggelam di balik deretan
pohon karet yang berdiri di sepanjang jalan desa. Debu tipis beterbangan setiap
kali kendaraan melintas, lalu kembali jatuh perlahan di atas rerumputan, pagar
kayu, dan halaman rumah warga.
Sebuah mobil tua berhenti di dekat
papan kayu yang catnya mulai memudar.
SELAMAT DATANG DI DESA SUKA MAKMUR
Desa Gotong Royong, Desa Penuh Harapan.
Erlangga turun perlahan dari kendaraan
itu. Kedua matanya memandang jalan tanah yang pernah begitu akrab dalam
ingatannya. Jalan yang dahulu ia lalui dengan sepeda tua menuju sekolah. Jalan
yang pernah menjadi saksi langkah-langkah kecilnya saat membawa buku di bawah
ketiak. Jalan yang juga menjadi saksi kepergiannya, ketika ia meninggalkan desa
dengan keyakinan bahwa masa depan hanya dapat ditemukan di kota.
Bertahun-tahun lamanya ia hidup di
antara gedung tinggi, jalan raya, dan suara kendaraan yang tak pernah
benar-benar berhenti. Di kota, ia belajar banyak hal: tentang pekerjaan,
persaingan, kesibukan, dan ambisi. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin
sering pula ia merasa ada bagian dari dirinya yang tertinggal.
Bagian itu bernama rumah.
Desa Suka Makmur masih tampak sama
dalam banyak hal. Sungai kecil di belakang perkampungan masih mengalir pelan.
Sawah-sawah masih terbentang, meski sebagian mulai berubah menjadi kebun.
Anak-anak masih bermain di tepi jalan ketika sore tiba. Namun, di balik semua
yang tampak biasa itu, Erlangga melihat banyak hal yang belum berubah.
Jalan desa masih rusak. Bangunan
sekolah terlihat kusam. Balai desa berdiri sepi dengan cat dinding yang
mengelupas. Beberapa warga masih harus menempuh perjalanan jauh untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan. Banyak pemuda memilih pergi merantau karena
merasa tidak ada masa depan yang bisa diperjuangkan di kampung sendiri.
Erlangga menarik napas panjang.
Ia tidak pulang membawa jabatan. Ia
tidak pulang dengan kemewahan. Ia hanya membawa beberapa tas, sejumlah buku,
pengalaman dari kota, dan sebuah tekad yang selama ini tumbuh diam-diam dalam
dirinya.
Ia ingin mencoba.
Ia ingin membuktikan bahwa desa tidak
selalu harus menjadi tempat yang ditinggalkan. Bahwa tanah kelahiran bukan
sekadar halaman masa kecil yang dikenang ketika rindu datang. Desa juga dapat
menjadi ruang untuk bekerja, belajar, mencintai, dan membangun masa depan.
Dari kejauhan, terdengar suara
anak-anak tertawa. Erlangga menoleh ke arah sebuah bangunan kecil di samping
sekolah dasar. Di berandanya, seorang perempuan sedang duduk bersama beberapa
anak. Perempuan itu membacakan buku dengan suara lembut, sementara anak-anak
mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.
Erlangga terdiam.
Wajah itu tidak asing.
Khinanti.
Nama yang pernah tinggal begitu lama
dalam ingatannya. Nama yang dulu selalu hadir dalam hari-hari sekolahnya. Nama
yang tidak pernah benar-benar hilang, meski waktu telah membawa mereka ke jalan
yang berbeda.
Khinanti mengangkat wajah. Pandangan
mereka bertemu dari kejauhan.
Beberapa detik terasa seperti
tahun-tahun yang telah berlalu.
Tidak ada senyum yang langsung
menyambut. Tidak ada sapaan hangat yang segera terucap. Hanya ada diam yang
menyimpan banyak pertanyaan, banyak kenangan, dan mungkin juga luka yang belum
sepenuhnya selesai.
Erlangga tahu, kepulangannya tidak
akan mudah.
Ia harus menghadapi keraguan ayahnya,
pandangan warga, kebiasaan lama yang sulit diubah, serta orang-orang yang
merasa nyaman dengan keadaan desa yang berjalan tanpa perubahan. Ia juga harus
berhadapan dengan masa lalunya sendiri, termasuk janji-janji yang pernah ia
tinggalkan tanpa penjelasan.
Namun, di bawah langit senja Desa Suka
Makmur, Erlangga memahami satu hal.
Pulang bukan sekadar kembali ke tempat
asal.
Pulang adalah keberanian untuk
menetap, memperbaiki, dan menjaga apa yang selama ini hampir ditinggalkan.
Dan dari jalan desa yang berdebu itu,
sebuah perjalanan baru pun dimulai—perjalanan tentang cinta, pengabdian, dan
harapan yang tumbuh dari pelosok negeri.
BAB I
Jalan Pulang yang Berdebu
Mobil tua yang ditumpangi Erlangga
kembali bergerak perlahan setelah berhenti beberapa saat di dekat papan selamat
datang Desa Suka Makmur. Roda-rodanya berputar di atas jalan tanah yang tidak
rata. Sesekali kendaraan itu berguncang cukup keras ketika melewati
lubang-lubang kecil yang dipenuhi air sisa hujan beberapa hari sebelumnya.
Erlangga duduk diam di kursi belakang.
Pandangannya tidak lepas dari jendela. Hamparan kebun karet, ladang jagung, dan
rumah-rumah kayu yang berdiri berjauhan seolah menyambutnya dengan cara yang
sederhana. Tidak ada kemewahan. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada hiruk-pikuk
kendaraan seperti di kota.
Yang ada hanya suara angin,
burung-burung yang pulang ke sarang, dan anak-anak yang berlari tanpa alas kaki
di pinggir jalan.
“Sudah lama tidak pulang, Lang?” tanya
Pak Karman, sopir mobil yang juga tetangga lamanya.
Erlangga menoleh dan tersenyum tipis.
“Hampir delapan tahun, Pak.”
Pak Karman mengangguk sambil tetap
memegang kemudi. “Delapan tahun itu lama. Desa ini banyak berubah, tapi banyak
juga yang tetap begitu-begitu saja.”
Kalimat itu membuat Erlangga kembali
memandang ke luar. Ia memahami maksud Pak Karman. Ada beberapa rumah baru yang
berdiri dengan dinding semen dan atap seng mengilap. Namun, jalan desa masih
berlubang. Saluran air di sisi jalan tampak dangkal dan tertutup rumput.
Beberapa anak kecil membawa jeriken air dari arah sumur umum.
“Sekolah dasar masih di tempat yang
sama, Pak?” tanya Erlangga.
“Masih,” jawab Pak Karman.
“Bangunannya sudah beberapa kali diperbaiki, tapi ruang kelasnya kurang. Kalau
hujan besar, bagian belakangnya masih bocor. Anak-anak belajar sambil
geser-geser meja.”
Erlangga terdiam.
Ia teringat masa kecilnya. Dulu,
sekolah dasar itu terasa seperti tempat paling besar di dunia. Dindingnya penuh
gambar pahlawan, peta Indonesia, dan tulisan-tulisan motivasi yang dibuat oleh
guru. Di sanalah ia belajar mengeja, berhitung, dan mengenal mimpi.
Namun, kini setelah bertahun-tahun
berlalu, sekolah itu masih berdiri dengan persoalan yang hampir sama.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah
kayu yang berdiri di ujung jalan kecil. Halamannya cukup luas, dipenuhi tanaman
cabai, singkong, dan beberapa pohon pisang. Di samping rumah terdapat kandang
ayam sederhana. Sebuah sepeda tua bersandar di dinding, sementara jemuran
pakaian bergerak perlahan tertiup angin sore.
Erlangga turun dan mengambil tasnya.
Belum sempat ia melangkah jauh,
seorang laki-laki tua keluar dari dalam rumah. Tubuhnya tidak lagi setegap yang
Erlangga ingat. Rambutnya telah banyak memutih. Namun, sorot matanya masih
sama: tegas, dalam, dan sulit ditebak.
“Bapak,” ucap Erlangga pelan.
Pak Sastro berhenti beberapa langkah
dari teras. Ia memandang putranya cukup lama, seakan ingin memastikan bahwa
pemuda di hadapannya benar-benar Erlangga yang dulu pergi membawa koper kecil
dan cita-cita besar.
“Kau akhirnya pulang,” katanya.
Suara Pak Sastro terdengar datar.
Tidak dingin, tetapi juga belum sepenuhnya hangat.
Erlangga menundukkan kepala. “Iya,
Pak. Aku pulang.”
Dari dalam rumah, seorang perempuan
paruh baya bergegas keluar. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat
Erlangga.
“Langga...” suaranya bergetar.
Erlangga segera menghampiri dan
memeluk ibunya. Bu Marni memegang wajah anaknya dengan kedua tangan, lalu
tersenyum di antara air mata yang jatuh.
“Kau makin kurus,” katanya. “Di kota
makan tidak teratur, ya?”
Erlangga tersenyum kecil. “Makan
teratur, Bu. Mungkin karena kerjaan saja.”
“Kerjaan apa pun jangan sampai lupa
jaga badan,” jawab Bu Marni. “Kau sudah pulang, sekarang makan yang banyak.”
Pak Sastro berdeham pelan, seolah
ingin memecah suasana haru yang mulai memenuhi halaman rumah.
“Masuklah. Barangmu nanti dibantu
ambil,” katanya singkat.
Di dalam rumah, hampir tidak banyak
yang berubah. Lemari kayu di sudut ruang tamu masih berdiri di tempat yang
sama. Foto keluarga yang tergantung di dinding masih tersusun rapi. Ada foto
Erlangga ketika lulus sekolah dasar, foto saat ia mengenakan seragam putih
abu-abu, dan foto ketika ia berangkat ke kota untuk kuliah.
Erlangga memandangi foto terakhir itu
cukup lama.
Dalam foto tersebut, ia berdiri dengan
wajah penuh keyakinan. Di sampingnya ada Pak Sastro dan Bu Marni. Waktu itu,
semua orang percaya Erlangga akan berhasil di kota. Ia akan mendapat pekerjaan
baik, hidup lebih layak, lalu membantu keluarga dan desanya dari jauh.
Namun, hidup tidak selalu berjalan
seperti rencana.
Setelah menyelesaikan kuliah, Erlangga
memang mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan konsultan pembangunan. Gajinya
cukup. Ia tinggal di kamar kos yang nyaman dan menjalani hari-hari yang padat.
Akan tetapi, setiap kali mengerjakan laporan tentang pembangunan daerah,
perencanaan wilayah, atau program pemberdayaan masyarakat, pikirannya selalu
kembali kepada Desa Suka Makmur.
Ia sering bertanya pada dirinya
sendiri: untuk siapa semua ilmu itu jika desanya sendiri masih tertinggal?
“Jadi, kau benar-benar berhenti kerja
di kota?” tanya Pak Sastro, memecah lamunan Erlangga.
Erlangga menoleh. Ayahnya duduk di
kursi kayu sambil memegang gelas teh.
“Iya, Pak,” jawabnya. “Kontrakku sudah
selesai. Aku memutuskan tidak memperpanjang.”
Pak Sastro menghela napas perlahan.
“Banyak orang pergi dari desa untuk mencari pekerjaan. Kau sudah punya
pekerjaan, malah memilih pulang.”
“Aku ingin mencoba membangun sesuatu
di sini, Pak.”
“Membangun apa?” tanya Pak Sastro
cepat.
Erlangga diam sejenak. Ia tahu
pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu. Di dalamnya ada kecemasan, kekecewaan,
dan mungkin ketidakpercayaan.
“Aku ingin membantu kegiatan pemuda,
pendidikan anak-anak, usaha warga, dan kalau bisa ikut mendorong pembangunan
desa,” jawab Erlangga.
Pak Sastro tersenyum tipis, tetapi
senyum itu tidak sepenuhnya menyiratkan kebanggaan.
“Desa ini sudah punya kepala desa,
perangkat desa, pendamping desa, dan banyak orang yang lebih lama tinggal di
sini. Kau baru pulang, lalu ingin mengubah semuanya?”
“Aku tidak ingin mengubah semuanya
sendiri, Pak. Aku hanya ingin ikut bekerja.”
“Bekerja di desa tidak selalu
menghasilkan uang,” kata Pak Sastro. “Kau pikir hidup hanya cukup dengan niat
baik?”
Bu Marni yang sejak tadi menyiapkan
makanan di dapur berhenti sejenak. Ia menatap suami dan anaknya, lalu berkata
dengan hati-hati.
“Biarkan Erlangga beristirahat dulu.
Perjalanan jauh. Besok-besok saja bicara soal pekerjaan.”
Pak Sastro tidak menjawab. Ia
menghabiskan teh di gelasnya, lalu berdiri.
“Ayah hanya tidak ingin kau pulang
membawa mimpi yang terlalu tinggi, lalu kecewa karena kenyataan desa tidak
seperti yang kau bayangkan.”
Setelah berkata demikian, Pak Sastro
melangkah keluar rumah.
Erlangga menatap punggung ayahnya
hingga menghilang di balik pintu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia
memahami kekhawatiran itu. Pak Sastro bukan tidak menyayanginya. Ayahnya hanya
terlalu lama hidup dalam keadaan yang mengajarkan bahwa harapan sering kali
mahal.
Malam datang perlahan.
Setelah makan malam, Erlangga duduk
sendirian di beranda rumah. Lampu kuning kecil menggantung di atas pintu. Dari
kejauhan terdengar suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing dari rumah
tetangga. Udara malam desa terasa lebih dingin daripada yang ia ingat.
Di tangannya, Erlangga memegang sebuah
buku catatan hitam yang selalu dibawanya dari kota. Di dalamnya terdapat banyak
gagasan: rumah baca, pelatihan keterampilan pemuda, kebun pangan keluarga,
kelompok usaha kecil, bank sampah, dan kegiatan belajar untuk anak-anak.
Sebagian gagasan itu tampak sederhana.
Namun, ia tahu bahwa untuk mewujudkannya, ia membutuhkan lebih dari sekadar
rencana.
Ia membutuhkan kepercayaan.
Ia membutuhkan orang-orang yang mau
berjalan bersamanya.
Keesokan paginya, Erlangga bangun
lebih awal. Matahari baru saja muncul ketika ia berjalan menuju pusat desa. Ia
ingin melihat keadaan desa dengan lebih dekat. Jalan yang ia lewati masih basah
oleh embun. Beberapa warga sudah berangkat ke kebun. Seorang ibu menyapu
halaman rumah, sementara beberapa anak berseragam sekolah berjalan berkelompok
sambil membawa tas yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka.
Ketika melewati bangunan sekolah
dasar, langkah Erlangga melambat.
Dinding sekolah itu memang tampak
kusam. Beberapa bagian catnya mengelupas. Atap di sisi belakang terlihat
miring. Namun, di samping sekolah terdapat bangunan kecil dengan papan nama
sederhana.
RUMAH BACA HARAPAN
Pintu bangunan itu terbuka. Di
dalamnya, beberapa anak duduk di atas tikar sambil membaca buku bergambar. Di
antara mereka, seorang perempuan sedang menyusun buku-buku di rak kayu.
Khinanti.
Erlangga berdiri beberapa saat di
depan pintu. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Delapan tahun bukan waktu
yang singkat. Ada banyak kata yang tidak pernah sempat ia ucapkan. Ada banyak
alasan yang mungkin terdengar terlambat.
Khinanti menyadari kehadirannya. Ia
menoleh perlahan.
Wajahnya masih menyimpan ketenangan
yang sama seperti dulu. Namun, kini ada ketegasan yang membuatnya tampak
berbeda. Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru muda dan jilbab krem.
Tangannya masih memegang beberapa buku.
“Erlangga?” tanyanya.
Erlangga tersenyum tipis. “Iya. Aku
pulang.”
Khinanti memandangnya sesaat, lalu
kembali menyusun buku di rak.
“Aku dengar dari Pak Karman kemarin
sore,” katanya datar. “Katanya kau pulang dari kota.”
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Untuk apa?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi
membuat Erlangga kehilangan kata-kata.
Anak-anak di dalam rumah baca mulai
memperhatikan mereka. Seorang anak kecil bahkan menghentikan kegiatan
mewarnainya. Erlangga tidak ingin percakapan itu menjadi semakin canggung di
hadapan mereka.
“Aku ingin melihat rumah baca ini,”
katanya akhirnya. “Bagus sekali.”
Khinanti mengangguk kecil. “Tidak
besar. Hanya tempat anak-anak membaca setelah pulang sekolah.”
“Ini penting.”
“Banyak hal yang penting di desa ini,
Langga. Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan cukup lama untuk
mengerjakannya.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi
terasa tajam.
Erlangga menundukkan kepala. Ia tahu
Khinanti tidak hanya bicara tentang rumah baca.
“Aku memang pergi,” ucapnya. “Dan aku
tahu aku tidak menjelaskan banyak hal waktu itu.”
Khinanti menghela napas. “Itu sudah
lama. Tidak perlu dibicarakan sekarang.”
“Aku tetap ingin minta maaf.”
Khinanti akhirnya menatapnya. Untuk
pertama kalinya, Erlangga melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik
ketenangan perempuan itu: kecewa yang belum sepenuhnya hilang.
“Kalau kau pulang hanya untuk meminta
maaf, kau tidak perlu tinggal lama-lama,” katanya. “Tapi kalau kau pulang untuk
benar-benar bekerja bagi desa ini, jangan hanya datang membawa kata-kata.”
Erlangga mengangguk perlahan.
“Aku tidak ingin hanya membawa
kata-kata, Khinanti.”
Khinanti tidak langsung menjawab. Ia
menoleh kepada anak-anak yang mulai kembali membaca. Lalu, dengan suara yang
lebih tenang, ia berkata,
“Kalau begitu, buktikan.”
Erlangga berdiri di depan Rumah Baca
Harapan cukup lama setelah Khinanti kembali mengajar anak-anak. Angin pagi
membawa aroma tanah basah dan daun-daun yang baru tersentuh matahari.
Di hadapannya, desa itu tetap sama:
jalan berlubang, sekolah sederhana, rumah-rumah kayu, dan wajah-wajah warga
yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya.
Namun, bagi Erlangga, pagi itu Desa
Suka Makmur tidak lagi sekadar tempat ia pulang.
Desa itu telah menjadi alasan untuk bertahan.
Dan di antara rak-rak buku sederhana,
suara anak-anak yang membaca, serta tatapan Khinanti yang penuh tuntutan,
Erlangga menemukan awal dari perjalanan yang jauh lebih besar daripada dirinya
sendiri.
BAB II
Balai Desa yang Sunyi
Tiga hari setelah kepulangannya,
Erlangga mulai terbiasa dengan irama pagi di Desa Suka Makmur. Ia bangun
sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri, membantu ibunya memberi makan
ayam, lalu berjalan mengelilingi halaman rumah sambil memperhatikan kebun kecil
milik ayahnya.
Di kota, pagi selalu dimulai dengan
suara kendaraan, dering telepon, dan langkah orang-orang yang terburu-buru
mengejar waktu. Di desa, pagi datang dengan suara ayam berkokok, desir daun
pisang, serta aroma tanah yang masih basah oleh embun.
Namun, ketenangan itu tidak membuat
pikiran Erlangga berhenti bekerja.
Setiap hari, ia melihat persoalan yang
sama. Anak-anak berjalan cukup jauh menuju sekolah. Sebagian warga membawa
hasil kebun dengan sepeda motor melewati jalan yang rusak. Beberapa ibu harus
menunggu kendaraan yang tidak selalu tersedia untuk pergi ke puskesmas pembantu
di desa tetangga. Di warung kopi, para pemuda lebih banyak membicarakan rencana
merantau daripada membicarakan apa yang dapat dilakukan di kampung sendiri.
Pagi itu, Jatmiko datang ke rumah
Erlangga dengan sepeda motor tua. Suara knalpot motornya terdengar dari ujung
jalan sebelum orangnya terlihat.
“Langga!” teriaknya dari halaman. “Kau
ada di rumah?”
Erlangga yang sedang menyiram tanaman
menoleh. Ia tersenyum ketika melihat sahabat masa kecilnya itu turun dari motor
sambil membawa helm yang catnya telah banyak terkelupas.
“Masuk saja, Miko,” kata Erlangga.
Jatmiko menghampiri sambil tertawa.
“Kau benar-benar sudah berubah. Baru beberapa hari pulang, sudah seperti petani
teladan.”
“Kalau tinggal di desa, ya harus
belajar lagi hidup seperti orang desa,” jawab Erlangga.
“Orang kota yang sok desa,” goda
Jatmiko.
Erlangga hanya tersenyum. Ia mengenal
Jatmiko sebagai sahabat yang tidak pernah benar-benar berubah. Sejak kecil,
Jatmiko selalu menjadi orang yang paling mudah tertawa, paling cepat bergaul,
dan paling berani mengatakan sesuatu apa adanya.
“Ngomong-ngomong,” kata Jatmiko sambil
duduk di bangku kayu dekat teras, “siang nanti ada rapat di balai desa. Katanya
mau membahas rencana kegiatan desa dan usulan pembangunan.”
“Rapat desa?” tanya Erlangga.
“Iya. Kepala desa mengundang tokoh
masyarakat, ketua RT, kelompok tani, pemuda, kader posyandu, dan beberapa
warga. Kau datang saja. Biar orang-orang tahu kau sudah pulang.”
Erlangga terdiam sejenak.
“Memangnya warga biasa boleh ikut?”
Jatmiko mengangkat bahu. “Boleh atau
tidak, biasanya tergantung siapa yang datang. Tapi kalau mau dengar, ya datang
saja. Paling duduk di belakang.”
“Kalau begitu, aku ikut.”
Jatmiko tersenyum lebar. “Bagus. Tapi
satu pesan, jangan terlalu cepat bicara soal ide-ide kota itu. Di desa ini,
orang lebih mudah percaya pada yang sudah mereka kenal daripada yang baru
datang membawa rencana.”
“Aku bukan orang baru, Miko.”
“Bukan baru sebagai orang,” jawab
Jatmiko. “Tapi baru sebagai orang yang mau ikut campur urusan desa.”
Kalimat itu membuat Erlangga berpikir.
Ia tahu Jatmiko tidak bermaksud meremehkan. Sahabatnya hanya mengingatkan bahwa
kepulangan tidak otomatis membuat seseorang kembali dipercaya. Bertahun-tahun
tinggal jauh dari desa membuat Erlangga harus belajar mengenal ulang tempat
kelahirannya.
Menjelang siang, Erlangga mengenakan
kemeja putih sederhana dan celana hitam. Bu Marni sempat memperhatikan
penampilannya dari dapur.
“Mau ke mana, Langga?” tanyanya.
“Ada rapat di balai desa, Bu. Jatmiko
mengajak.”
Bu Marni berhenti mengaduk sayur di
atas tungku.
“Rapat desa?” tanyanya pelan.
“Iya.”
Bu Marni menatap anaknya dengan wajah
ragu. “Datang saja untuk mendengar. Jangan sampai orang mengira kau mau mencari
masalah.”
Erlangga tersenyum kecil. “Aku hanya
ingin tahu keadaan desa, Bu.”
Dari sudut ruangan, Pak Sastro yang
sedang memperbaiki gagang cangkul ikut mendengar percakapan itu. Ia tidak
menoleh, tetapi suaranya terdengar jelas.
“Kalau datang ke rapat, dengarkan
dulu. Jangan merasa semua masalah bisa selesai hanya karena kau pernah sekolah
di kota.”
Erlangga menatap ayahnya.
“Aku mengerti, Pak.”
Pak Sastro tidak menanggapi lagi.
Namun, Erlangga tahu bahwa ayahnya memperhatikan setiap langkah yang ia ambil.
Balai Desa Suka Makmur berdiri tidak
jauh dari lapangan kecil yang biasa digunakan warga untuk bermain bola atau
mengadakan perayaan kampung. Bangunannya cukup luas, tetapi tampak tua. Cat
dindingnya mulai pudar. Papan nama di depan gedung sedikit miring. Di halaman,
rumput tumbuh tidak beraturan, sementara beberapa kursi plastik tersusun
seadanya di bawah teras.
Ketika Erlangga tiba, beberapa warga
sudah berkumpul. Ada ketua RT, tokoh agama, perwakilan kelompok tani, beberapa
ibu kader posyandu, serta para pemuda yang duduk bergerombol di sudut ruangan.
Sebagian besar berbicara pelan, sementara yang lain hanya duduk menunggu rapat
dimulai.
Erlangga melihat Khinanti datang
bersama Sari, sahabatnya yang dikenal aktif sebagai kader posyandu. Khinanti
membawa map biru berisi beberapa berkas. Ia mengenakan pakaian sederhana,
tetapi penampilannya rapi dan berwibawa.
Pandangan mereka sempat bertemu.
Khinanti hanya mengangguk singkat.
Erlangga membalas dengan anggukan
kecil, lalu memilih duduk di bagian tengah ruangan bersama Jatmiko.
“Jangan duduk terlalu depan,” bisik
Jatmiko. “Nanti dikira kau mau jadi perangkat desa.”
Erlangga menahan senyum. “Kalau duduk
di depan saja sudah dicurigai, bagaimana mau bicara soal perubahan?”
“Makanya, pelan-pelan,” jawab Jatmiko.
Tidak lama kemudian, Pak Darmawan,
Kepala Desa Suka Makmur, masuk ke ruangan. Usianya sekitar lima puluh tahun.
Tubuhnya agak besar, wajahnya tenang, dan suaranya cukup berwibawa. Ia dikenal
sebagai kepala desa yang tidak suka membuat keributan. Bagi sebagian warga,
sikap itu dianggap bijaksana. Namun, bagi sebagian yang lain, sikap tersebut
sering kali membuat banyak persoalan dibiarkan berjalan tanpa keputusan yang
jelas.
Di belakang Pak Darmawan, tampak Pak
Wiryo masuk dengan langkah pelan. Ia mengenakan kemeja cokelat dan peci hitam.
Sebagai salah satu tokoh masyarakat sekaligus pemilik usaha pengangkutan hasil
kebun, Pak Wiryo memiliki pengaruh cukup besar di desa. Banyak warga
menghormatinya karena ia sering membantu ketika ada hajatan atau warga yang membutuhkan
pinjaman.
Namun, Erlangga juga mendengar bahwa
hampir semua urusan pengangkutan hasil kebun warga bergantung pada kendaraan
milik Pak Wiryo. Ketergantungan itu membuat banyak orang enggan berbeda
pendapat dengannya.
Rapat dimulai setelah semua peserta
duduk.
Pak Darmawan berdiri di depan ruangan
dengan sebuah map tebal di tangannya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,” jawab warga serempak.
“Terima kasih kepada bapak, ibu, dan
saudara-saudara yang telah hadir. Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan
beberapa usulan kegiatan desa, terutama terkait pembangunan jalan, bantuan
pertanian, kegiatan kesehatan, dan program pemuda.”
Pak Darmawan membuka mapnya. Ia mulai
membacakan daftar usulan yang telah disusun oleh perangkat desa. Ada rencana
perbaikan jalan menuju kebun, pengadaan lampu jalan, bantuan pupuk untuk
kelompok tani, perbaikan saluran air, serta kegiatan pelatihan bagi ibu-ibu.
Semua usulan terdengar baik. Namun,
ketika Pak Darmawan selesai membacakan, ruangan justru menjadi hening.
“Silakan kalau ada masukan,” katanya.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Beberapa orang menunduk. Sebagian
lainnya saling pandang. Seorang ketua RT tampak ingin mengangkat tangan, tetapi
kemudian membatalkannya. Suasana balai desa terasa seperti ruang yang penuh
kata-kata, tetapi tidak ada yang berani keluar.
Pak Darmawan kembali menunggu.
“Kalau tidak ada, nanti kita sepakati
saja sesuai daftar yang sudah dibuat.”
Khinanti mengangkat tangan.
“Silakan, Bu Khinanti,” kata Pak
Darmawan.
Khinanti berdiri sambil membawa map
biru yang sejak tadi diletakkan di pangkuannya.
“Saya ingin menyampaikan usulan
terkait pendidikan anak-anak,” katanya dengan suara tenang. “Saat ini, Rumah
Baca Harapan sudah berjalan hampir dua tahun. Anak-anak yang datang cukup
banyak, tetapi fasilitasnya sangat terbatas. Buku-buku sebagian besar berasal
dari sumbangan. Tikar, rak buku, dan lampu belajar juga sudah mulai rusak.”
Beberapa ibu mengangguk pelan.
“Kami berharap desa dapat memberi
perhatian untuk kegiatan literasi anak-anak. Tidak harus besar. Mungkin bisa
dimulai dari bantuan buku, perbaikan ruangan, atau dukungan kegiatan belajar.”
Pak Darmawan mengangguk. “Baik, nanti
kita catat.”
Khinanti belum duduk.
“Selain itu,” lanjutnya, “saya juga
berharap ada perhatian terhadap anak-anak yang mulai jarang sekolah. Ada
beberapa yang lebih memilih membantu orang tua ke kebun atau bekerja serabutan.
Kalau tidak ada pendampingan, mereka bisa putus sekolah.”
Ruangan kembali hening.
Seorang lelaki tua di sudut ruangan
berdeham pelan. “Anak-anak itu membantu orang tua bukan karena malas sekolah.
Orang tuanya memang butuh tenaga.”
Khinanti menoleh dengan hormat. “Saya
memahami itu, Pak. Karena itu kita perlu mencari jalan agar mereka tetap bisa
belajar tanpa meninggalkan kebutuhan keluarganya.”
Pak Wiryo yang sejak tadi duduk
bersandar di kursi akhirnya berbicara.
“Pendidikan memang penting,” katanya.
“Tapi jangan lupa, yang paling penting bagi warga sekarang adalah jalan kebun.
Kalau jalan bagus, hasil kebun lancar. Kalau hasil kebun lancar, ekonomi warga
juga membaik. Baru nanti kita bicara buku dan rumah baca.”
Beberapa orang mengangguk setuju.
Khinanti tidak membantah. Ia hanya
duduk perlahan sambil menyimpan kembali mapnya.
Erlangga memperhatikan wajahnya. Ia
melihat Khinanti berusaha tetap tenang, tetapi ada kelelahan dalam sorot
matanya. Mungkin ia sudah terlalu sering membawa usulan yang hanya dicatat
tanpa benar-benar diwujudkan.
Pak Darmawan kembali bertanya, “Ada
lagi yang ingin menyampaikan pendapat?”
Jatmiko menoleh kepada Erlangga.
“Jangan dulu,” bisiknya.
Namun, Erlangga sudah mengangkat
tangan.
Beberapa kepala langsung menoleh ke
arahnya.
Pak Darmawan tampak mengenali
wajahnya. “Erlangga, ya? Anak Pak Sastro?”
“Iya, Pak.”
“Silakan.”
Erlangga berdiri. Ia merasakan
beberapa pasang mata memandang dengan rasa ingin tahu. Ada yang mengenalnya
sejak kecil. Ada yang hanya tahu bahwa ia baru pulang dari kota. Ada pula yang
mungkin sudah mendengar bahwa ia datang dengan niat ikut membangun desa.
“Saya setuju bahwa jalan kebun,
pertanian, kesehatan, dan pendidikan semuanya penting,” ucap Erlangga. “Menurut
saya, persoalannya bukan memilih salah satu lalu meninggalkan yang lain. Kita
perlu menentukan prioritas, tetapi juga memastikan setiap program saling
mendukung.”
Pak Wiryo menatapnya tanpa ekspresi.
Erlangga melanjutkan, “Misalnya,
perbaikan jalan memang akan membantu ekonomi warga. Tapi kalau anak-anak tidak
mendapatkan pendidikan yang baik, pemuda tidak punya keterampilan, dan keluarga
tidak punya akses informasi, desa akan tetap bergantung pada pihak luar.”
Seorang pemuda di belakang mengangguk
pelan.
“Kita mungkin bisa memulai dengan
program yang sederhana dan melibatkan warga. Rumah baca bisa menjadi pusat
belajar. Pemuda bisa dilibatkan dalam kegiatan kebersihan, perbaikan
lingkungan, dan pelatihan keterampilan. Kelompok ibu-ibu bisa didukung untuk
mengembangkan usaha kecil. Semua itu tidak harus menunggu proyek besar.”
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Anak muda,” katanya, “berbicara memang
mudah. Desa ini sudah bertahun-tahun menghadapi masalah. Tidak semua bisa
selesai dengan kegiatan gotong royong dan buku-buku.”
Erlangga menatap Pak Wiryo dengan
sopan.
“Saya setuju, Pak. Tidak semua bisa
selesai dengan itu. Tapi kalau kita tidak mulai dari yang bisa dilakukan, kita
akan terus menunggu bantuan tanpa pernah bergerak.”
Suasana ruangan mulai berubah.
Beberapa orang tampak memperhatikan dengan lebih serius. Namun, sebagian lain
terlihat tidak nyaman.
Pak Darmawan mengangkat tangan,
mencoba menenangkan keadaan.
“Pendapat Erlangga bagus. Kita catat
sebagai masukan. Tapi untuk sekarang, kita tetap fokus pada usulan yang sudah
ada. Nanti kalau ada program tambahan, bisa dibicarakan dalam rapat
berikutnya.”
Erlangga mengangguk dan kembali duduk.
Jatmiko menepuk lengannya pelan.
“Lumayan. Kau sudah bicara.”
“Tidak ada yang berubah,” jawab
Erlangga.
“Setidaknya sekarang orang tahu kau
punya suara.”
Rapat berlanjut cukup lama. Namun,
sebagian besar pembahasan hanya berputar pada daftar usulan, pembagian tugas,
dan perkiraan anggaran yang belum jelas. Ketika pembicaraan mulai menyentuh
soal transparansi penggunaan dana desa, suasana kembali mengendur.
Seorang warga bernama Pak Jono
mengangkat tangan.
“Pak Kades,” katanya ragu-ragu, “kalau
boleh tahu, untuk anggaran tahun ini, berapa yang sudah dipakai dan berapa yang
masih tersedia?”
Beberapa orang langsung menoleh.
Pak Darmawan tampak sedikit terkejut.
Ia membuka mapnya, lalu berkata, “Nanti akan disampaikan melalui perangkat
desa. Yang penting sekarang kita sepakati dulu usulannya.”
Pak Jono mengangguk, meski wajahnya
tampak belum puas.
Erlangga mencatat sesuatu di buku
kecilnya. Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan, tetapi ia mulai memahami
mengapa banyak warga memilih diam. Di balai desa itu, setiap pertanyaan terasa
seperti sesuatu yang harus dipertimbangkan berkali-kali. Bukan karena warga
tidak peduli, melainkan karena mereka terbiasa merasa bahwa pendapat mereka
tidak akan banyak mengubah keputusan.
Menjelang sore, rapat akhirnya
selesai.
Warga keluar satu per satu. Sebagian
langsung pulang, sebagian lagi berhenti di halaman untuk berbincang singkat. Di
bawah pohon mangga dekat balai desa, Erlangga berdiri sambil memandangi papan
pengumuman yang kosong. Tidak ada rincian kegiatan, tidak ada jadwal
pembangunan, tidak ada informasi anggaran, hanya beberapa kertas lama yang
sudah menguning.
Khinanti datang menghampirinya.
“Kau cukup berani tadi,” katanya.
Erlangga menoleh. “Aku hanya
menyampaikan apa yang kupikirkan.”
“Di desa ini, menyampaikan pikiran
kadang dianggap keberanian,” jawab Khinanti.
Erlangga tersenyum tipis. “Kau juga
berani bicara soal rumah baca.”
“Aku sudah sering bicara,” kata
Khinanti. “Kadang dicatat, kadang dijanjikan, lalu dilupakan.”
“Kenapa kau tetap melakukannya?”
Khinanti memandang ke arah jalan desa.
Beberapa anak pulang sekolah melewati halaman balai desa sambil membawa buku di
dada mereka.
“Karena kalau bukan kita yang memulai,
siapa lagi?” jawabnya.
Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.
Khinanti melanjutkan, “Tapi membangun
desa bukan hanya soal ide, Langga. Ada banyak kepentingan. Ada banyak orang
yang takut kalau keadaan berubah. Ada juga yang sudah terlalu lama kecewa,
sehingga mereka tidak lagi percaya pada janji.”
“Aku tahu,” kata Erlangga.
“Tidak,” jawab Khinanti pelan. “Kau
baru mulai tahu.”
Erlangga menerima kalimat itu tanpa
tersinggung. Ia justru merasa Khinanti benar. Ia memang baru melihat permukaan
dari persoalan yang ada. Ia belum memahami hubungan antarwarga, kepentingan
yang tersembunyi, serta luka-luka lama yang mungkin membentuk sikap mereka.
Dari kejauhan, Pak Wiryo berjalan
melewati halaman balai desa. Sebelum naik ke mobil pikap miliknya, ia sempat
memandang Erlangga dan Khinanti. Tatapannya singkat, tetapi cukup untuk membuat
Erlangga merasa bahwa kehadirannya mulai diperhatikan.
“Kau hati-hati,” kata Khinanti.
“Dengan Pak Wiryo?”
“Dengan semua hal yang belum kau
mengerti.”
Setelah berkata demikian, Khinanti
melangkah pergi bersama Sari yang telah menunggunya di dekat pagar.
Erlangga tetap berdiri di halaman
balai desa yang mulai sepi. Angin sore menggerakkan daun-daun kering di tanah.
Di hadapannya, bangunan balai desa itu tampak seperti lambang dari banyak hal:
tempat warga berkumpul, tempat keputusan dibuat, tetapi juga tempat suara-suara
kecil sering kali hilang sebelum sempat didengar.
Erlangga menatap papan pengumuman yang
kosong sekali lagi.
Dalam hati, ia berjanji bahwa suatu
hari nanti, balai desa itu tidak akan lagi menjadi tempat yang sunyi.
Bukan sunyi karena tidak ada orang.
Melainkan sunyi karena terlalu banyak
warga yang memilih diam.
BAB III
Perempuan di Rumah Baca
Pagi di Desa Suka Makmur selalu datang
dengan cara yang sederhana. Cahaya matahari menyelinap di antara daun-daun
pisang, menyentuh atap seng rumah warga, lalu jatuh perlahan di jalan tanah
yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara mesin perahu kecil
di sungai, bersahutan dengan kokok ayam dan panggilan para ibu kepada anak-anak
yang bersiap pergi ke sekolah.
Di sebuah bangunan kecil di samping
sekolah dasar, Khinanti sudah membuka pintu Rumah Baca Harapan sejak pagi.
Bangunan itu tidak lebih besar dari
ruang kelas sederhana. Dindingnya terbuat dari papan yang dicat putih, meski
beberapa bagian telah mulai kusam. Jendelanya lebar agar cahaya matahari dapat
masuk dengan cukup. Di dalamnya terdapat dua rak kayu berisi buku cerita anak,
buku pelajaran, majalah lama, kamus, beberapa novel, serta buku-buku
pengetahuan umum yang sebagian besar berasal dari sumbangan.
Di tengah ruangan, tikar pandan
terbentang. Ada meja kecil, papan tulis, dan beberapa kursi plastik yang
warnanya sudah tidak seragam. Di salah satu sudut, tergantung tulisan yang
dibuat dengan tangan.
“Membaca adalah
Jalan untuk Mengenal Dunia.”
Khinanti berdiri di depan rak buku
sambil merapikan beberapa buku yang semalam dipinjam anak-anak. Tangannya
bergerak pelan, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Sejak rapat di balai desa kemarin,
wajah Erlangga beberapa kali muncul dalam ingatannya.
Ia tidak menyangka laki-laki itu
benar-benar pulang.
Dulu, Erlangga adalah anak muda yang
paling sering berbicara tentang mimpi. Ia ingin kuliah, bekerja di kota, dan
suatu hari kembali membawa perubahan bagi desa. Khinanti pernah percaya pada
kata-kata itu. Mereka tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama, belajar di
sekolah yang sama, dan berjalan pulang melewati jalan desa yang sama.
Namun, ketika Erlangga pergi, semuanya
berubah.
Pada awalnya, ia masih mengirim kabar.
Sesekali ada pesan singkat, cerita tentang kampus, pekerjaan sambilan, dan
kehidupan kota yang serba cepat. Lalu, kabar itu semakin jarang. Pesan-pesan
yang dahulu datang setiap minggu berubah menjadi sebulan sekali, lalu hilang
begitu saja.
Khinanti tidak pernah meminta
penjelasan.
Ia memilih menyimpan kecewa itu
sendiri.
Bukan karena ia tidak ingin bertanya,
tetapi karena ia merasa tidak berhak menahan seseorang yang sedang mengejar
masa depannya. Ia hanya belajar menerima bahwa tidak semua orang yang pernah
berjalan bersama akan tetap memilih jalan yang sama.
Pintu Rumah Baca Harapan terbuka.
Seorang anak perempuan kecil masuk
sambil membawa tas merah muda yang terlihat hampir sebesar tubuhnya.
“Kak Khinanti,” panggilnya riang.
Khinanti menoleh dan tersenyum. “Pagi,
Lila. Cepat sekali datangnya.”
“Aku mau pinjam buku cerita putri
kerajaan yang kemarin,” jawab Lila.
“Sudah selesai dibaca?”
“Sudah. Tapi aku mau baca lagi.”
Khinanti tertawa kecil. “Kalau begitu,
ambil saja. Tapi nanti jangan lupa cerita kepada teman-temanmu, ya.”
Lila mengangguk cepat lalu berlari
menuju rak buku.
Tidak lama kemudian, beberapa anak
lain mulai berdatangan. Ada yang membawa buku tulis, ada yang membawa pensil
pendek, dan ada pula yang datang hanya untuk duduk membaca gambar. Khinanti
menyambut mereka satu per satu. Ia menanyakan sekolah mereka, membantu
mengerjakan tugas, serta mengingatkan agar buku-buku yang dipinjam dijaga
dengan baik.
Bagi sebagian orang, Rumah Baca
Harapan mungkin hanya bangunan kecil yang tidak terlalu penting. Namun, bagi
Khinanti, tempat itu adalah ruang untuk menjaga mimpi anak-anak desa agar tidak
padam terlalu cepat.
Ia pernah melihat banyak anak yang
berhenti sekolah karena harus membantu orang tua. Ia pernah melihat remaja yang
merasa tidak perlu melanjutkan pendidikan karena menganggap masa depan mereka
hanya akan berakhir di kebun atau di tempat kerja jauh dari rumah. Ia tidak
pernah memandang pekerjaan di kebun sebagai sesuatu yang rendah. Akan tetapi,
ia percaya bahwa setiap anak berhak memiliki pilihan.
Dan pilihan hanya dapat tumbuh jika
mereka diberi kesempatan untuk belajar.
Menjelang siang, ketika anak-anak
mulai pulang untuk makan, Khinanti duduk di beranda rumah baca sambil memeriksa
daftar buku yang rusak. Beberapa halaman sobek. Ada buku yang sampulnya lepas.
Sebagian buku pelajaran sudah terlalu lama untuk digunakan, tetapi tetap dibaca
karena tidak ada pilihan lain.
Sari datang membawa dua bungkus
gorengan dan segelas teh hangat.
“Kau dari tadi belum makan, kan?”
tanyanya.
Khinanti menerima gorengan itu.
“Terima kasih.”
Sari duduk di sampingnya. “Aku dengar
Erlangga datang ke rumah baca kemarin.”
Khinanti menatapnya singkat. “Siapa
yang bilang?”
“Anak-anak. Mereka bilang ada
abang-abang tinggi datang, berdiri lama di depan pintu, lalu bicara dengan Kak
Khinanti.”
Khinanti tersenyum kecil. “Anak-anak
memang tidak pernah kehabisan cerita.”
“Jadi, bagaimana? Dia benar-benar
pulang untuk tinggal?”
“Katanya begitu.”
Sari mengangguk pelan. “Aku masih
ingat dia waktu sekolah. Pintar, aktif, dan selalu punya banyak rencana.”
“Rencana itu mudah dibuat,” jawab
Khinanti. “Yang sulit adalah bertahan ketika kenyataan tidak sesuai harapan.”
Sari memperhatikan sahabatnya. “Kau
masih marah?”
Khinanti tidak langsung menjawab. Ia
memandang jalan di depan rumah baca. Seorang ibu melintas sambil membawa
keranjang sayur. Di kejauhan, beberapa anak kecil bermain bola dengan sandal
sebagai gawang.
“Aku tidak marah,” katanya akhirnya.
“Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama: terlalu percaya sebelum
melihat bukti.”
Sari mengangguk, seolah memahami.
Tidak lama kemudian, suara sepeda
motor terdengar dari arah jalan. Jatmiko datang dengan motornya, diikuti
Erlangga yang duduk di belakang. Mereka berhenti di depan rumah baca.
Sari menoleh kepada Khinanti sambil
tersenyum jahil. “Sepertinya bukti itu sedang datang.”
Khinanti menghela napas pelan. “Jangan
mulai.”
Erlangga turun dari motor sambil
membawa dua kardus cukup besar. Jatmiko membantu menurunkannya, lalu
meletakkannya di dekat pintu rumah baca.
“Assalamu’alaikum,” ucap Erlangga.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Khinanti
dan Sari bersamaan.
Khinanti memandang kardus-kardus itu.
“Apa ini?”
“Buku,” jawab Erlangga.
“Buku?”
“Aku punya beberapa buku dari kota.
Sebagian buku anak-anak, buku pengetahuan umum, buku keterampilan, dan beberapa
buku pelajaran. Tidak semuanya baru, tapi masih layak dibaca.”
Khinanti masih tampak ragu. “Kau
membawa ini dari kota?”
“Sebagian memang sudah kubawa.
Sebagian lagi aku beli sebelum pulang.”
Jatmiko ikut menyahut, “Dia juga
menyuruhku membantu cari papan untuk memperbaiki rak buku. Katanya rak di sini
sudah miring.”
Khinanti memandang Erlangga. Ada
sesuatu yang berubah dalam tatapannya, meski hanya sedikit.
“Kau tidak perlu melakukan semua ini,”
katanya.
“Aku tahu,” jawab Erlangga. “Aku
melakukannya karena ingin.”
Sari tersenyum sambil berdiri. “Kalau
begitu, mari kita lihat isinya.”
Mereka membawa kardus-kardus itu ke
dalam rumah baca. Anak-anak yang baru kembali dari rumah masing-masing mulai
berdatangan dan mengintip dari pintu. Ketika kardus dibuka, beberapa anak
langsung berseru gembira.
Ada buku cerita bergambar tentang
hewan, buku dongeng nusantara, ensiklopedia sederhana, buku mewarnai, buku
tentang tanaman, pertanian, kerajinan tangan, serta beberapa buku pelajaran
untuk tingkat sekolah dasar dan menengah.
Lila mengambil sebuah buku bergambar
tentang luar angkasa.
“Kak, ini tentang bintang?” tanyanya.
“Iya,” jawab Erlangga sambil
tersenyum. “Di situ ada cerita tentang planet, bulan, dan bintang.”
“Kalau aku rajin baca, aku bisa jadi
orang yang pergi ke bulan?”
Erlangga terdiam sesaat, lalu
berjongkok di hadapan Lila.
“Kalau kau rajin belajar, kau bisa
menjadi apa pun yang kau inginkan. Mungkin pergi ke bulan, mungkin menjadi
guru, dokter, penulis, atau orang yang membuat desa ini semakin maju.”
Lila tersenyum lebar sambil memeluk
buku itu ke dadanya.
Khinanti memperhatikan percakapan
tersebut tanpa berkata-kata. Ia melihat cara Erlangga berbicara kepada
anak-anak. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Ada ketulusan yang sulit
disembunyikan.
Namun, ia tetap menahan dirinya.
Ia tidak ingin satu kebaikan kecil
membuatnya melupakan tahun-tahun ketika Erlangga pergi tanpa benar-benar
berpamitan.
Siang itu, Erlangga dan Jatmiko
membantu memperbaiki rak buku yang sudah mulai goyah. Mereka memindahkan
buku-buku, mengencangkan paku, dan mengganti satu papan yang lapuk. Anak-anak
duduk di tikar sambil melihat mereka bekerja.
“Abang Erlangga bisa jadi tukang
juga?” tanya seorang anak laki-laki bernama Raka.
Jatmiko tertawa keras. “Dia bisa apa
saja, asal jangan disuruh masak.”
“Aku bisa masak,” bantah Erlangga.
“Masak mi instan bukan berarti bisa
masak,” jawab Jatmiko, membuat anak-anak tertawa.
Suasana di rumah baca menjadi lebih
hangat. Untuk pertama kalinya sejak Erlangga pulang, Khinanti melihat laki-laki
itu tidak lagi sebagai seseorang dari masa lalu yang datang membawa banyak
pertanyaan. Ia mulai melihatnya sebagai seseorang yang mungkin benar-benar
ingin terlibat.
Setelah rak buku selesai diperbaiki,
anak-anak pulang satu per satu. Matahari mulai condong ke arah barat. Sari
pamit lebih dulu karena harus membantu ibunya menyiapkan dagangan.
Jatmiko juga pergi ke bengkel kecil
milik pamannya.
Tinggallah Erlangga dan Khinanti di
beranda Rumah Baca Harapan.
Angin sore bergerak pelan. Daun-daun
kering jatuh di halaman. Dari lapangan sekolah terdengar suara anak-anak yang
masih bermain bola.
“Terima kasih,” kata Khinanti
akhirnya.
Erlangga menoleh. “Untuk apa?”
“Untuk buku-buku dan raknya.”
“Itu belum seberapa.”
“Bagi anak-anak di sini, itu cukup
berarti.”
Erlangga mengangguk. “Aku ingin
membantu lebih banyak, kalau kau tidak keberatan.”
Khinanti memandangnya. “Membantu
seperti apa?”
“Aku ingin membuat kegiatan rutin
untuk anak-anak dan pemuda. Mungkin kelas belajar tambahan, pelatihan
keterampilan sederhana, diskusi untuk remaja, atau kegiatan kebersihan
lingkungan.”
“Kau sudah punya rencana?”
“Ada beberapa catatan,” jawab
Erlangga. Ia mengambil buku hitam dari tasnya. “Tapi aku tidak ingin
menjalankan apa pun tanpa mendengar kebutuhan warga.”
Khinanti menerima buku itu. Ia membuka
beberapa halaman. Di dalamnya terdapat tulisan tangan yang rapi: daftar
gagasan, jadwal kegiatan, kebutuhan dasar, serta catatan tentang potensi desa.
Ada halaman yang berisi tulisan:
Rumah Baca Harapan
bukan hanya tempat membaca. Rumah baca dapat menjadi ruang belajar, ruang
berkumpul, dan ruang tumbuh bagi anak-anak desa.
Khinanti berhenti membaca.
“Kau menulis ini kapan?” tanyanya.
“Beberapa bulan sebelum pulang.”
“Jadi kau sudah merencanakan
kepulanganmu?”
Erlangga menghela napas perlahan.
“Sudah lama aku ingin pulang. Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut dianggap gagal. Takut Bapak
kecewa. Takut orang-orang menganggap aku pulang karena tidak mampu bertahan di
kota.”
Khinanti menutup buku itu.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku lebih takut kalau aku
tidak pernah mencoba.”
Khinanti terdiam.
Jawaban itu terasa sederhana, tetapi
ia dapat merasakan beban yang tersembunyi di dalamnya. Ia tahu tidak mudah bagi
seseorang untuk meninggalkan pekerjaan di kota dan kembali ke desa dengan
segala ketidakpastian.
Namun, ia juga tahu bahwa niat baik
saja belum cukup.
“Kalau kau benar-benar ingin
membantu,” kata Khinanti, “mulailah dengan mengenal anak-anak ini. Kenali
keluarga mereka. Kenali kenapa ada yang malas sekolah, kenapa ada yang tidak
punya buku, kenapa ada yang lebih memilih bekerja. Jangan datang hanya dengan
program.”
Erlangga mengangguk sungguh-sungguh.
“Aku akan belajar.”
“Dan jangan menjanjikan sesuatu yang
belum tentu bisa kau lakukan.”
“Aku tidak akan.”
Khinanti berdiri lalu masuk ke dalam
rumah baca. Ia mengambil sebuah buku tulis kosong dan menyerahkannya kepada
Erlangga.
“Ini daftar anak-anak yang sering
datang ke sini,” katanya. “Ada juga catatan kecil tentang kebutuhan mereka.
Tidak lengkap, tapi mungkin bisa menjadi awal.”
Erlangga menerima buku itu dengan
hati-hati.
“Terima kasih, Khinanti.”
“Jangan berterima kasih dulu,”
jawabnya. “Buktikan saja.”
Erlangga tersenyum kecil. Kali ini,
Khinanti tidak langsung memalingkan wajah.
Mereka kemudian berjalan bersama
menuju jalan utama desa. Matahari senja menyinari jalan tanah dengan warna
keemasan. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu beberapa anak yang membawa
buku baru dari Rumah Baca Harapan.
“Terima kasih, Abang Erlangga!” teriak
Lila sambil melambaikan tangan.
Erlangga membalas lambaian itu.
Khinanti melihat pemandangan tersebut
dengan hati yang perlahan berubah. Ia belum sepenuhnya percaya. Ia belum siap
membuka kembali pintu yang pernah ia tutup rapat. Namun, sore itu, di antara
tawa anak-anak dan buku-buku sederhana, ia mulai memahami bahwa mungkin ada
orang yang pulang bukan untuk mengenang masa lalu.
Mungkin ada juga yang pulang untuk
memperbaiki masa depan.
Dan bagi Khinanti, Rumah Baca Harapan
bukan lagi sekadar tempat ia menjaga mimpi anak-anak desa.
Tempat itu kini menjadi awal dari
sebuah kerja sama, sebuah perjuangan, dan mungkin—tanpa ia sadari—awal dari
perasaan yang pernah hilang, tetapi belum benar-benar mati.
BAB IV
Janji yang Pernah Tertinggal
Malam turun perlahan di Desa Suka
Makmur.
Di rumah Pak Sastro, lampu-lampu mulai
menyala satu per satu. Cahaya kuning dari ruang tengah memantul pada dinding
papan yang telah lama menjadi saksi kehidupan keluarga itu. Di meja makan, Bu
Marni menata lauk sederhana: ikan asin, sayur daun singkong, sambal terasi, dan
nasi hangat yang baru matang.
Erlangga duduk di kursi kayu sambil
memandangi halaman rumah dari balik jendela. Sejak pulang dari Rumah Baca
Harapan, pikirannya tidak berhenti mengingat percakapannya dengan Khinanti.
Perempuan itu masih sama dalam banyak hal—tenang, cerdas, dan tidak mudah
terbawa oleh kata-kata. Namun, ada jarak yang kini berdiri di antara mereka.
Jarak yang tidak hanya dibentuk oleh
waktu.
Ada kesalahan yang pernah ia buat.
Ada janji yang pernah ia tinggalkan.
“Langga, makan dulu,” panggil Bu Marni
dari dapur.
Erlangga segera menghampiri meja
makan. Pak Sastro sudah duduk di ujung meja dengan wajah tenang. Seperti biasa,
ayahnya tidak banyak bicara. Ia hanya mengambil nasi secukupnya, lalu mulai
makan perlahan.
“Dari mana saja tadi?” tanya Bu Marni.
“Dari rumah baca, Bu,” jawab Erlangga.
“Aku membantu memperbaiki rak buku.”
“Rumah baca yang dikelola Khinanti
itu?” Bu Marni bertanya sambil tersenyum tipis.
“Iya.”
Pak Sastro berhenti makan sejenak.
“Kau sudah bertemu Khinanti?”
“Sudah, Pak.”
“Dia masih mengajar?”
“Masih. Dia mengelola rumah baca dan
membantu anak-anak belajar.”
Pak Sastro mengangguk pelan. “Anak itu
dari dulu memang tekun. Tidak banyak bicara, tapi kalau sudah punya niat,
dikerjakan sampai selesai.”
Bu Marni melirik suaminya. “Dulu
Khinanti sering datang ke rumah. Kadang belajar bersama Erlangga, kadang
membantu Ibu menyiapkan makanan kalau ada kegiatan sekolah.”
Erlangga tersenyum kecil. Kenangan itu
muncul begitu saja.
Ia teringat Khinanti yang masih
mengenakan seragam putih abu-abu, duduk di beranda rumah sambil membawa buku
catatan. Ia teringat caranya mengikat rambut, caranya menunduk ketika malu, dan
caranya memandang seseorang dengan mata yang selalu tampak ingin memahami.
Dulu, Khinanti adalah bagian dari
hari-hari yang paling sederhana dalam hidupnya.
Mereka sering pulang bersama dari
sekolah. Jalan yang mereka lewati sama: melewati kebun karet, jembatan kayu
kecil, dan lapangan desa. Di sepanjang perjalanan, mereka berbicara tentang
banyak hal. Tentang guru yang galak, tugas sekolah, keinginan melanjutkan
pendidikan, hingga mimpi-mimpi yang terasa begitu besar bagi dua remaja desa.
“Aku ingin menjadi guru,” kata
Khinanti suatu sore ketika mereka duduk di tepi sungai.
Erlangga menoleh. “Guru?”
“Iya. Aku ingin mengajar anak-anak di
desa ini.”
“Kenapa tidak kerja di kota saja? Guru
di kota mungkin lebih enak.”
Khinanti tersenyum. “Kalau semua orang
ingin pergi ke kota, siapa yang tinggal untuk anak-anak di sini?”
Erlangga terdiam sejenak.
“Kalau kau sendiri?” tanya Khinanti.
“Aku ingin kuliah. Setelah itu kerja
di kota. Belajar banyak hal.”
“Lalu?”
“Lalu pulang.”
“Pulang?”
Erlangga mengangguk. “Aku ingin desa
ini berubah. Jalan-jalannya bagus, sekolahnya lebih layak, anak-anaknya bisa
punya cita-cita setinggi orang kota.”
Khinanti memandangnya dengan mata
berbinar.
“Kalau begitu, jangan lupa,” katanya.
“Tidak akan.”
“Jangan lupa pulang.”
Saat itu, Erlangga tertawa kecil. Ia
merasa masa depan begitu jauh dan begitu mudah dijangkau. Ia tidak pernah
membayangkan bahwa satu janji sederhana dapat menjadi begitu berat ketika hidup
mulai membawa seseorang ke jalan yang berbeda.
Setelah lulus sekolah menengah,
Erlangga memperoleh kesempatan kuliah di kota. Keberangkatan itu menjadi
kebanggaan bagi keluarga. Pak Sastro menjual sebagian hasil kebun lebih awal
untuk biaya awal kuliah. Bu Marni menjahit beberapa pakaian tambahan agar
Erlangga memiliki bekal.
Di hari keberangkatan, Khinanti datang
membawa sebuah buku catatan bersampul cokelat.
“Untuk apa ini?” tanya Erlangga.
“Untuk menulis,” jawab Khinanti.
“Aku sudah punya buku.”
“Yang ini berbeda. Isi dengan hal-hal
yang ingin kau lakukan ketika pulang nanti.”
Erlangga membuka halaman pertama. Di
sana, Khinanti menuliskan satu kalimat dengan tinta biru.
Jangan biarkan kota
membuatmu lupa jalan pulang.
Erlangga menatap tulisan itu cukup
lama.
“Aku tidak akan lupa,” katanya.
Khinanti tersenyum. “Aku percaya.”
Namun, kehidupan di kota tidak
sesederhana yang mereka bayangkan.
Pada tahun pertama kuliah, Erlangga
masih sering mengirim kabar. Ia menceritakan gedung kampus, teman-teman baru,
tugas yang menumpuk, dan pekerjaan sambilan yang ia jalani pada malam hari.
Khinanti membalas dengan cerita tentang sekolah, kegiatan desa, serta kabar
teman-teman lama.
Hubungan mereka tetap terjaga, meski
dipisahkan jarak.
Pada tahun kedua, ayah Erlangga jatuh
sakit. Pak Sastro harus menjalani perawatan cukup lama setelah mengalami
kecelakaan kecil saat bekerja di kebun. Biaya pengobatan membuat keadaan
keluarga semakin sulit. Erlangga yang saat itu masih kuliah mulai mengambil
lebih banyak pekerjaan sambilan. Ia bekerja di sebuah percetakan pada malam
hari, menjadi asisten survei pada akhir pekan, dan menerima pekerjaan mengetik
untuk mahasiswa lain.
Hari-harinya berubah menjadi rangkaian
kuliah, kerja, dan kelelahan.
Ia masih membaca pesan dari Khinanti,
tetapi tidak selalu sempat membalas. Ia sering berpikir akan menjawab nanti,
ketika tugas selesai. Akan tetapi, nanti selalu bergeser menjadi besok, lalu
minggu depan, lalu entah kapan.
Ketika akhirnya ia lulus, Erlangga
mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan konsultan pembangunan. Pekerjaan itu
tidak mudah, tetapi memberinya penghasilan yang cukup untuk membantu orang tua.
Ia mengirim uang setiap bulan, membayar sebagian utang keluarga, dan perlahan
memperbaiki rumah mereka.
Di satu sisi, ia merasa telah memenuhi
tanggung jawabnya.
Namun, di sisi lain, ia mulai
kehilangan banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Salah satunya adalah Khinanti.
Pesan terakhir dari Khinanti datang
pada suatu malam ketika Erlangga sedang menyelesaikan laporan proyek di kantor.
Langga, Ibu bilang
Bapakmu sudah mulai sehat. Aku ikut senang. Kalau suatu hari kau pulang, Rumah
Baca Harapan sudah mulai berjalan. Tidak besar, tapi anak-anak mulai datang.
Aku ingin kau melihatnya.
Erlangga membaca pesan itu berulang
kali.
Ia ingin membalas. Ia ingin mengatakan
bahwa ia bangga. Ia ingin mengatakan bahwa ia merindukan desa, merindukan
jalan-jalan sore, merindukan suara Khinanti ketika bercerita.
Namun, malam itu atasannya meminta
laporan segera diselesaikan. Erlangga menutup ponselnya, berjanji pada diri
sendiri bahwa ia akan membalas setelah pekerjaan selesai.
Pesan itu tidak pernah ia balas.
Hari berubah menjadi minggu. Minggu
berubah menjadi bulan. Saat Erlangga akhirnya mencoba menghubungi Khinanti,
nomor perempuan itu sudah tidak aktif. Ia tidak tahu apakah Khinanti mengganti
nomor, sengaja menjauh, atau sekadar tidak ingin lagi membuka ruang bagi
seseorang yang terlalu lama diam.
Ia tidak pernah benar-benar berani
mencari jawaban.
Karena jauh di dalam hati, ia tahu
bahwa diamnya adalah jawaban yang paling menyakitkan.
“Langga.”
Suara Bu Marni membuyarkan ingatannya.
Erlangga menoleh. Ia baru menyadari
bahwa makanan di piringnya hampir tidak tersentuh.
“Kau melamun dari tadi,” kata ibunya.
“Tidak apa-apa, Bu.”
Pak Sastro memandang putranya.
“Khinanti masih marah?”
Erlangga terdiam.
“Entahlah, Pak,” jawabnya pelan.
“Mungkin bukan marah. Mungkin dia hanya sudah tidak percaya lagi.”
Pak Sastro menghela napas.
“Kepercayaan itu tidak datang karena kita minta. Kepercayaan datang karena kita
menjaga kata-kata.”
Kalimat itu membuat Erlangga menunduk.
Ia tidak membantah. Ayahnya benar.
Setelah makan malam, Erlangga kembali
ke kamarnya. Ruangan itu masih seperti dahulu, meski beberapa barang telah
dipindahkan. Di sudut meja, terdapat tumpukan buku lama. Di dinding, masih
tergantung peta Indonesia yang pernah ia gunakan saat sekolah.
Ia membuka tas yang dibawanya dari
kota dan mengeluarkan buku catatan bersampul cokelat.
Buku pemberian Khinanti.
Sudut-sudutnya sudah mulai usang.
Halamannya tidak lagi putih seperti dulu. Namun, tulisan pada halaman pertama
masih terlihat jelas.
Jangan biarkan kota
membuatmu lupa jalan pulang.
Erlangga duduk di tepi tempat tidur
sambil membuka halaman-halaman berikutnya. Di sana terdapat banyak catatan yang
ia tulis ketika masih kuliah: ide tentang koperasi desa, pelatihan pemuda,
perpustakaan kecil, kebun pangan, hingga perbaikan jalan.
Ada pula beberapa halaman kosong.
Halaman-halaman itu terasa seperti
gambaran dari banyak rencana yang tidak pernah sempat ia wujudkan.
Malam semakin larut. Di luar, angin bergerak
pelan melewati pohon-pohon di halaman. Erlangga menutup buku itu, lalu
memandang langit dari jendela.
Ia tidak dapat mengubah masa lalu.
Ia tidak dapat menarik kembali pesan
yang tidak pernah dibalas. Ia tidak dapat menghapus rasa kecewa yang mungkin
telah tumbuh di hati Khinanti selama bertahun-tahun.
Namun, ia masih memiliki kesempatan
untuk memperbaiki langkahnya hari ini.
Keesokan paginya, Erlangga pergi ke
Rumah Baca Harapan membawa beberapa papan kayu yang ia beli dari toko bangunan
kecil di desa sebelah. Ia tidak membawa bunga, tidak membawa hadiah mahal, dan
tidak membawa kata-kata yang terlalu manis.
Ia hanya membawa bahan untuk membuat
meja belajar tambahan.
Ketika sampai, Khinanti sedang menyapu
halaman rumah baca. Ia tampak terkejut melihat Erlangga datang dengan
papan-papan kayu di belakang motor Jatmiko.
“Kau mau membuat apa?” tanyanya.
“Meja belajar,” jawab Erlangga.
“Anak-anak terlalu sering menulis di lantai. Kalau kau setuju, aku ingin
membuat beberapa meja kecil.”
Khinanti memandang papan-papan itu,
lalu menatap Erlangga.
“Kau tidak perlu membayar semua ini
sendiri.”
“Aku tidak merasa sedang membayar apa
pun.”
“Lalu apa?”
Erlangga menarik napas.
“Mungkin aku sedang belajar menepati
sesuatu yang dulu pernah kujanjikan.”
Khinanti terdiam.
Angin pagi bergerak pelan. Suara
anak-anak mulai terdengar dari arah jalan. Mereka datang membawa buku dan
pensil, sebagian berlari kecil karena penasaran melihat papan kayu yang
diturunkan dari motor.
Khinanti tidak langsung menjawab.
Ia hanya meletakkan sapu di dekat
dinding, lalu membuka pintu Rumah Baca Harapan.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“mulailah dari sana.”
Erlangga mengangguk.
Hari itu, mereka bekerja bersama
membuat meja belajar sederhana. Jatmiko memotong papan, Erlangga mengukur dan
memasang paku, sementara Khinanti membantu mengampelas permukaan kayu.
Anak-anak duduk di bawah pohon sambil memperhatikan dengan penuh rasa ingin
tahu.
Tidak ada pembicaraan panjang tentang
masa lalu.
Tidak ada pengakuan yang dibuat untuk
menghapus luka dalam sekejap.
Namun, di antara suara palu, serbuk
kayu, dan tawa anak-anak, ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan.
Bukan sekadar kenangan.
Melainkan kesempatan baru.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa
janji yang pernah tertinggal tidak harus selamanya menjadi penyesalan.
Kadang, janji itu dapat ditemukan
kembali di jalan pulang—lalu dijaga dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.
BAB V
Gagasan dari Beranda Sekolah
Meja-meja belajar sederhana itu
akhirnya selesai dibuat tiga hari kemudian.
Jumlahnya tidak banyak, hanya enam
buah. Ukurannya pun tidak sepenuhnya sama karena bahan kayu yang digunakan
berasal dari papan-papan sisa yang tersedia di toko bangunan desa sebelah.
Namun, bagi anak-anak Rumah Baca Harapan, enam meja itu terasa seperti hadiah
besar.
Mereka tidak lagi harus selalu menulis
di lantai atau bertumpu pada lutut sendiri. Mereka dapat duduk berdua, membuka
buku, dan mengerjakan tugas dengan lebih nyaman.
Pagi itu, Khinanti berdiri di depan
pintu rumah baca sambil memandangi anak-anak yang mulai memenuhi ruangan.
Beberapa anak langsung memilih meja yang paling dekat dengan jendela. Yang lain
berebut duduk bersama sahabatnya.
“Jangan dorong-dorongan,” kata
Khinanti sambil tersenyum. “Semua kebagian.”
“Meja ini punya siapa, Kak?” tanya
Lila.
“Punya kita semua,” jawab Khinanti.
“Yang buat Abang Erlangga?”
“Iya, dibantu Kak Jatmiko.”
Lila menoleh kepada Erlangga yang
sedang menata beberapa buku di rak.
“Terima kasih, Abang.”
Erlangga tersenyum. “Belajarnya yang
rajin, ya.”
“Kalau aku rajin belajar, nanti aku
bisa buat meja juga?”
“Bisa. Bahkan kau bisa membuat lebih
banyak dari ini.”
Lila mengangguk dengan wajah penuh
keyakinan, seolah satu kalimat sederhana itu cukup untuk membuat masa depan
terasa lebih dekat.
Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri
sambil memegang pensil. Ia adalah anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang
jarang berbicara. Rambutnya selalu dipotong pendek, wajahnya sedikit lebih
gelap karena sering membantu ayahnya di kebun, dan seragam sekolahnya tampak
mulai kusam.
Raka masih terdaftar sebagai siswa
sekolah menengah pertama di desa kecamatan. Namun, ia semakin jarang masuk.
Kadang ia datang hanya dua atau tiga hari dalam seminggu. Selebihnya, ia
membantu orang tuanya mengangkut hasil kebun atau menjaga adiknya ketika ibunya
pergi bekerja.
Khinanti sudah beberapa kali berbicara
dengannya. Namun, Raka selalu menjawab singkat.
“Sekolah jauh, Kak.”
“Atau aku harus bantu Bapak.”
“Atau buku pelajarannya susah.”
Khinanti memahami bahwa persoalan Raka
tidak sesederhana malas belajar. Ada beban keluarga yang terlalu cepat
diletakkan di pundak anak seusianya.
Erlangga memperhatikan Raka dari
kejauhan.
“Anak itu siapa?” tanyanya pelan
kepada Khinanti.
“Raka,” jawab Khinanti. “Dia
sebenarnya pintar. Dulu nilainya bagus. Tapi sekarang sering tidak masuk
sekolah.”
“Kenapa?”
“Ayahnya sakit-sakitan. Ibunya bekerja
membantu panen di kebun orang. Raka banyak membantu di rumah.”
Erlangga mengangguk. “Apa sekolahnya
tahu?”
“Tahu. Gurunya pernah datang, tapi
keluarganya merasa malu. Mereka takut dianggap tidak mampu mengurus anak.”
Erlangga menatap Raka yang sedang
menggambar sesuatu di buku tulisnya.
“Kita perlu bicara dengannya.”
“Pelan-pelan,” kata Khinanti. “Jangan
membuatnya merasa dikasihani.”
“Aku mengerti.”
Menjelang siang, setelah anak-anak
pulang, Erlangga duduk di beranda sekolah dasar yang berada tepat di samping
Rumah Baca Harapan. Bangunan sekolah itu sepi karena kegiatan belajar telah
selesai. Hanya suara sapu penjaga sekolah yang terdengar dari arah belakang.
Khinanti datang membawa dua gelas teh hangat.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Erlangga, lalu duduk tidak jauh darinya.
“Terima kasih,” kata Erlangga.
“Jangan terlalu sering mengucapkan
terima kasih,” jawab Khinanti. “Nanti terdengar seperti orang kota.”
Erlangga tertawa kecil. “Aku memang
lama tinggal di kota.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Mereka terdiam beberapa saat. Angin
siang membawa aroma tanah dan daun-daun kering. Dari lapangan, terdengar suara
beberapa anak yang masih bermain bola meski matahari cukup terik.
“Kau pernah berpikir,” kata Erlangga
perlahan, “kalau rumah baca ini bisa menjadi lebih dari sekadar tempat
anak-anak meminjam buku?”
Khinanti menoleh. “Maksudmu?”
“Bisa menjadi tempat belajar tambahan.
Tempat remaja berdiskusi. Tempat ibu-ibu belajar keterampilan. Tempat pemuda
merencanakan kegiatan. Tempat warga saling bertukar informasi.”
Khinanti memandang bangunan kecil di
samping mereka.
“Pernah,” jawabnya. “Tapi untuk
membuat semua itu, kita perlu orang, waktu, dan biaya.”
“Tidak semua harus dimulai dengan
biaya besar.”
“Kau selalu mengatakan itu.”
“Karena memang begitu.”
Khinanti tersenyum tipis. “Kau masih
keras kepala.”
“Bukan keras kepala. Aku hanya percaya
bahwa banyak hal bisa dimulai dari yang sederhana.”
“Seperti enam meja belajar?”
“Seperti enam meja belajar.”
Khinanti menatap meja-meja kecil yang
tampak dari jendela rumah baca. Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa meja
itu dibuat dari papan biasa. Namun, mereka merasakan manfaatnya. Bagi Khinanti,
hal kecil semacam itu memang dapat menjadi awal.
“Apa rencanamu?” tanyanya.
Erlangga mengeluarkan buku catatan
hitam dari tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang telah dipenuhi tulisan.
“Aku memikirkan beberapa kegiatan,”
katanya. “Bukan untuk langsung dijalankan semua. Kita pilih yang paling
mungkin.”
Ia menunjukkan catatan itu kepada
Khinanti.
Di sana tertulis beberapa gagasan:
- Kelas Belajar Sore untuk anak-anak yang membutuhkan pendampingan pelajaran.
- Kelas Keterampilan Remaja seperti komputer dasar, menulis, membuat poster, dan pengelolaan
media sederhana.
- Kelompok Pemuda Peduli Desa untuk kegiatan gotong royong, kebersihan lingkungan, olahraga, dan
kerja sosial.
- Kebun Pangan Keluarga bersama kelompok ibu-ibu untuk menanam sayur, cabai, dan tanaman
obat.
- Pojok Informasi Desa yang memuat pengumuman kegiatan, jadwal pelayanan, serta informasi
pendidikan dan kesehatan.
- Forum Warga Bulanan agar masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan dan persoalan secara
terbuka.
Khinanti membaca daftar itu dengan
perlahan.
“Ini bagus,” katanya. “Tapi juga cukup
banyak.”
“Kita tidak harus menjalankan
semuanya.”
“Kalau begitu, mana yang paling
penting?”
Erlangga berpikir sejenak. “Menurutku,
mulai dari anak-anak dan pemuda. Karena mereka yang paling mudah diajak
bergerak.”
Khinanti mengangguk. “Anak-anak memang
perlu pendampingan. Pemuda juga banyak yang tidak punya kegiatan.”
“Jatmiko bilang banyak pemuda
menghabiskan waktu di warung kopi atau pergi ke kecamatan untuk mencari kerja
serabutan.”
“Karena mereka merasa tidak ada yang
bisa dilakukan di desa.”
“Kalau begitu, kita buat sesuatu yang
membuat mereka merasa dibutuhkan.”
Khinanti menutup buku catatan itu.
“Tidak mudah mengajak pemuda,”
katanya. “Mereka sudah sering diajak rapat, tapi biasanya hanya datang di awal.
Setelah itu, kegiatan berhenti karena tidak ada yang mengurus.”
“Kalau mereka dilibatkan sejak awal,
mungkin berbeda.”
“Kau yakin?”
“Tidak,” jawab Erlangga jujur. “Tapi
aku ingin mencoba.”
Khinanti memandangnya cukup lama. Ia
mulai memahami bahwa Erlangga tidak datang dengan keyakinan bahwa ia dapat
menyelesaikan semua masalah. Ia datang dengan kesediaan untuk belajar dan
mencoba.
Itu membuatnya sedikit lebih percaya.
Sore harinya, Erlangga dan Khinanti
mengunjungi rumah Jatmiko. Rumah itu berada di dekat bengkel kecil milik
pamannya. Di halaman, beberapa pemuda sedang duduk sambil memperbaiki sepeda
motor dan berbincang santai.
Jatmiko sedang mengencangkan baut
motor ketika melihat mereka datang.
“Wah, lengkap sekali,” katanya. “Ada
urusan penting, ya?”
“Ada,” jawab Erlangga. “Kami ingin
bicara soal kegiatan pemuda.”
Beberapa pemuda yang duduk di dekat
bengkel menoleh. Ada Beni, anak muda yang bekerja serabutan sebagai tukang
bangunan; Ardi, pemain bola desa yang dikenal cukup aktif; dan Dimas, pemuda
pendiam yang baru pulang dari bekerja di kota tambang.
“Kegiatan apa?” tanya Beni sambil
mengusap tangannya yang hitam oleh oli.
“Kami ingin mengadakan pertemuan
kecil,” kata Erlangga. “Bukan rapat resmi. Hanya ngobrol tentang apa yang bisa
dilakukan pemuda di desa.”
Ardi tertawa kecil. “Biasanya kalau
sudah ngomong kegiatan pemuda, ujung-ujungnya bersih-bersih lapangan atau
disuruh bantu acara desa.”
“Kalau itu memang perlu, kenapa
tidak?” jawab Erlangga.
“Bukan tidak mau,” kata Ardi. “Tapi
setelah selesai, ya sudah. Tidak ada kelanjutannya.”
Khinanti melangkah sedikit ke depan.
“Kalau kalian diberi kesempatan
memilih kegiatan sendiri, kalian ingin melakukan apa?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat mereka diam.
Beni mengangkat bahu. “Entahlah. Yang
penting ada manfaatnya.”
“Manfaat seperti apa?” tanya Khinanti.
“Kalau bisa dapat keterampilan, bagus.
Biar tidak cuma jadi buruh harian.”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya
berbicara. “Komputer. Banyak kerjaan sekarang minta bisa komputer. Di kota, aku
lihat orang yang bisa bikin desain atau urus data lebih mudah dapat kerja.”
Ardi menambahkan, “Kalau ada kegiatan
olahraga juga bagus. Anak-anak muda di sini sebenarnya suka bola. Tapi lapangan
tidak terurus.”
Erlangga mengangguk sambil mencatat.
“Bagaimana kalau kita mulai dari
pertemuan pemuda minggu depan?” katanya. “Kita bahas tiga hal: kegiatan
olahraga, pelatihan keterampilan, dan gotong royong memperbaiki lingkungan.”
“Di mana?” tanya Beni.
“Di Rumah Baca Harapan atau di beranda
sekolah.”
“Kalau di rumah baca, anak-anak tidak
terganggu?” tanya Dimas.
Khinanti menjawab, “Bisa di beranda sekolah
setelah sore. Anak-anak biasanya sudah pulang.”
Jatmiko berdiri dan mengusap tangannya
dengan kain.
“Kalau begitu, aku yang ajak
teman-teman,” katanya. “Tapi jangan terlalu resmi. Kalau terlalu resmi, mereka
malas datang.”
“Setuju,” kata Erlangga.
“Dan sediakan kopi,” tambah Ardi.
Khinanti tersenyum. “Kopi bisa
diusahakan.”
Pembicaraan itu berlangsung lebih lama
dari yang diperkirakan. Para pemuda mulai menyampaikan keluhan mereka tentang
desa: jalan yang rusak, sulitnya mencari pekerjaan, kurangnya kegiatan, dan
perasaan bahwa suara mereka tidak pernah dianggap penting.
Erlangga mendengarkan lebih banyak
daripada berbicara.
Ia menyadari bahwa selama ini pemuda
desa bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak pernah benar-benar diberi ruang
untuk menentukan peran mereka sendiri.
Saat matahari mulai tenggelam,
Erlangga dan Khinanti berjalan pulang bersama melewati jalan kecil di samping
lapangan. Langit sore berwarna jingga. Di kejauhan, terdengar suara anak-anak
memanggil teman-temannya untuk bermain.
“Kau lihat?” kata Erlangga. “Mereka
punya banyak gagasan.”
Khinanti mengangguk. “Mereka hanya
butuh seseorang yang mau mendengar.”
“Kalau begitu, kita dengarkan.”
Khinanti berhenti sejenak.
“Kita?” tanyanya.
Erlangga menoleh. “Iya. Aku tidak bisa
melakukan ini sendiri.”
Khinanti memandang jalan di depan
mereka. Kata kita terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang hangat
dalam kalimat itu. Selama ini, ia menjalankan Rumah Baca Harapan hampir
sendirian. Sari memang sering membantu, begitu pula beberapa ibu kader. Namun,
tidak banyak orang yang benar-benar ingin menjadikan tempat itu sebagai ruang
bersama.
“Aku akan membantu,” katanya akhirnya.
“Tapi satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan membuatku menyesal karena
percaya lagi.”
Erlangga menatapnya dengan
sungguh-sungguh.
“Aku tidak akan pergi tanpa kabar
lagi.”
Khinanti tidak menjawab. Ia hanya
melanjutkan langkahnya.
Namun, untuk pertama kalinya sejak
Erlangga pulang, langkah mereka berjalan searah tanpa terasa canggung.
Di belakang mereka, beranda sekolah
yang sederhana mulai diselimuti cahaya senja. Tempat itu belum menjadi pusat
kegiatan. Belum menjadi ruang besar bagi perubahan. Namun, dari beranda yang
sepi itu, gagasan-gagasan kecil mulai lahir.
Gagasan tentang anak-anak yang belajar
lebih giat.
Tentang pemuda yang kembali percaya
pada kemampuannya.
Tentang warga yang tidak lagi hanya
menunggu.
Dan tentang dua orang yang perlahan
belajar bahwa membangun desa tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Kadang, semuanya berawal dari sebuah
meja belajar, secangkir teh, dan keberanian untuk berkata: kita bisa
mencoba.
BAB VI
Pemuda yang Kehilangan Arah
Sore itu, beranda sekolah dasar Desa
Suka Makmur tampak lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa kursi plastik disusun
seadanya. Sebagian pemuda duduk di lantai beralas tikar, sementara yang lain
memilih bersandar di tiang-tiang kayu. Di sudut beranda, Jatmiko menyiapkan
termos air panas, beberapa gelas, dan sebungkus besar kopi sachet. Tidak ada
meja rapat, tidak ada pengeras suara, dan tidak ada susunan acara yang resmi.
Namun, bagi Erlangga, pertemuan
sederhana itu jauh lebih penting daripada rapat besar yang pernah ia hadiri di
kota.
Satu per satu pemuda datang.
Beni hadir dengan kaus yang masih
berdebu semen karena baru pulang dari pekerjaan bangunan. Ardi datang membawa
bola di bawah lengannya. Dimas mengenakan jaket hitam lusuh dan duduk agak jauh
dari kerumunan. Ada pula Fajar, Roni, Bagas, Ilham, dan beberapa pemuda lain
yang selama ini lebih sering terlihat di warung kopi atau di pinggir lapangan
ketika sore.
Khinanti datang bersama Sari membawa
gorengan dan pisang rebus. Mereka meletakkan makanan itu di atas tikar.
“Jangan habiskan sebelum pembicaraan
dimulai,” kata Sari sambil tersenyum.
“Kalau begitu, cepat mulai,” jawab
Ardi, membuat beberapa orang tertawa.
Erlangga berdiri di depan mereka. Ia
tidak membawa map, tidak membawa proposal, dan tidak membawa pidato panjang.
Hanya buku catatan hitam yang selalu ia simpan di dalam tas.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
“Aku tidak mengundang kalian untuk rapat resmi. Aku hanya ingin mendengar.
Kalau kita ingin membuat kegiatan pemuda, harus dimulai dari apa yang kalian
butuhkan, bukan dari apa yang aku pikir paling baik.”
Beberapa pemuda saling pandang. Mereka
tampak belum terbiasa mendengar kalimat seperti itu.
“Jadi, siapa yang mau mulai?” tanya
Erlangga.
Hening.
Jatmiko mengangkat tangan. “Aku mulai,
ya. Menurutku, pemuda di sini butuh kegiatan yang jelas. Jangan cuma kalau ada
acara tujuh belasan atau kerja bakti baru dicari.”
“Setuju,” kata Beni. “Kalau ada
kerjaan, kami mau ikut. Tapi jangan hanya disuruh angkat kursi dan pasang
tenda.”
Tawa kecil terdengar dari beberapa
sudut.
Erlangga mengangguk. “Kalau bukan itu,
kalian ingin apa?”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya
mengangkat wajah.
“Aku ingin belajar komputer,” katanya
pelan. “Di tempat kerja dulu, banyak yang bisa dapat kerja lebih baik karena
bisa pakai komputer. Aku tidak perlu langsung ahli. Paling tidak tahu mengetik,
bikin surat, atau buat desain sederhana.”
“Komputer dari mana?” tanya Roni.
“Bisa pinjam?” jawab Dimas.
“Pinjam dari siapa?” Roni kembali
bertanya.
Suasana kembali hening.
Khinanti kemudian berkata, “Di sekolah
ada dua komputer lama. Satu masih bisa dipakai, satu lagi kadang hidup kadang
tidak. Kalau kepala sekolah mengizinkan, mungkin bisa digunakan sore hari.”
“Kalau listriknya mati bagaimana?”
tanya Bagas.
“Kalau listrik mati, kita belajar yang
lain,” jawab Erlangga. “Yang penting mulai dulu.”
Ardi mengangkat bola yang dibawanya.
“Kalau aku, ingin lapangan
diperbaiki,” katanya. “Anak-anak muda sebenarnya banyak yang suka bola. Tapi
rumputnya tinggi, gawangnya rusak, dan kalau hujan lapangannya jadi kubangan.”
“Bola tidak bikin kita punya
pekerjaan,” kata Beni.
“Tidak langsung,” jawab Ardi. “Tapi
kalau ada kegiatan olahraga, pemuda tidak cuma nongkrong. Bisa lebih kompak.”
Jatmiko mengangguk. “Itu benar. Dulu
kita sering main bola. Sekarang lapangan saja sudah seperti kebun.”
Fajar yang duduk di dekat tiang kayu
ikut bicara. “Kalau boleh, ada juga pelatihan usaha kecil. Misalnya servis
motor, las, membuat kerajinan, atau cara jualan lewat telepon.”
“Jualan lewat telepon?” Roni tertawa.
“Teleponku saja masih tombol.”
“Bukan teleponmu,” jawab Fajar.
“Sekarang banyak orang pakai media sosial. Hasil kebun, makanan, atau kerajinan
bisa dipromosikan.”
Erlangga mencatat semua pendapat itu.
Ia mulai melihat pola yang jelas.
Pemuda Desa Suka Makmur bukan tidak memiliki keinginan. Mereka hanya terbiasa
menyimpan keinginan itu karena merasa tidak ada tempat untuk membicarakannya.
“Kita tidak mungkin menjalankan semua
sekaligus,” kata Erlangga setelah beberapa saat. “Tapi kita bisa memilih
langkah pertama.”
“Langkah pertama apa?” tanya Beni.
Erlangga menoleh kepada mereka satu
per satu.
“Membersihkan lapangan dan lingkungan
sekitar sekolah,” jawabnya. “Bukan karena itu satu-satunya kegiatan, tetapi
karena kita bisa melakukannya tanpa menunggu bantuan besar. Setelah itu, kita
bentuk kelompok pemuda. Dari situ, kita bisa menyusun kegiatan olahraga,
belajar komputer, dan pelatihan keterampilan.”
Ardi mengangguk. “Kalau lapangan
dibersihkan, aku bisa ajak anak-anak ikut.”
“Bagus,” kata Erlangga. “Kita
jadwalkan hari Minggu pagi.”
“Pagi?” keluh Roni. “Hari Minggu itu
waktu tidur.”
“Kalau begitu, kau tidur di lapangan,”
sahut Jatmiko, membuat suasana kembali riuh oleh tawa.
Khinanti yang sejak tadi mendengarkan
akhirnya berbicara.
“Selain membersihkan lapangan,
bagaimana kalau kita juga membuat kegiatan untuk anak-anak?” katanya. “Mereka
bisa ikut memungut sampah, menanam bunga, atau membuat poster tentang menjaga
lingkungan.”
“Itu bagus,” kata Sari. “Ibu-ibu juga
bisa membantu menyiapkan makanan sederhana.”
“Jangan sampai ibu-ibu yang bekerja
lebih banyak daripada pemudanya,” ujar Khinanti sambil memandang para pemuda.
Beni mengangkat kedua tangannya.
“Tenang, Kak. Kali ini kami yang kerja.”
Pertemuan sore itu berakhir ketika
langit mulai gelap. Tidak ada keputusan besar, tidak ada tanda tangan, dan
tidak ada janji muluk. Namun, sebelum pulang, mereka sepakat membentuk kelompok
sementara bernama Pemuda Harapan Suka Makmur.
Jatmiko dipilih menjadi koordinator
lapangan karena paling mengenal banyak pemuda. Ardi bertanggung jawab pada
kegiatan olahraga. Dimas diminta membantu menyiapkan rencana kelas komputer
dasar. Beni dan Fajar mengurus peralatan kerja bakti. Erlangga diminta membantu
menyusun kegiatan, sementara Khinanti dan Sari mendampingi kegiatan anak-anak
serta melibatkan kelompok ibu-ibu.
Ketika semua mulai beranjak pulang,
Erlangga memandangi daftar nama yang baru ditulis di buku catatannya.
Jumlahnya tidak banyak.
Hanya dua belas orang.
Namun, dua belas orang yang mau
bergerak jauh lebih berarti daripada seratus orang yang hanya menunggu.
Minggu pagi tiba dengan langit cerah.
Sejak pukul tujuh, lapangan desa yang
selama ini dipenuhi rumput liar mulai ramai. Pemuda datang membawa parang,
cangkul, sapu lidi, karung, dan beberapa alat seadanya. Jatmiko mengatur
pembagian tugas dengan suara lantang. Ardi bersama beberapa pemuda membersihkan
area gawang. Beni dan Fajar memperbaiki pagar bambu yang roboh. Dimas
mengumpulkan sampah plastik di sekitar lapangan.
Anak-anak juga datang membawa kantong
kecil. Mereka memungut bungkus makanan dan botol plastik sambil sesekali saling
berlomba siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah.
Khinanti mengawasi mereka sambil
memberi arahan.
“Jangan ambil pecahan kaca dengan
tangan kosong,” katanya. “Kalau menemukan yang tajam, panggil Kak Sari.”
Di bawah pohon mangga, Sari dan
beberapa ibu menyiapkan air minum serta singkong rebus. Bu Ratna, Ketua PKK
desa, juga datang membawa beberapa ember bibit bunga yang ia ambil dari halaman
rumahnya.
“Kalau lapangannya sudah bersih, kita
tanam bunga di pinggir jalan,” katanya.
Kegiatan itu mulai menarik perhatian
warga.
Beberapa orang yang awalnya hanya
lewat berhenti untuk melihat. Ada yang kemudian ikut membantu. Seorang bapak
membawa mesin pemotong rumput. Seorang ibu menyumbangkan beberapa kantong bibit
cabai. Anak-anak semakin bersemangat ketika melihat lapangan yang perlahan
berubah.
Erlangga bekerja bersama Beni
mengangkat tumpukan rumput kering ke dalam karung. Keringat membasahi
kemejanya. Tangannya mulai kotor oleh tanah. Namun, wajahnya tampak lega.
Pak Sastro datang menjelang siang
membawa dua cangkul tambahan.
Erlangga menoleh dengan terkejut.
“Bapak?” katanya.
Pak Sastro menyerahkan salah satu
cangkul kepada seorang pemuda.
“Cangkul kalian kurang,” katanya
singkat.
Erlangga tersenyum. “Terima kasih,
Pak.”
Pak Sastro tidak langsung menjawab. Ia
memandang lapangan yang mulai bersih, lalu melihat anak-anak yang sedang
menanam bunga bersama Khinanti.
“Kalau mau membangun sesuatu,” katanya
pelan, “jangan hanya bicara. Tangan juga harus ikut kotor.”
Erlangga mengangguk.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa
seperti pengakuan kecil dari ayahnya.
Menjelang tengah hari, lapangan desa
tampak berbeda. Rumput liar telah dipotong. Sampah-sampah dikumpulkan. Gawang
bambu yang rusak mulai diperbaiki. Di pinggir jalan, anak-anak menanam bunga
dan tanaman obat dalam botol-botol bekas yang dicat seadanya.
Tidak sempurna.
Namun, hidup.
Saat semua orang beristirahat, Pak
Darmawan datang bersama salah seorang perangkat desa. Ia melihat kegiatan itu
dengan wajah cukup terkejut.
“Ramai juga,” katanya.
“Alhamdulillah, Pak,” jawab Jatmiko.
“Kami bersih-bersih lapangan.”
Pak Darmawan mengangguk. “Bagus.
Pemuda memang harus aktif.”
Erlangga menghampiri kepala desa itu.
“Pak, kalau nanti kegiatan ini
berlanjut, kami berharap bisa mendapat dukungan dari desa. Tidak harus besar.
Mungkin alat kebersihan, cat untuk gawang, atau peminjaman ruangan untuk
pelatihan.”
Pak Darmawan tersenyum tipis. “Bisa
dibicarakan. Yang penting kegiatannya berjalan dulu.”
“Baik, Pak.”
Pak Darmawan memandang sekeliling.
“Kalau pemuda kompak seperti ini, desa tentu terbantu.”
Namun, tidak semua orang melihat
kegiatan itu dengan rasa senang.
Di seberang jalan, Pak Wiryo berdiri
di dekat mobil pikap miliknya. Ia tidak ikut mendekat. Ia hanya memandang dari
jauh, memperhatikan Erlangga yang berbicara dengan Pak Darmawan, lalu
memperhatikan pemuda-pemuda yang tampak semakin akrab dengan kegiatan baru mereka.
Wajahnya sulit dibaca.
Beberapa saat kemudian, ia masuk ke
mobil dan pergi tanpa menyapa siapa pun.
Khinanti yang melihatnya dari kejauhan
berjalan mendekati Erlangga.
“Kau lihat Pak Wiryo?” tanyanya pelan.
“Iya.”
“Dia tidak suka kalau ada sesuatu yang
bergerak tanpa melalui orang-orang tertentu.”
Erlangga menatap jalan tempat mobil
pikap itu menghilang.
“Ini hanya kerja bakti.”
“Bagi kita, mungkin. Tapi bagi orang
yang terbiasa mengatur arah, kegiatan kecil pun bisa dianggap ancaman.”
Erlangga menghela napas.
“Kalau begitu, kita harus lebih
hati-hati.”
Khinanti mengangguk. “Hati-hati, tapi
jangan takut.”
Menjelang sore, setelah semua
pekerjaan selesai, anak-anak mulai bermain bola di lapangan yang lebih bersih.
Ardi berdiri di dekat gawang sambil mengatur permainan. Teriakan dan tawa
mereka terdengar hingga ke jalan utama desa.
Raka juga ikut bermain.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa
minggu, ia tampak tersenyum lepas. Erlangga melihatnya berlari mengejar bola,
lalu jatuh di tanah dan bangkit lagi tanpa mengeluh.
Khinanti berdiri di samping Erlangga.
“Lihat Raka,” katanya. “Hari ini dia
datang lebih awal daripada anak-anak lain.”
“Dia suka bola,” jawab Erlangga.
“Mungkin kita bisa mengajak dia
membantu kegiatan pemuda nanti.”
“Pelan-pelan,” kata Erlangga,
mengingat ucapan Khinanti sebelumnya.
Khinanti tersenyum.
Sore itu, lapangan desa bukan lagi
tempat yang dipenuhi rumput liar dan sampah. Lapangan itu kembali menjadi ruang
bermain, ruang bertemu, dan ruang bagi pemuda untuk merasa bahwa mereka masih memiliki
tempat di kampung sendiri.
Erlangga memandangi mereka dengan hati
yang penuh harapan.
Ia tahu perjalanan mereka masih
panjang. Kegiatan hari itu tidak serta-merta memperbaiki jalan rusak, membuka
lapangan pekerjaan, atau menghapus semua persoalan desa. Namun, setidaknya ada
satu hal yang berubah.
Pemuda yang selama ini kehilangan arah
mulai menemukan alasan untuk berkumpul.
Bukan hanya untuk menghabiskan waktu.
Melainkan untuk mulai membangun jalan
mereka sendiri.
BAB VII
Rumah Baca dan Mimpi Anak Desa
Sejak kegiatan bersih-bersih lapangan,
suasana Desa Suka Makmur terasa sedikit berbeda.
Perubahan itu belum tampak besar.
Jalan desa masih berlubang. Saluran air masih tersumbat di beberapa titik.
Sebagian warga tetap berangkat ke kebun sebelum matahari terbit dan pulang
menjelang senja dengan tubuh lelah. Namun, ada percakapan baru yang mulai
terdengar di warung kopi, di teras rumah, dan di halaman sekolah.
Orang-orang mulai membicarakan
kegiatan pemuda.
Mereka membicarakan lapangan yang kini
lebih bersih. Mereka membicarakan anak-anak yang menanam bunga di pinggir
jalan. Mereka membicarakan Erlangga yang pulang dari kota, lalu ikut mengangkat
rumput dan sampah bersama warga.
Sebagian menyambutnya dengan senang.
Sebagian lagi masih menunggu, ingin
melihat apakah semua itu hanya semangat sesaat atau benar-benar akan bertahan.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti
memilih tidak terlalu memikirkan komentar orang. Baginya, anak-anak tetap harus
belajar. Buku-buku tetap harus dirapikan. Meja-meja kecil tetap harus
dibersihkan. Dan setiap sore, ketika anak-anak datang membawa tugas sekolah
atau sekadar ingin membaca cerita, rumah baca itu harus tetap terbuka.
Hari itu, hujan turun sejak siang.
Langit menjadi gelap lebih cepat.
Jalan tanah di depan sekolah berubah menjadi licin. Beberapa anak tidak datang
karena orang tua mereka khawatir hujan semakin deras. Namun, beberapa anak
tetap hadir, berjalan sambil membawa payung atau mengenakan jas hujan tipis.
Lila datang dengan rambut sedikit
basah. Ia memeluk sebuah buku pelajaran di dadanya.
“Kak Khinanti, aku ada tugas,”
katanya.
“Tugas apa?”
“Buat cerita tentang cita-cita.”
Khinanti tersenyum. “Sudah tahu mau
jadi apa?”
Lila menggeleng. “Aku ingin jadi
banyak.”
“Banyak itu seperti apa?”
“Aku ingin jadi guru, dokter, penulis,
dan juga orang yang bisa pergi ke bulan.”
Anak-anak lain tertawa mendengar
jawaban itu.
Khinanti tidak ikut tertawa. Ia justru
mengambil sebuah buku tulis dan memberikannya kepada Lila.
“Kalau begitu, tulis semuanya,”
katanya. “Tidak ada yang salah dengan punya banyak cita-cita.”
Lila menerima buku itu dengan wajah
berseri.
Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri.
Ia datang terlambat dengan celana yang bagian bawahnya basah oleh lumpur. Di
tangannya ada buku tulis yang sudah mulai robek di bagian sampul.
Khinanti mendekatinya.
“Kau baru pulang dari kebun?”
tanyanya.
Raka mengangguk.
“Bapak minta bantu angkat singkong.”
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Besok sekolah?”
Raka tidak langsung menjawab.
Khinanti duduk di sampingnya. “Raka,
Kakak tidak mau memaksa. Tapi Kakak ingin tahu, kenapa kau makin jarang masuk
sekolah?”
Raka memandangi lantai.
“Teman-teman sudah jauh pelajarannya,”
katanya pelan. “Aku kalau masuk, tidak mengerti. Guru tanya, aku diam. Lebih
baik bantu Bapak.”
“Kalau kau tidak mengerti, kita bisa
belajar pelan-pelan di sini.”
Raka menggeleng. “Aku tidak sepintar
yang lain.”
“Kau bukan tidak pintar,” kata
Khinanti. “Kau hanya tertinggal karena terlalu banyak hal yang harus kau
pikirkan.”
Raka tidak menjawab lagi.
Khinanti tidak memaksa. Ia tahu, anak seperti
Raka membutuhkan waktu. Mereka tidak bisa diselamatkan hanya dengan nasihat.
Mereka perlu diyakinkan bahwa ada orang yang benar-benar mau menemani mereka
berjalan.
Sore itu, Erlangga datang membawa
sebuah tas ransel besar. Bajunya sedikit basah karena hujan. Di belakangnya,
Jatmiko membawa sebuah kotak kardus.
“Assalamu’alaikum,” ucap Erlangga dari
pintu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab anak-anak.
“Ada apa itu, Abang?” tanya Lila
dengan penuh rasa ingin tahu.
Erlangga meletakkan tasnya di atas
meja.
“Ada beberapa alat belajar,” jawabnya.
“Tapi sebelum dibuka, semua harus janji satu hal.”
“Janji apa?” tanya anak-anak serempak.
“Dipakai bersama, dijaga bersama, dan
tidak berebut.”
Anak-anak mengangguk cepat.
Erlangga membuka kardus itu. Di
dalamnya terdapat beberapa buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, pensil
warna, serta dua papan tulis kecil yang dapat dipindahkan. Tidak semuanya baru,
tetapi masih bersih dan layak digunakan.
“Ini dari mana?” tanya Khinanti.
“Ada teman di kota yang membantu
mengumpulkan. Aku juga membeli sebagian,” jawab Erlangga.
Khinanti menatapnya. “Kau menghubungi
teman-temanmu?”
“Iya. Aku cerita tentang rumah baca
ini. Ternyata ada beberapa yang mau membantu.”
“Jangan sampai anak-anak menganggap
bantuan selalu datang dari luar,” kata Khinanti.
Erlangga mengangguk. “Aku setuju.
Karena itu, aku ingin anak-anak juga belajar menjaga dan mengembangkan apa yang
sudah ada.”
Ia lalu menempelkan sebuah kertas
besar di dinding.
Di bagian atas tertulis:
PETA MIMPI ANAK DESA
“Mulai hari ini,” kata Erlangga,
“setiap orang boleh menulis atau menggambar cita-citanya di kertas kecil. Tidak
harus hebat. Tidak harus sama dengan orang lain. Setelah itu, kita tempel di
sini.”
Anak-anak tampak antusias.
“Aku mau jadi pemain bola!” teriak
seorang anak laki-laki.
“Aku mau jadi dokter!” sahut yang
lain.
“Aku mau jadi polisi!”
“Aku mau jadi guru seperti Kak
Khinanti!”
“Aku mau jadi pembuat kue!” kata
seorang anak perempuan dari belakang.
Khinanti tersenyum melihat keramaian
itu. Ia mengambil kertas-kertas kecil dan membagikannya kepada anak-anak.
“Tidak perlu malu,” katanya. “Tulis
apa yang benar-benar kalian inginkan.”
Anak-anak mulai menulis dan
menggambar. Ada yang menulis dengan huruf besar-besar. Ada yang menggambar
rumah sakit, pesawat, sekolah, mobil, kebun, dan lapangan bola. Lila menggambar
roket besar dengan bintang-bintang di sekelilingnya.
Raka tidak segera menulis.
Ia hanya memegang pensil sambil
memandangi kertas kosong di depannya.
Erlangga menghampirinya dan duduk di
sebelahnya.
“Belum tahu mau menulis apa?” tanya
Erlangga.
Raka menggeleng.
“Tidak apa-apa. Dulu aku juga pernah
bingung.”
“Abang dulu ingin jadi apa?”
Erlangga berpikir sejenak. “Dulu aku
ingin jadi orang yang bisa membuat desa ini lebih baik.”
“Sudah jadi?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga
tersenyum kecil.
“Belum,” jawabnya jujur. “Aku masih
belajar.”
Raka menatapnya.
“Kalau aku tidak punya cita-cita
bagaimana?”
“Kau pasti punya. Mungkin belum berani
mengucapkannya.”
Raka kembali memandang kertas kosong.
“Aku ingin bisa memperbaiki motor,”
katanya pelan.
“Kenapa?”
“Biar bisa punya bengkel. Bapak tidak
perlu kerja terlalu berat di kebun.”
Erlangga mengangguk. “Itu cita-cita
yang bagus.”
“Tapi aku tidak tahu caranya.”
“Tidak tahu sekarang bukan berarti
tidak bisa nanti.”
Erlangga mengambil pensil warna dan
menyerahkannya kepada Raka.
“Coba gambar bengkelmu.”
Raka tampak ragu. Namun, beberapa saat
kemudian ia mulai menggambar. Garis-garisnya masih sederhana, tetapi terlihat
sebuah bangunan kecil dengan papan nama, sepeda motor, dan seorang laki-laki
berdiri di depannya.
Khinanti yang memperhatikan dari jauh
merasa dadanya menghangat.
Ia tahu, tidak semua anak membutuhkan
jawaban. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa mimpi
mereka layak didengar.
Hujan mulai reda menjelang sore.
Cahaya matahari menembus awan dan masuk melalui jendela rumah baca. Dinding
yang tadinya tampak kusam kini dipenuhi kertas-kertas kecil berwarna-warni.
Ada mimpi menjadi guru.
Ada mimpi menjadi dokter.
Ada mimpi menjadi petani yang memiliki
kebun besar.
Ada mimpi menjadi pemain bola.
Ada mimpi menjadi polisi.
Ada mimpi menjadi penulis.
Ada pula mimpi sederhana: membantu
orang tua, membuat rumah yang nyaman, atau bisa membaca buku sebanyak mungkin.
Di antara semua itu, gambar bengkel
milik Raka menempel di bagian bawah.
Khinanti berdiri di depan Peta Mimpi
Anak Desa bersama Erlangga.
“Dinding ini akan penuh,” kata
Erlangga.
“Semoga,” jawab Khinanti.
“Kalau penuh, kita buat yang lebih
besar.”
Khinanti menoleh kepadanya. “Kau
selalu berpikir jauh.”
“Karena kalau tidak, kita akan terlalu
mudah menyerah.”
Anak-anak mulai pulang ketika hujan
benar-benar berhenti. Mereka membawa buku, pensil, dan semangat baru. Lila
bahkan berulang kali menoleh ke arah dinding untuk memastikan gambar roketnya
masih menempel.
Raka menjadi salah satu anak terakhir
yang pulang.
Sebelum keluar, ia berhenti di pintu
dan menoleh kepada Khinanti.
“Kak,” katanya.
“Iya?”
“Besok aku mau datang lagi.”
Khinanti tersenyum. “Kakak tunggu.”
Setelah Raka pergi, Rumah Baca Harapan
kembali sepi. Hanya suara tetesan air dari atap yang masih terdengar. Erlangga
membantu Khinanti merapikan meja dan mengumpulkan pensil warna.
“Kau lihat?” kata Khinanti. “Raka mau
datang lagi.”
“Itu langkah kecil,” jawab Erlangga.
“Bagi anak yang hampir menyerah
sekolah, langkah kecil bisa berarti besar.”
Erlangga mengangguk.
Mereka lalu duduk di beranda rumah
baca. Udara setelah hujan terasa sejuk. Tanah di halaman mengeluarkan aroma
khas yang mengingatkan Erlangga pada masa kecilnya.
“Khinanti,” katanya setelah beberapa
saat, “aku ingin membuat kelas belajar sore yang lebih teratur.”
Khinanti menoleh. “Setiap hari?”
“Tidak perlu setiap hari. Mungkin tiga
kali seminggu. Kita bisa bagi kelompok berdasarkan usia. Anak-anak yang
kesulitan membaca, berhitung, atau mengerjakan tugas bisa dibantu.”
“Siapa yang mengajar?”
“Kau, aku, Sari, dan kalau bisa
beberapa pemuda yang mau membantu. Dimas mungkin bisa mengajarkan komputer
dasar kalau nanti sekolah mengizinkan memakai komputer.”
Khinanti memikirkan gagasan itu.
“Kalau kegiatan terlalu banyak, kita
bisa kewalahan,” katanya.
“Kita mulai kecil saja. Sepuluh anak,
dua jam, tiga kali seminggu.”
Khinanti mengangguk perlahan. “Baik.
Tapi kita harus bicara dengan orang tua mereka.”
“Setuju.”
“Dan jangan sampai kegiatan ini membuat
anak-anak merasa seperti sedang dihukum karena tertinggal pelajaran.”
“Kalau begitu, kita buat suasananya
menyenangkan.”
Khinanti tersenyum tipis. “Kau punya
banyak cara untuk membuat sesuatu terdengar mudah.”
“Bukan mudah,” jawab Erlangga. “Hanya
mungkin.”
Sore itu, sebelum pulang, mereka
menempelkan satu tulisan baru di bawah Peta Mimpi Anak Desa.
“Mimpi tidak harus
lahir dari tempat yang besar. Mimpi hanya membutuhkan tempat untuk dijaga.”
Beberapa hari kemudian, tulisan itu
mulai dibaca oleh banyak orang.
Anak-anak membacanya sebelum masuk
rumah baca.
Para ibu membacanya ketika menjemput
anak.
Pemuda yang lewat di depan sekolah
berhenti sejenak untuk melihat dinding penuh cita-cita.
Bahkan Pak Sastro yang suatu sore
datang membawa singkong rebus untuk Erlangga, berdiri cukup lama di depan Peta
Mimpi Anak Desa.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, ketika pulang, ia membawa satu
lembar kertas kecil yang terjatuh dari dinding. Di atasnya terdapat tulisan
seorang anak:
Aku ingin desa kami
punya sekolah yang bagus.
Pak Sastro menyimpan kertas itu di
saku bajunya.
Di Desa Suka Makmur, rumah baca kecil
itu perlahan menjadi lebih dari sekadar tempat meminjam buku.
Ia menjadi tempat anak-anak belajar
percaya pada diri sendiri.
Tempat pemuda mulai melihat bahwa mereka
dapat menjadi bagian dari perubahan.
Dan bagi Erlangga serta Khinanti,
rumah baca itu menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari
jalan beton, gedung besar, atau anggaran yang banyak.
Kadang, pembangunan dimulai dari satu
anak yang berani menuliskan mimpinya.
Lalu dari satu orang dewasa yang
memilih untuk tidak membiarkan mimpi itu hilang.
BAB VIII
Jalan yang Tidak Selalu Mulus
Kelas belajar sore mulai berjalan pada
minggu berikutnya.
Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, Rumah
Baca Harapan kembali dipenuhi suara anak-anak. Mereka datang membawa buku
pelajaran, pensil, dan berbagai pertanyaan yang kadang sederhana, kadang sulit
dijawab. Ada yang ingin belajar membaca lebih lancar, ada yang kesulitan
menghitung pecahan, ada pula yang hanya ingin ditemani mengerjakan tugas
sekolah.
Khinanti mengatur anak-anak
berdasarkan usia dan kemampuan belajar. Anak-anak kelas rendah duduk di tikar
dekat jendela. Mereka belajar membaca suku kata, mengenal angka, dan menulis
kalimat sederhana. Anak-anak yang lebih besar menggunakan meja-meja kayu untuk
mengerjakan tugas matematika, bahasa Indonesia, dan ilmu pengetahuan alam.
Erlangga membantu di kelompok
anak-anak sekolah menengah. Ia tidak selalu mampu menjawab semua pertanyaan,
tetapi ia berusaha membuat pelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan
mereka.
“Kalau satu kebun menghasilkan dua
puluh karung singkong,” katanya suatu sore kepada Raka dan beberapa temannya,
“lalu lima karung dijual dengan harga tertentu, bagaimana kita menghitung
pendapatannya?”
Raka yang biasanya diam mulai mencoba
menjawab.
“Dikalikan harga satu karung?” katanya
ragu.
“Betul,” jawab Erlangga. “Nah,
matematika bukan hanya soal angka di buku. Matematika juga membantu kita
menghitung hasil kerja orang tua kita.”
Raka tersenyum kecil.
Dimas datang setiap Kamis membawa
sebuah laptop lama milik sepupunya. Laptop itu tidak terlalu cepat, beberapa
tombolnya mulai pudar, dan baterainya hanya bertahan sebentar. Namun, bagi
anak-anak dan pemuda yang belum pernah menggunakan komputer, benda itu terasa
seperti jendela menuju dunia baru.
Mereka belajar menyalakan komputer,
mengetik nama sendiri, membuat surat sederhana, dan mengenal cara menyimpan
dokumen. Kadang mereka berebut ingin mencoba. Kadang layar tiba-tiba macet.
Kadang listrik padam sebelum pelajaran selesai.
Namun, tidak ada yang benar-benar
mengeluh.
“Besok lanjut lagi,” kata Dimas setiap
kali kelas terhenti.
Pelan-pelan, Rumah Baca Harapan
menjadi semakin ramai.
Para ibu mulai datang untuk melihat
kegiatan anak-anak. Beberapa dari mereka membawa makanan kecil. Ada yang
menyumbangkan buku bekas. Ada yang menawarkan diri membantu membersihkan
ruangan. Bu Ratna dari PKK bahkan mengusulkan agar suatu hari rumah baca juga
digunakan untuk pelatihan membuat makanan ringan dan kerajinan.
Khinanti menyambut semua itu dengan
hati-hati. Ia senang karena dukungan mulai tumbuh, tetapi ia juga tidak ingin
rumah baca kehilangan arah.
“Kita boleh berkembang,” katanya
kepada Erlangga suatu sore, “tapi jangan sampai semua kegiatan masuk tanpa
pengaturan. Anak-anak tetap harus menjadi pusatnya.”
Erlangga mengangguk. “Kita buat jadwal
yang jelas. Anak-anak sore hari, pemuda malam tertentu, ibu-ibu pada akhir
pekan.”
“Dan semua harus bergantian menjaga
kebersihan.”
“Setuju.”
Mereka mulai menulis jadwal di papan
tulis besar. Di bagian atas, Khinanti menuliskan:
RUMAH BACA HARAPAN
Ruang Belajar, Ruang Bertumbuh, Ruang Bersama
Namun, di balik perkembangan kecil
itu, tidak semua hal berjalan mulus.
Suatu pagi, Khinanti datang ke rumah
baca lebih awal karena ingin menyiapkan bahan belajar. Ketika membuka pintu, ia
terkejut melihat beberapa buku berserakan di lantai. Salah satu meja kayu
bergeser dari tempatnya. Di dinding, beberapa kertas Peta Mimpi Anak Desa
terlepas dan basah karena terkena air hujan dari jendela yang tidak tertutup
rapat.
Khinanti segera memeriksa ruangan.
Tidak ada barang berharga yang hilang.
Tidak ada kerusakan besar. Namun, beberapa buku baru tampak tercoret dan satu
kotak pensil warna tidak lagi lengkap.
Ia berdiri diam cukup lama.
Pagi itu, Erlangga datang membawa
beberapa lembar kertas untuk kelas belajar. Ketika melihat keadaan rumah baca,
wajahnya langsung berubah.
“Ada yang masuk?” tanyanya.
“Mungkin,” jawab Khinanti pelan. “Atau
anak-anak yang bermain di sini sore kemarin. Aku tidak tahu.”
Erlangga memeriksa jendela belakang.
Salah satu kaitnya longgar.
“Ini harus diperbaiki,” katanya.
“Kita perbaiki nanti.”
“Bukan hanya itu. Kita perlu kunci
yang lebih baik.”
Khinanti menghela napas. “Kita tidak
punya banyak uang untuk semua itu.”
“Aku bisa beli.”
Khinanti menatapnya. “Tidak semua
masalah harus kau selesaikan dengan uangmu.”
“Aku hanya ingin rumah baca ini aman.”
“Aku juga ingin. Tapi kalau semua
kebutuhan selalu kau tanggung sendiri, orang-orang akan menganggap ini milikmu,
bukan milik bersama.”
Erlangga terdiam.
Khinanti melanjutkan, “Kita harus
mengajak warga ikut menjaga. Kalau ada yang merusak, warga harus merasa itu
juga merusak milik mereka sendiri.”
Erlangga memandang buku-buku yang
berserakan. Ia tahu Khinanti benar. Namun, melihat rumah baca dalam keadaan
seperti itu membuatnya sulit menahan rasa kesal.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita ajak
warga bicara.”
Siang itu, Khinanti dan Erlangga
mengumpulkan beberapa anak yang biasa datang ke rumah baca. Mereka tidak ingin
langsung menuduh siapa pun. Mereka hanya ingin mendengar.
“Siapa yang terakhir di sini kemarin?”
tanya Khinanti.
Beberapa anak saling pandang.
Lila mengangkat tangan. “Aku pulang
sebelum hujan.”
“Siapa lagi?”
Raka menunduk.
Erlangga memperhatikan anak itu.
“Raka?” tanyanya pelan.
Raka tidak menjawab.
Khinanti mendekat. “Tidak apa-apa
kalau kau tahu sesuatu. Kakak tidak akan marah kalau kau berkata jujur.”
Raka menggigit bibirnya.
“Aku lihat Danu sama dua temannya di
belakang rumah baca,” katanya pelan. “Mereka masuk dari jendela.”
“Danu?” Khinanti mengulang.
Danu adalah remaja berusia lima belas
tahun yang sudah tidak sekolah. Ia tinggal bersama neneknya di ujung desa.
Beberapa bulan terakhir, ia sering terlihat berkeliaran di sekitar warung kopi
bersama dua temannya. Ia bukan anak yang dikenal jahat, tetapi ia sering
membuat masalah kecil dan mudah terbawa ajakan orang lain.
“Kenapa kau tidak bilang dari
kemarin?” tanya Erlangga.
Raka menunduk lebih dalam. “Aku
takut.”
Khinanti menatap Erlangga, memberi
isyarat agar tidak mendesak Raka.
“Terima kasih sudah jujur,” kata
Khinanti lembut. “Kau sudah berani melakukan hal yang benar.”
Sore itu, Erlangga dan Khinanti pergi
ke rumah Danu. Rumahnya kecil dan berada di belakang kebun singkong. Nenek Danu
sedang duduk di beranda sambil memilah daun singkong.
“Assalamu’alaikum,” sapa Khinanti.
“Wa’alaikumussalam,” jawab nenek itu.
“Ada apa, Nak?”
“Kami ingin bertemu Danu, Nek,” kata
Erlangga.
Nenek itu memanggil cucunya.
Danu keluar dari dalam rumah dengan
wajah datar. Ia mengenakan kaus lusuh dan celana pendek. Ketika melihat
Erlangga serta Khinanti, wajahnya tampak sedikit tegang.
“Kami ingin bicara,” kata Khinanti.
“Aku tidak buat apa-apa,” jawab Danu
cepat.
“Kami belum mengatakan kau melakukan
apa,” kata Erlangga.
Danu terdiam.
Khinanti tidak langsung menuduh. Ia
duduk di kursi kayu di beranda rumah itu.
“Kami hanya ingin tahu kenapa kau
masuk ke Rumah Baca Harapan kemarin.”
Danu memalingkan wajah.
“Tidak ada apa-apa.”
“Buku-buku berserakan. Ada yang
dicoret. Pensil warna hilang,” kata Erlangga, kali ini dengan nada lebih tegas.
Danu mengepalkan tangan.
“Aku cuma mau pinjam,” katanya
akhirnya.
“Pinjam tanpa izin?” tanya Erlangga.
Danu tidak menjawab.
Neneknya menatap cucunya dengan wajah
sedih. “Danu, benar begitu?”
Danu menunduk.
“Aku cuma mau ambil buku gambar,”
katanya pelan. “Adik sepupuku suka gambar. Aku mau kasih dia.”
“Lalu kenapa buku-bukunya berserakan?”
tanya Erlangga.
“Teman-temanku yang buat.”
“Dan pensil warnanya?”
Danu diam cukup lama.
“Aku ambil satu kotak,” katanya.
Khinanti memandangnya tanpa marah.
“Kenapa kau tidak datang saja ke rumah
baca?” tanyanya.
Danu tertawa kecil, pahit. “Untuk apa?
Aku sudah tidak sekolah. Anak-anak di sana pasti lihat aku aneh.”
“Tidak ada yang aneh dengan datang
untuk belajar,” kata Khinanti.
“Sudah terlambat,” jawab Danu.
Kalimat itu membuat suasana menjadi
sunyi.
Erlangga menatap Danu. Ia melihat
sesuatu yang selama ini mungkin tidak diperhatikan banyak orang: bukan
keberanian untuk berbuat salah, tetapi rasa malu karena merasa tertinggal.
“Kau masih bisa belajar,” kata
Erlangga.
Danu menggeleng. “Aku tidak bisa baca
lancar. Kalau disuruh baca, aku malu.”
Khinanti menarik napas pelan.
“Kalau begitu, kita mulai dari sana,”
katanya.
Danu menatapnya, seolah tidak percaya.
“Kau harus bertanggung jawab atas apa
yang terjadi,” lanjut Khinanti. “Kau dan teman-temanmu harus membantu
membersihkan rumah baca, mengembalikan barang yang diambil, dan meminta maaf
kepada anak-anak.”
Danu menunduk.
“Tapi setelah itu,” kata Khinanti,
“kalau kau mau datang untuk belajar, pintu rumah baca tetap terbuka.”
Nenek Danu menatap Khinanti dengan
mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nak,” katanya pelan.
“Danu ini sebenarnya anak baik. Sejak orang tuanya pergi kerja ke luar pulau,
dia berubah. Dia sering merasa tidak punya siapa-siapa.”
Danu tetap diam.
Namun, untuk pertama kalinya, wajahnya
tidak lagi tampak menantang.
Dua hari kemudian, Danu datang ke
Rumah Baca Harapan bersama dua temannya. Mereka membawa sapu, ember, dan kain
lap. Dengan wajah canggung, mereka membersihkan lantai, merapikan buku, dan
memperbaiki jendela belakang yang longgar.
Anak-anak memperhatikan dari kejauhan.
Setelah selesai, Danu berdiri di depan
mereka.
“Aku minta maaf,” katanya singkat.
“Aku masuk tanpa izin dan bikin berantakan.”
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada
ejekan. Hanya keheningan.
Lila kemudian berjalan mendekat sambil
membawa sebuah buku gambar.
“Kalau mau gambar, pakai ini saja,”
katanya polos.
Danu tampak terkejut.
“Boleh?”
“Boleh. Tapi jangan dibawa pulang
tanpa bilang.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Danu menerima buku itu dengan tangan
yang sedikit gemetar.
Sejak hari itu, ia mulai datang ke
rumah baca setiap Sabtu sore. Awalnya ia hanya duduk di pojok, melihat
anak-anak belajar. Namun, Khinanti memberinya buku bacaan paling sederhana.
Erlangga mengajaknya membantu memperbaiki kursi dan meja. Jatmiko sesekali
mengajarkan dasar-dasar memperbaiki motor.
Pelan-pelan, Danu mulai berubah.
Ia belum banyak bicara. Ia masih
sering malu ketika diminta membaca keras-keras. Namun, ia tidak lagi
menghindar. Ia mulai membantu mengatur buku, menyapu halaman, dan menjaga
anak-anak kecil ketika Khinanti sedang mengajar.
Bagi Erlangga, peristiwa itu menjadi
pelajaran penting.
Membangun desa bukan hanya tentang
membuat program baru atau memperbaiki fasilitas. Kadang, pembangunan berarti
memberi kesempatan kepada seseorang yang sudah terlanjur merasa tidak berguna.
Suatu sore, setelah kelas belajar
selesai, Erlangga duduk di beranda rumah baca bersama Khinanti. Matahari hampir
tenggelam. Danu sedang membantu Raka membawa beberapa kursi ke dalam ruangan.
“Kau benar,” kata Erlangga.
“Benar tentang apa?”
“Tidak semua masalah bisa diselesaikan
dengan uang.”
Khinanti tersenyum tipis. “Akhirnya
kau mengakuinya.”
“Aku masih belajar.”
“Bagus.”
Erlangga memandang halaman rumah baca
yang mulai sepi.
“Aku tadi melihat Danu membantu Raka.
Kalau dulu orang hanya memarahinya, mungkin dia tidak akan datang lagi.”
“Orang yang sudah lama merasa tidak
diterima biasanya lebih mudah percaya bahwa dirinya memang tidak punya tempat,”
kata Khinanti.
“Dan rumah baca ini memberi dia
tempat.”
“Bukan hanya rumah baca,” jawab
Khinanti. “Orang-orang di dalamnya juga.”
Erlangga mengangguk.
Mereka terdiam beberapa saat.
Di dinding rumah baca, Peta Mimpi Anak
Desa masih penuh oleh kertas-kertas kecil. Sebagian mulai pudar. Sebagian
ujungnya terlipat. Namun, tulisan-tulisan itu tetap ada.
Di antara gambar roket, sekolah,
kebun, dan lapangan bola, kini muncul satu gambar baru.
Sebuah sepeda motor dengan tulisan
sederhana di bawahnya:
Aku ingin bisa
memperbaiki motor dan punya bengkel.
Gambar itu dibuat oleh Danu.
Erlangga memandangnya cukup lama.
Jalan menuju perubahan memang tidak
selalu mulus.
Kadang ada kesalahan.
Kadang ada kekecewaan.
Kadang ada orang yang tersesat karena
tidak pernah merasa memiliki tempat untuk kembali.
Namun, selama masih ada pintu yang
terbuka, tangan yang mau membimbing, dan hati yang tidak mudah menghakimi,
jalan itu selalu dapat ditemukan kembali.
BAB IX
Bisik-Bisik di Warung Kopi
Warung kopi Pak Maman berdiri di tepi
jalan utama Desa Suka Makmur.
Bangunannya sederhana, berdinding
papan dengan atap seng yang mulai kusam. Di depannya terdapat beberapa bangku
panjang dari kayu. Di atas meja, selalu tersedia toples berisi kerupuk, kacang
goreng, dan rokok. Pada pagi hari, warung itu ramai oleh warga yang hendak
pergi ke kebun. Menjelang sore, tempat itu berubah menjadi ruang berkumpul bagi
para pemuda, petani, dan warga yang ingin melepas lelah setelah seharian
bekerja.
Di desa kecil seperti Suka Makmur,
warung kopi bukan hanya tempat minum kopi.
Di sana, kabar beredar.
Di sana, pendapat tumbuh.
Dan di sana pula, kadang-kadang,
sebuah niat baik dapat berubah menjadi bahan pembicaraan.
Sore itu, hujan baru saja berhenti.
Jalan tanah di depan warung masih basah dan berlumpur. Beberapa motor terparkir
di bawah pohon mangga. Di dalam warung, aroma kopi hitam bercampur dengan bau
tanah setelah hujan.
Pak Maman sedang menyeduh kopi ketika
Pak Wiryo datang bersama dua orang warga, Pak Darto dan Pak Karman. Mereka
duduk di bangku paling dekat dengan jendela.
“Ramai juga sekarang Rumah Baca
Harapan itu,” kata Pak Darto sambil meniup kopi panasnya.
Pak Karman mengangguk. “Anak-anak
memang banyak datang. Kemarin anak saya pulang membawa buku cerita.”
“Bagus, kalau memang begitu,” jawab
Pak Darto. “Tapi saya dengar Erlangga yang banyak mengurus sekarang.”
Pak Wiryo yang sejak tadi diam
akhirnya berbicara.
“Dia memang kelihatan aktif,” katanya.
“Rumah baca, pemuda, lapangan, kelas belajar. Semua ingin dia urus.”
Nada suaranya datar, tetapi cukup
membuat Pak Darto menoleh.
“Menurut Pak Wiryo, itu tidak baik?”
tanya Pak Darto.
“Bukan tidak baik,” jawab Pak Wiryo.
“Hanya saja, kita harus hati-hati. Orang yang baru pulang dari kota kadang
membawa banyak rencana. Awalnya ramai, setelah itu pergi lagi.”
Pak Karman mengangguk pelan. “Memang
pernah ada yang begitu. Dulu ada juga yang datang membawa pelatihan, foto-foto,
lalu tidak pernah muncul lagi.”
“Betul,” kata Pak Wiryo. “Jangan
sampai warga terlalu berharap.”
Percakapan itu didengar oleh Ardi yang
sedang duduk di ujung warung bersama Beni dan Roni. Mereka baru selesai
memperbaiki salah satu gawang di lapangan desa. Pakaian mereka masih sedikit
kotor oleh tanah.
Ardi menatap Beni.
“Dengar itu?” katanya pelan.
Beni menghela napas. “Biarkan saja.”
“Tapi mereka bicara seolah-olah
Erlangga cuma cari nama.”
“Kalau kita marah, nanti malah jadi
ribut.”
Roni yang biasanya banyak bercanda
kali ini tampak serius.
“Orang memang gampang bicara,”
katanya. “Mereka tidak ikut bersih-bersih lapangan, tidak ikut memperbaiki
rumah baca, tapi paling cepat menilai.”
Pak Maman datang membawa tiga gelas
teh hangat untuk mereka.
“Sudah, jangan ikut panas,” katanya.
“Di desa, kalau ada orang bergerak, pasti ada yang mendukung dan ada yang
meragukan. Itu biasa.”
“Kalau dibiarkan, nanti kabarnya makin
macam-macam, Pak,” kata Ardi.
Pak Maman tersenyum tipis. “Kabar itu
seperti asap dapur. Kalau tidak ada api, lama-lama hilang sendiri. Tapi kalau
ada api besar, baru orang tahu dari mana asalnya.”
Ardi terdiam, mencoba memahami maksud
lelaki tua itu.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti sedang
menempelkan jadwal kelas belajar sore yang baru di dinding. Di sampingnya, Danu
membantu merapikan buku-buku yang telah selesai dibaca. Raka duduk di meja
kecil sambil mengerjakan soal matematika.
Sari datang dengan wajah sedikit
tergesa.
“Khinanti,” katanya pelan.
“Ada apa?”
“Aku baru dari warung Pak Maman.”
Khinanti berhenti menempelkan kertas.
“Kenapa?”
Sari mendekat dan menurunkan suaranya.
“Ada yang membicarakan Erlangga.”
Khinanti menatapnya.
“Membicarakan apa?”
“Katanya Erlangga terlalu banyak ikut
campur. Katanya kegiatan rumah baca dan pemuda itu hanya untuk mencari
perhatian. Ada juga yang bilang mungkin dia ingin punya jabatan di desa.”
Tangan Khinanti berhenti.
“Siapa yang bilang?”
Sari tidak langsung menjawab.
“Beberapa warga,” katanya akhirnya.
“Pak Wiryo juga ada di sana.”
Khinanti menarik napas pelan. Dadanya
terasa sesak. Bukan karena ia tidak pernah mendengar gosip di desa. Ia tahu, di
tempat kecil, setiap langkah mudah menjadi bahan pembicaraan. Namun, ia tidak
suka melihat seseorang yang sedang berusaha justru dicurigai.
“Erlangga tahu?” tanyanya.
“Belum. Jatmiko katanya mau memberi
tahu.”
Khinanti menatap papan jadwal di
dinding. Tulisan-tulisan itu mendadak terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Sore menjelang malam, Erlangga datang
ke Rumah Baca Harapan membawa beberapa lembar bahan belajar. Ia tampak biasa
saja. Ia menyapa anak-anak, membantu Raka mengerjakan soal, lalu memeriksa
jendela belakang yang masih perlu diperkuat.
Khinanti memperhatikannya beberapa
saat sebelum akhirnya berkata, “Langga, aku mau bicara.”
Erlangga menoleh. “Ada apa?”
“Bisa di luar sebentar?”
Mereka keluar ke beranda rumah baca.
Langit mulai berubah gelap. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik. Anak-anak
masih berada di dalam ruangan bersama Sari dan Danu.
Khinanti berdiri dengan kedua tangan
saling menggenggam.
“Ada orang yang membicarakanmu di
warung kopi,” katanya.
Erlangga tidak tampak terkejut.
“Mereka bilang apa?”
“Kau dianggap terlalu banyak ikut
campur. Ada yang bilang kau hanya ingin mencari perhatian. Ada yang curiga kau
punya maksud lain.”
Erlangga terdiam sesaat.
“Siapa yang bicara?”
“Apakah itu penting?”
“Tidak,” jawab Erlangga. “Aku hanya
ingin tahu seberapa jauh kabarnya.”
Khinanti menatapnya. “Kau tidak
marah?”
Erlangga tersenyum kecil, tetapi
senyumnya tidak benar-benar terlihat bahagia.
“Marah tidak akan mengubah apa-apa.”
“Mereka tidak tahu apa yang sudah kau
lakukan.”
“Mereka juga tidak wajib langsung
percaya.”
“Kau terlalu tenang.”
“Tidak, Khinanti,” katanya pelan. “Aku
hanya pernah pergi terlalu lama. Aku tahu kenapa mereka ragu.”
Khinanti terdiam.
Erlangga melanjutkan, “Aku pulang
setelah bertahun-tahun tinggal di kota. Lalu tiba-tiba aku ikut mengurus rumah
baca, kegiatan pemuda, dan anak-anak. Wajar kalau ada yang bertanya: apakah aku
akan bertahan?”
“Tapi kau memang ingin bertahan.”
“Aku tahu itu. Kau mungkin mulai tahu.
Jatmiko dan anak-anak juga tahu. Tapi warga lain belum tentu.”
Khinanti memandang wajahnya. Ada keteguhan
di sana, tetapi juga luka kecil yang berusaha ia sembunyikan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
tanya Khinanti.
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Aku tidak akan mendatangi warung kopi
dan menjelaskan satu per satu. Aku tidak akan membela diri dengan kata-kata.
Kalau aku benar-benar serius, waktu akan menjawabnya.”
Khinanti menghela napas.
“Kadang aku ingin membela kamu,”
katanya.
Erlangga menatapnya dengan lembut.
“Terima kasih. Tapi jangan sampai rumah baca ini berubah menjadi tempat kita
melawan orang-orang.”
“Aku hanya tidak suka mereka
meremehkanmu.”
“Jangan khawatir. Selama kita tetap
bekerja dengan baik, anak-anak tetap belajar, dan pemuda tetap bergerak, orang
akan melihat sendiri.”
Malam itu, Khinanti pulang dengan
pikiran yang tidak tenang.
Di sepanjang jalan, ia memikirkan
kata-kata Erlangga. Ia kagum pada cara laki-laki itu menahan diri. Namun, ia
juga merasa kesal karena kebaikan sering kali harus melewati begitu banyak
kecurigaan.
Keesokan harinya, kabar dari warung
kopi mulai menyebar.
Ada yang mengatakan Erlangga ingin
menjadi perangkat desa.
Ada yang mengatakan ia sedang
membangun pengaruh agar suatu hari bisa mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Ada pula yang mengatakan kegiatan
rumah baca hanya akan bertahan selama Erlangga masih punya uang.
Sebagian warga tidak percaya. Sebagian
lagi memilih diam. Namun, bisik-bisik itu cukup untuk membuat beberapa orang
mulai menjaga jarak.
Dua ibu yang biasanya datang membawa
makanan untuk anak-anak tidak terlihat selama beberapa hari. Seorang pemuda
yang sebelumnya ingin ikut kelas komputer mendadak membatalkan niatnya. Bahkan
ada orang tua yang bertanya kepada Khinanti apakah anak-anak mereka harus
membayar untuk mengikuti kelas belajar.
“Tidak ada biaya,” jawab Khinanti.
“Benarkah? Katanya nanti akan ada iuran.”
“Tidak ada iuran,” ulang Khinanti
dengan tegas.
Namun, pertanyaan itu membuatnya sadar
bahwa bisik-bisik telah mulai memengaruhi kepercayaan warga.
Sore itu, jumlah anak yang datang ke
rumah baca lebih sedikit dari biasanya.
Lila tetap hadir. Raka datang membawa
buku matematika. Danu juga datang, lalu membantu menyapu halaman. Namun,
beberapa anak lain tidak muncul.
Khinanti duduk di dekat jendela sambil
memandangi kursi-kursi kosong.
Erlangga datang tidak lama kemudian.
Ia langsung menyadari suasana yang berbeda.
“Anak-anak lebih sedikit,” katanya.
“Iya.”
“Karena hujan?”
Khinanti menggeleng.
Erlangga tidak bertanya lagi. Ia sudah
memahami.
Danu yang sedang menyusun buku di rak
tiba-tiba berkata, “Kalau orang-orang tidak percaya, kenapa Abang tetap datang?”
Erlangga menoleh.
Danu tampak ragu, tetapi ia
melanjutkan, “Dulu aku juga tidak percaya kalau Kak Khinanti mau menerima aku
lagi. Tapi Kak Khinanti tetap bilang aku boleh datang.”
Khinanti memandang Danu.
Erlangga tersenyum kecil.
“Karena kadang orang tidak percaya
bukan karena mereka jahat,” jawab Erlangga. “Mereka hanya pernah kecewa.”
“Kalau mereka tetap tidak percaya?”
tanya Danu.
“Ya, kita tetap lakukan yang benar.”
Danu mengangguk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana,
tetapi bagi Khinanti, kata-kata Erlangga seperti menguatkan sesuatu di dalam
dirinya. Ia lalu berdiri dan mengambil papan tulis kecil.
“Baik,” katanya kepada anak-anak.
“Hari ini kita belajar membuat surat.”
“Surat untuk siapa?” tanya Lila.
“Untuk masa depan kalian,” jawab
Khinanti.
Anak-anak tampak bingung, tetapi
mereka mulai mengambil buku tulis.
Erlangga membantu membagikan kertas.
Raka menulis dengan serius. Danu yang masih kesulitan membaca meminta bantuan
Khinanti untuk mengeja beberapa kata.
Di luar, langit sore mulai berubah
jingga.
Di warung kopi, bisik-bisik mungkin
masih berlanjut.
Di beberapa rumah, orang mungkin masih
mempertanyakan niat Erlangga.
Namun, di Rumah Baca Harapan, kegiatan
tetap berjalan.
Anak-anak tetap membaca.
Pemuda tetap belajar.
Danu tetap mencoba mengeja kata demi
kata.
Dan Erlangga tetap datang, bukan untuk
membuktikan dirinya dalam satu hari, melainkan untuk menunjukkan bahwa
kepulangan tidak selalu harus dijelaskan dengan pidato panjang.
Kadang, kepulangan cukup dibuktikan
dengan hadir.
Hari demi hari.
Saat orang lain meragukan.
Saat jalan terasa sepi.
Saat tidak semua orang menyambut.
Karena bagi seseorang yang benar-benar
ingin membangun, bisik-bisik bukan alasan untuk berhenti.
Bisik-bisik hanyalah ujian pertama
untuk melihat apakah sebuah niat mampu bertahan dalam diam.
BAB X
Hujan di Atas Lapangan Desa
Sejak bisik-bisik mulai beredar di
warung kopi, suasana kegiatan pemuda di Desa Suka Makmur tidak lagi sama
seperti sebelumnya.
Bukan karena lapangan kembali dipenuhi
rumput liar. Bukan pula karena Rumah Baca Harapan berhenti membuka pintunya.
Semua kegiatan tetap berjalan, meski dengan langkah yang lebih pelan. Namun,
ada sesuatu yang berubah dalam cara sebagian warga memandang Erlangga dan
kelompok pemuda.
Beberapa orang yang biasanya hanya menonton
dari kejauhan kini terlihat semakin jarang berhenti di sekitar lapangan. Ada
pula yang datang, tetapi tidak lagi banyak bertanya atau memberi semangat.
Mereka seakan memilih menunggu dari jauh, ingin melihat apakah gerakan kecil
itu benar-benar bertahan atau akan hilang seperti kegiatan-kegiatan lain yang
pernah datang dan pergi.
Bagi Jatmiko, keadaan itu cukup
mengganggu.
Sore itu, ia duduk di pinggir lapangan
sambil mengikat tali pada salah satu tiang gawang bambu. Di sebelahnya, Ardi
sedang memeriksa bola yang mulai mengempis. Beni dan Fajar membawa beberapa
karung pasir untuk menutup bagian lapangan yang berlubang.
“Kita harus jadi mengadakan
pertandingan persahabatan itu,” kata Ardi.
“Kalau hujan bagaimana?” tanya Beni.
“Kalau hujan, ya ditunda.”
“Sudah dua minggu hujan hampir tiap
sore.”
Ardi menghela napas. “Kalau terus
menunggu cuaca bagus, kita tidak akan pernah mulai.”
Jatmiko berhenti mengikat tali.
“Pertandingan ini bukan cuma soal
bola,” katanya. “Kita sudah mengundang pemuda dari Dusun Timur. Kalau jadi,
warga akan lihat bahwa lapangan ini memang bisa dipakai lagi.”
Beni mengangguk. “Tapi peralatan kita
kurang. Gawang masih miring. Garis lapangan belum ada. Bola cuma satu yang
layak.”
“Yang penting jalan dulu,” jawab
Jatmiko.
Erlangga datang membawa beberapa papan
tipis dan cat putih. Ia baru pulang dari rumah Pak Sastro setelah membantu
memperbaiki pagar kebun.
“Ini untuk apa?” tanya Ardi.
“Untuk papan skor sederhana,” jawab
Erlangga. “Dan cat untuk garis lapangan.”
“Dari mana kau dapat?”
“Ada sisa di gudang rumah.”
Beni tersenyum. “Untung kau pulang
dari kota, tapi masih punya barang-barang kampung.”
Erlangga tertawa kecil.
Mereka mulai bekerja. Ardi dan Fajar
mengukur lapangan menggunakan tali rafia. Beni mencampur cat dengan air di
dalam ember. Jatmiko memasang papan skor dari kayu bekas. Erlangga membantu
menegakkan kembali tiang gawang yang miring.
Menjelang petang, awan hitam mulai
berkumpul di atas desa.
Angin bertiup lebih kencang dari
biasanya. Daun-daun pohon di sekitar lapangan bergoyang. Anak-anak yang sejak
tadi bermain bola mulai berlari ke pinggir lapangan sambil membawa sandal
mereka.
“Sepertinya hujan,” kata Fajar.
“Cepat selesaikan garisnya,” jawab
Ardi.
Namun, hujan turun sebelum pekerjaan
selesai.
Awalnya hanya gerimis kecil. Lalu
dalam hitungan menit, air turun semakin deras. Cat putih yang baru saja dibuat
di beberapa bagian lapangan mulai larut dan mengalir bersama air. Tanah yang
telah diratakan kembali berubah menjadi lumpur. Karung-karung pasir yang belum
digunakan basah terkena hujan.
“Angkat catnya!” teriak Beni.
“Papan skornya!” sahut Jatmiko.
Mereka berlari menyelamatkan peralatan
seadanya. Erlangga dan Ardi mengangkat papan skor ke bawah atap sekolah. Fajar
membawa ember cat. Beni berusaha menahan tiang gawang agar tidak roboh diterpa
angin.
Namun, satu tiang bambu tetap patah.
Bunyi retaknya terdengar cukup keras.
Semua orang berhenti sejenak.
Tiang itu jatuh ke tanah berlumpur.
Jatmiko memandangnya dengan wajah
kesal.
“Sudah susah-susah diperbaiki,”
katanya.
Tidak ada yang menjawab.
Hujan terus turun. Lapangan yang
beberapa hari lalu mulai tampak rapi kini kembali dipenuhi genangan.
Garis-garis yang dibuat dengan susah payah hilang. Di beberapa bagian, tanah
tergerus dan membentuk lubang baru.
Ardi duduk di bawah teras sekolah
sambil memegang bola yang basah.
“Pertandingannya pasti batal,”
katanya.
“Belum tentu,” jawab Erlangga.
“Lihat lapangannya, Langga. Mau main
di mana?”
“Kita lihat besok. Kalau tidak bisa
hari Minggu, kita jadwalkan ulang.”
“Kalau dijadwalkan ulang, pemuda Dusun
Timur belum tentu bisa datang lagi,” kata Jatmiko. “Mereka juga punya kegiatan
sendiri.”
Erlangga memandang lapangan yang
diguyur hujan.
Ia memahami kekecewaan teman-temannya.
Mereka telah bekerja keras. Mereka ingin membuktikan bahwa pemuda desa mampu
membuat sesuatu tanpa selalu menunggu bantuan. Namun, hujan tidak peduli pada
rencana mereka.
Khinanti datang membawa beberapa gelas
teh hangat dari rumah baca. Ia ditemani Sari yang membawa singkong rebus dalam
wadah plastik.
“Kalian semua basah,” kata Khinanti.
“Lapangan lebih basah,” jawab Ardi
sambil tersenyum hambar.
Khinanti melihat tiang gawang yang
patah dan garis lapangan yang hilang.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Yang
rusak bisa diperbaiki.”
Jatmiko menggeleng. “Bukan cuma itu,
Kak. Orang-orang sudah mulai meragukan kita. Kalau pertandingan batal, mereka
akan bilang benar: kegiatan ini cuma ramai di awal.”
Khinanti terdiam.
Ia tahu kata-kata Jatmiko bukan
sekadar keluhan. Sejak bisik-bisik di warung kopi menyebar, para pemuda merasa
seolah setiap langkah mereka sedang dinilai. Kegagalan kecil bisa berubah
menjadi bahan pembicaraan besar.
Erlangga menerima gelas teh dari
Khinanti.
“Kita tidak boleh menjalankan kegiatan
hanya untuk membungkam omongan orang,” katanya.
“Lalu untuk apa?” tanya Jatmiko.
“Untuk diri kita sendiri. Untuk
anak-anak yang ingin punya tempat bermain. Untuk pemuda yang ingin punya
kegiatan. Untuk desa yang ingin bergerak.”
“Tapi orang-orang tetap akan bicara.”
“Biarkan.”
Jatmiko memandang Erlangga dengan
wajah tidak puas.
“Kau selalu bilang biarkan,” katanya.
“Tapi kami yang mendengar omongan itu setiap hari.”
Suasana menjadi hening.
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia
tahu Jatmiko sedang lelah. Ia juga tahu kemarahan itu bukan sepenuhnya
ditujukan kepadanya.
“Aku mengerti,” kata Erlangga
akhirnya. “Aku mungkin tidak mendengar semuanya seperti kalian. Tapi aku juga
tidak ingin kalian bekerja keras hanya untuk merasa sendirian.”
Jatmiko menunduk.
“Kita cari cara,” lanjut Erlangga.
“Kalau lapangan tidak bisa dipakai, pertandingan tidak harus langsung batal.
Kita bisa ubah menjadi kegiatan lain. Kita bisa adakan kerja bakti bersama
pemuda Dusun Timur. Setelah itu, kita buat diskusi atau latihan di teras
sekolah.”
“Latihan apa?” tanya Ardi.
“Latihan kepemimpinan sederhana.
Pembagian tim. Rencana kegiatan bersama.”
Beni mengangkat alis. “Orang datang
mau main bola, bukan ikut rapat.”
“Tidak perlu rapat panjang,” jawab
Erlangga. “Kita tetap main kalau cuaca memungkinkan. Tapi kalau tidak, kita
jangan pulang tanpa menghasilkan apa-apa.”
Khinanti memandang Erlangga. Ia mulai
memahami arah pikirannya.
“Kita bisa mengajak anak-anak membuat
poster dukungan untuk pemuda,” katanya. “Mereka bisa menulis tentang olahraga,
kebersihan, dan semangat gotong royong.”
Sari menambahkan, “Ibu-ibu bisa
menyiapkan makanan. Bukan besar-besaran, sekadar menyambut tamu dari Dusun
Timur.”
Ardi yang sejak tadi diam mulai tampak
berpikir.
“Kalau begitu, kegiatan tetap jalan,”
katanya.
“Ya,” jawab Erlangga. “Hujan boleh
mengubah rencana, tapi tidak harus menghentikan langkah.”
Keesokan harinya, hujan masih turun
sejak pagi.
Tidak deras seperti sore sebelumnya,
tetapi cukup untuk membuat lapangan tidak mungkin digunakan. Tanah berubah
menjadi lumpur tebal. Genangan air mengisi bagian tengah lapangan. Tiang gawang
yang patah belum sempat diperbaiki sepenuhnya.
Jatmiko berdiri di depan lapangan
sambil memandangi jalan desa.
“Kalau mereka tidak datang, aku tidak
bisa menyalahkan mereka,” katanya.
Namun, menjelang pukul sembilan,
terdengar suara beberapa motor dari arah Dusun Timur.
Lima pemuda datang dengan pakaian
olahraga yang dilapisi jas hujan. Mereka membawa bola, beberapa botol minum,
dan wajah penuh rasa ingin tahu. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama
Rendi, turun dari motor sambil melihat lapangan yang becek.
“Ini lapangannya?” tanyanya.
“Iya,” jawab Ardi, sedikit malu.
Rendi tertawa kecil. “Kalau main di
sini, bukan pertandingan bola. Ini pertandingan cari lumpur.”
Beberapa orang tertawa.
Jatmiko menghampiri mereka.
“Maaf, lapangannya tidak seperti yang
kami harapkan. Hujan semalam merusak beberapa bagian.”
Rendi memandang sekeliling. Ia lalu
melihat tiang gawang yang patah, garis lapangan yang hilang, dan beberapa
pemuda Suka Makmur yang masih membawa cangkul serta karung pasir.
“Kalian tetap mau memperbaikinya?”
tanyanya.
“Tentu,” jawab Jatmiko.
Rendi menoleh kepada teman-temannya.
“Kalau begitu, kita bantu dulu,”
katanya.
Tidak ada yang menyangka jawaban itu.
Pemuda Dusun Timur melepas jas hujan
dan ikut mengambil cangkul. Mereka membantu menutup lubang, mengangkat pasir,
memperbaiki tiang gawang, serta membersihkan saluran kecil di pinggir lapangan
agar air dapat mengalir keluar.
Kegiatan yang awalnya direncanakan
sebagai pertandingan persahabatan berubah menjadi kerja bakti bersama.
Anak-anak datang membawa poster yang
dibuat di rumah baca. Di atas kertas-kertas itu tertulis kalimat sederhana:
Lapangan Bersih,
Pemuda Kompak.
Olahraga Membuat
Kami Sehat.
Desa Kami Bisa Maju
Bersama.
Beberapa ibu datang membawa gorengan,
teh panas, dan singkong rebus. Bu Ratna ikut membantu membagikan makanan. Pak
Maman dari warung kopi datang membawa termos besar berisi kopi.
“Biar yang kerja tidak masuk angin,”
katanya.
Erlangga melihat pemandangan itu
dengan perasaan hangat.
Tidak semua orang datang karena
percaya penuh kepada dirinya. Sebagian mungkin datang karena ingin melihat.
Sebagian lagi karena penasaran. Namun, ketika mereka melihat pemuda bekerja
bersama di tengah hujan dan lumpur, perlahan sikap mereka mulai berubah.
Pak Karman yang beberapa hari lalu
ikut mendengar pembicaraan di warung kopi berdiri di bawah payung. Ia
memperhatikan Beni dan Rendi memperbaiki tiang gawang.
“Anak-anak ini serius juga,” katanya
kepada Pak Maman.
Pak Maman mengangguk. “Kadang orang
baru percaya setelah melihat tangan yang kotor.”
Pak Karman tidak menjawab, tetapi
wajahnya tampak berpikir.
Menjelang siang, hujan mulai reda.
Lapangan belum sepenuhnya kering.
Pertandingan bola tidak mungkin dilakukan seperti rencana awal. Namun, setelah
kerja bakti selesai, Ardi mengajak semua pemuda berdiri membentuk lingkaran di
pinggir lapangan.
“Kita mungkin tidak bisa main sebelas
lawan sebelas,” katanya. “Tapi kita bisa tetap bermain sebentar di bagian
lapangan yang tidak terlalu becek.”
Rendi tersenyum. “Main lima lawan lima
saja.”
Mereka lalu membagi tim kecil.
Anak-anak bersorak dari pinggir lapangan. Bola bergerak di antara genangan dan
tanah basah. Pemuda-pemuda berlari sambil tertawa ketika kaki mereka
terpeleset. Tidak ada seragam lengkap. Tidak ada wasit resmi. Tidak ada hadiah.
Namun, ada semangat yang sulit
dijelaskan.
Untuk pertama kalinya, lapangan Desa
Suka Makmur benar-benar hidup.
Bukan karena semuanya sempurna.
Melainkan karena banyak orang memilih
tetap hadir meski keadaan tidak sesuai rencana.
Di pinggir lapangan, Khinanti berdiri
bersama Erlangga.
“Kau benar,” katanya.
“Benar tentang apa?”
“Hujan tidak menghentikan langkah.”
Erlangga memandang para pemuda yang
masih bermain.
“Bukan aku yang membuat mereka tetap
bergerak,” katanya. “Mereka sendiri yang memilih bertahan.”
Khinanti tersenyum.
Di kejauhan, Jatmiko jatuh ke lumpur
setelah mencoba merebut bola dari Rendi. Semua orang tertawa. Bahkan Jatmiko
sendiri ikut tertawa sambil mengusap wajahnya yang penuh tanah.
Sore hari, ketika kegiatan selesai,
pemuda Dusun Timur berpamitan.
“Kami akan datang lagi kalau
lapangannya sudah kering,” kata Rendi kepada Ardi.
“Bukan hanya untuk main bola,”
tambahnya. “Kita bisa buat kegiatan bersama.”
Ardi mengangguk penuh semangat.
Setelah mereka pergi, Erlangga berdiri
di tengah lapangan yang masih basah. Langit mulai cerah. Cahaya matahari sore
menembus awan, memantul pada genangan air yang tersisa.
Ia teringat bisik-bisik di warung
kopi.
Ia teringat keraguan warga.
Ia teringat wajah Jatmiko yang kesal
ketika tiang gawang patah.
Namun, hari itu ia memahami sesuatu.
Kepercayaan tidak tumbuh karena semua
rencana berhasil.
Kepercayaan justru tumbuh ketika
orang-orang melihat bagaimana seseorang bertahan saat rencana tidak berjalan
seperti yang diharapkan.
Hujan memang telah merusak garis
lapangan.
Hujan telah menjatuhkan tiang gawang.
Hujan telah mengubah pertandingan
menjadi kerja bakti.
Tetapi hujan juga memperlihatkan siapa
yang benar-benar mau tinggal, bekerja, dan berjalan bersama.
Dan di atas lapangan desa yang becek
itu, Erlangga melihat sebuah harapan baru tumbuh.
Bukan dari sorak kemenangan.
Melainkan dari lumpur, keringat, dan
tangan-tangan yang memilih untuk tidak menyerah.
BAB XI
Surat dari Kota
Tiga hari setelah kegiatan di lapangan
desa, sebuah surat datang ke rumah Pak Sastro.
Surat itu dibawa oleh Pak Rudi,
petugas pengantar surat yang setiap minggu melewati jalan utama Desa Suka
Makmur dengan sepeda motor tuanya. Ia biasanya membawa tagihan, undangan, surat
dari keluarga yang bekerja di luar daerah, atau dokumen dari kecamatan. Namun,
pagi itu ia datang sambil membawa sebuah amplop putih yang tampak lebih rapi
daripada surat-surat biasa.
“Untuk Erlangga,” katanya kepada Pak
Sastro yang sedang membersihkan halaman.
Pak Sastro menerima amplop itu dan
memperhatikan tulisan di bagian depan.
Nama Erlangga tertulis dengan huruf
cetak yang jelas.
Di sudut kiri atas terdapat nama
sebuah perusahaan dari kota.
Pak Sastro tidak langsung membuka
surat itu. Ia membawa amplop tersebut ke dalam rumah, lalu meletakkannya di
atas meja. Tidak lama kemudian, Erlangga pulang dari kebun belakang sambil
membawa beberapa batang bambu. Ia baru saja membantu Beni memperbaiki tiang
gawang yang patah.
“Ada surat untukmu,” kata Pak Sastro.
Erlangga meletakkan bambu di samping
rumah.
“Dari siapa?”
Pak Sastro menyerahkan amplop itu
tanpa banyak bicara.
Erlangga membuka surat tersebut
perlahan. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan kop perusahaan tempat ia
pernah bekerja di kota. Ia membaca beberapa baris pertama dengan wajah yang
berubah serius.
Pak Sastro memperhatikannya.
“Dari kota?” tanyanya.
Erlangga mengangguk.
“Pekerjaan?”
“Ya.”
Pak Sastro tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya mengambil cangkir kopi, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela.
Erlangga kembali membaca surat itu.
Surat tersebut berasal dari Pak Arman,
mantan atasannya di perusahaan konsultan pembangunan. Dalam surat itu, Pak
Arman menulis bahwa perusahaan sedang membuka kembali posisi koordinator
lapangan untuk sebuah proyek besar di kota kabupaten. Erlangga diminta kembali
bergabung karena pengalaman dan kemampuannya masih dianggap dibutuhkan.
Tawaran itu bukan tawaran kecil.
Gaji yang dijanjikan jauh lebih besar
daripada apa pun yang bisa ia dapatkan di desa. Ada tempat tinggal, kendaraan
operasional, dan kesempatan untuk naik jabatan. Jika ia menerima, hidupnya akan
lebih terjamin. Ia tidak perlu lagi memikirkan biaya kegiatan rumah baca,
peralatan pemuda, atau kebutuhan kecil yang selama ini sering ia bantu dari
tabungannya.
Di bagian akhir surat, Pak Arman
menulis:
“Kami menunggu jawabanmu paling lambat
dua minggu. Jika kamu bersedia, posisi ini dapat segera kami siapkan.”
Erlangga melipat surat itu kembali.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri
diam.
Pak Sastro memandangnya dari kursi.
“Kesempatan bagus?” tanyanya.
“Bagus, Pak.”
“Gajinya besar?”
“Cukup besar.”
Pak Sastro mengangguk pelan.
“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti
orang kehilangan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga
tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Pak Sastro menyesap kopinya.
“Dulu kau pergi ke kota karena ingin
hidup lebih baik,” katanya. “Sekarang kota memanggilmu lagi. Tidak ada yang
salah kalau kau mempertimbangkannya.”
Erlangga duduk di kursi seberang
ayahnya.
“Kalau aku pergi, bagaimana dengan
kegiatan di desa?”
“Desa sudah ada sebelum kau pulang.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Aku tahu,” kata Pak Sastro. “Tapi
jangan merasa semua hal bergantung padamu. Kalau memang yang kau bangun itu
baik, harusnya tetap bisa berjalan meski kau tidak selalu ada.”
Erlangga menunduk.
Kata-kata ayahnya terdengar keras,
tetapi ia tahu di dalamnya ada kebenaran.
Selama ini, ia sering merasa harus
hadir di setiap kegiatan. Ia membantu rumah baca, pemuda, lapangan, dan
berbagai kebutuhan kecil. Ia takut jika ia tidak ada, semua akan berhenti.
Namun, apakah gerakan yang hanya bertumpu pada satu orang benar-benar dapat
bertahan?
Pagi itu, pertanyaan tersebut
mengikuti Erlangga ke mana pun ia pergi.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti sedang
mengajari anak-anak membuat jadwal belajar. Raka duduk di depan dengan buku
tulis terbuka. Danu membantu membagikan pensil. Lila sibuk menggambar rumah
impiannya dengan halaman penuh bunga.
Erlangga datang lebih lambat dari
biasanya.
Khinanti segera menyadari ada sesuatu
yang berbeda dari wajahnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya ketika
anak-anak sedang sibuk menulis.
“Aku baik.”
“Kau terlihat tidak seperti biasanya.”
Erlangga tersenyum tipis. “Kau selalu
bisa tahu.”
“Karena kau biasanya datang membawa
banyak cerita. Hari ini kau datang membawa diam.”
Erlangga memandang anak-anak di dalam
ruangan.
“Nanti setelah kelas selesai, aku mau
bicara.”
Khinanti mengangguk.
Sore itu, setelah anak-anak pulang,
Rumah Baca Harapan kembali sunyi. Cahaya matahari masuk dari jendela, membentuk
garis-garis tipis di lantai kayu. Danu dan Raka sudah pulang lebih dulu. Hanya
beberapa buku yang masih terbuka di atas meja.
Erlangga mengeluarkan surat dari dalam
tasnya.
“Aku dapat ini pagi tadi,” katanya.
Khinanti menerima surat itu dan
membacanya perlahan.
Wajahnya berubah ketika sampai pada
bagian tentang tawaran pekerjaan.
“Ini kesempatan besar,” katanya.
“Iya.”
“Kau ingin kembali?”
Erlangga tidak langsung menjawab.
“Aku belum tahu.”
Khinanti melipat surat itu dengan
hati-hati.
“Kalau kau menerima, kapan harus
berangkat?”
“Mungkin dua minggu lagi.”
Khinanti menatap jendela.
Di luar, beberapa anak masih bermain
di halaman sekolah. Suara mereka terdengar samar. Salah satu dari mereka
memanggil nama Raka. Yang lain tertawa ketika bola kecil mereka masuk ke
semak-semak.
“Kau sudah lama menunggu kesempatan
seperti ini,” kata Khinanti.
“Aku dulu memang ingin bekerja di
tempat yang lebih besar. Aku ingin punya penghasilan tetap, pengalaman, dan
hidup yang lebih jelas.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku merasa hidupku ada di
sini.”
Khinanti menoleh kepadanya.
“Jangan membuat keputusan hanya karena
rumah baca atau karena aku,” katanya pelan.
Erlangga terdiam.
“Aku serius,” lanjut Khinanti. “Aku
tidak ingin kau tinggal hanya karena merasa bertanggung jawab pada semua orang.
Kalau suatu hari kau menyesal, kau akan menyalahkan desa ini. Kau akan
menyalahkan kegiatan ini. Bahkan mungkin kau akan menyalahkan dirimu sendiri.”
“Aku tidak akan begitu.”
“Kita tidak pernah tahu.”
Erlangga menatapnya dengan
sungguh-sungguh.
“Khinanti, aku tidak pulang hanya
untuk singgah. Aku pulang karena aku mulai lelah mengejar hidup yang tidak
pernah benar-benar terasa milikku.”
Khinanti tidak menjawab.
“Aku bekerja di kota,” lanjut
Erlangga, “punya gaji, punya tempat tinggal, punya banyak rencana. Tapi setiap
kali pulang, aku melihat desa ini seperti menunggu sesuatu. Aku melihat
anak-anak yang belajar dengan buku seadanya. Aku melihat pemuda yang ingin
bergerak tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Aku melihat Bapak yang semakin
tua. Dan aku melihatmu tetap bertahan di rumah baca ini.”
Khinanti menunduk.
“Aku tidak ingin kembali ke kota hanya
karena tawarannya lebih besar,” kata Erlangga. “Tapi aku juga tidak ingin
menolak tanpa berpikir. Aku harus jujur pada diriku sendiri.”
“Kalau begitu, pikirkan dengan baik,”
jawab Khinanti.
Mereka terdiam cukup lama.
Tidak ada kata-kata romantis yang
berlebihan. Tidak ada janji yang diucapkan tergesa-gesa. Namun, di antara
mereka, ada ketakutan yang sama: kemungkinan bahwa jalan yang mulai mereka
tempuh bersama dapat kembali terpisah.
Malam hari, Erlangga pergi ke warung
kopi Pak Maman.
Warung itu tidak terlalu ramai. Hanya
ada beberapa warga yang duduk sambil minum kopi. Pak Maman sedang menonton
berita dari televisi kecil yang diletakkan di atas rak.
Jatmiko duduk di ujung bangku bersama
Ardi dan Beni. Mereka sedang membicarakan rencana memperbaiki lapangan pada
akhir pekan.
Ketika Erlangga datang, Jatmiko
langsung memanggilnya.
“Langga, sini. Kita mau bahas jadwal.”
Erlangga duduk di dekat mereka.
“Ada apa?” tanya Ardi.
Erlangga mengeluarkan surat dari
tasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku dapat tawaran kerja dari kota.”
Jatmiko mengambil surat itu dan
membaca bagian awalnya. Wajahnya langsung berubah.
“Serius?”
Erlangga mengangguk.
“Gajinya besar?” tanya Beni.
“Lumayan.”
“Terus kau mau pergi?” tanya Ardi.
“Aku belum tahu.”
Jatmiko meletakkan surat itu dengan
pelan.
“Kalau kau pergi, kegiatan kita
bagaimana?”
Pertanyaan itu sama seperti yang terus
berputar di dalam kepala Erlangga.
“Kalau kegiatan ini hanya bisa
berjalan karena aku ada, berarti kita belum benar-benar membangun apa-apa,”
jawab Erlangga.
“Tapi kau yang mulai semuanya,” kata
Jatmiko.
“Bukan. Kita yang mulai.”
Jatmiko tampak tidak sepenuhnya
setuju.
“Tidak sama,” katanya. “Kalau tidak
ada kau, mungkin kami masih duduk di warung seperti dulu.”
Erlangga memandang sahabatnya.
“Kalau aku pergi, apakah kau akan
berhenti?”
Jatmiko terdiam.
Ardi menatap meja. Beni mengaduk
kopinya tanpa bicara.
Erlangga melanjutkan, “Aku belum
memutuskan apa pun. Tapi apa pun keputusanku nanti, aku ingin kalian tetap
bergerak. Lapangan ini bukan milikku. Rumah baca bukan milik Khinanti. Desa ini
bukan milik satu orang.”
Pak Maman yang mendengar percakapan
itu dari balik meja berkata pelan, “Kalau pohon hanya kuat karena satu akar,
angin sedikit saja bisa membuatnya tumbang.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Yang kalian bangun harus punya banyak
akar,” lanjut Pak Maman. “Biar siapa pun yang pergi atau datang, tetap ada yang
menjaga.”
Jatmiko mengangguk perlahan.
Malam semakin larut. Erlangga pulang
melewati jalan desa yang sepi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup. Dari
beberapa halaman, terdengar suara radio dan percakapan keluarga.
Di depan rumahnya, Pak Sastro masih
duduk di beranda.
“Sudah makan?” tanya ayahnya.
“Sudah.”
Pak Sastro mengangguk.
“Kau sudah bicara dengan Khinanti?”
“Sudah.”
“Dengan pemuda?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Aku masih belum tahu, Pak.”
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Tidak semua keputusan harus selesai
dalam satu malam.”
Erlangga duduk di samping ayahnya.
Mereka memandangi jalan desa yang
gelap. Angin malam membawa aroma tanah basah dari kebun-kebun di belakang
rumah.
“Pak,” kata Erlangga, “kalau dulu
Bapak diberi kesempatan pergi dari desa, Bapak akan pergi?”
Pak Sastro berpikir cukup lama.
“Mungkin,” jawabnya. “Waktu muda,
semua orang ingin mencari jalan yang lebih luas. Tapi setelah jauh berjalan,
orang biasanya mengerti bahwa jalan luas tidak selalu membawa pulang.”
Erlangga menatap ayahnya.
“Yang penting,” lanjut Pak Sastro,
“jangan memilih karena takut. Jangan tinggal karena takut kehilangan. Jangan
pergi karena takut dianggap gagal. Pilih karena kau tahu di mana kau bisa
menjadi manusia yang paling berguna.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran
Erlangga.
Malam itu, ia kembali membaca surat
dari kota di kamarnya.
Tawaran pekerjaan itu tampak jelas.
Masa depan yang lebih pasti tampak
terbuka di hadapannya.
Namun, dari jendela kamarnya, ia juga
dapat melihat cahaya redup dari arah rumah baca yang tidak terlalu jauh. Di
sana, Khinanti mungkin sedang merapikan buku. Di sana, Raka mungkin besok akan
datang membawa soal matematika. Di sana, Danu mungkin akan kembali belajar
membaca.
Di luar, lapangan desa masih basah
oleh hujan beberapa hari lalu.
Namun, di dalam diri Erlangga, sebuah
pertanyaan mulai tumbuh semakin kuat.
Apakah pulang berarti menetap?
Ataukah pulang berarti menemukan
alasan untuk tidak lagi pergi tanpa arah?
Surat dari kota belum ia jawab.
Tetapi sejak surat itu datang,
Erlangga tahu bahwa hidupnya telah sampai pada sebuah persimpangan.
Dan di persimpangan itu, ia harus
memilih bukan hanya antara desa dan kota.
Ia harus memilih antara kehidupan yang
menjanjikan kenyamanan, dan kehidupan yang menuntut keberanian untuk bertahan.
BAB XII
Pilihan di Persimpangan
Sejak surat dari kota datang, Erlangga
menjadi lebih pendiam.
Ia tetap datang ke Rumah Baca Harapan.
Ia tetap membantu pemuda memperbaiki lapangan. Ia tetap menyapa warga yang
ditemuinya di jalan desa. Namun, Khinanti dapat merasakan bahwa sebagian
pikiran Erlangga tidak benar-benar berada di tempat yang sama.
Kadang, ketika anak-anak sedang membaca,
Erlangga duduk terlalu lama memandangi halaman rumah baca. Kadang, saat Jatmiko
menjelaskan rencana kegiatan pemuda, ia hanya mengangguk tanpa banyak memberi
pendapat. Bahkan ketika Pak Sastro memintanya membantu di kebun, Erlangga
bekerja dalam diam.
Surat dari kota itu masih tersimpan di
dalam tasnya.
Setiap kali melihatnya, Erlangga
seperti dihadapkan pada dua jalan.
Jalan pertama membawanya kembali ke
kota: pekerjaan yang lebih jelas, penghasilan yang lebih baik, dan kehidupan
yang lebih teratur. Di sana, ia tidak perlu memikirkan apakah kegiatan rumah
baca memiliki cukup buku atau apakah lapangan desa akan kembali rusak setelah
hujan. Ia dapat kembali bekerja di bidang yang telah lama ia tekuni, bertemu
orang-orang yang memahami pekerjaannya, dan membangun masa depan yang lebih
pasti.
Jalan kedua membawanya tetap tinggal
di Desa Suka Makmur.
Jalan itu tidak menjanjikan gaji
besar. Tidak ada kantor dengan ruangan nyaman. Tidak ada kendaraan operasional.
Tidak ada kepastian bahwa semua gagasan akan diterima warga. Yang ada hanya
jalan tanah, rumah baca sederhana, lapangan yang masih perlu diperbaiki, serta
orang-orang yang perlahan mulai belajar percaya pada perubahan.
Namun, justru di jalan itu, Erlangga
merasa dirinya dibutuhkan.
Suatu pagi, Pak Sastro menemukan
Erlangga duduk di bawah pohon mangga di belakang rumah. Di pangkuannya terdapat
buku catatan dan surat dari kota yang sudah beberapa kali dilipat.
“Kau belum menjawab surat itu?” tanya
Pak Sastro.
“Belum, Pak.”
“Batas waktunya kapan?”
“Empat hari lagi.”
Pak Sastro duduk di sampingnya.
“Sudah kau pikirkan?”
“Setiap hari.”
“Lalu apa yang membuatmu masih ragu?”
Erlangga memandang kebun singkong di
depan mereka.
“Aku takut salah memilih.”
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Tidak ada orang yang bisa memastikan
pilihannya tidak salah.”
“Kalau aku tinggal, aku takut tidak
bisa memberi kehidupan yang cukup baik untuk Bapak. Aku juga takut kegiatan di
desa ini tidak berkembang seperti yang aku harapkan.”
“Kalau kau pergi?”
“Aku takut semua yang baru mulai di sini
akan berhenti.”
Pak Sastro mengambil sehelai daun
kering yang jatuh di dekat kakinya.
“Dulu, ketika kau masih kecil, kau
pernah bertanya kenapa pohon mangga ini tidak tumbang meski sering diterpa
angin,” katanya.
Erlangga menoleh.
“Aku jawab karena akarnya kuat. Tapi
sebenarnya, pohon ini juga bertahan karena dia tidak melawan angin dengan kaku.
Dia bergerak, menunduk, lalu berdiri lagi.”
Erlangga mendengarkan.
“Pilihan hidup juga begitu,” lanjut
Pak Sastro. “Kadang bukan soal memilih jalan yang paling aman. Kadang soal
memilih jalan yang membuatmu tetap punya akar.”
“Akar?”
“Orang, tempat, dan nilai yang
membuatmu tahu siapa dirimu.”
Erlangga memandangi ayahnya.
“Kalau menurut Bapak, aku harus
tinggal?”
Pak Sastro menggeleng.
“Aku tidak akan memilihkan hidupmu.
Aku hanya ingin kau memilih dengan jujur. Kalau kau pergi karena ingin
berkembang, pergilah dengan baik. Kalau kau tinggal karena ingin mengabdi,
tinggallah dengan sungguh-sungguh. Jangan memilih setengah hati.”
Kata-kata itu kembali membuat Erlangga
berpikir.
Siang hari, ia pergi ke Rumah Baca
Harapan. Khinanti sedang menyusun buku-buku baru yang dikirim oleh seorang
teman Erlangga dari kota. Buku-buku itu tidak banyak, tetapi cukup untuk
membuat rak rumah baca tampak lebih penuh.
“Kau datang lebih awal,” kata
Khinanti.
“Aku ingin membantu.”
Khinanti menatapnya sebentar. “Atau
kau sedang ingin menghindari sesuatu?”
Erlangga tersenyum kecil. “Kau memang
sulit dibohongi.”
“Tidak perlu dibohongi.”
Mereka menyusun buku dalam diam. Ada
buku cerita anak, buku pengetahuan sederhana, buku latihan matematika, dan
beberapa majalah bekas yang masih layak dibaca.
Setelah beberapa saat, Khinanti
berkata, “Kau sudah memutuskan?”
“Belum.”
“Batas waktunya semakin dekat.”
“Iya.”
Khinanti berhenti menyusun buku.
“Langga, aku ingin kau tahu satu hal.”
Erlangga menoleh.
“Aku tidak ingin menjadi alasanmu
tinggal.”
Erlangga menarik napas.
“Kau sudah pernah mengatakan itu.”
“Aku perlu mengulanginya karena aku
tahu keputusan ini berat. Kita sedang membangun banyak hal di desa. Tapi
hidupmu tidak boleh berhenti hanya karena semua orang mengandalkanmu.”
“Aku tidak merasa hidupku berhenti di
sini.”
“Mungkin sekarang tidak. Tapi
bagaimana lima tahun lagi? Sepuluh tahun lagi? Kalau rumah baca ini tetap
kecil, kalau kegiatan pemuda tidak berkembang, kalau warga kembali tidak
peduli, apakah kau tetap bisa menerima semuanya?”
Erlangga terdiam.
Khinanti melanjutkan, “Aku percaya kau
tulus. Tapi ketulusan juga perlu arah. Kau tidak bisa terus mengorbankan masa
depanmu tanpa rencana.”
“Aku punya rencana,” kata Erlangga
pelan.
“Apa?”
Erlangga mengambil buku catatan dari
tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang selama ini penuh coretan.
“Aku ingin membentuk kelompok belajar
dan kegiatan pemuda yang bisa berjalan mandiri. Aku ingin Dimas mengelola kelas
komputer. Aku ingin Jatmiko memimpin kegiatan pemuda. Aku ingin rumah baca
punya jadwal dan pengurus tetap. Aku ingin warga ikut menyumbang, bukan hanya
menunggu.”
Khinanti mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
“Aku juga ingin membantu kelompok
ibu-ibu membuat produk sederhana,” lanjut Erlangga. “Mungkin makanan olahan,
kerajinan, atau hasil kebun yang bisa dipasarkan. Tidak harus besar. Tapi kalau
ada penghasilan kecil, kegiatan ini bisa lebih bertahan.”
“Kau sudah memikirkan semuanya,” kata
Khinanti.
“Belum semuanya. Tapi aku tidak ingin
tinggal hanya dengan semangat. Aku ingin tinggal dengan rencana.”
Khinanti memandang halaman-halaman
catatan itu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat
bahwa keraguan Erlangga bukan karena ia tidak tahu apa yang diinginkan.
Keraguan itu muncul karena ia sedang mencoba memastikan bahwa pilihannya tidak
hanya didorong oleh perasaan sesaat.
Sore itu, Jatmiko datang bersama Ardi
dan Beni. Mereka membawa beberapa papan kayu untuk memperbaiki tempat duduk di
pinggir lapangan.
“Langga, kau jadi ikut ke lapangan?”
tanya Jatmiko.
“Nanti aku menyusul.”
Jatmiko melihat surat dari kota yang
terletak di atas meja.
“Masih belum dijawab?”
“Belum.”
Jatmiko duduk di kursi dekat pintu.
“Kalau kau mau pergi, bilang saja,”
katanya. “Kami tidak akan marah.”
Erlangga menatap sahabatnya.
“Tapi?” tanyanya.
“Tapi jangan pergi karena merasa kami
tidak bisa apa-apa tanpa kau,” jawab Jatmiko. “Kami memang baru belajar. Kami
masih sering bingung. Tapi kami juga tidak ingin terus bergantung.”
Ardi mengangguk. “Lapangan ini nanti
tetap kami urus.”
“Dimas juga bilang kelas komputer bisa
tetap jalan,” tambah Beni. “Walaupun cuma satu laptop.”
Jatmiko tersenyum tipis.
“Kalau kau tinggal, kami senang. Kalau
kau pergi, kami tetap harus bergerak. Itu yang kau ajarkan, kan?”
Erlangga merasa dadanya menghangat.
Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan
apakah desa membutuhkan dirinya. Ia lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga
sedang tumbuh. Mereka tidak lagi hanya menunggu arahan. Mereka mulai memiliki
keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Malam sebelum batas waktu surat itu
berakhir, Erlangga pergi sendiri ke lapangan desa.
Langit cerah. Bulan tampak menggantung
di atas pohon-pohon. Lapangan masih sederhana, tetapi kini terlihat lebih rapi
daripada sebelumnya. Tiang gawang sudah berdiri kembali. Di pinggir lapangan,
terdapat beberapa bangku kayu yang baru diperbaiki oleh pemuda.
Erlangga duduk di salah satu bangku.
Ia mengingat hari pertama ketika
pulang ke desa. Jalan berdebu. Balai desa yang sunyi. Rumah baca yang hampir
tidak dikenal banyak orang. Pemuda yang kehilangan arah. Anak-anak yang membawa
mimpi-mimpi kecil di atas kertas.
Ia juga mengingat kota.
Gedung-gedung tinggi. Jalan yang
ramai. Ruang kerja yang dingin. Penghasilan yang lebih pasti. Kehidupan yang
dulu ia anggap sebagai tujuan.
Namun, malam itu, ia menyadari bahwa
pulang bukan berarti menolak masa depan.
Pulang berarti memilih masa depan yang
ingin ia bangun sendiri.
Keesokan paginya, Erlangga duduk di
meja kecil di kamarnya. Ia menyiapkan selembar kertas dan mulai menulis jawaban
untuk Pak Arman.
Ia menulis dengan tangan yang tenang.
Ia mengucapkan terima kasih atas
kepercayaan dan kesempatan yang diberikan. Ia mengakui bahwa tawaran tersebut
sangat berarti. Namun, ia juga menjelaskan bahwa saat ini ia memilih untuk
tetap berada di Desa Suka Makmur.
Ia tidak menulis bahwa ia menolak kota
karena desa lebih mudah.
Ia tidak menulis bahwa ia sudah
memiliki semua jawaban.
Ia hanya menulis bahwa ia sedang
membangun sesuatu yang ingin ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai, ia membaca surat itu
sekali lagi.
Lalu ia memasukkannya ke dalam amplop.
Ketika Erlangga keluar rumah, Pak
Sastro sedang menyapu halaman.
“Sudah kau putuskan?” tanya ayahnya.
Erlangga mengangguk.
“Aku memilih tinggal, Pak.”
Pak Sastro berhenti menyapu.
“Sudah yakin?”
“Tidak ada pilihan yang membuatku
seratus persen tidak takut. Tapi aku yakin ini jalan yang ingin aku jalani.”
Pak Sastro memandang anaknya cukup
lama.
Kemudian ia tersenyum.
“Kalau begitu, jangan hanya tinggal.
Bangunlah sesuatu yang membuat orang lain juga bisa berdiri.”
Erlangga mengangguk.
Pagi itu, ia berjalan menuju Rumah
Baca Harapan dengan langkah yang terasa lebih ringan.
Di depan rumah baca, Khinanti sedang
menyiram tanaman dalam botol-botol bekas. Ketika melihat Erlangga datang, ia
tersenyum.
“Kau sudah menjawab surat itu?”
tanyanya.
“Sudah.”
“Dan?”
“Aku memilih tinggal.”
Khinanti berhenti menyiram.
“Karena rumah baca?”
“Karena banyak hal,” jawab Erlangga.
“Karena Bapak. Karena anak-anak. Karena pemuda. Karena desa ini. Dan karena aku
ingin menjalani hidup yang terasa benar bagiku.”
Khinanti menatapnya dengan mata yang
sedikit berkaca-kaca.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “jangan
tinggal sendirian.”
Erlangga tersenyum.
“Aku tidak akan.”
Mereka berdiri di depan Rumah Baca
Harapan yang sederhana. Matahari pagi mulai naik. Dari kejauhan, terdengar
suara anak-anak berjalan menuju sekolah.
Di desa itu, tidak ada perayaan besar
atas keputusan Erlangga.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pidato.
Hanya seorang laki-laki yang memilih
menetap.
Dan seorang perempuan yang memilih
untuk tetap berjalan di sampingnya.
Namun, dari pilihan sederhana itu,
sebuah perjalanan baru benar-benar dimulai.
Bukan lagi perjalanan pulang.
Melainkan perjalanan untuk membangun.
BAB XIII
Khinanti dan Cahaya yang Hampir Padam
Keputusan Erlangga untuk tetap tinggal
di Desa Suka Makmur tidak langsung mengubah keadaan.
Rumah Baca Harapan masih berdinding
papan. Rak bukunya masih sederhana. Lapangan desa masih membutuhkan banyak perbaikan.
Kegiatan pemuda juga belum selalu ramai. Ada hari-hari ketika hanya beberapa
orang datang. Ada hari-hari ketika hujan membuat rencana harus ditunda. Ada
pula hari-hari ketika warga kembali sibuk dengan kebun, pekerjaan, dan urusan
keluarga masing-masing.
Namun, setelah Erlangga memilih
tinggal, ada sesuatu yang berubah dalam cara orang-orang memandang gerakan
kecil itu.
Bukan semua warga langsung percaya.
Tetapi sebagian mulai melihat bahwa
Erlangga tidak datang hanya untuk membuat kegiatan sesaat. Ia tidak kembali ke
kota ketika tawaran pekerjaan datang. Ia tetap berada di desa, membantu
kegiatan pemuda, menemani anak-anak belajar, dan berdiskusi dengan warga
tentang rencana-rencana sederhana yang mungkin dapat dilakukan bersama.
Khinanti melihat perubahan itu dengan
rasa syukur.
Namun, di balik kesibukan yang terus
berjalan, ia menyimpan kelelahan yang tidak banyak diketahui orang.
Selama ini, Rumah Baca Harapan hampir
selalu bergantung padanya. Ia membuka pintu setiap sore, membersihkan ruangan, menyusun
buku, membuat jadwal belajar, mendampingi anak-anak, mencari sumbangan buku,
dan terkadang menggunakan uang pribadinya untuk membeli alat tulis.
Ia melakukan semua itu bukan karena
merasa paling mampu.
Ia melakukannya karena ia takut jika
ia berhenti, tidak ada lagi yang akan menjaga rumah baca itu.
Suatu sore, setelah anak-anak pulang,
Khinanti duduk sendirian di dalam rumah baca. Di atas meja terdapat beberapa
buku yang perlu diperbaiki sampulnya. Di lantai, masih ada potongan kertas dari
kegiatan membuat poster minggu lalu. Jendela sebelah kiri kembali sulit ditutup
karena kayunya mulai lapuk.
Khinanti memandang ruangan itu cukup
lama.
Biasanya, tempat itu selalu membuatnya
merasa tenang.
Namun sore itu, ia justru merasa
sangat lelah.
Tangannya memegang sebuah buku cerita
anak yang sampulnya sudah sobek. Ia ingin memperbaikinya, tetapi tiba-tiba ia
tidak memiliki tenaga untuk bergerak. Ia hanya duduk diam, membiarkan cahaya
sore masuk perlahan dari jendela.
Sari datang tidak lama kemudian.
“Khinanti, kau belum pulang?”
Khinanti tersenyum kecil. “Belum.”
“Kau sakit?”
“Tidak.”
“Wajahmu pucat.”
“Aku hanya capek.”
Sari duduk di sebelahnya.
“Kau sudah beberapa hari terlihat
capek. Makanmu juga sedikit.”
Khinanti mengangguk pelan.
“Aku hanya banyak pikiran.”
“Karena kegiatan rumah baca?”
“Karena semuanya.”
Sari tidak memaksa. Ia tahu Khinanti
bukan orang yang mudah bercerita ketika sedang menghadapi masalah.
Namun, sore itu, Khinanti akhirnya
berkata, “Kadang aku takut, Sar.”
“Takut apa?”
“Takut rumah baca ini tidak akan
pernah benar-benar kuat. Takut semua orang hanya semangat ketika ada Erlangga.
Takut kalau suatu hari aku tidak sanggup, semuanya kembali seperti dulu.”
Sari memandang rak buku yang mulai
penuh.
“Kau sudah menjaga tempat ini
bertahun-tahun,” katanya. “Tidak mungkin semua yang kau lakukan hilang begitu
saja.”
“Tapi aku lelah.”
Kalimat itu keluar begitu pelan,
tetapi terasa berat.
Sari menggenggam tangan Khinanti.
“Kalau lelah, jangan dipendam
sendiri.”
Khinanti menunduk.
Malam itu, ia pulang lebih cepat dari
biasanya. Di rumah, ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil memilah daun
singkong untuk dimasak. Wajah ibunya tampak lebih lelah dari biasanya. Sejak
beberapa bulan terakhir, kesehatan ibunya memang tidak selalu baik. Ia sering
mengeluh pusing dan mudah lelah, tetapi selalu menolak pergi ke puskesmas
karena merasa hanya kelelahan biasa.
“Kau pulang cepat,” kata ibunya.
“Iya, Bu.”
“Rumah baca sepi?”
“Tidak. Anak-anak banyak yang datang.”
Ibunya tersenyum.
“Itu bagus. Kau memang senang kalau
rumah baca ramai.”
Khinanti duduk di dekat ibunya.
“Ibu sudah minum obat?”
“Sudah.”
“Kapan terakhir periksa ke puskesmas?”
Ibunya menghindari tatapan Khinanti.
“Nanti saja. Tidak apa-apa.”
Khinanti merasa khawatir, tetapi ia
tidak ingin membuat ibunya semakin terbebani.
Mereka hidup sederhana. Penghasilan
dari kebun kecil dan hasil menjahit ibunya tidak selalu cukup. Selama ini,
Khinanti juga membantu dengan mengajar les kecil-kecilan kepada beberapa anak.
Namun, kebutuhan rumah semakin banyak. Atap dapur mulai bocor. Beberapa
peralatan rumah perlu diperbaiki. Dan biaya untuk memeriksakan kesehatan ibunya
bukan sesuatu yang mudah dipenuhi.
Malam itu, Khinanti sulit tidur.
Ia memikirkan rumah baca.
Ia memikirkan ibunya.
Ia memikirkan Erlangga yang kini memilih
tinggal di desa.
Di satu sisi, ia merasa bahagia karena
Erlangga tidak pergi. Namun, di sisi lain, ia justru merasa takut. Ia takut
menjadi beban bagi laki-laki itu. Ia takut orang-orang akan menganggap Erlangga
tinggal hanya karena dirinya. Ia takut jika hubungan mereka semakin dekat,
semua mimpi dan pengabdian yang mereka bangun akan kembali menjadi bahan
bisik-bisik warga.
Beberapa hari kemudian, Khinanti tidak
membuka Rumah Baca Harapan.
Di pintu depan, ia menempelkan kertas
kecil bertuliskan:
Rumah Baca Harapan
libur dua hari. Kegiatan belajar akan dilanjutkan kembali setelah pemberitahuan
berikutnya.
Anak-anak yang datang tampak kecewa.
Raka berdiri cukup lama di depan
pintu.
“Kenapa Kak Khinanti tidak buka?”
tanyanya kepada Danu.
“Mungkin sakit,” jawab Danu.
“Apa kita boleh datang ke rumahnya?”
“Jangan. Nanti mengganggu.”
Danu mengajak Raka pulang, tetapi
sebelum mereka pergi, Erlangga datang dari arah jalan desa. Ia membawa beberapa
buku yang baru dipinjam dari sekolah kecamatan.
“Kenapa rumah baca tutup?” tanyanya.
Danu menunjuk kertas di pintu.
“Kak Khinanti libur.”
Erlangga membaca tulisan itu, lalu
memandang anak-anak.
“Kalian sudah makan?”
“Sudah,” jawab Raka.
“Kalau begitu, hari ini belajar di
teras sekolah saja.”
Danu menatapnya ragu.
“Tapi tidak ada Kak Khinanti.”
“Aku tahu. Kita tidak akan
menggantikan Kak Khinanti. Kita hanya menjaga supaya kalian tidak berhenti
belajar.”
Anak-anak mulai tersenyum.
Erlangga mengajak mereka ke teras
sekolah. Ia menggelar tikar kecil yang biasa digunakan untuk kegiatan pemuda.
Raka membuka buku matematika. Danu membawa buku bacaan. Beberapa anak lain yang
melihat kegiatan itu ikut bergabung.
Sore itu, kelas belajar tetap berjalan
meski tanpa Rumah Baca Harapan.
Namun, Erlangga tahu ada sesuatu yang
tidak beres.
Setelah anak-anak pulang, ia pergi ke
rumah Khinanti.
Rumah itu berada tidak jauh dari kebun
singkong. Halamannya dipenuhi pot tanaman dari botol bekas. Di depan rumah,
terdapat kursi bambu yang sudah tua. Ketika Erlangga tiba, Khinanti sedang
menjemur pakaian.
“Kau tidak membuka rumah baca,”
katanya.
Khinanti menoleh. Wajahnya tampak
lelah.
“Aku sedang ada urusan rumah.”
“Apa ibumu sakit?”
Khinanti terdiam sejenak.
“Tidak terlalu. Hanya perlu
istirahat.”
Erlangga memperhatikan wajahnya.
“Khinanti, kau tidak harus menjawab
semuanya sendiri.”
“Aku bisa mengurusnya.”
“Aku tidak bilang kau tidak bisa.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin tahu apakah kau butuh
bantuan.”
Khinanti menghela napas.
“Aku tidak ingin semua orang merasa
harus menolongku hanya karena aku mengelola rumah baca.”
“Tidak ada hubungannya dengan itu.”
“Bagi orang desa, semua selalu ada
hubungannya.”
Erlangga terdiam.
Khinanti menunduk. Ia tahu
kata-katanya terdengar keras, tetapi ia sedang tidak mampu menyembunyikan
perasaannya.
“Aku lelah, Langga,” katanya akhirnya.
“Aku lelah harus terlihat kuat setiap hari. Aku lelah memikirkan rumah baca,
anak-anak, ibu, kebutuhan rumah, dan omongan orang. Aku lelah merasa bahwa
kalau aku berhenti sebentar saja, semuanya akan runtuh.”
Erlangga tidak langsung mendekat. Ia
memberi Khinanti ruang untuk bicara.
“Kau tidak harus kuat setiap saat,”
katanya pelan.
“Kalau aku tidak kuat, siapa yang akan
mengurus semuanya?”
“Bukan hanya kau.”
“Siapa? Kau?”
“Bukan aku saja. Sari. Jatmiko. Danu.
Anak-anak yang sudah mulai besar. Warga yang mulai percaya. Kita bisa membagi
tugas.”
Khinanti menggeleng.
“Tidak semudah itu.”
“Memang tidak mudah. Tapi bukan
berarti tidak bisa.”
Khinanti menatapnya. Matanya mulai
berkaca-kaca.
“Aku takut berharap terlalu banyak,”
katanya.
Erlangga menatapnya dengan tenang.
“Berharap bukan berarti menyerahkan
semuanya kepada orang lain. Berharap berarti memberi kesempatan kepada orang
lain untuk ikut peduli.”
Khinanti tidak menjawab.
Di dalam rumah, terdengar suara ibunya
batuk.
Khinanti segera masuk. Erlangga
mengikuti dari belakang, tetapi berhenti di ambang pintu ketika melihat ibunya
berusaha bangun dari tempat tidur.
“Ibu,” kata Khinanti, “kenapa tidak
panggil aku?”
Ibunya tersenyum lemah.
“Ibu hanya mau minum.”
Erlangga mengambilkan air hangat dari
dapur. Ia membantu meletakkan gelas di meja kecil dekat tempat tidur.
“Terima kasih, Langga,” kata ibu
Khinanti.
Erlangga mengangguk sopan.
“Kita sebaiknya periksa ke puskesmas,”
katanya hati-hati.
Ibunya menggeleng pelan. “Tidak perlu.
Ibu hanya lelah.”
Namun, Khinanti melihat wajah ibunya
yang pucat. Kekhawatiran yang selama ini ia tahan semakin besar.
Keesokan pagi, Erlangga datang bersama
Sari dan Bu Ratna. Mereka membawa kendaraan milik Pak Maman untuk mengantar ibu
Khinanti ke puskesmas kecamatan. Awalnya Khinanti menolak.
“Aku bisa mengantar sendiri,” katanya.
“Kau bisa,” jawab Bu Ratna. “Tapi hari
ini tidak perlu sendirian.”
Khinanti akhirnya mengangguk.
Di puskesmas, dokter memeriksa ibu
Khinanti. Tidak ada penyakit berat yang langsung mengancam, tetapi ia mengalami
tekanan darah yang tidak stabil dan kelelahan yang cukup serius. Dokter meminta
agar ia lebih banyak beristirahat, menjaga pola makan, dan rutin memeriksakan
diri.
Khinanti merasa lega, tetapi juga
semakin menyadari bahwa ia tidak bisa terus memikul semuanya seorang diri.
Sore hari, ketika mereka pulang,
beberapa anak sudah menunggu di depan rumah Khinanti.
Raka membawa sebuah gambar.
Danu membawa beberapa buku yang sudah
dirapikan.
Lila membawa bunga kecil dari halaman
rumahnya.
“Kak Khinanti,” kata Raka, “kami mau
rumah baca buka lagi. Tapi kalau Kakak capek, kami bisa bantu bersih-bersih.”
Khinanti memandang mereka satu per
satu.
Danu maju selangkah.
“Aku bisa menyapu,” katanya.
“Aku bisa merapikan buku,” kata Lila.
“Aku bisa mengingatkan teman-teman
supaya tidak merusak buku,” tambah Raka.
Khinanti menahan air mata.
Selama ini, ia selalu melihat
anak-anak sebagai orang yang harus ia bantu. Namun, sore itu, anak-anak itu
justru datang membawa kekuatan untuknya.
Ia berjongkok di hadapan mereka.
“Rumah baca akan buka lagi,” katanya
pelan. “Tapi mulai sekarang, kita jaga bersama-sama.”
Anak-anak bersorak kecil.
Di kejauhan, Erlangga berdiri bersama
Sari dan Bu Ratna. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat Khinanti
tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang berat.
Malam itu, Khinanti duduk di beranda
rumah bersama Erlangga.
Langit tampak cerah. Cahaya bulan
jatuh di atas halaman yang masih basah oleh embun.
“Aku tadi berpikir,” kata Khinanti.
“Pikir apa?”
“Mungkin aku terlalu lama menganggap
rumah baca ini hanya tanggung jawabku.”
Erlangga menoleh.
“Rumah baca ini memang kau yang
mulai,” lanjutnya. “Tapi mungkin sekarang sudah waktunya menjadi milik banyak
orang.”
Erlangga tersenyum.
“Itu bukan berarti peranmu berkurang.”
“Aku tahu. Tapi mungkin peranku harus
berubah.”
“Menjadi apa?”
“Menjadi orang yang tidak hanya
bekerja sendiri, tetapi juga mengajak orang lain bertumbuh.”
Erlangga memandangnya dengan bangga.
“Kau selalu menjadi cahaya di rumah
baca itu,” katanya.
Khinanti tersenyum kecil.
“Cahaya juga bisa redup kalau tidak
dijaga.”
“Karena itu, kita jaga bersama.”
Mereka terdiam dalam suasana yang
tenang.
Khinanti masih memiliki banyak
kekhawatiran. Kondisi ibunya belum sepenuhnya pulih. Rumah baca masih
membutuhkan banyak perbaikan. Omongan warga mungkin belum benar-benar berhenti.
Namun, malam itu ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia mulai memahami bahwa cahaya tidak
harus selalu menyala karena satu orang.
Cahaya dapat bertahan karena banyak
tangan menjaga nyalanya.
Dan di tengah segala kelelahan yang
hampir membuatnya menyerah, Khinanti menemukan kembali alasan untuk tetap
berdiri.
Bukan karena ia harus kuat seorang
diri.
Melainkan karena kini ia memiliki
orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya.
BAB XIV
Desa yang Bersatu
Hujan turun sejak sore hari.
Pada awalnya, warga Desa Suka Makmur
tidak terlalu mengkhawatirkannya. Hujan adalah bagian dari kehidupan desa. Ia
menyuburkan kebun, mengisi parit-parit kecil, dan memberi harapan bagi tanaman
warga yang mulai mengering.
Namun, malam itu hujan tidak berhenti.
Langit seakan menumpahkan seluruh
airnya ke atas desa. Angin bertiup kencang. Suara petir sesekali membelah
kesunyian. Air mulai mengalir deras dari perbukitan menuju permukiman warga.
Menjelang tengah malam, kabar pertama
datang dari Dusun Timur.
“Air sudah masuk ke rumah Pak Darto!”
teriak seorang pemuda yang datang dengan motor dalam keadaan basah kuyup.
Erlangga yang sedang berada di rumah
segera bangkit. Ia mengenakan jas hujan seadanya, lalu bergegas menuju balai
desa. Di sana, beberapa warga telah berkumpul dengan wajah cemas.
Khinanti datang tidak lama kemudian.
Ia membawa senter, beberapa kain, dan kotak obat sederhana.
“Bagaimana keadaan di Dusun Timur?”
tanyanya.
“Air semakin tinggi,” jawab Jatmiko.
“Beberapa warga sudah mulai mengungsi ke rumah keluarga mereka yang lebih
tinggi.”
Pak Darmawan, Kepala Desa Suka Makmur,
segera mengambil keputusan.
“Kita buka balai desa untuk tempat
sementara,” katanya tegas. “Pemuda bantu evakuasi. Ibu-ibu siapkan makanan hangat.
Yang punya perahu kecil atau gerobak, segera dibawa.”
Tidak ada lagi perdebatan.
Tidak ada lagi pertanyaan tentang
siapa yang harus memulai.
Warga bergerak.
Erlangga bersama Jatmiko, Ardi, dan
beberapa pemuda menuju Dusun Timur. Jalan yang biasanya dapat dilalui motor
kini berubah menjadi aliran lumpur. Mereka berjalan dengan hati-hati sambil
membawa senter dan tali.
Di beberapa rumah, air sudah mencapai
lutut orang dewasa.
“Pak, Ibu, keluar dulu ke balai desa!”
teriak Erlangga.
Seorang ibu tua tampak kebingungan di
dalam rumahnya. Khinanti yang ikut bersama rombongan segera mendekat.
“Bu, mari saya bantu,” katanya.
“Ada cucu saya di dalam,” jawab
perempuan itu dengan suara gemetar.
Khinanti masuk ke rumah bersama Ardi.
Tidak lama kemudian, mereka keluar sambil membawa seorang anak kecil yang
memeluk boneka kain.
Anak itu menangis ketakutan.
“Tidak apa-apa,” kata Khinanti sambil
menggendongnya. “Kita ke tempat yang aman.”
Malam itu, Desa Suka Makmur tidak lagi
terbagi antara warga pusat desa dan warga Dusun Timur. Tidak ada yang
memikirkan perbedaan kepentingan. Tidak ada yang membicarakan siapa yang paling
berpengaruh.
Semua hanya memikirkan keselamatan.
Di balai desa, ibu-ibu memasak nasi,
mi, dan air jahe. Anak-anak dibaringkan di atas tikar. Para bapak membantu
mengangkat barang-barang warga yang berhasil diselamatkan dari rumah.
Bu Ratna membagikan selimut kepada
anak-anak.
Sari membantu mencatat nama warga yang
datang.
Danu dan Raka membawa gelas air untuk
orang-orang yang kelelahan.
“Kak Khinanti, aku bisa bantu lagi?”
tanya Danu.
“Kau sudah membantu banyak,” jawab
Khinanti. “Sekarang duduk dulu.”
Namun, Danu tetap berdiri. Ia melihat
ibunya yang sedang membantu di dapur balai desa.
“Aku mau bantu bagi makanan,” katanya.
Khinanti tersenyum.
“Baik. Tapi hati-hati.”
Menjelang dini hari, hujan mulai reda.
Air di beberapa bagian desa perlahan surut, tetapi kerusakan mulai terlihat.
Jalan tanah berubah menjadi lumpur. Saluran air tersumbat. Beberapa kebun warga
terendam. Pagar rumah roboh. Sebagian hasil panen rusak.
Pagi harinya, warga berkumpul di
halaman balai desa.
Wajah mereka tampak lelah. Namun,
tidak ada yang pulang begitu saja. Mereka mulai membicarakan apa yang harus
dilakukan.
“Kita harus membersihkan jalan,” kata
Jatmiko.
“Saluran air juga harus diperbaiki,”
tambah Bu Ratna.
“Rumah Pak Darto perlu dibantu dulu.
Bagian dapurnya rusak,” ujar seorang warga.
Erlangga memandangi warga yang mulai
berbicara satu per satu. Ia tidak berdiri sebagai orang yang memberi perintah.
Ia hanya mendengarkan.
Kemudian ia berkata, “Kita tidak bisa
menunggu semuanya datang dari luar. Kita harus mulai dari apa yang bisa kita
lakukan bersama.”
Kalimat itu membuat warga terdiam.
Pak Wiryo berdiri tidak jauh dari
kerumunan. Selama ini, ia dikenal sebagai tokoh yang sering meragukan langkah
Erlangga dan Khinanti. Ia pernah menganggap kegiatan rumah baca, kebun kecil,
dan gerakan pemuda hanya sebagai kegiatan yang tidak akan bertahan lama.
Namun, pagi itu ia melihat sesuatu
yang berbeda.
Ia melihat Erlangga bekerja sejak malam
tanpa banyak bicara.
Ia melihat Khinanti menggendong
anak-anak, membantu ibu-ibu, dan menenangkan warga.
Ia melihat pemuda yang selama ini
dianggap hanya pandai berkumpul kini membersihkan lumpur dan membantu
mengangkat barang.
Ia melihat warga yang sebelumnya
saling curiga kini duduk dalam satu halaman dengan tujuan yang sama.
Pak Wiryo akhirnya melangkah maju.
“Kalau mau membersihkan jalan, saya
punya cangkul dan beberapa alat di rumah,” katanya.
Beberapa warga menoleh.
Erlangga memandang Pak Wiryo.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya
mengangguk, lalu berjalan pulang untuk mengambil peralatan.
Sejak pagi hingga sore, warga bekerja
bersama.
Pemuda membersihkan jalan.
Para bapak memperbaiki saluran air.
Ibu-ibu menyiapkan makanan.
Anak-anak membantu mengumpulkan sampah
ringan dan menyusun barang-barang yang masih dapat digunakan.
Khinanti bersama beberapa remaja
membantu membersihkan Rumah Baca Harapan yang terkena cipratan lumpur. Beberapa
buku basah, beberapa meja bergeser, dan halaman rumah baca dipenuhi ranting.
Khinanti memegang sebuah buku yang
halamannya sudah lembap.
“Sayang sekali,” katanya.
Erlangga yang sedang membersihkan
lantai menoleh.
“Kita bisa mengeringkannya.”
“Tidak semuanya bisa diselamatkan.”
“Tidak apa-apa. Yang penting rumah
baca ini tetap ada.”
Khinanti menatap Erlangga.
“Kadang aku takut semua yang kita
bangun mudah rusak.”
Erlangga berhenti sejenak.
“Bangunan bisa rusak. Jalan bisa
rusak. Buku bisa basah. Tapi kalau orang-orangnya tetap mau bergerak, semuanya
bisa dibangun lagi.”
Khinanti mengangguk pelan.
Menjelang sore, jalan utama desa mulai
dapat dilalui. Saluran air dibuka kembali. Warga yang rumahnya terdampak mulai
mendapat bantuan dari tetangga. Tidak semua persoalan selesai dalam sehari,
tetapi ada sesuatu yang berubah di Desa Suka Makmur.
Musibah banjir telah memperlihatkan
kenyataan yang tidak dapat dibantah.
Desa ini masih memiliki banyak
kekurangan.
Jalannya perlu diperbaiki.
Saluran air perlu dibenahi.
Rumah baca perlu diperkuat.
Kebun warga perlu dilindungi.
Pelayanan desa perlu ditata lebih
baik.
Namun, musibah itu juga memperlihatkan
bahwa warga Desa Suka Makmur tidak lagi ingin hanya menunggu.
Mereka mulai memahami bahwa perubahan
tidak dapat ditunda.
Di sore hari, ketika warga mulai
beristirahat, Pak Wiryo duduk di teras balai desa. Erlangga datang membawa dua
gelas teh hangat.
“Satu untuk Bapak,” katanya.
Pak Wiryo menerima teh itu.
“Kau bekerja keras,” ucapnya.
“Kita semua bekerja keras, Pak.”
Pak Wiryo memandang jalan desa yang
masih basah.
“Dulu saya pikir kalian hanya anak
muda yang terlalu banyak mimpi.”
Erlangga tersenyum tipis.
“Mungkin kami memang banyak mimpi.”
“Sekarang saya tahu, mimpi kalian
bukan untuk diri sendiri.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
Pak Wiryo melanjutkan, “Desa ini perlu
orang-orang yang mau bertahan. Bukan hanya orang yang pandai bicara.”
Erlangga menatapnya dengan hormat.
“Kami juga masih belajar, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk.
Sejak hari itu, pengaruh Pak Wiryo
sebagai orang yang sering menanamkan keraguan mulai melemah. Bukan karena ia
dipermalukan atau disingkirkan, melainkan karena warga telah melihat sendiri
ketulusan Erlangga dan Khinanti.
Mereka hadir ketika desa sedang
membutuhkan.
Mereka bekerja tanpa meminta pujian.
Mereka tidak menjanjikan perubahan
besar dalam satu malam.
Mereka hanya mengajak warga untuk
mulai bergerak.
Di bawah langit sore yang perlahan
cerah, Desa Suka Makmur tampak berbeda.
Banjir memang meninggalkan lumpur,
kerusakan, dan kesedihan.
Namun, banjir juga meninggalkan
kesadaran.
Bahwa sebuah desa tidak akan bangkit
hanya dengan keluhan.
Bahwa perubahan tidak akan datang jika
semua orang memilih menunggu.
Dan bahwa ketika warga bersatu,
keterbatasan bukan lagi alasan untuk menyerah.
Desa Suka Makmur mungkin belum menjadi
desa yang maju.
Namun, hari itu, desa tersebut telah
menjadi desa yang mulai percaya pada kekuatannya sendiri.
BAB XV
Musyawarah Harapan Baru
Tiga hari setelah banjir surut,
halaman Balai Desa Suka Makmur kembali ramai.
Lumpur di jalan utama memang belum
seluruhnya hilang. Beberapa bagian jalan masih berlubang dan licin. Saluran air
di dekat Dusun Timur masih memerlukan perbaikan. Namun, warga mulai kembali
menjalani kegiatan sehari-hari. Anak-anak berangkat sekolah. Para petani
kembali memeriksa kebun. Ibu-ibu membersihkan rumah dan menjemur barang-barang
yang sempat basah.
Di tengah kesibukan itu, Pak Darmawan
mengundang seluruh warga untuk menghadiri musyawarah desa.
Undangan disampaikan melalui pengeras
suara masjid, papan pengumuman, dan dari mulut ke mulut. Tidak ada undangan
mewah. Hanya selembar kertas sederhana yang memuat satu kalimat penting:
Musyawarah Desa Suka
Makmur: Menyusun Harapan Baru Bersama Warga.
Sejak sore, kursi-kursi plastik mulai
disusun di pendopo balai desa. Para pemuda membantu memasang lampu tambahan.
Ibu-ibu menyiapkan teh hangat dan gorengan. Di salah satu sisi ruangan, Sari
menempelkan beberapa lembar kertas besar bertuliskan:
- Jalan dan saluran air
- Pendidikan dan rumah baca
- Usaha warga
- Kebun pangan
- Pelayanan desa
Khinanti berdiri di depan kertas-kertas
itu sambil memeriksa kembali spidol dan alat tulis.
“Semoga warga mau menyampaikan
pendapat,” katanya.
Erlangga yang sedang membantu menyusun
meja menoleh.
“Mereka akan bicara.”
“Kau yakin?”
“Setelah banjir, mereka tahu bahwa
diam tidak menyelesaikan apa-apa.”
Khinanti mengangguk, meski wajahnya
masih menyimpan sedikit kekhawatiran.
Selama ini, banyak musyawarah desa
hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu. Sebagian warga datang, tetapi memilih
diam. Sebagian lagi merasa pendapat mereka tidak akan didengar. Ada pula yang
lebih memilih mengeluh di warung daripada menyampaikan persoalan secara
terbuka.
Namun, malam itu terasa berbeda.
Satu per satu warga datang.
Para bapak duduk di bagian depan.
Ibu-ibu mengambil tempat di sisi kanan pendopo. Pemuda duduk bersama di dekat
pintu. Beberapa remaja membantu mencatat kehadiran. Anak-anak yang datang
bersama orang tua mereka duduk di belakang sambil bermain pelan.
Pak Wiryo datang agak terlambat. Ia
tidak lagi duduk di tempat yang paling depan seperti biasanya. Ia memilih duduk
di antara warga lain.
Ketika semua mulai tenang, Pak
Darmawan berdiri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,” jawab warga serempak.
Pak Darmawan memandang seluruh
ruangan.
“Banjir yang baru kita alami telah
memberi kita pelajaran. Kita tidak bisa hanya menyalahkan keadaan. Kita tidak
bisa hanya menunggu bantuan dari luar. Kita harus menyusun langkah bersama agar
Desa Suka Makmur menjadi lebih siap, lebih kuat, dan lebih baik.”
Ia berhenti sejenak.
“Malam ini, tidak ada pendapat yang
kecil. Tidak ada suara yang tidak penting. Semua warga berhak menyampaikan
kebutuhan dan harapan.”
Suasana hening beberapa saat.
Kemudian Pak Darmawan mempersilakan
Erlangga untuk menjelaskan tujuan musyawarah.
Erlangga berdiri di depan papan
kertas.
“Kita tidak akan membuat rencana yang
terlalu jauh dan sulit dilakukan,” katanya. “Kita akan mulai dari masalah yang
benar-benar kita rasakan bersama. Jalan, pendidikan anak-anak, usaha warga,
pangan keluarga, dan pelayanan desa.”
Ia menunjuk lima kertas yang tertempel
di dinding.
“Kita akan membahasnya satu per satu.
Apa masalahnya, apa yang bisa dilakukan warga, dan apa yang perlu diperjuangkan
melalui pemerintah desa atau kecamatan.”
“Kalau usul kita tidak langsung bisa
dilaksanakan bagaimana?” tanya seorang warga dari belakang.
“Usul tetap dicatat,” jawab Erlangga.
“Karena rencana pembangunan tidak selalu selesai dalam satu hari. Tapi tanpa
usul dan kesepakatan, kita tidak punya arah.”
Pak Darmawan mengangguk.
“Yang penting malam ini kita
menentukan prioritas.”
Pembahasan pertama dimulai dari jalan
dan saluran air.
Pak Darto, warga Dusun Timur yang
rumahnya sempat terendam, berdiri.
“Jalan ke Dusun Timur harus
diperbaiki,” katanya. “Kalau hujan datang lagi, kami bisa terisolasi. Anak-anak
sulit ke sekolah. Hasil kebun juga sulit dibawa keluar.”
Beberapa warga mengangguk.
“Saluran air juga perlu diperlebar,”
tambah Bu Sulastri. “Air dari atas bukit langsung turun ke rumah-rumah kami.”
Jatmiko kemudian berdiri.
“Pemuda bisa membantu kerja bakti dan
perbaikan sementara. Tapi untuk pengerasan jalan dan gorong-gorong, kita perlu
masukkan sebagai program prioritas desa.”
Pak Darmawan mencatat.
“Baik. Jalan dan saluran air menjadi
prioritas pertama.”
Pembahasan kedua adalah rumah baca dan
pendidikan anak-anak.
Khinanti berdiri dengan membawa
beberapa buku yang sempat rusak karena banjir.
“Rumah Baca Harapan sudah mulai
digunakan anak-anak,” katanya. “Tetapi tempatnya masih terbatas. Buku-bukunya
belum banyak. Saat hujan, sebagian atap juga bocor.”
Ia menatap warga.
“Anak-anak desa kita membutuhkan ruang
belajar. Bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk mengenal dunia di luar
desa. Kalau kita ingin desa ini maju, pendidikan tidak boleh dikesampingkan.”
Bu Ratna mengangkat tangan.
“Anak saya sekarang lebih rajin
belajar sejak ada rumah baca. Dulu kalau sore hanya bermain. Sekarang ia
membawa buku pulang.”
Seorang bapak lain menyahut, “Kalau
perlu, kita gotong royong memperbaiki atapnya.”
Sari yang duduk di dekat Khinanti
tersenyum.
“Kami juga bisa membuat jadwal relawan
untuk membantu anak-anak belajar,” katanya.
Pak Darmawan mencatat lagi.
“Rumah baca menjadi prioritas kedua.
Perbaikan tempat, penambahan buku, dan kegiatan belajar anak-anak.”
Pembahasan ketiga adalah kelompok
usaha warga.
Bu Ratna berdiri dengan membawa satu
bungkus keripik singkong.
“Setelah festival kemarin, banyak
warga bertanya apakah keripik singkong ini bisa terus dibuat,” katanya. “Kami
ingin membentuk kelompok usaha ibu-ibu. Tidak hanya keripik singkong, mungkin
nanti ada olahan pisang, kue kering, atau hasil kebun lain.”
Beberapa ibu-ibu tampak antusias.
“Tapi kami perlu belajar soal kemasan
dan pemasaran,” ujar Bu Sulastri.
“Kami juga perlu alat sederhana,”
tambah ibu lain.
Erlangga menulis di papan.
“Kelompok usaha warga: pelatihan
pengolahan hasil kebun, kemasan, pemasaran, dan penguatan kelompok.”
Pak Darmawan berkata, “Kalau
kelompoknya sudah terbentuk, pemerintah desa dapat membantu menghubungkan
dengan pelatihan dari kecamatan.”
Wajah Bu Ratna tampak lega.
“Kami siap membentuk kelompoknya,”
katanya.
Pembahasan keempat adalah kebun
pangan.
Pak Wiryo yang sejak awal lebih banyak
diam akhirnya berdiri.
“Saya ingin bicara soal kebun,”
katanya.
Semua orang menoleh.
“Waktu banjir, banyak warga kesulitan
karena sayur di kebun rusak. Kita terlalu bergantung membeli dari luar.
Padahal, tanah di sekitar rumah masih bisa dimanfaatkan.”
Ia memandang Erlangga dan Khinanti.
“Kebun kecil di rumah baca itu memang
belum besar. Tapi saya lihat anak-anak mulai belajar menanam. Kalau setiap
rumah punya sayur sederhana, setidaknya warga punya cadangan pangan.”
Erlangga tersenyum.
“Itu usul yang baik, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk.
“Kita bisa mulai dari bibit cabai,
kangkung, bayam, dan sayur yang mudah tumbuh. Tidak perlu langsung besar.”
Khinanti menambahkan, “Kebun pangan
juga bisa menjadi tempat belajar anak-anak dan kegiatan ibu-ibu.”
Warga mulai berdiskusi. Ada yang
mengusulkan pembagian bibit. Ada yang mengusulkan pelatihan membuat pupuk
kompos. Ada pula yang menawarkan lahan kosong di dekat balai desa untuk kebun
bersama.
Pak Darmawan mencatat dengan
sungguh-sungguh.
“Kebun pangan keluarga dan kebun
bersama menjadi prioritas keempat.”
Pembahasan terakhir adalah pelayanan
desa.
Seorang warga bernama Pak Hasan berdiri.
“Kalau warga mengurus surat, kadang
harus menunggu lama karena informasi tidak jelas,” katanya. “Ada yang tidak
tahu syaratnya. Ada yang datang dua kali karena berkas kurang.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kalau bisa, di kantor desa ada papan
informasi,” tambah Bu Sulastri. “Supaya warga tahu apa yang harus dibawa.”
Erlangga menatap Pak Darmawan.
Pak Darmawan mengangguk.
“Itu masukan yang benar. Pelayanan
desa harus lebih terbuka dan mudah dipahami.”
Sari kemudian mengusulkan agar dibuat
jadwal pelayanan yang jelas, buku pengaduan warga, serta papan informasi
administrasi di depan kantor desa.
“Kalau ada informasi kegiatan desa,
bantuan, atau pelayanan, warga juga bisa membacanya,” katanya.
Pak Darmawan tersenyum.
“Baik. Pelayanan desa akan kita benahi
bersama.”
Musyawarah berlangsung hingga malam
semakin larut.
Tidak semua persoalan dapat langsung
diselesaikan. Tidak semua usul dapat langsung dibiayai. Namun, warga mulai
melihat bahwa musyawarah bukan sekadar duduk dan mendengar.
Musyawarah adalah ruang untuk
menentukan arah.
Setelah seluruh pembahasan selesai,
Erlangga membacakan hasil kesepakatan warga.
Pertama, perbaikan jalan dan saluran
air.
Kedua, penguatan Rumah Baca Harapan.
Ketiga, pembentukan kelompok usaha
warga.
Keempat, pengembangan kebun pangan
keluarga dan kebun bersama.
Kelima, peningkatan pelayanan desa
yang lebih terbuka dan mudah diakses.
Pak Darmawan kemudian berdiri untuk
menutup pertemuan.
“Malam ini, kita telah menyusun
harapan baru. Harapan ini bukan hanya milik pemerintah desa. Harapan ini milik
kita semua.”
Ia memandang warga satu per satu.
“Besok, kita mulai dari hal kecil.
Kita bentuk kelompok kerja. Kita bagi tugas. Kita lakukan apa yang dapat kita
lakukan. Untuk hal yang membutuhkan anggaran dan bantuan lebih besar, kita
perjuangkan melalui rencana pembangunan desa.”
Tepuk tangan terdengar di pendopo
balai desa.
Tidak terlalu riuh, tetapi penuh
keyakinan.
Setelah musyawarah selesai, warga
mulai pulang perlahan. Beberapa masih berdiskusi di halaman. Ibu-ibu
membereskan gelas. Pemuda membantu mengangkat kursi. Anak-anak yang sudah
mengantuk digendong oleh orang tua mereka.
Erlangga berdiri di depan papan kertas
yang kini penuh dengan catatan.
Khinanti mendekat.
“Banyak sekali yang harus dikerjakan,”
katanya.
“Iya,” jawab Erlangga.
“Kau tidak takut?”
Erlangga menatap daftar rencana itu.
“Takut. Tapi sekarang kita tidak
mengerjakannya sendiri.”
Khinanti tersenyum.
Di dekat pintu, Pak Wiryo berdiri
sambil memandangi hasil musyawarah.
Sebelum pulang, ia menghampiri
Erlangga.
“Besok pagi saya akan datang ke lahan
kosong dekat balai desa,” katanya.
“Untuk apa, Pak?”
“Kita lihat apakah bisa dipakai untuk
kebun bersama.”
Erlangga tersenyum.
“Baik, Pak. Saya juga akan datang.”
Pak Wiryo mengangguk, lalu berjalan
pulang.
Malam itu, lampu balai desa masih
menyala lebih lama dari biasanya.
Di dalamnya, tersimpan catatan-catatan
sederhana tentang jalan, rumah baca, usaha warga, kebun pangan, dan pelayanan
desa.
Namun, di balik semua catatan itu, ada
sesuatu yang jauh lebih besar.
Ada warga yang mulai percaya bahwa
suara mereka berarti.
Ada desa yang mulai memiliki arah.
Ada harapan yang tidak lagi hanya
dibicarakan, tetapi mulai disusun menjadi langkah.
Dan dari musyawarah sederhana itu,
Desa Suka Makmur perlahan belajar bahwa masa depan tidak datang begitu saja.
Masa depan harus direncanakan,
diperjuangkan, dan dibangun bersama.
BAB XVI
Menolak Jalan yang Mudah
Pagi itu, Desa Suka Makmur masih
diselimuti sisa embun. Dari halaman rumah-rumah warga, terdengar suara ayam
berkokok dan bunyi peralatan dapur yang mulai digunakan. Di kejauhan, beberapa
petani berjalan menuju kebun dengan cangkul di bahu.
Namun, bagi Erlangga, pagi itu tidak
terasa biasa.
Sejak musyawarah desa berlangsung,
pikirannya dipenuhi banyak hal. Catatan hasil musyawarah masih tersimpan rapi
di dalam tasnya. Ada rencana perbaikan jalan, penguatan rumah baca, pembentukan
kelompok usaha warga, kebun pangan, dan pembenahan pelayanan desa.
Semua rencana itu tampak sederhana
ketika dibacakan dalam musyawarah.
Tetapi ketika dipikirkan lebih dalam,
Erlangga tahu bahwa semuanya membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan
orang-orang yang bersedia bertahan.
Ia duduk di teras rumah sambil
memandangi jalan desa yang masih basah oleh embun. Di atas meja kecil di
depannya, terdapat sebuah amplop putih yang sudah beberapa hari ia simpan.
Amplop itu datang dari kota.
Dari perusahaan tempat ia pernah
bekerja sebelum pulang ke Desa Suka Makmur.
Surat itu berisi tawaran pekerjaan
sebagai staf lapangan pada sebuah proyek pembangunan kawasan. Gajinya cukup besar.
Ada tempat tinggal. Ada kesempatan mengikuti pelatihan. Ada kemungkinan jenjang
karier yang lebih jelas.
Bagi banyak orang, tawaran itu adalah
jalan yang mudah.
Jalan menuju kehidupan yang lebih
terjamin.
Jalan untuk keluar dari keterbatasan
desa.
Erlangga membaca kembali isi surat
itu.
Di bagian akhir, tertulis bahwa ia
diminta memberikan jawaban dalam waktu tiga hari.
Tiga hari.
Waktu yang singkat untuk menentukan
arah hidup.
Bu Marni, ibunya, keluar dari rumah
sambil membawa secangkir kopi.
“Kau belum berangkat ke balai desa?”
tanyanya.
“Belum, Bu.”
Bu Marni meletakkan kopi di atas meja.
Matanya kemudian tertuju pada amplop putih itu.
“Surat dari kota itu lagi?”
Erlangga mengangguk.
“Kau sudah memutuskan?”
“Belum.”
Bu Marni duduk di kursi sebelahnya.
“Dulu kau pergi ke kota karena ingin
mencari pekerjaan yang baik. Sekarang pekerjaan itu datang lagi. Kenapa kau
ragu?”
Erlangga menunduk.
“Karena sekarang desa ini juga
membutuhkan banyak hal.”
“Desa ini sudah ada sejak sebelum kau
pulang,” kata Bu Marni pelan. “Dan desa ini tetap akan ada kalau kau pergi.”
Erlangga tersenyum tipis.
“Aku tahu, Bu.”
“Lalu apa yang membuatmu berat?”
Erlangga memandang jalan desa.
“Dulu aku pulang karena merasa lelah
hidup di kota. Aku merasa semua yang kulakukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi
di sini, walaupun sulit, aku merasa punya alasan untuk bekerja.”
Bu Marni terdiam.
Erlangga melanjutkan, “Musyawarah
kemarin membuatku sadar. Warga mulai percaya. Mereka mulai mau bergerak. Kalau
aku pergi sekarang, aku takut mereka merasa ditinggalkan.”
Bu Marni memegang tangan anaknya.
“Kau tidak harus memikul semua beban
desa seorang diri.”
“Aku tahu.”
“Dan kau juga tidak boleh memilih
hanya karena takut mengecewakan orang lain.”
Erlangga mengangguk pelan.
Kata-kata ibunya tidak membuat
keputusan itu menjadi lebih mudah. Namun, kata-kata itu membuatnya memahami
bahwa pilihan hidup tidak boleh lahir dari ketakutan.
Setelah sarapan, Erlangga berjalan
menuju Rumah Baca Harapan.
Di sana, Khinanti sedang menyusun
beberapa buku di rak yang baru diperbaiki. Sari duduk di lantai bersama
beberapa anak, membantu mereka membuat gambar tentang kebun pangan.
Danu menggambar cabai merah.
Raka menggambar lapangan desa.
Lila menggambar rumah dengan halaman
penuh sayur.
“Kak Erlangga,” panggil Danu. “Kalau
kita punya kebun besar, apakah semua orang bisa ambil sayur?”
“Kalau kebunnya dirawat bersama, tentu
bisa,” jawab Erlangga.
Danu tampak senang.
Khinanti menoleh kepada Erlangga.
“Kau terlihat seperti sedang
memikirkan sesuatu.”
Erlangga mengangguk.
“Boleh bicara sebentar?”
Khinanti mengajak Erlangga ke halaman
belakang rumah baca. Kebun kecil di sana mulai dibersihkan kembali. Beberapa
bedeng tanaman sudah dibuat lebih tinggi agar tidak mudah tergenang jika hujan
turun.
“Ada apa?” tanya Khinanti.
Erlangga mengeluarkan amplop putih
dari tasnya.
“Aku mendapat tawaran kerja dari
kota.”
Khinanti memandangi amplop itu.
“Pekerjaan yang dulu?”
“Bukan tempat yang sama, tapi
bidangnya hampir sama. Mereka menawarkan gaji yang cukup baik.”
“Kapan kau harus menjawab?”
“Tiga hari lagi.”
Khinanti diam sejenak.
“Dan kau ingin pergi?”
Erlangga tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu.”
Khinanti memandang tanaman cabai yang
tumbuh di dekat mereka.
“Kalau kau pergi, aku tidak akan
menyalahkanmu.”
Erlangga menatapnya.
“Tidak?”
“Kau punya hidup. Kau punya masa
depan. Pengabdian tidak boleh membuat seseorang kehilangan hak untuk menentukan
jalan hidupnya.”
“Tapi bagaimana dengan desa?”
“Desa ini tidak boleh hanya bergantung
pada satu orang.”
Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.
Khinanti melanjutkan, “Kita sudah
memulai banyak hal. Tapi sekarang warga juga mulai terlibat. Ada Jatmiko dan
pemuda. Ada Bu Ratna dan kelompok ibu-ibu. Ada Pak Darmawan. Ada Pak Wiryo yang
mulai mau membantu. Ada anak-anak yang sudah punya rasa memiliki terhadap rumah
baca.”
Erlangga mengangguk.
“Jadi kau menyuruhku pergi?”
Khinanti tersenyum tipis.
“Aku tidak menyuruhmu pergi. Aku hanya
ingin kau memilih dengan jujur.”
Sepanjang hari, kata-kata itu terus
teringat dalam pikiran Erlangga.
Siang itu, ia menghadiri pertemuan
kecil di balai desa. Jatmiko, Ardi, Beni, dan Rendi sedang membahas pembagian
tugas untuk kerja bakti perbaikan jalan. Bu Ratna datang membawa daftar nama
ibu-ibu yang ingin bergabung dalam kelompok usaha. Pak Wiryo membawa beberapa
contoh bibit sayur untuk kebun bersama.
“Kita mulai dari lahan dekat balai
desa,” kata Pak Wiryo. “Tanahnya cukup baik kalau dibersihkan.”
“Kalau bibitnya kurang, saya bisa cari
dari kebun saudara,” ujar Pak Hasan.
“Pemuda bisa bantu membuat pagar,”
kata Jatmiko.
“Kalau rumah baca butuh meja tambahan,
kami bisa buat dari papan bekas,” tambah Ardi.
Erlangga duduk di antara mereka sambil
mendengarkan.
Ia melihat bahwa warga mulai bergerak.
Namun, ia juga melihat bahwa gerakan
itu masih rapuh. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan hanya dalam bentuk
tenaga, tetapi juga dalam bentuk keyakinan bahwa rencana mereka dapat berjalan.
Sore hari, Erlangga berjalan sendiri
menuju tepi sungai kecil di belakang desa. Air sungai masih keruh akibat sisa
banjir. Ia duduk di atas batu besar dan membuka kembali surat dari kota.
Ia membayangkan kehidupan yang mungkin
ia jalani jika menerima tawaran itu.
Pagi hari berangkat ke kantor.
Mendapat gaji tetap.
Tinggal di rumah kontrakan yang layak.
Tidak perlu memikirkan jalan desa yang
berlubang.
Tidak perlu memikirkan buku anak-anak
yang rusak karena hujan.
Tidak perlu memikirkan bagaimana
ibu-ibu menjual keripik singkong.
Tidak perlu memikirkan warga yang
datang ke balai desa karena tidak memahami urusan administrasi.
Semua itu terdengar lebih mudah.
Namun, semakin lama ia
membayangkannya, semakin ia merasa ada sesuatu yang hilang.
Di kota, ia mungkin memiliki
pekerjaan.
Tetapi di desa, ia memiliki tujuan.
Menjelang magrib, Pak Darmawan datang
menghampirinya.
“Saya kira kamu ada di rumah,”
katanya.
Erlangga tersenyum tipis.
“Saya sedang berpikir, Pak.”
Pak Darmawan duduk di sampingnya.
“Pekerjaan dari kota?”
Erlangga menoleh.
“Bapak sudah tahu?”
“Di desa, kabar sering berjalan lebih
cepat daripada motor.”
Erlangga tertawa kecil.
Pak Darmawan memandang aliran sungai.
“Kalau kamu ingin pergi, saya tidak
akan melarang. Kamu masih muda. Kamu punya hak untuk mencari kehidupan yang
lebih baik.”
“Tapi kalau saya pergi sekarang,
apakah saya egois?”
Pak Darmawan menggeleng.
“Tidak. Pergi bukan selalu berarti
egois. Tinggal juga bukan selalu berarti mulia. Yang penting adalah alasan di
balik pilihan itu.”
Erlangga menatapnya.
“Menurut Bapak, apa yang harus saya
lakukan?”
Pak Darmawan tersenyum.
“Saya tidak bisa memilihkan hidupmu.
Tapi saya bisa mengatakan satu hal. Desa ini membutuhkan orang-orang yang tidak
hanya datang ketika ada kesempatan, tetapi juga bertahan ketika keadaan belum
baik.”
Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.
Pak Darmawan berdiri.
“Kalau kamu tinggal, jangan tinggal
karena ingin dipuji. Tinggallah karena kamu benar-benar siap bekerja. Kalau
kamu pergi, jangan pergi karena takut menghadapi kesulitan. Pergilah karena itu
memang jalan yang kamu pilih.”
Setelah Pak Darmawan pergi, Erlangga
masih duduk cukup lama di tepi sungai.
Langit perlahan berubah jingga.
Suara azan magrib terdengar dari
kejauhan.
Di dalam hati, ia mulai menemukan
jawabannya.
Malam itu, Erlangga kembali ke rumah.
Ia duduk di meja kecil dengan surat dari kota di hadapannya. Bu Marni
melihatnya dari dapur, tetapi tidak mengganggu.
Erlangga mengambil selembar kertas
kosong.
Ia menulis dengan perlahan.
Ia mengucapkan terima kasih atas
tawaran pekerjaan yang diberikan.
Ia menyampaikan penghargaan atas
kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Namun, ia juga menulis bahwa untuk
saat ini, ia memilih tetap tinggal di Desa Suka Makmur.
Ia ingin melanjutkan kerja bersama
masyarakat.
Ia ingin membantu membangun program
yang telah direncanakan warga.
Ia ingin membuktikan bahwa
keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Setelah selesai menulis, Erlangga
membaca surat itu sekali lagi.
Tangannya sempat gemetar.
Bukan karena ia menyesal.
Melainkan karena ia tahu, setelah
surat itu dikirim, hidupnya akan berjalan di jalan yang tidak mudah.
Tidak ada gaji besar.
Tidak ada kepastian cepat.
Tidak ada jaminan bahwa semua rencana
akan berhasil.
Yang ada hanyalah jalan desa yang
masih rusak, rumah baca yang masih sederhana, kelompok usaha yang baru dimulai,
kebun pangan yang belum tumbuh, dan warga yang sedang belajar percaya pada kekuatan
mereka sendiri.
Namun, di dalam semua keterbatasan
itu, Erlangga melihat sesuatu yang lebih berharga.
Harapan.
Keesokan paginya, Erlangga pergi ke
kantor pos di kecamatan untuk mengirimkan surat balasan.
Setelah menyerahkan amplop itu kepada
petugas, ia berdiri beberapa saat di depan kantor pos.
Ia tahu bahwa ia baru saja menolak
jalan yang mudah.
Tetapi ia juga tahu bahwa ia sedang
memilih jalan yang membuatnya merasa hidup.
Ketika kembali ke desa, ia melihat
beberapa pemuda sedang membawa bambu untuk pagar kebun bersama. Bu Ratna dan
beberapa ibu sedang berkumpul membahas nama kelompok usaha. Anak-anak berlari
menuju Rumah Baca Harapan sambil membawa buku.
Khinanti berdiri di depan rumah baca.
Ia melihat Erlangga datang, lalu
tersenyum.
“Sudah kau kirim?” tanyanya.
Erlangga mengangguk.
“Sudah.”
“Kau memilih tinggal?”
“Iya.”
Khinanti menatapnya beberapa saat.
“Apakah kau yakin?”
Erlangga memandang desa di
sekelilingnya.
“Aku tidak tahu apakah semua akan
mudah. Tapi aku yakin, aku ingin ada di sini ketika desa ini mulai membangun
dirinya.”
Khinanti tersenyum.
“Kalau begitu, kita mulai bekerja.”
Erlangga mengangguk.
Di bawah langit pagi Desa Suka Makmur,
ia melangkah menuju halaman rumah baca bersama Khinanti.
Di depan mereka, jalan masih panjang.
Masih ada banyak kesulitan.
Masih ada banyak pekerjaan yang belum
selesai.
Namun, untuk pertama kalinya, Erlangga
tidak lagi melihat keterbatasan sebagai alasan untuk pergi.
Ia melihatnya sebagai alasan untuk
bertahan.
Dan dari keputusan sederhana itu,
sebuah pengabdian mulai menemukan bentuknya.
Bukan dalam kata-kata besar.
Bukan dalam janji yang berlebihan.
Melainkan dalam kesediaan untuk
tinggal, bekerja, dan tumbuh bersama desa yang dicintainya.
BAB XVII
Cinta yang Bertumbuh Bersama Desa
Sejak Erlangga memutuskan untuk
menolak pekerjaan di kota, hari-hari di Desa Suka Makmur terasa semakin sibuk.
Keputusan itu tidak diumumkan dalam
acara besar. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada tepuk tangan yang berlebihan.
Namun, kabar tersebut cepat menyebar dari rumah ke rumah, dari kebun ke warung,
dari balai desa ke halaman rumah baca.
“Erlangga memilih tetap tinggal,” kata
warga.
“Dia menolak kerja di kota?”
“Iya. Katanya mau membantu menjalankan
rencana desa.”
Sebagian warga merasa kagum. Sebagian
lagi hanya mengangguk sambil berkata bahwa pilihan itu tidak mudah. Tetapi bagi
Erlangga, keputusan tersebut bukan sesuatu yang ingin ia jadikan bahan
pembicaraan.
Ia hanya ingin mulai bekerja.
Pagi hari, ia membantu pemuda
membersihkan lahan untuk kebun bersama. Siang hari, ia mendampingi Pak Darmawan
menyusun catatan hasil musyawarah. Sore hari, ia datang ke Rumah Baca Harapan
untuk membantu anak-anak belajar atau memperbaiki rak buku yang mulai rapuh.
Di sela semua kegiatan itu, Khinanti
selalu ada.
Ia mengatur jadwal rumah baca.
Ia mengajak anak-anak menanam sayur.
Ia membantu ibu-ibu menyusun catatan
sederhana untuk kelompok usaha.
Ia mengingatkan para pemuda agar tidak
lupa membawa alat ketika kerja bakti.
Ia juga sering menjadi orang pertama
yang datang ketika ada warga membutuhkan bantuan.
Kebersamaan mereka tidak lagi menjadi
sesuatu yang asing bagi warga desa.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka
yang pernah membicarakan perasaan secara terbuka.
Mereka terlalu sibuk dengan banyak
hal.
Atau mungkin, mereka sama-sama takut
bahwa perasaan dapat membuat langkah mereka menjadi lebih rumit.
Suatu sore, Rumah Baca Harapan
dipenuhi anak-anak.
Danu sedang membaca cerita di sudut
ruangan. Raka dan Lila membuat gambar kebun pangan. Beberapa anak lain membantu
Sari menyusun buku-buku yang baru disumbangkan oleh warga kecamatan.
Khinanti berdiri di dekat jendela
sambil memperhatikan mereka.
“Dulu ruangan ini sunyi,” katanya.
Erlangga yang sedang memperbaiki kaki
meja menoleh.
“Sekarang terlalu ramai?”
Khinanti tersenyum.
“Tidak. Sekarang terasa hidup.”
Erlangga memandang anak-anak yang
tertawa ketika Raka salah mengeja sebuah kata.
“Kadang aku masih tidak percaya
semuanya bisa sampai sejauh ini.”
“Kita belum sampai jauh,” jawab
Khinanti. “Kita baru mulai.”
Erlangga mengangguk.
Kalimat itu sederhana, tetapi selalu
berhasil membuatnya kembali berpijak.
Mereka memang baru mulai.
Rumah baca masih sederhana.
Kebun bersama masih dalam tahap awal.
Kelompok usaha ibu-ibu masih belajar
membuat kemasan.
Jalan desa masih banyak yang rusak.
Namun, setiap hari ada perubahan kecil
yang terlihat.
Ada anak yang mulai lancar membaca.
Ada ibu yang berani menjual hasil
olahan.
Ada pemuda yang datang lebih awal saat
kerja bakti.
Ada warga yang mulai bertanya tentang
cara mengurus surat tanpa harus disuruh.
Perubahan-perubahan kecil itu menjadi
alasan mereka terus bergerak.
Menjelang magrib, anak-anak mulai
pulang satu per satu.
Danu membawa buku cerita yang
dipinjamnya.
Raka membawa gambar lapangan sepak
bola.
Lila membawa beberapa bibit kangkung
yang akan ditanam di halaman rumahnya.
“Kak Khinanti,” kata Danu sebelum
pulang, “besok aku mau datang lebih awal.”
“Untuk apa?”
“Aku mau belajar membaca lebih
lancar.”
Khinanti tersenyum.
“Baik. Kakak tunggu.”
Setelah anak-anak pulang, Rumah Baca
Harapan kembali tenang.
Sari pamit lebih dulu karena harus
membantu ibunya di rumah. Tinggallah Erlangga dan Khinanti di dalam ruangan
sederhana itu.
Cahaya sore masuk melalui jendela.
Rak-rak buku berdiri di sepanjang dinding. Di sudut ruangan, beberapa pot
tanaman kecil diletakkan dekat pintu. Di meja tengah, masih ada kertas gambar
dan pensil warna yang belum dirapikan.
Erlangga menutup buku yang tadi ia
baca.
“Khinanti,” katanya pelan.
Khinanti yang sedang menyusun buku
menoleh.
“Iya?”
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
Khinanti berhenti bergerak.
Wajahnya tampak tenang, tetapi
Erlangga dapat melihat bahwa ia mulai menunggu dengan sungguh-sungguh.
Erlangga berdiri. Tangannya terasa
sedikit kaku. Ia bukan orang yang pandai merangkai kata-kata indah, terlebih
ketika harus berbicara tentang perasaan.
“Aku sudah lama ingin mengatakan ini,”
ujarnya.
Khinanti tidak menjawab.
“Aku bersyukur bisa pulang ke desa
ini. Aku bersyukur bisa bekerja bersama warga. Tapi di antara semua hal yang
terjadi, ada satu hal yang membuatku merasa lebih kuat.”
Ia memandang Khinanti.
“Itu kamu.”
Khinanti menunduk sebentar.
Erlangga melanjutkan.
“Sejak awal, kamu tidak pernah hanya
datang untuk memberi saran. Kamu ikut bekerja. Kamu ikut mendengar keluhan
warga. Kamu ikut menjaga anak-anak. Kamu ikut berdiri ketika banyak orang masih
ragu.”
Suara Erlangga terdengar pelan, tetapi
jelas.
“Ketika aku hampir memilih pergi ke
kota, kamu tidak memaksaku tinggal. Kamu hanya mengingatkanku untuk memilih
dengan jujur. Dan dari situ aku sadar, aku tidak hanya ingin membangun desa ini
bersamamu sebagai teman.”
Khinanti mengangkat wajahnya.
Erlangga menarik napas.
“Aku menyayangimu, Khinanti.”
Ruangan itu menjadi hening.
Tidak ada suara selain angin sore yang
masuk dari jendela dan bunyi daun-daun yang bergerak di halaman.
Khinanti memegang salah satu buku di
tangannya lebih erat.
“Langga,” katanya pelan.
Erlangga menunggu.
“Aku juga sudah lama tahu bahwa
perasaanku kepadamu bukan sekadar rasa kagum.”
Erlangga menatapnya.
“Aku melihat caramu bekerja tanpa ingin
terlihat hebat. Aku melihat caramu mendengarkan warga. Aku melihat caramu tetap
bertahan ketika keadaan sulit.”
Khinanti tersenyum kecil.
“Dan aku juga menyayangimu.”
Erlangga tidak langsung menjawab. Ada
rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya.
Namun, Khinanti melanjutkan.
“Tapi aku tidak ingin perasaan ini
membuat kita lupa pada tujuan.”
Erlangga mengangguk.
“Aku juga tidak.”
“Kalau kita berjalan bersama,” kata
Khinanti, “aku ingin kita tetap saling mengingatkan. Bukan hanya tentang cinta,
tetapi juga tentang tanggung jawab.”
Erlangga tersenyum.
“Setuju.”
Khinanti memandang sekeliling rumah
baca.
“Tempat ini menjadi saksi awal banyak
hal. Anak-anak mulai belajar di sini. Warga mulai berkumpul di sini. Kita juga
mulai memahami bahwa desa ini bisa berubah.”
Erlangga mengikuti arah pandangnya.
“Dan sekarang tempat ini juga menjadi
saksi bahwa kita memilih berjalan bersama.”
Khinanti mengangguk.
Mereka tidak saling mengucapkan janji
besar.
Tidak ada kata-kata tentang masa depan
yang terlalu jauh.
Tidak ada rencana yang dibuat dengan
tergesa-gesa.
Mereka hanya berdiri di dalam rumah
baca sederhana, di antara buku-buku, meja kayu, dan gambar-gambar anak-anak.
Namun, bagi mereka, tempat itu terasa
lebih berarti daripada ruang mana pun.
Di luar, langit mulai gelap.
Lampu kecil di depan rumah baca
menyala. Cahaya kuningnya jatuh ke halaman yang mulai ditumbuhi tanaman. Dari
kejauhan, terdengar suara warga yang pulang dari kebun.
Erlangga dan Khinanti keluar ke teras.
Di sana, mereka melihat Danu berlari
kembali sambil membawa buku yang tertinggal.
“Kak, bukuku ketinggalan!” katanya.
Khinanti tertawa.
“Masuklah, ambil.”
Danu berlari masuk, lalu keluar lagi
dengan wajah ceria.
Sebelum pergi, ia memandang Erlangga
dan Khinanti.
“Kak Erlangga, Kak Khinanti, besok
jangan lupa datang ke kebun.”
“Kami tidak lupa,” jawab Erlangga.
Danu mengangguk puas, lalu berlari
pulang.
Erlangga memandang Khinanti.
“Anak-anak selalu punya cara membuat
kita kembali bekerja.”
Khinanti tersenyum.
“Karena mereka tidak tahu kita sedang
membicarakan perasaan.”
“Bagus juga begitu.”
“Kenapa?”
“Karena mereka mengingatkan bahwa
cinta tidak berhenti pada kata-kata.”
Khinanti menatapnya.
“Lalu cinta harus menjadi apa?”
Erlangga memandang halaman rumah baca,
kebun kecil, dan jalan desa yang mulai gelap.
“Cinta harus menjadi alasan untuk
saling menguatkan.”
Khinanti mengangguk.
Malam itu, keduanya pulang melalui
jalan yang sama, tetapi dengan perasaan yang berbeda.
Mereka tidak lagi hanya dua orang yang
bekerja bersama untuk desa.
Mereka adalah dua hati yang mulai
memahami bahwa pengabdian dan cinta dapat tumbuh dalam tanah yang sama.
Cinta mereka tidak lahir dari
kemewahan.
Tidak tumbuh dari janji-janji yang
berlebihan.
Tidak hadir dalam pesta atau kata-kata
besar.
Cinta itu tumbuh dari lumpur di jalan
desa, dari buku-buku yang disusun di rumah baca, dari kebun yang dirawat
bersama, dari musyawarah warga, dan dari keberanian untuk tetap tinggal ketika
jalan yang mudah terbuka di depan mata.
Dan seperti desa yang sedang mereka
bangun, cinta itu juga masih sederhana.
Masih membutuhkan waktu.
Masih membutuhkan kesabaran.
Masih membutuhkan kerja bersama.
Namun, keduanya percaya bahwa selama
mereka tetap berjalan dengan tujuan yang sama, cinta itu akan tumbuh kuat.
Bukan hanya untuk mereka.
Tetapi juga untuk desa yang telah
mempertemukan mereka.
BAB XVIII
Jalan Baru Desa Suka Makmur
Pagi di Desa Suka Makmur terasa lebih
hidup daripada biasanya.
Matahari baru naik ketika suara
cangkul mulai terdengar dari lahan kosong di dekat balai desa. Beberapa pemuda
telah datang sejak pagi untuk melanjutkan pembuatan pagar kebun bersama.
Bambu-bambu dipotong, diikat, lalu ditancapkan mengelilingi tanah yang sudah
dibersihkan.
Di sisi lain, beberapa ibu membawa
bibit cabai, kangkung, bayam, dan tomat. Ada pula yang membawa pupuk kandang
dari rumah masing-masing. Mereka tidak datang dengan perlengkapan lengkap atau
modal besar. Namun, mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membuat
kebun pangan desa benar-benar tumbuh.
Pak Wiryo berdiri di dekat lahan
sambil memeriksa tanah.
“Jangan terlalu dekat menanam cabai,”
katanya kepada Ardi. “Kalau terlalu rapat, nanti susah berkembang.”
Ardi mengangguk.
“Baik, Pak.”
Dulu, Pak Wiryo sering menjadi orang
yang paling keras meragukan kegiatan warga. Kini, ia justru menjadi salah satu
orang yang paling rajin datang ke kebun bersama. Ia membawa pengalaman bertani
yang dimilikinya, mengajarkan cara membuat bedeng, memilih bibit, dan mengatur
aliran air agar tidak mudah tergenang ketika hujan turun.
Erlangga melihat perubahan itu dari
kejauhan.
“Pak Wiryo sekarang lebih sering
datang lebih awal daripada kita,” katanya kepada Jatmiko.
Jatmiko tersenyum.
“Kalau sudah bicara soal tanah, beliau
memang tidak mau kalah.”
Erlangga tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Desa butuh orang
seperti itu.”
Di halaman balai desa, Khinanti sedang
mendampingi anak-anak yang datang membawa botol bekas dan kaleng kecil.
Botol-botol itu akan digunakan sebagai wadah tanaman untuk program kebun pangan
keluarga.
“Yang ini diisi tanah sampai tiga
perempat,” kata Khinanti sambil memberi contoh.
Danu mengangkat botol plastik yang
sudah dipotong.
“Kalau sudah tumbuh, boleh dibawa
pulang?”
“Boleh,” jawab Khinanti. “Tapi harus
dirawat. Jangan hanya senang saat menanam, lalu lupa menyiram.”
Raka mengangguk dengan wajah serius.
“Aku mau tanam cabai. Biar ibu tidak
beli cabai terus.”
Anak-anak lain tertawa.
Khinanti tersenyum.
“Kalau semua rumah punya cabai, bayam,
atau kangkung, itu sudah membantu keluarga.”
Tidak jauh dari mereka, Sari sedang
menempelkan jadwal kegiatan Rumah Baca Harapan di papan pengumuman. Jadwal itu
dibuat sederhana, tetapi teratur.
Hari Senin untuk membaca bersama.
Hari Rabu untuk belajar berhitung dan
menulis.
Hari Jumat untuk kegiatan kebun dan
lingkungan.
Hari Minggu untuk kelas keterampilan,
seperti menggambar, bercerita, atau membuat kerajinan sederhana.
Sejak rumah baca diperbaiki setelah
banjir, jumlah anak yang datang semakin banyak. Beberapa orang tua bahkan mulai
bergantian menyumbangkan buku bekas, majalah anak-anak, dan alat tulis.
Khinanti masuk ke rumah baca dan
memandangi rak buku yang kini lebih penuh.
“Dulu kita hanya punya beberapa buku,”
katanya.
Erlangga yang baru datang membawa
papan kayu menoleh.
“Sekarang masih belum banyak.”
“Tapi sudah cukup untuk membuat
anak-anak ingin datang.”
Erlangga mengangguk.
“Kadang perubahan memang dimulai dari
alasan sederhana. Anak-anak datang karena ingin membaca. Lalu mereka belajar
bermimpi.”
Khinanti tersenyum.
“Dan semoga mereka nanti tidak merasa
bahwa desa adalah tempat yang harus mereka tinggalkan.”
Erlangga memandang anak-anak yang
sedang menanam bibit di halaman.
“Kalaupun mereka pergi untuk belajar,
semoga mereka pulang membawa sesuatu.”
Khinanti menatapnya.
“Seperti kamu?”
Erlangga tersenyum kecil.
“Seperti kita.”
Sementara kegiatan rumah baca dan kebun
pangan mulai berjalan, kelompok usaha ibu-ibu juga menunjukkan perkembangan.
Bu Ratna bersama beberapa ibu
berkumpul di rumahnya setiap Selasa dan Kamis. Mereka membuat keripik singkong,
keripik pisang, kue kering, serta olahan sederhana dari hasil kebun warga.
Produk-produk itu mulai dikemas dengan plastik bening dan diberi label
sederhana bertuliskan:
Rasa Makmur – Produk
Warga Desa Suka Makmur
Nama itu dipilih melalui diskusi
panjang. Ada yang mengusulkan nama yang lebih modern, ada yang ingin memakai
nama kelompok ibu-ibu, tetapi akhirnya mereka sepakat memilih nama yang
sederhana dan mudah diingat.
Erlangga membantu membuat catatan
pengeluaran dan pemasukan. Ia mengajarkan cara menghitung modal, harga jual,
dan keuntungan dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Kalau uang hasil jualan langsung
habis untuk belanja rumah, nanti kita tidak tahu usaha ini untung atau rugi,”
katanya.
Bu Ratna mengangguk.
“Berarti harus dipisahkan?”
“Iya. Tidak harus rumit. Yang penting
dicatat.”
Khinanti membantu membuat desain label
bersama beberapa remaja putri. Mereka menggambar daun singkong, padi, dan rumah
kecil sebagai lambang desa.
Ketika produk pertama selesai dikemas,
ibu-ibu memandanginya dengan bangga.
“Kelihatannya seperti barang dari
toko,” kata Bu Sulastri.
“Karena memang ini barang dari desa
kita,” jawab Bu Ratna.
Produk Rasa Makmur mulai dititipkan di
warung Pak Hasan. Beberapa dibawa ke pasar kecamatan. Ada pula yang dibeli oleh
pegawai kecamatan ketika mereka datang untuk melihat kegiatan kelompok usaha.
Penjualannya belum besar.
Keuntungannya belum banyak.
Namun, ibu-ibu mulai memiliki
keyakinan bahwa hasil kebun dan keterampilan mereka dapat menjadi sumber
penghasilan tambahan.
Di kantor desa, perubahan juga mulai
terasa.
Pak Darmawan bersama perangkat desa
memasang papan informasi di depan kantor. Di papan itu tertulis jadwal
pelayanan, persyaratan pembuatan surat, jadwal musyawarah, informasi kegiatan
warga, dan nomor yang dapat dihubungi jika ada keperluan mendesak.
Sari membantu membuat buku pengaduan warga.
“Kalau ada keluhan tentang pelayanan
atau kebutuhan warga, bisa ditulis di sini,” jelasnya kepada seorang bapak yang
datang mengurus surat keterangan.
“Kalau saya tidak bisa menulis?” tanya
bapak itu.
“Bisa disampaikan kepada kami. Nanti
kami bantu tuliskan.”
Pelayanan desa memang belum sempurna.
Kadang perangkat desa masih harus menghadiri kegiatan di kecamatan. Kadang
jaringan telepon sulit. Kadang warga datang tanpa membawa berkas lengkap.
Namun, kini warga mulai tahu harus
bertanya kepada siapa dan apa yang harus dipersiapkan.
Perubahan kecil itu membuat banyak
urusan terasa lebih mudah.
Suatu siang, seorang ibu datang ke
kantor desa untuk mengurus surat keterangan.
“Dulu saya takut datang ke kantor
desa,” katanya kepada Sari. “Takut salah bawa berkas. Sekarang sudah ada papan
informasinya.”
Sari tersenyum.
“Kalau masih kurang jelas, Ibu bisa
tanya.”
Ibu itu mengangguk.
“Bagus begini. Rasanya kita tidak
bingung lagi.”
Di lapangan desa, pemuda juga mulai
memiliki kegiatan yang lebih terarah.
Jatmiko bersama Ardi, Beni, dan Rendi
membuat jadwal kerja bakti setiap dua minggu sekali. Selain itu, mereka
mengadakan latihan olahraga untuk anak-anak dan remaja. Lapangan yang dulu
dipenuhi rumput liar mulai dibersihkan. Tiang gawang diperbaiki. Sebuah papan sederhana
dipasang bertuliskan:
Lapangan Desa Suka
Makmur: Ruang Bersama untuk Sehat, Kompak, dan Berkarya
Tidak semua pemuda langsung berubah.
Masih ada yang lebih memilih duduk di
warung sampai malam. Masih ada yang datang terlambat ketika kerja bakti. Namun,
perlahan-lahan, semakin banyak yang mulai ikut terlibat.
Mereka melihat teman-teman mereka
bekerja.
Mereka melihat hasil kebun bersama.
Mereka melihat anak-anak yang mulai
ramai di rumah baca.
Mereka melihat ibu-ibu yang bangga
menjual produk hasil usaha.
Dan mereka mulai merasa bahwa desa
juga dapat menjadi tempat untuk berkarya.
Pada suatu sore, warga berkumpul di
balai desa untuk melihat perkembangan program yang telah disepakati dalam
musyawarah.
Pak Darmawan membuka pertemuan dengan
wajah yang lebih cerah daripada biasanya.
“Belum semua rencana selesai,”
katanya. “Tetapi kita sudah mulai melihat hasilnya.”
Ia menyebutkan satu per satu
perkembangan yang terjadi.
Kebun bersama sudah mulai ditanami.
Rumah baca semakin ramai.
Kelompok usaha ibu-ibu sudah
menghasilkan produk.
Pelayanan desa lebih terbuka.
Kerja bakti jalan dan saluran air
terus dilakukan sambil menunggu dukungan pembangunan yang lebih besar.
Warga mendengarkan dengan bangga.
Pak Darto dari Dusun Timur berdiri.
“Jalan ke dusun kami memang belum
bagus seluruhnya,” katanya. “Tapi saluran air sudah dibersihkan. Kalau hujan
datang, air tidak langsung masuk ke rumah seperti kemarin.”
Bu Ratna juga berdiri.
“Kelompok usaha kami belum besar. Tapi
sekarang ibu-ibu punya kegiatan. Kami belajar menghitung, mengemas, dan
menjual.”
Danu yang duduk bersama anak-anak
mengangkat tangan.
“Aku juga mau bicara.”
Warga tertawa kecil.
Pak Darmawan tersenyum.
“Silakan, Danu.”
Danu berdiri dengan sedikit gugup.
“Rumah baca sekarang banyak bukunya.
Aku sudah bisa baca cerita sendiri.”
Tepuk tangan terdengar di balai desa.
Khinanti memandang Danu dengan mata
berkaca-kaca.
Bagi sebagian orang, kalimat itu
mungkin sederhana.
Namun, bagi Khinanti, itulah tanda
bahwa semua kerja keras mereka tidak sia-sia.
Setelah pertemuan selesai, Erlangga
dan Khinanti berjalan menyusuri jalan desa yang mulai dibersihkan.
Matahari sore memantulkan cahaya ke
genangan kecil di pinggir jalan. Beberapa warga masih bekerja memperbaiki
bagian jalan yang rusak. Anak-anak berlari membawa tanaman dalam botol bekas.
Ibu-ibu pulang sambil membawa sisa bahan olahan dari rumah Bu Ratna.
“Desa ini mulai berubah,” kata
Khinanti.
Erlangga memandang sekeliling.
“Masih banyak yang harus diperbaiki.”
“Tentu.”
“Jalan belum selesai. Rumah baca masih
butuh banyak buku. Usaha ibu-ibu masih kecil. Kebun baru mulai tumbuh.”
Khinanti tersenyum.
“Tapi dulu semuanya belum ada.”
Erlangga mengangguk.
Ia melihat jalan desa yang belum
sempurna, tetapi kini lebih ramai oleh langkah warga yang bergerak. Ia melihat
balai desa yang tidak lagi hanya menjadi tempat rapat, tetapi juga tempat
menyusun rencana. Ia melihat rumah baca yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk
mengenal harapan. Ia melihat kebun pangan yang menjadi tanda bahwa warga ingin
mandiri.
Desa Suka Makmur belum menjadi desa
yang sempurna.
Namun, desa itu telah menemukan jalan
barunya.
Jalan yang tidak dibangun oleh satu
orang.
Jalan yang tidak lahir dari janji
besar.
Jalan yang tumbuh dari kerja kecil,
gotong royong, dan keberanian untuk memulai.
Di bawah langit sore, Erlangga
menggenggam tangan Khinanti.
Khinanti menatapnya.
“Kita sudah sampai sejauh ini,” kata
Erlangga.
Khinanti menggeleng pelan.
“Kita belum sampai. Kita sedang
berjalan.”
Erlangga tersenyum.
Dan bersama warga Desa Suka Makmur,
mereka terus melangkah di jalan baru yang mulai terbuka.
BAB XIX
Pesta Rakyat dan Sebuah Lamaran
Bulan Agustus datang dengan langit
yang lebih cerah di Desa Suka Makmur.
Setelah musim hujan berlalu,
jalan-jalan desa mulai mengering. Di beberapa bagian, warga telah menimbun
lubang dengan batu dan tanah keras sambil menunggu program perbaikan jalan yang
lebih besar. Saluran air yang dahulu tersumbat kini lebih terawat. Kebun
bersama di dekat balai desa mulai menghijau. Daun kangkung tumbuh lebat, cabai
mulai berbunga, dan beberapa batang tomat telah menunjukkan buah kecil.
Suasana desa terasa berbeda.
Bukan karena semua persoalan telah
selesai.
Bukan karena Desa Suka Makmur
tiba-tiba berubah menjadi desa yang serba cukup.
Namun, warga kini memiliki alasan
untuk merasa bangga.
Karena pada tahun itu, hari jadi Desa
Suka Makmur akan dirayakan dengan cara yang lebih istimewa.
Pak Darmawan mengumumkan rencana
perayaan melalui pengeras suara masjid dan papan informasi desa.
Pesta Rakyat Hari
Jadi Desa Suka Makmur
Gotong Royong, Kesenian, Produk Warga, dan Doa Bersama untuk Desa
Warga menyambut pengumuman itu dengan
antusias.
Para pemuda mulai membersihkan
lapangan desa. Mereka memasang bambu untuk membuat gapura sederhana di pintu
masuk. Beberapa anak muda mengecat papan kayu bertuliskan:
Selamat Hari Jadi
Desa Suka Makmur
Bersatu, Berkarya, dan Bertumbuh Bersama
Ibu-ibu dari kelompok usaha Rasa
Makmur menyiapkan berbagai produk untuk dipamerkan. Ada keripik singkong,
keripik pisang, kue kering, sambal kemasan, dan minuman jahe. Mereka juga
berencana membuka dapur bersama untuk menjual makanan tradisional.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti dan
Sari mendampingi anak-anak berlatih membaca puisi, menyanyi lagu daerah, dan
menampilkan drama pendek tentang gotong royong.
Danu mendapat peran sebagai anak yang
mengajak warga menanam sayur.
Raka mendapat peran sebagai pemuda
yang malas, tetapi akhirnya ikut kerja bakti.
Lila menjadi narator yang menjelaskan
bahwa desa akan maju jika warganya saling membantu.
“Aku takut lupa dialog,” kata Raka.
“Kau tidak perlu takut,” jawab
Khinanti. “Kalau lupa, lihat temanmu. Yang penting jangan berhenti.”
Danu mengangkat tangan.
“Kak, kalau aku lupa?”
“Kau bisa bilang dengan kata-katamu
sendiri,” jawab Khinanti.
“Berarti boleh beda?”
“Boleh, asal maksudnya tetap sama.”
Danu tampak lega.
Sementara itu, Erlangga bersama
Jatmiko mengurus susunan acara. Mereka membuat jadwal lomba anak-anak,
pertandingan olahraga, pameran produk warga, pentas seni, dan doa bersama.
“Kita jangan hanya membuat pesta,”
kata Erlangga kepada Jatmiko. “Kita harus membuat warga melihat hasil dari
kerja mereka.”
Jatmiko mengangguk.
“Berarti kebun bersama juga harus
dibuka untuk dilihat?”
“Iya. Kita buat papan kecil tentang
apa yang ditanam dan siapa yang merawat.”
“Kalau jalan yang masih rusak?”
“Kita tidak perlu menutupinya. Justru
warga harus tahu bahwa masih ada yang perlu diperjuangkan.”
Jatmiko tersenyum.
“Kau memang selalu ingin semua hal
punya makna.”
“Karena kalau tidak punya makna, kita
hanya sibuk sebentar lalu lupa.”
Menjelang hari perayaan, seluruh desa
tampak bergerak.
Pagi hari, warga bekerja membersihkan
lingkungan.
Siang hari, ibu-ibu menyiapkan
makanan.
Sore hari, anak-anak berlatih pentas.
Malam hari, pemuda memasang
lampu-lampu sederhana di lapangan.
Pak Wiryo juga ikut terlibat. Ia
membantu membuat papan informasi di kebun bersama. Dengan tulisan tangannya
yang rapi, ia menuliskan nama-nama tanaman dan cara perawatannya.
Ketika Erlangga datang membawa
beberapa bambu, Pak Wiryo berkata, “Jangan pasang papan terlalu rendah. Nanti
mudah terkena air kalau hujan.”
“Baik, Pak.”
Pak Wiryo menatap kebun yang mulai
hijau.
“Dulu saya pikir kegiatan seperti ini
hanya akan ramai di awal.”
Erlangga tersenyum.
“Sekarang bagaimana menurut Bapak?”
Pak Wiryo mengangguk ke arah beberapa
anak yang sedang menyiram tanaman.
“Sekarang saya tahu, kalau anak-anak
sudah ikut menjaga, berarti kegiatan ini punya masa depan.”
Erlangga tidak menjawab. Ia hanya
tersenyum.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Sejak pagi, lapangan desa sudah
dipenuhi warga. Beberapa warga dari dusun sekitar juga datang untuk melihat
perayaan. Gapura bambu di pintu masuk dihiasi daun kelapa muda dan kain merah
putih. Di sepanjang lapangan, berdiri tenda-tenda kecil tempat ibu-ibu menjual
makanan dan produk Rasa Makmur.
Di satu sisi lapangan, terdapat
pameran sederhana tentang perjalanan Desa Suka Makmur.
Ada foto-foto kerja bakti membersihkan
jalan.
Ada gambar anak-anak di Rumah Baca
Harapan.
Ada catatan musyawarah desa.
Ada foto kebun bersama sebelum dan
sesudah ditanami.
Ada pula produk-produk ibu-ibu yang
disusun rapi di atas meja.
Warga yang melihat pameran itu tampak
bangga.
“Ini foto waktu banjir,” kata Bu
Sulastri kepada seorang warga lain.
“Iya. Waktu itu semua orang turun
membantu.”
“Sekarang lihat, kebun sudah jadi.”
Di depan panggung sederhana, anak-anak
mulai tampil.
Mereka menyanyikan lagu daerah dengan
suara yang belum selalu serempak, tetapi penuh semangat. Setelah itu, mereka
menampilkan drama pendek tentang gotong royong.
Ketika tiba pada bagian Raka yang
berperan sebagai pemuda malas, warga tertawa karena ia sengaja membuat wajah
mengantuk dan berjalan sangat lambat.
Namun, ketika Danu berkata, “Kalau
kita hanya menunggu, desa ini tidak akan berubah,” suasana menjadi lebih
hening.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi warga tahu bahwa kalimat itu
menggambarkan apa yang telah mereka alami.
Setelah pentas anak-anak selesai,
kelompok ibu-ibu Rasa Makmur memperkenalkan produk mereka. Bu Ratna berdiri di
depan panggung dengan wajah sedikit gugup.
“Kami dulu hanya membuat makanan untuk
keluarga,” katanya. “Sekarang kami mencoba membuatnya menjadi usaha bersama.
Kami masih belajar, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa ibu-ibu desa juga bisa
berkarya.”
Tepuk tangan terdengar panjang.
Kemudian, Pak Darmawan naik ke
panggung.
“Hari ini bukan hanya hari jadi desa,”
katanya. “Hari ini adalah perayaan atas keberanian warga untuk berubah.”
Ia menyebutkan satu per satu hal yang
telah dilakukan bersama.
Perbaikan saluran air.
Kerja bakti jalan.
Rumah baca.
Kebun pangan.
Kelompok usaha warga.
Papan informasi pelayanan desa.
“Masih banyak yang harus kita
kerjakan,” lanjutnya. “Tetapi kita sudah membuktikan bahwa Desa Suka Makmur
tidak hanya pandai berharap. Kita juga mau bekerja.”
Warga bertepuk tangan.
Di tengah keramaian itu, Erlangga berdiri
di belakang panggung. Ia memandangi Khinanti yang sedang membantu anak-anak
membagikan minuman. Khinanti mengenakan kebaya sederhana berwarna lembut.
Rambutnya disanggul rapi, tetapi wajahnya tetap terlihat seperti Khinanti yang
biasa: tenang, hangat, dan selalu memperhatikan orang lain.
Sejak mereka saling menyatakan
perasaan di Rumah Baca Harapan, hubungan mereka tidak berubah menjadi sesuatu
yang berlebihan.
Mereka tetap bekerja.
Tetap berdiskusi.
Tetap berbeda pendapat dalam beberapa
hal.
Tetap saling mengingatkan ketika salah
satu mulai terlalu lelah.
Namun, perasaan itu kini menjadi
kekuatan baru.
Erlangga telah lama memikirkan satu
hal.
Ia tidak ingin melamar Khinanti dengan
cara yang mewah.
Ia tidak memiliki rumah besar.
Ia belum memiliki tabungan yang
banyak.
Ia juga tahu bahwa kehidupan bersama
nanti tidak akan selalu mudah.
Namun, ia ingin menyampaikan niatnya
dengan jujur, di tempat yang menjadi saksi perjalanan mereka.
Di desa yang telah mengajarkan mereka
arti bertahan.
Di hadapan keluarga dan masyarakat
yang telah melihat perjuangan mereka.
Menjelang sore, setelah lomba-lomba
selesai dan warga mulai berkumpul di depan panggung untuk acara penutupan,
Erlangga menghampiri Pak Darmawan.
“Pak, saya ingin menyampaikan
sesuatu,” katanya.
Pak Darmawan menatapnya.
“Sesuatu yang penting?”
“Iya, Pak.”
Pak Darmawan tersenyum, seolah sudah
memahami.
“Baik. Setelah doa bersama, naiklah ke
panggung.”
Erlangga mengangguk.
Jantungnya mulai berdebar.
Ketika matahari mulai condong ke
barat, warga berkumpul dalam suasana yang lebih tenang. Doa bersama dipimpin
oleh tokoh agama desa. Setelah doa selesai, Pak Darmawan kembali berdiri di
depan mikrofon.
“Sebelum acara kita tutup,” katanya,
“ada satu hal yang ingin disampaikan oleh salah satu pemuda desa kita.”
Ia menoleh ke arah Erlangga.
“Erlangga, silakan.”
Warga mulai berbisik-bisik.
Erlangga melangkah menuju panggung.
Tangannya terasa dingin. Di bawah panggung, ia melihat ibunya, Bu Marni, duduk
bersama beberapa ibu. Ia melihat Jatmiko yang tersenyum lebar. Ia melihat Bu
Ratna yang menutup mulutnya seperti sudah menebak apa yang akan terjadi.
Lalu ia melihat Khinanti.
Khinanti berdiri di antara anak-anak
Rumah Baca Harapan. Wajahnya tampak bingung ketika Erlangga memandangnya.
Erlangga mengambil mikrofon.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,” jawab warga.
Erlangga menarik napas.
“Hari ini, kita merayakan hari jadi
Desa Suka Makmur. Kita merayakan kerja warga, kebersamaan, dan harapan yang
mulai tumbuh.”
Ia memandang warga.
“Saya bukan orang yang paling hebat di
desa ini. Saya juga tidak mungkin melakukan semua hal sendirian. Apa yang kita
lihat hari ini ada karena banyak orang yang mau bergerak.”
Ia menoleh ke arah Khinanti.
“Dan di antara orang-orang yang telah
menguatkan langkah saya, ada seseorang yang sejak awal percaya bahwa desa ini
layak diperjuangkan.”
Khinanti terdiam.
Warga mulai memahami arah kata-kata
itu.
Erlangga melanjutkan.
“Dia mengajarkan saya bahwa membangun
desa bukan hanya tentang program dan rencana. Membangun desa adalah tentang
mendengarkan, bertahan, dan bekerja bersama.”
Ia turun dari panggung perlahan.
Warga memberi jalan.
Erlangga berjalan menuju Khinanti.
Di hadapan keluarga, anak-anak,
pemuda, ibu-ibu, dan seluruh warga yang hadir, ia berdiri di depan Khinanti.
“Khinanti,” katanya.
Suara Erlangga terdengar lebih pelan,
tetapi tetap jelas.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang
selalu mudah. Aku tidak bisa menjanjikan semua impian akan segera terwujud.
Tetapi aku ingin menjalani perjalanan itu bersamamu.”
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil
dari saku bajunya.
“Dengan restu keluarga dan masyarakat,
maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Lapangan desa menjadi hening.
Khinanti menatap Erlangga. Matanya
mulai berkaca-kaca. Ia melihat ibunya yang berdiri tidak jauh dari sana. Ia
melihat Bu Marni yang tersenyum haru. Ia melihat anak-anak Rumah Baca Harapan
yang menunggu dengan wajah penasaran.
Kemudian Khinanti tersenyum.
“Iya,” jawabnya pelan.
Namun, warga tetap mendengar jawaban
itu.
Tepuk tangan langsung pecah.
Anak-anak bersorak.
Jatmiko berteriak paling keras.
Bu Ratna memeluk ibu Khinanti.
Pak Wiryo yang berdiri di belakang
warga hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Erlangga memasangkan cincin sederhana
di jari Khinanti.
Tidak ada panggung mewah.
Tidak ada lampu besar.
Tidak ada musik yang berlebihan.
Namun, sore itu terasa sangat
istimewa.
Karena lamaran tersebut bukan hanya
tentang dua orang yang memilih untuk hidup bersama.
Lamaran itu menjadi simbol bahwa cinta
mereka tumbuh dari pengabdian.
Dari jalan desa yang berlumpur.
Dari rumah baca yang sederhana.
Dari kebun pangan yang dirawat
bersama.
Dari musyawarah warga.
Dari banjir yang pernah menguji
mereka.
Dari keberanian untuk menolak jalan
yang mudah.
Di tengah pesta rakyat Desa Suka
Makmur, Erlangga dan Khinanti berdiri berdampingan.
Warga melihat mereka bukan hanya
sebagai sepasang kekasih.
Mereka melihat keduanya sebagai bagian
dari harapan desa.
Matahari sore perlahan tenggelam di
balik pepohonan.
Lampu-lampu sederhana mulai menyala di
lapangan.
Musik daerah kembali dimainkan.
Anak-anak berlari di antara warga yang
tertawa.
Ibu-ibu melayani pembeli di tenda
makanan.
Pemuda membantu membereskan
perlengkapan lomba.
Dan di tengah semua itu, Desa Suka
Makmur merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pesta.
Desa itu merayakan kebersamaan.
Merayakan harapan.
Merayakan cinta yang tidak hanya
tumbuh untuk dua hati, tetapi juga tumbuh untuk banyak orang.
Karena di desa kecil itu, cinta telah
menemukan bentuknya.
Bukan sekadar kata.
Melainkan kesediaan untuk tinggal,
bekerja, dan membangun masa depan bersama.
BAB XX
Pulang untuk Membangun Desa
Pagi itu, jalan utama Desa Suka Makmur
dipenuhi suara yang sudah lama dinantikan warga.
Bunyi mesin pemadat tanah.
Suara batu diturunkan dari truk.
Suara cangkul yang membentur tanah.
Suara warga yang saling memanggil dari
satu sisi jalan ke sisi lainnya.
Setelah melalui musyawarah, pengajuan
program, kerja bakti, dan berbagai upaya yang dilakukan bersama, perbaikan
jalan desa akhirnya mulai dikerjakan. Bantuan material dari pemerintah
kecamatan telah datang. Pemerintah desa mengatur pelaksanaan pekerjaan. Warga
ikut bergotong royong membersihkan sisi jalan, memperbaiki saluran air, dan
membantu memastikan akses menuju Dusun Timur dapat dilalui dengan lebih baik.
Jalan itu belum sepenuhnya selesai.
Masih ada bagian yang menunggu
pengerasan.
Masih ada jembatan kecil yang perlu
diperbaiki.
Masih ada saluran air yang harus
diperkuat.
Namun, bagi warga Desa Suka Makmur,
hari itu adalah tanda bahwa langkah mereka tidak berhenti di musyawarah dan
harapan.
Langkah itu mulai menjadi kenyataan.
Erlangga berdiri di tepi jalan bersama
Khinanti.
Keduanya mengenakan pakaian sederhana.
Erlangga memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Khinanti
mengenakan kerudung dan baju longgar berwarna lembut. Di tangan mereka,
masing-masing membawa botol air untuk warga yang sedang bekerja.
Di dekat mereka, Jatmiko mengatur
pemuda yang membantu memindahkan batu. Ardi dan Beni memperbaiki aliran parit.
Bu Ratna bersama ibu-ibu menyiapkan makanan di bawah tenda sederhana. Pak Wiryo
berdiri sambil memperhatikan arah saluran air, sesekali memberi saran agar
aliran hujan tidak lagi langsung menuju rumah warga.
Anak-anak dari Rumah Baca Harapan juga
datang.
Mereka tidak ikut bekerja dengan alat
berat, tetapi mereka membantu membagikan air minum, mengumpulkan sampah
plastik, dan membawa pesan kecil yang mereka tulis di kertas warna-warni.
Salah satu kertas itu ditempelkan di
papan dekat balai desa.
Tulisan Danu berbunyi:
Jalan Baru untuk
Desa Kita.
Tulisan Raka berbunyi:
Kalau Jalannya
Bagus, Aku Tidak Telat Sekolah.
Khinanti membaca tulisan itu sambil
tersenyum.
“Anak-anak selalu tahu cara mengatakan
hal penting dengan sederhana,” katanya.
Erlangga mengangguk.
“Kadang kita yang dewasa terlalu
sering membuat semuanya rumit.”
Mereka berjalan perlahan menyusuri
bagian jalan yang mulai diratakan.
Di kiri kanan jalan, warga tampak
sibuk. Ada yang membawa batu, ada yang mengangkat karung pasir, ada yang
membersihkan ranting, dan ada pula yang hanya datang untuk melihat sambil
memberi semangat.
Namun, tidak ada yang merasa menjadi
penonton.
Semua merasa memiliki jalan itu.
Jalan yang dahulu berlumpur ketika
hujan turun.
Jalan yang membuat anak-anak sulit ke
sekolah.
Jalan yang menyulitkan petani membawa
hasil kebun.
Jalan yang menjadi saksi banjir, kerja
bakti, perdebatan, dan perubahan.
Kini, jalan itu perlahan diperbaiki.
Bukan hanya dengan batu dan tanah.
Tetapi juga dengan kesadaran bahwa
desa harus dibangun oleh warganya sendiri.
Khinanti berhenti di dekat sebuah
pohon besar di pinggir jalan.
“Dulu, waktu kamu pertama kali pulang,
jalan ini masih seperti ini juga,” katanya.
Erlangga memandang jalan di
hadapannya.
“Iya. Bahkan mungkin lebih buruk.”
“Waktu itu, apakah kamu pernah
membayangkan kita akan sampai di sini?”
Erlangga tersenyum kecil.
“Tidak. Waktu itu aku hanya ingin
pulang sebentar.”
Khinanti menatapnya.
“Lalu kenapa akhirnya tinggal?”
Erlangga terdiam sejenak.
“Karena aku melihat terlalu banyak hal
yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja.”
Ia memandang Rumah Baca Harapan yang
terlihat dari kejauhan.
“Aku melihat anak-anak yang ingin
belajar.”
Ia memandang kebun bersama yang mulai
hijau.
“Aku melihat warga yang ingin
mandiri.”
Ia memandang balai desa yang kini memiliki
papan informasi.
“Aku melihat desa yang ingin berubah.”
Kemudian ia menatap Khinanti.
“Dan aku bertemu seseorang yang
membuatku percaya bahwa semua itu layak diperjuangkan.”
Khinanti tersenyum.
“Jangan terlalu sering bicara seperti
itu di depan banyak orang.”
“Kenapa?”
“Nanti anak-anak mendengar.”
Erlangga tertawa.
“Anak-anak sudah tahu kita
bertunangan.”
Khinanti menunduk sambil tersenyum.
Tidak jauh dari mereka, Danu dan Raka
berlari membawa dua gelas air untuk para pemuda.
“Kak Erlangga!” teriak Danu. “Besok
rumah baca tetap buka, kan?”
“Tetap,” jawab Erlangga.
“Walaupun jalan sedang diperbaiki?”
“Justru tetap. Jalan diperbaiki supaya
kalian lebih mudah datang belajar.”
Danu tampak puas.
Ia kemudian berlari kembali bersama
Raka.
Menjelang siang, warga beristirahat di
bawah tenda. Makanan sederhana dibagikan. Ada nasi, sayur, ikan asin, sambal,
dan teh hangat. Tidak ada hidangan istimewa, tetapi suasana makan bersama itu
terasa hangat.
Pak Darmawan berdiri di depan warga.
“Hari ini kita melihat hasil dari
kerja bersama,” katanya. “Namun, saya ingin mengingatkan bahwa jalan ini bukan
akhir dari perjuangan kita.”
Warga mendengarkan.
“Setelah jalan, kita masih harus
menjaga kebun pangan. Kita harus mengembangkan usaha warga. Kita harus
memperkuat rumah baca. Kita harus membenahi pelayanan desa. Kita harus
memastikan anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih baik.”
Pak Darmawan menoleh kepada Erlangga
dan Khinanti.
“Dan kita harus terus melahirkan
pegiat-pegiat desa yang mau bekerja untuk masyarakat.”
Tepuk tangan terdengar.
Erlangga menunduk dengan perasaan
haru.
Ia tidak pernah ingin dianggap sebagai
orang paling penting di desa. Ia tahu bahwa semua yang terjadi tidak mungkin
berjalan tanpa Pak Darmawan, Khinanti, Jatmiko, Bu Ratna, Pak Wiryo, para pemuda,
ibu-ibu, dan seluruh warga.
Ia hanya salah satu bagian kecil dari
perjalanan panjang Desa Suka Makmur.
Setelah makan siang, pekerjaan kembali
dilanjutkan.
Matahari mulai condong ke barat ketika
bagian pertama jalan berhasil diratakan. Warga berdiri di pinggir jalan sambil
melihat hasil kerja mereka. Tidak sempurna, tetapi nyata.
Anak-anak bertepuk tangan.
Ibu-ibu tersenyum.
Pemuda saling menepuk bahu.
Pak Wiryo memandang jalan itu cukup
lama.
“Kita harus jaga baik-baik,” katanya.
“Pasti, Pak,” jawab Jatmiko.
Sore itu, Erlangga dan Khinanti
berjalan kembali ke arah rumah baca. Mereka melewati kebun bersama yang kini
mulai menghasilkan sayur. Beberapa ibu sedang memanen kangkung untuk dibawa
pulang. Di halaman balai desa, papan informasi terlihat bersih dan penuh
pengumuman kegiatan. Di lapangan, beberapa pemuda sedang berlatih sepak bola
bersama anak-anak.
Desa Suka Makmur masih memiliki banyak
keterbatasan.
Masih ada warga yang hidup sederhana.
Masih ada anak-anak yang harus
berjalan jauh ke sekolah lanjutan.
Masih ada kebun yang hasilnya belum
selalu baik.
Masih ada jalan-jalan kecil yang belum
diperbaiki.
Masih ada persoalan yang akan datang
bersama waktu.
Namun, kini desa itu tidak lagi
menghadapi semuanya dengan diam.
Warga mulai bertanya.
Mulai bermusyawarah.
Mulai bekerja.
Mulai percaya bahwa perubahan dapat
dimulai dari tangan mereka sendiri.
Di depan Rumah Baca Harapan, Erlangga
dan Khinanti berhenti.
Pintu rumah baca terbuka. Dari dalam,
terdengar suara anak-anak yang sedang membaca bersama Sari.
Khinanti memandang ke dalam.
“Dulu tempat ini hanya ruangan
kosong,” katanya.
“Sekarang juga masih sederhana,” jawab
Erlangga.
“Ya. Tapi tidak lagi kosong.”
Erlangga mengangguk.
Mereka duduk di bangku kayu di depan
rumah baca. Angin sore membawa aroma tanah yang baru dikerjakan. Di kejauhan,
suara warga masih terdengar dari jalan yang sedang diperbaiki.
Khinanti memandang Erlangga.
“Setelah semua ini, apa yang ingin
kamu lakukan?”
Erlangga tersenyum.
“Besok?”
“Bukan besok.”
“Kalau begitu, aku ingin terus
belajar. Aku ingin desa ini punya lebih banyak anak muda yang berani pulang,
atau setidaknya berani peduli.”
Khinanti mengangguk.
“Aku ingin rumah baca ini berkembang.
Aku ingin anak-anak punya banyak pilihan ketika dewasa nanti. Bukan karena
mereka terpaksa pergi, tetapi karena mereka punya kesempatan.”
Erlangga menggenggam tangan Khinanti.
“Berarti kita masih punya banyak
pekerjaan.”
“Banyak sekali.”
“Dan apakah kamu siap?”
Khinanti tersenyum.
“Aku siap. Selama kita tidak lupa
bahwa desa ini dibangun bersama warga.”
Erlangga mengangguk.
Matahari sore perlahan tenggelam di
balik pepohonan. Cahaya keemasan jatuh di atas jalan desa yang mulai
diperbaiki. Jalan itu membentang ke arah Dusun Timur, melewati kebun,
rumah-rumah warga, balai desa, dan Rumah Baca Harapan.
Erlangga dan Khinanti berdiri di sana.
Bukan sebagai dua orang yang telah
menyelesaikan semua persoalan.
Bukan sebagai tokoh yang datang
membawa keajaiban.
Melainkan sebagai dua orang yang
memilih untuk tetap tinggal, bekerja, dan berjalan bersama masyarakat.
Mereka memahami bahwa membangun desa
bukan pekerjaan sehari.
Bukan pula pekerjaan setahun.
Membangun desa adalah perjalanan
panjang.
Perjalanan yang membutuhkan
pengetahuan.
Membutuhkan keberanian.
Membutuhkan gotong royong.
Membutuhkan kesabaran.
Dan, di atas semua itu, membutuhkan
cinta.
Cinta kepada tanah kelahiran.
Cinta kepada masyarakat.
Cinta kepada masa depan.
Cinta yang tidak hanya diucapkan dalam
kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kerja dan pengabdian.
Di jalan desa yang mulai diperbaiki
itu, Erlangga dan Khinanti saling memandang.
Mereka tahu perjalanan masih panjang.
Namun, mereka tidak lagi takut pada
panjangnya jalan.
Sebab, mereka telah menemukan alasan
untuk terus melangkah.
Mereka telah menemukan arti pulang.
Pulang bukan sekadar kembali ke tempat
asal.
Pulang adalah memilih untuk hadir.
Memilih untuk peduli.
Memilih untuk membangun.
Dan bagi Erlangga dan Khinanti, pulang
berarti satu hal:
Pulang untuk
membangun desa.
EPILOG
Jejak yang Tetap Menyala
Dua tahun telah berlalu sejak jalan
utama Desa Suka Makmur mulai diperbaiki.
Pagi itu, desa kembali dipenuhi
aktivitas. Jalan yang dahulu berlumpur kini lebih mudah dilalui. Anak-anak
berangkat sekolah dengan sepeda atau berjalan kaki tanpa harus takut terpeleset
saat hujan. Para petani dapat membawa hasil kebun ke pasar kecamatan dengan
lebih lancar. Warga juga semakin mudah datang ke balai desa untuk mengurus
kebutuhan administrasi.
Namun, perubahan terbesar Desa Suka
Makmur bukan hanya terlihat pada jalan yang mulai baik.
Perubahan itu terlihat pada
wajah-wajah warganya.
Rumah Baca Harapan kini memiliki rak
buku yang lebih banyak. Sebagian buku datang dari sumbangan, sebagian lagi
dibeli dari hasil kegiatan warga. Di dalamnya, anak-anak tidak hanya belajar
membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menulis cerita, menggambar, menanam,
serta mengenal cita-cita mereka.
Danu yang dahulu masih terbata-bata
membaca, kini sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia sering datang
ke rumah baca untuk membantu adik-adiknya belajar.
“Kak Khinanti, aku mau jadi guru,”
katanya suatu sore.
Khinanti tersenyum bangga.
“Jadilah guru yang membuat anak-anak
suka belajar.”
Di kebun bersama, tanaman cabai,
kangkung, tomat, dan sayur-sayuran tumbuh semakin rapi. Warga mulai terbiasa
menanam di halaman rumah masing-masing. Ibu-ibu kelompok Rasa Makmur juga
semakin percaya diri menjual produk mereka ke pasar kecamatan dan beberapa
kegiatan di desa sekitar.
Sementara itu, para pemuda tidak lagi
hanya berkumpul di warung pada malam hari. Mereka memiliki jadwal olahraga,
kerja bakti, kegiatan lingkungan, serta kelompok kecil yang membantu warga
ketika ada kebutuhan mendesak.
Desa Suka Makmur belum menjadi desa
yang sempurna.
Masih ada jalan kecil yang perlu
diperbaiki.
Masih ada warga yang membutuhkan bantuan.
Masih ada anak-anak yang harus
berjuang keras untuk melanjutkan pendidikan.
Masih ada persoalan yang datang
bersama perubahan zaman.
Namun, kini warga tidak lagi
menghadapi semua itu dengan rasa putus asa.
Mereka telah belajar untuk duduk
bersama.
Mereka telah belajar untuk
menyampaikan pendapat.
Mereka telah belajar bahwa perubahan
tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, perubahan dimulai dari sebuah
buku.
Dari bibit sayur.
Dari jalan yang dibersihkan bersama.
Dari ibu-ibu yang berani mencoba
usaha.
Dari pemuda yang memilih membantu.
Dari seorang anak yang mulai percaya
bahwa ia boleh memiliki cita-cita.
Pada suatu sore, Erlangga dan Khinanti
berdiri di depan Rumah Baca Harapan. Tidak jauh dari sana, beberapa anak sedang
membaca di teras. Suara tawa mereka bercampur dengan suara angin yang bergerak
di antara pepohonan.
Erlangga memandang jalan desa yang
membentang ke arah Dusun Timur.
“Dulu aku pulang karena ingin mencari
ketenangan,” katanya.
Khinanti menoleh kepadanya.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu, pulang bukan hanya
tentang mencari ketenangan.”
“Lalu tentang apa?”
Erlangga tersenyum.
“Pulang adalah tentang menemukan
alasan untuk memberi manfaat.”
Khinanti mengangguk pelan.
Mereka kemudian melihat beberapa
pemuda membawa bibit tanaman ke arah kebun bersama. Di belakang mereka, Bu
Ratna berjalan sambil membawa beberapa produk Rasa Makmur untuk dikirim ke
pasar. Pak Wiryo duduk di bawah pohon sambil mengawasi anak-anak yang bermain,
sesekali memberi nasihat tentang cara merawat tanaman.
Desa itu terus bergerak.
Tidak cepat.
Tidak selalu mudah.
Tetapi terus bergerak.
Erlangga dan Khinanti memahami bahwa
pengabdian tidak pernah selesai hanya karena satu program berhasil atau satu
jalan telah diperbaiki. Pengabdian adalah kesediaan untuk tetap hadir ketika
desa membutuhkan tenaga, pikiran, dan kepedulian.
Mereka juga memahami bahwa cinta tidak
hanya hidup dalam kata-kata manis.
Cinta hidup dalam kesediaan untuk
saling menguatkan.
Dalam keberanian untuk bertahan.
Dalam keputusan untuk berjalan
bersama, meski jalan yang dilalui tidak selalu rata.
Di bawah langit sore Desa Suka Makmur,
cahaya matahari perlahan menyentuh jalan yang dahulu penuh lumpur.
Kini, jalan itu menjadi saksi.
Saksi tentang warga yang pernah ragu.
Saksi tentang banjir yang pernah
menguji.
Saksi tentang musyawarah yang
melahirkan harapan.
Saksi tentang cinta yang tumbuh
bersama pengabdian.
Dan saksi tentang dua orang yang
memilih pulang bukan untuk berdiam diri, melainkan untuk membangun.
Sebab, desa bukan hanya tempat untuk
kembali.
Desa adalah tempat untuk menanam
harapan, merawat kebersamaan, dan meninggalkan jejak yang tetap menyala.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar