• 2793 Pine St

    2793 Pine St

    Nulla facilisi. Cras blandit elit sit amet eros sodales, non accumsan neque mollis. Nullam tempor sapien tellus, sit amet posuere ante porta quis. Nunc semper leo diam, vitae imperdiet mauris suscipit et. Maecenas ut neque lectus. Duis et ipsum nec felis elementum pulvi...

  • 1100 Broderick St

    1100 Broderick St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus ...

  • 868 Turk St

    868 Turk St

    Nulla facilisi. Phasellus ac enim elit. Cras at lobortis dui. Nunc consequat erat lacus, a volutpat nisi sodales vitae. Phasellus pharetra at nulla in egestas. Vestibulum sit amet tortor sit amet diam placerat tincidunt sit amet eget lorem. Phasellus posuere posuere fel...

  • 420 Fell St

    420 Fell St

    Sed at vehicula magna, sed vulputate ipsum. Maecenas fringilla, leo et auctor consequat, lacus nulla iaculis eros, at ultrices erat libero quis ante. Praesent in neque est. Cras quis ultricies nisi, vitae laoreet nisi. Nunc a orci at velit sodales mollis ac ac ipsum. Na...

rahadiankarate.blogspot.com

PROFIL SAYA

Mengenai Saya

Foto saya
kapuas, kalimantan tengah, Indonesia
Slamet Riyadi

Latest Updates

PULANG MEMBANGUN DESA

 


PULANG MEMBANGUN DESA

Roman Inspiratif tentang Cinta, Pengabdian, dan Harapan dari Pelosok Negeri

Oleh: Slamet Riyadi


Disclaimer

Roman Pulang untuk Membangun Desa adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, organisasi, serta konflik yang terdapat di dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis.

Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, latar, maupun peristiwa dengan keadaan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.

Karya ini ditulis sebagai refleksi tentang semangat pengabdian, gotong royong, cinta terhadap tanah kelahiran, serta keyakinan bahwa perubahan di desa dapat tumbuh dari keberanian orang-orang yang memilih untuk peduli.


PROLOG

Jalan yang Membawa Pulang

Sore itu, langit di atas Desa Suka Makmur berwarna kelabu kemerahan. Matahari perlahan tenggelam di balik deretan pohon karet yang berdiri di sepanjang jalan desa. Debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan melintas, lalu kembali jatuh perlahan di atas rerumputan, pagar kayu, dan halaman rumah warga.

Sebuah mobil tua berhenti di dekat papan kayu yang catnya mulai memudar.

SELAMAT DATANG DI DESA SUKA MAKMUR
Desa Gotong Royong, Desa Penuh Harapan.

Erlangga turun perlahan dari kendaraan itu. Kedua matanya memandang jalan tanah yang pernah begitu akrab dalam ingatannya. Jalan yang dahulu ia lalui dengan sepeda tua menuju sekolah. Jalan yang pernah menjadi saksi langkah-langkah kecilnya saat membawa buku di bawah ketiak. Jalan yang juga menjadi saksi kepergiannya, ketika ia meninggalkan desa dengan keyakinan bahwa masa depan hanya dapat ditemukan di kota.

Bertahun-tahun lamanya ia hidup di antara gedung tinggi, jalan raya, dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Di kota, ia belajar banyak hal: tentang pekerjaan, persaingan, kesibukan, dan ambisi. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin sering pula ia merasa ada bagian dari dirinya yang tertinggal.

Bagian itu bernama rumah.

Desa Suka Makmur masih tampak sama dalam banyak hal. Sungai kecil di belakang perkampungan masih mengalir pelan. Sawah-sawah masih terbentang, meski sebagian mulai berubah menjadi kebun. Anak-anak masih bermain di tepi jalan ketika sore tiba. Namun, di balik semua yang tampak biasa itu, Erlangga melihat banyak hal yang belum berubah.

Jalan desa masih rusak. Bangunan sekolah terlihat kusam. Balai desa berdiri sepi dengan cat dinding yang mengelupas. Beberapa warga masih harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Banyak pemuda memilih pergi merantau karena merasa tidak ada masa depan yang bisa diperjuangkan di kampung sendiri.

Erlangga menarik napas panjang.

Ia tidak pulang membawa jabatan. Ia tidak pulang dengan kemewahan. Ia hanya membawa beberapa tas, sejumlah buku, pengalaman dari kota, dan sebuah tekad yang selama ini tumbuh diam-diam dalam dirinya.

Ia ingin mencoba.

Ia ingin membuktikan bahwa desa tidak selalu harus menjadi tempat yang ditinggalkan. Bahwa tanah kelahiran bukan sekadar halaman masa kecil yang dikenang ketika rindu datang. Desa juga dapat menjadi ruang untuk bekerja, belajar, mencintai, dan membangun masa depan.

Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak tertawa. Erlangga menoleh ke arah sebuah bangunan kecil di samping sekolah dasar. Di berandanya, seorang perempuan sedang duduk bersama beberapa anak. Perempuan itu membacakan buku dengan suara lembut, sementara anak-anak mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.

Erlangga terdiam.

Wajah itu tidak asing.

Khinanti.

Nama yang pernah tinggal begitu lama dalam ingatannya. Nama yang dulu selalu hadir dalam hari-hari sekolahnya. Nama yang tidak pernah benar-benar hilang, meski waktu telah membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Khinanti mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu dari kejauhan.

Beberapa detik terasa seperti tahun-tahun yang telah berlalu.

Tidak ada senyum yang langsung menyambut. Tidak ada sapaan hangat yang segera terucap. Hanya ada diam yang menyimpan banyak pertanyaan, banyak kenangan, dan mungkin juga luka yang belum sepenuhnya selesai.

Erlangga tahu, kepulangannya tidak akan mudah.

Ia harus menghadapi keraguan ayahnya, pandangan warga, kebiasaan lama yang sulit diubah, serta orang-orang yang merasa nyaman dengan keadaan desa yang berjalan tanpa perubahan. Ia juga harus berhadapan dengan masa lalunya sendiri, termasuk janji-janji yang pernah ia tinggalkan tanpa penjelasan.

Namun, di bawah langit senja Desa Suka Makmur, Erlangga memahami satu hal.

Pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal.

Pulang adalah keberanian untuk menetap, memperbaiki, dan menjaga apa yang selama ini hampir ditinggalkan.

Dan dari jalan desa yang berdebu itu, sebuah perjalanan baru pun dimulai—perjalanan tentang cinta, pengabdian, dan harapan yang tumbuh dari pelosok negeri.

 

BAB I

Jalan Pulang yang Berdebu

Mobil tua yang ditumpangi Erlangga kembali bergerak perlahan setelah berhenti beberapa saat di dekat papan selamat datang Desa Suka Makmur. Roda-rodanya berputar di atas jalan tanah yang tidak rata. Sesekali kendaraan itu berguncang cukup keras ketika melewati lubang-lubang kecil yang dipenuhi air sisa hujan beberapa hari sebelumnya.

Erlangga duduk diam di kursi belakang. Pandangannya tidak lepas dari jendela. Hamparan kebun karet, ladang jagung, dan rumah-rumah kayu yang berdiri berjauhan seolah menyambutnya dengan cara yang sederhana. Tidak ada kemewahan. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan seperti di kota.

Yang ada hanya suara angin, burung-burung yang pulang ke sarang, dan anak-anak yang berlari tanpa alas kaki di pinggir jalan.

“Sudah lama tidak pulang, Lang?” tanya Pak Karman, sopir mobil yang juga tetangga lamanya.

Erlangga menoleh dan tersenyum tipis. “Hampir delapan tahun, Pak.”

Pak Karman mengangguk sambil tetap memegang kemudi. “Delapan tahun itu lama. Desa ini banyak berubah, tapi banyak juga yang tetap begitu-begitu saja.”

Kalimat itu membuat Erlangga kembali memandang ke luar. Ia memahami maksud Pak Karman. Ada beberapa rumah baru yang berdiri dengan dinding semen dan atap seng mengilap. Namun, jalan desa masih berlubang. Saluran air di sisi jalan tampak dangkal dan tertutup rumput. Beberapa anak kecil membawa jeriken air dari arah sumur umum.

“Sekolah dasar masih di tempat yang sama, Pak?” tanya Erlangga.

“Masih,” jawab Pak Karman. “Bangunannya sudah beberapa kali diperbaiki, tapi ruang kelasnya kurang. Kalau hujan besar, bagian belakangnya masih bocor. Anak-anak belajar sambil geser-geser meja.”

Erlangga terdiam.

Ia teringat masa kecilnya. Dulu, sekolah dasar itu terasa seperti tempat paling besar di dunia. Dindingnya penuh gambar pahlawan, peta Indonesia, dan tulisan-tulisan motivasi yang dibuat oleh guru. Di sanalah ia belajar mengeja, berhitung, dan mengenal mimpi.

Namun, kini setelah bertahun-tahun berlalu, sekolah itu masih berdiri dengan persoalan yang hampir sama.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kayu yang berdiri di ujung jalan kecil. Halamannya cukup luas, dipenuhi tanaman cabai, singkong, dan beberapa pohon pisang. Di samping rumah terdapat kandang ayam sederhana. Sebuah sepeda tua bersandar di dinding, sementara jemuran pakaian bergerak perlahan tertiup angin sore.

Erlangga turun dan mengambil tasnya.

Belum sempat ia melangkah jauh, seorang laki-laki tua keluar dari dalam rumah. Tubuhnya tidak lagi setegap yang Erlangga ingat. Rambutnya telah banyak memutih. Namun, sorot matanya masih sama: tegas, dalam, dan sulit ditebak.

“Bapak,” ucap Erlangga pelan.

Pak Sastro berhenti beberapa langkah dari teras. Ia memandang putranya cukup lama, seakan ingin memastikan bahwa pemuda di hadapannya benar-benar Erlangga yang dulu pergi membawa koper kecil dan cita-cita besar.

“Kau akhirnya pulang,” katanya.

Suara Pak Sastro terdengar datar. Tidak dingin, tetapi juga belum sepenuhnya hangat.

Erlangga menundukkan kepala. “Iya, Pak. Aku pulang.”

Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya bergegas keluar. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat Erlangga.

“Langga...” suaranya bergetar.

Erlangga segera menghampiri dan memeluk ibunya. Bu Marni memegang wajah anaknya dengan kedua tangan, lalu tersenyum di antara air mata yang jatuh.

“Kau makin kurus,” katanya. “Di kota makan tidak teratur, ya?”

Erlangga tersenyum kecil. “Makan teratur, Bu. Mungkin karena kerjaan saja.”

“Kerjaan apa pun jangan sampai lupa jaga badan,” jawab Bu Marni. “Kau sudah pulang, sekarang makan yang banyak.”

Pak Sastro berdeham pelan, seolah ingin memecah suasana haru yang mulai memenuhi halaman rumah.

“Masuklah. Barangmu nanti dibantu ambil,” katanya singkat.

Di dalam rumah, hampir tidak banyak yang berubah. Lemari kayu di sudut ruang tamu masih berdiri di tempat yang sama. Foto keluarga yang tergantung di dinding masih tersusun rapi. Ada foto Erlangga ketika lulus sekolah dasar, foto saat ia mengenakan seragam putih abu-abu, dan foto ketika ia berangkat ke kota untuk kuliah.

Erlangga memandangi foto terakhir itu cukup lama.

Dalam foto tersebut, ia berdiri dengan wajah penuh keyakinan. Di sampingnya ada Pak Sastro dan Bu Marni. Waktu itu, semua orang percaya Erlangga akan berhasil di kota. Ia akan mendapat pekerjaan baik, hidup lebih layak, lalu membantu keluarga dan desanya dari jauh.

Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti rencana.

Setelah menyelesaikan kuliah, Erlangga memang mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan konsultan pembangunan. Gajinya cukup. Ia tinggal di kamar kos yang nyaman dan menjalani hari-hari yang padat. Akan tetapi, setiap kali mengerjakan laporan tentang pembangunan daerah, perencanaan wilayah, atau program pemberdayaan masyarakat, pikirannya selalu kembali kepada Desa Suka Makmur.

Ia sering bertanya pada dirinya sendiri: untuk siapa semua ilmu itu jika desanya sendiri masih tertinggal?

“Jadi, kau benar-benar berhenti kerja di kota?” tanya Pak Sastro, memecah lamunan Erlangga.

Erlangga menoleh. Ayahnya duduk di kursi kayu sambil memegang gelas teh.

“Iya, Pak,” jawabnya. “Kontrakku sudah selesai. Aku memutuskan tidak memperpanjang.”

Pak Sastro menghela napas perlahan. “Banyak orang pergi dari desa untuk mencari pekerjaan. Kau sudah punya pekerjaan, malah memilih pulang.”

“Aku ingin mencoba membangun sesuatu di sini, Pak.”

“Membangun apa?” tanya Pak Sastro cepat.

Erlangga diam sejenak. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu. Di dalamnya ada kecemasan, kekecewaan, dan mungkin ketidakpercayaan.

“Aku ingin membantu kegiatan pemuda, pendidikan anak-anak, usaha warga, dan kalau bisa ikut mendorong pembangunan desa,” jawab Erlangga.

Pak Sastro tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya menyiratkan kebanggaan.

“Desa ini sudah punya kepala desa, perangkat desa, pendamping desa, dan banyak orang yang lebih lama tinggal di sini. Kau baru pulang, lalu ingin mengubah semuanya?”

“Aku tidak ingin mengubah semuanya sendiri, Pak. Aku hanya ingin ikut bekerja.”

“Bekerja di desa tidak selalu menghasilkan uang,” kata Pak Sastro. “Kau pikir hidup hanya cukup dengan niat baik?”

Bu Marni yang sejak tadi menyiapkan makanan di dapur berhenti sejenak. Ia menatap suami dan anaknya, lalu berkata dengan hati-hati.

“Biarkan Erlangga beristirahat dulu. Perjalanan jauh. Besok-besok saja bicara soal pekerjaan.”

Pak Sastro tidak menjawab. Ia menghabiskan teh di gelasnya, lalu berdiri.

“Ayah hanya tidak ingin kau pulang membawa mimpi yang terlalu tinggi, lalu kecewa karena kenyataan desa tidak seperti yang kau bayangkan.”

Setelah berkata demikian, Pak Sastro melangkah keluar rumah.

Erlangga menatap punggung ayahnya hingga menghilang di balik pintu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia memahami kekhawatiran itu. Pak Sastro bukan tidak menyayanginya. Ayahnya hanya terlalu lama hidup dalam keadaan yang mengajarkan bahwa harapan sering kali mahal.

Malam datang perlahan.

Setelah makan malam, Erlangga duduk sendirian di beranda rumah. Lampu kuning kecil menggantung di atas pintu. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing dari rumah tetangga. Udara malam desa terasa lebih dingin daripada yang ia ingat.

Di tangannya, Erlangga memegang sebuah buku catatan hitam yang selalu dibawanya dari kota. Di dalamnya terdapat banyak gagasan: rumah baca, pelatihan keterampilan pemuda, kebun pangan keluarga, kelompok usaha kecil, bank sampah, dan kegiatan belajar untuk anak-anak.

Sebagian gagasan itu tampak sederhana. Namun, ia tahu bahwa untuk mewujudkannya, ia membutuhkan lebih dari sekadar rencana.

Ia membutuhkan kepercayaan.

Ia membutuhkan orang-orang yang mau berjalan bersamanya.

Keesokan paginya, Erlangga bangun lebih awal. Matahari baru saja muncul ketika ia berjalan menuju pusat desa. Ia ingin melihat keadaan desa dengan lebih dekat. Jalan yang ia lewati masih basah oleh embun. Beberapa warga sudah berangkat ke kebun. Seorang ibu menyapu halaman rumah, sementara beberapa anak berseragam sekolah berjalan berkelompok sambil membawa tas yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka.

Ketika melewati bangunan sekolah dasar, langkah Erlangga melambat.

Dinding sekolah itu memang tampak kusam. Beberapa bagian catnya mengelupas. Atap di sisi belakang terlihat miring. Namun, di samping sekolah terdapat bangunan kecil dengan papan nama sederhana.

RUMAH BACA HARAPAN

Pintu bangunan itu terbuka. Di dalamnya, beberapa anak duduk di atas tikar sambil membaca buku bergambar. Di antara mereka, seorang perempuan sedang menyusun buku-buku di rak kayu.

Khinanti.

Erlangga berdiri beberapa saat di depan pintu. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Ada banyak kata yang tidak pernah sempat ia ucapkan. Ada banyak alasan yang mungkin terdengar terlambat.

Khinanti menyadari kehadirannya. Ia menoleh perlahan.

Wajahnya masih menyimpan ketenangan yang sama seperti dulu. Namun, kini ada ketegasan yang membuatnya tampak berbeda. Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru muda dan jilbab krem. Tangannya masih memegang beberapa buku.

“Erlangga?” tanyanya.

Erlangga tersenyum tipis. “Iya. Aku pulang.”

Khinanti memandangnya sesaat, lalu kembali menyusun buku di rak.

“Aku dengar dari Pak Karman kemarin sore,” katanya datar. “Katanya kau pulang dari kota.”

“Aku ingin bertemu denganmu.”

“Untuk apa?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Erlangga kehilangan kata-kata.

Anak-anak di dalam rumah baca mulai memperhatikan mereka. Seorang anak kecil bahkan menghentikan kegiatan mewarnainya. Erlangga tidak ingin percakapan itu menjadi semakin canggung di hadapan mereka.

“Aku ingin melihat rumah baca ini,” katanya akhirnya. “Bagus sekali.”

Khinanti mengangguk kecil. “Tidak besar. Hanya tempat anak-anak membaca setelah pulang sekolah.”

“Ini penting.”

“Banyak hal yang penting di desa ini, Langga. Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan cukup lama untuk mengerjakannya.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi terasa tajam.

Erlangga menundukkan kepala. Ia tahu Khinanti tidak hanya bicara tentang rumah baca.

“Aku memang pergi,” ucapnya. “Dan aku tahu aku tidak menjelaskan banyak hal waktu itu.”

Khinanti menghela napas. “Itu sudah lama. Tidak perlu dibicarakan sekarang.”

“Aku tetap ingin minta maaf.”

Khinanti akhirnya menatapnya. Untuk pertama kalinya, Erlangga melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik ketenangan perempuan itu: kecewa yang belum sepenuhnya hilang.

“Kalau kau pulang hanya untuk meminta maaf, kau tidak perlu tinggal lama-lama,” katanya. “Tapi kalau kau pulang untuk benar-benar bekerja bagi desa ini, jangan hanya datang membawa kata-kata.”

Erlangga mengangguk perlahan.

“Aku tidak ingin hanya membawa kata-kata, Khinanti.”

Khinanti tidak langsung menjawab. Ia menoleh kepada anak-anak yang mulai kembali membaca. Lalu, dengan suara yang lebih tenang, ia berkata,

“Kalau begitu, buktikan.”

Erlangga berdiri di depan Rumah Baca Harapan cukup lama setelah Khinanti kembali mengajar anak-anak. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan daun-daun yang baru tersentuh matahari.

Di hadapannya, desa itu tetap sama: jalan berlubang, sekolah sederhana, rumah-rumah kayu, dan wajah-wajah warga yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya.

Namun, bagi Erlangga, pagi itu Desa Suka Makmur tidak lagi sekadar tempat ia pulang.

Desa itu telah menjadi alasan untuk bertahan.

Dan di antara rak-rak buku sederhana, suara anak-anak yang membaca, serta tatapan Khinanti yang penuh tuntutan, Erlangga menemukan awal dari perjalanan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

 

BAB II

Balai Desa yang Sunyi

Tiga hari setelah kepulangannya, Erlangga mulai terbiasa dengan irama pagi di Desa Suka Makmur. Ia bangun sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri, membantu ibunya memberi makan ayam, lalu berjalan mengelilingi halaman rumah sambil memperhatikan kebun kecil milik ayahnya.

Di kota, pagi selalu dimulai dengan suara kendaraan, dering telepon, dan langkah orang-orang yang terburu-buru mengejar waktu. Di desa, pagi datang dengan suara ayam berkokok, desir daun pisang, serta aroma tanah yang masih basah oleh embun.

Namun, ketenangan itu tidak membuat pikiran Erlangga berhenti bekerja.

Setiap hari, ia melihat persoalan yang sama. Anak-anak berjalan cukup jauh menuju sekolah. Sebagian warga membawa hasil kebun dengan sepeda motor melewati jalan yang rusak. Beberapa ibu harus menunggu kendaraan yang tidak selalu tersedia untuk pergi ke puskesmas pembantu di desa tetangga. Di warung kopi, para pemuda lebih banyak membicarakan rencana merantau daripada membicarakan apa yang dapat dilakukan di kampung sendiri.

Pagi itu, Jatmiko datang ke rumah Erlangga dengan sepeda motor tua. Suara knalpot motornya terdengar dari ujung jalan sebelum orangnya terlihat.

“Langga!” teriaknya dari halaman. “Kau ada di rumah?”

Erlangga yang sedang menyiram tanaman menoleh. Ia tersenyum ketika melihat sahabat masa kecilnya itu turun dari motor sambil membawa helm yang catnya telah banyak terkelupas.

“Masuk saja, Miko,” kata Erlangga.

Jatmiko menghampiri sambil tertawa. “Kau benar-benar sudah berubah. Baru beberapa hari pulang, sudah seperti petani teladan.”

“Kalau tinggal di desa, ya harus belajar lagi hidup seperti orang desa,” jawab Erlangga.

“Orang kota yang sok desa,” goda Jatmiko.

Erlangga hanya tersenyum. Ia mengenal Jatmiko sebagai sahabat yang tidak pernah benar-benar berubah. Sejak kecil, Jatmiko selalu menjadi orang yang paling mudah tertawa, paling cepat bergaul, dan paling berani mengatakan sesuatu apa adanya.

“Ngomong-ngomong,” kata Jatmiko sambil duduk di bangku kayu dekat teras, “siang nanti ada rapat di balai desa. Katanya mau membahas rencana kegiatan desa dan usulan pembangunan.”

“Rapat desa?” tanya Erlangga.

“Iya. Kepala desa mengundang tokoh masyarakat, ketua RT, kelompok tani, pemuda, kader posyandu, dan beberapa warga. Kau datang saja. Biar orang-orang tahu kau sudah pulang.”

Erlangga terdiam sejenak.

“Memangnya warga biasa boleh ikut?”

Jatmiko mengangkat bahu. “Boleh atau tidak, biasanya tergantung siapa yang datang. Tapi kalau mau dengar, ya datang saja. Paling duduk di belakang.”

“Kalau begitu, aku ikut.”

Jatmiko tersenyum lebar. “Bagus. Tapi satu pesan, jangan terlalu cepat bicara soal ide-ide kota itu. Di desa ini, orang lebih mudah percaya pada yang sudah mereka kenal daripada yang baru datang membawa rencana.”

“Aku bukan orang baru, Miko.”

“Bukan baru sebagai orang,” jawab Jatmiko. “Tapi baru sebagai orang yang mau ikut campur urusan desa.”

Kalimat itu membuat Erlangga berpikir. Ia tahu Jatmiko tidak bermaksud meremehkan. Sahabatnya hanya mengingatkan bahwa kepulangan tidak otomatis membuat seseorang kembali dipercaya. Bertahun-tahun tinggal jauh dari desa membuat Erlangga harus belajar mengenal ulang tempat kelahirannya.

Menjelang siang, Erlangga mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Bu Marni sempat memperhatikan penampilannya dari dapur.

“Mau ke mana, Langga?” tanyanya.

“Ada rapat di balai desa, Bu. Jatmiko mengajak.”

Bu Marni berhenti mengaduk sayur di atas tungku.

“Rapat desa?” tanyanya pelan.

“Iya.”

Bu Marni menatap anaknya dengan wajah ragu. “Datang saja untuk mendengar. Jangan sampai orang mengira kau mau mencari masalah.”

Erlangga tersenyum kecil. “Aku hanya ingin tahu keadaan desa, Bu.”

Dari sudut ruangan, Pak Sastro yang sedang memperbaiki gagang cangkul ikut mendengar percakapan itu. Ia tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar jelas.

“Kalau datang ke rapat, dengarkan dulu. Jangan merasa semua masalah bisa selesai hanya karena kau pernah sekolah di kota.”

Erlangga menatap ayahnya.

“Aku mengerti, Pak.”

Pak Sastro tidak menanggapi lagi. Namun, Erlangga tahu bahwa ayahnya memperhatikan setiap langkah yang ia ambil.

Balai Desa Suka Makmur berdiri tidak jauh dari lapangan kecil yang biasa digunakan warga untuk bermain bola atau mengadakan perayaan kampung. Bangunannya cukup luas, tetapi tampak tua. Cat dindingnya mulai pudar. Papan nama di depan gedung sedikit miring. Di halaman, rumput tumbuh tidak beraturan, sementara beberapa kursi plastik tersusun seadanya di bawah teras.

Ketika Erlangga tiba, beberapa warga sudah berkumpul. Ada ketua RT, tokoh agama, perwakilan kelompok tani, beberapa ibu kader posyandu, serta para pemuda yang duduk bergerombol di sudut ruangan. Sebagian besar berbicara pelan, sementara yang lain hanya duduk menunggu rapat dimulai.

Erlangga melihat Khinanti datang bersama Sari, sahabatnya yang dikenal aktif sebagai kader posyandu. Khinanti membawa map biru berisi beberapa berkas. Ia mengenakan pakaian sederhana, tetapi penampilannya rapi dan berwibawa.

Pandangan mereka sempat bertemu.

Khinanti hanya mengangguk singkat.

Erlangga membalas dengan anggukan kecil, lalu memilih duduk di bagian tengah ruangan bersama Jatmiko.

“Jangan duduk terlalu depan,” bisik Jatmiko. “Nanti dikira kau mau jadi perangkat desa.”

Erlangga menahan senyum. “Kalau duduk di depan saja sudah dicurigai, bagaimana mau bicara soal perubahan?”

“Makanya, pelan-pelan,” jawab Jatmiko.

Tidak lama kemudian, Pak Darmawan, Kepala Desa Suka Makmur, masuk ke ruangan. Usianya sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya agak besar, wajahnya tenang, dan suaranya cukup berwibawa. Ia dikenal sebagai kepala desa yang tidak suka membuat keributan. Bagi sebagian warga, sikap itu dianggap bijaksana. Namun, bagi sebagian yang lain, sikap tersebut sering kali membuat banyak persoalan dibiarkan berjalan tanpa keputusan yang jelas.

Di belakang Pak Darmawan, tampak Pak Wiryo masuk dengan langkah pelan. Ia mengenakan kemeja cokelat dan peci hitam. Sebagai salah satu tokoh masyarakat sekaligus pemilik usaha pengangkutan hasil kebun, Pak Wiryo memiliki pengaruh cukup besar di desa. Banyak warga menghormatinya karena ia sering membantu ketika ada hajatan atau warga yang membutuhkan pinjaman.

Namun, Erlangga juga mendengar bahwa hampir semua urusan pengangkutan hasil kebun warga bergantung pada kendaraan milik Pak Wiryo. Ketergantungan itu membuat banyak orang enggan berbeda pendapat dengannya.

Rapat dimulai setelah semua peserta duduk.

Pak Darmawan berdiri di depan ruangan dengan sebuah map tebal di tangannya.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga serempak.

“Terima kasih kepada bapak, ibu, dan saudara-saudara yang telah hadir. Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan beberapa usulan kegiatan desa, terutama terkait pembangunan jalan, bantuan pertanian, kegiatan kesehatan, dan program pemuda.”

Pak Darmawan membuka mapnya. Ia mulai membacakan daftar usulan yang telah disusun oleh perangkat desa. Ada rencana perbaikan jalan menuju kebun, pengadaan lampu jalan, bantuan pupuk untuk kelompok tani, perbaikan saluran air, serta kegiatan pelatihan bagi ibu-ibu.

Semua usulan terdengar baik. Namun, ketika Pak Darmawan selesai membacakan, ruangan justru menjadi hening.

“Silakan kalau ada masukan,” katanya.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Beberapa orang menunduk. Sebagian lainnya saling pandang. Seorang ketua RT tampak ingin mengangkat tangan, tetapi kemudian membatalkannya. Suasana balai desa terasa seperti ruang yang penuh kata-kata, tetapi tidak ada yang berani keluar.

Pak Darmawan kembali menunggu.

“Kalau tidak ada, nanti kita sepakati saja sesuai daftar yang sudah dibuat.”

Khinanti mengangkat tangan.

“Silakan, Bu Khinanti,” kata Pak Darmawan.

Khinanti berdiri sambil membawa map biru yang sejak tadi diletakkan di pangkuannya.

“Saya ingin menyampaikan usulan terkait pendidikan anak-anak,” katanya dengan suara tenang. “Saat ini, Rumah Baca Harapan sudah berjalan hampir dua tahun. Anak-anak yang datang cukup banyak, tetapi fasilitasnya sangat terbatas. Buku-buku sebagian besar berasal dari sumbangan. Tikar, rak buku, dan lampu belajar juga sudah mulai rusak.”

Beberapa ibu mengangguk pelan.

“Kami berharap desa dapat memberi perhatian untuk kegiatan literasi anak-anak. Tidak harus besar. Mungkin bisa dimulai dari bantuan buku, perbaikan ruangan, atau dukungan kegiatan belajar.”

Pak Darmawan mengangguk. “Baik, nanti kita catat.”

Khinanti belum duduk.

“Selain itu,” lanjutnya, “saya juga berharap ada perhatian terhadap anak-anak yang mulai jarang sekolah. Ada beberapa yang lebih memilih membantu orang tua ke kebun atau bekerja serabutan. Kalau tidak ada pendampingan, mereka bisa putus sekolah.”

Ruangan kembali hening.

Seorang lelaki tua di sudut ruangan berdeham pelan. “Anak-anak itu membantu orang tua bukan karena malas sekolah. Orang tuanya memang butuh tenaga.”

Khinanti menoleh dengan hormat. “Saya memahami itu, Pak. Karena itu kita perlu mencari jalan agar mereka tetap bisa belajar tanpa meninggalkan kebutuhan keluarganya.”

Pak Wiryo yang sejak tadi duduk bersandar di kursi akhirnya berbicara.

“Pendidikan memang penting,” katanya. “Tapi jangan lupa, yang paling penting bagi warga sekarang adalah jalan kebun. Kalau jalan bagus, hasil kebun lancar. Kalau hasil kebun lancar, ekonomi warga juga membaik. Baru nanti kita bicara buku dan rumah baca.”

Beberapa orang mengangguk setuju.

Khinanti tidak membantah. Ia hanya duduk perlahan sambil menyimpan kembali mapnya.

Erlangga memperhatikan wajahnya. Ia melihat Khinanti berusaha tetap tenang, tetapi ada kelelahan dalam sorot matanya. Mungkin ia sudah terlalu sering membawa usulan yang hanya dicatat tanpa benar-benar diwujudkan.

Pak Darmawan kembali bertanya, “Ada lagi yang ingin menyampaikan pendapat?”

Jatmiko menoleh kepada Erlangga. “Jangan dulu,” bisiknya.

Namun, Erlangga sudah mengangkat tangan.

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.

Pak Darmawan tampak mengenali wajahnya. “Erlangga, ya? Anak Pak Sastro?”

“Iya, Pak.”

“Silakan.”

Erlangga berdiri. Ia merasakan beberapa pasang mata memandang dengan rasa ingin tahu. Ada yang mengenalnya sejak kecil. Ada yang hanya tahu bahwa ia baru pulang dari kota. Ada pula yang mungkin sudah mendengar bahwa ia datang dengan niat ikut membangun desa.

“Saya setuju bahwa jalan kebun, pertanian, kesehatan, dan pendidikan semuanya penting,” ucap Erlangga. “Menurut saya, persoalannya bukan memilih salah satu lalu meninggalkan yang lain. Kita perlu menentukan prioritas, tetapi juga memastikan setiap program saling mendukung.”

Pak Wiryo menatapnya tanpa ekspresi.

Erlangga melanjutkan, “Misalnya, perbaikan jalan memang akan membantu ekonomi warga. Tapi kalau anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang baik, pemuda tidak punya keterampilan, dan keluarga tidak punya akses informasi, desa akan tetap bergantung pada pihak luar.”

Seorang pemuda di belakang mengangguk pelan.

“Kita mungkin bisa memulai dengan program yang sederhana dan melibatkan warga. Rumah baca bisa menjadi pusat belajar. Pemuda bisa dilibatkan dalam kegiatan kebersihan, perbaikan lingkungan, dan pelatihan keterampilan. Kelompok ibu-ibu bisa didukung untuk mengembangkan usaha kecil. Semua itu tidak harus menunggu proyek besar.”

Pak Wiryo tersenyum tipis.

“Anak muda,” katanya, “berbicara memang mudah. Desa ini sudah bertahun-tahun menghadapi masalah. Tidak semua bisa selesai dengan kegiatan gotong royong dan buku-buku.”

Erlangga menatap Pak Wiryo dengan sopan.

“Saya setuju, Pak. Tidak semua bisa selesai dengan itu. Tapi kalau kita tidak mulai dari yang bisa dilakukan, kita akan terus menunggu bantuan tanpa pernah bergerak.”

Suasana ruangan mulai berubah. Beberapa orang tampak memperhatikan dengan lebih serius. Namun, sebagian lain terlihat tidak nyaman.

Pak Darmawan mengangkat tangan, mencoba menenangkan keadaan.

“Pendapat Erlangga bagus. Kita catat sebagai masukan. Tapi untuk sekarang, kita tetap fokus pada usulan yang sudah ada. Nanti kalau ada program tambahan, bisa dibicarakan dalam rapat berikutnya.”

Erlangga mengangguk dan kembali duduk.

Jatmiko menepuk lengannya pelan. “Lumayan. Kau sudah bicara.”

“Tidak ada yang berubah,” jawab Erlangga.

“Setidaknya sekarang orang tahu kau punya suara.”

Rapat berlanjut cukup lama. Namun, sebagian besar pembahasan hanya berputar pada daftar usulan, pembagian tugas, dan perkiraan anggaran yang belum jelas. Ketika pembicaraan mulai menyentuh soal transparansi penggunaan dana desa, suasana kembali mengendur.

Seorang warga bernama Pak Jono mengangkat tangan.

“Pak Kades,” katanya ragu-ragu, “kalau boleh tahu, untuk anggaran tahun ini, berapa yang sudah dipakai dan berapa yang masih tersedia?”

Beberapa orang langsung menoleh.

Pak Darmawan tampak sedikit terkejut. Ia membuka mapnya, lalu berkata, “Nanti akan disampaikan melalui perangkat desa. Yang penting sekarang kita sepakati dulu usulannya.”

Pak Jono mengangguk, meski wajahnya tampak belum puas.

Erlangga mencatat sesuatu di buku kecilnya. Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan, tetapi ia mulai memahami mengapa banyak warga memilih diam. Di balai desa itu, setiap pertanyaan terasa seperti sesuatu yang harus dipertimbangkan berkali-kali. Bukan karena warga tidak peduli, melainkan karena mereka terbiasa merasa bahwa pendapat mereka tidak akan banyak mengubah keputusan.

Menjelang sore, rapat akhirnya selesai.

Warga keluar satu per satu. Sebagian langsung pulang, sebagian lagi berhenti di halaman untuk berbincang singkat. Di bawah pohon mangga dekat balai desa, Erlangga berdiri sambil memandangi papan pengumuman yang kosong. Tidak ada rincian kegiatan, tidak ada jadwal pembangunan, tidak ada informasi anggaran, hanya beberapa kertas lama yang sudah menguning.

Khinanti datang menghampirinya.

“Kau cukup berani tadi,” katanya.

Erlangga menoleh. “Aku hanya menyampaikan apa yang kupikirkan.”

“Di desa ini, menyampaikan pikiran kadang dianggap keberanian,” jawab Khinanti.

Erlangga tersenyum tipis. “Kau juga berani bicara soal rumah baca.”

“Aku sudah sering bicara,” kata Khinanti. “Kadang dicatat, kadang dijanjikan, lalu dilupakan.”

“Kenapa kau tetap melakukannya?”

Khinanti memandang ke arah jalan desa. Beberapa anak pulang sekolah melewati halaman balai desa sambil membawa buku di dada mereka.

“Karena kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?” jawabnya.

Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.

Khinanti melanjutkan, “Tapi membangun desa bukan hanya soal ide, Langga. Ada banyak kepentingan. Ada banyak orang yang takut kalau keadaan berubah. Ada juga yang sudah terlalu lama kecewa, sehingga mereka tidak lagi percaya pada janji.”

“Aku tahu,” kata Erlangga.

“Tidak,” jawab Khinanti pelan. “Kau baru mulai tahu.”

Erlangga menerima kalimat itu tanpa tersinggung. Ia justru merasa Khinanti benar. Ia memang baru melihat permukaan dari persoalan yang ada. Ia belum memahami hubungan antarwarga, kepentingan yang tersembunyi, serta luka-luka lama yang mungkin membentuk sikap mereka.

Dari kejauhan, Pak Wiryo berjalan melewati halaman balai desa. Sebelum naik ke mobil pikap miliknya, ia sempat memandang Erlangga dan Khinanti. Tatapannya singkat, tetapi cukup untuk membuat Erlangga merasa bahwa kehadirannya mulai diperhatikan.

“Kau hati-hati,” kata Khinanti.

“Dengan Pak Wiryo?”

“Dengan semua hal yang belum kau mengerti.”

Setelah berkata demikian, Khinanti melangkah pergi bersama Sari yang telah menunggunya di dekat pagar.

Erlangga tetap berdiri di halaman balai desa yang mulai sepi. Angin sore menggerakkan daun-daun kering di tanah. Di hadapannya, bangunan balai desa itu tampak seperti lambang dari banyak hal: tempat warga berkumpul, tempat keputusan dibuat, tetapi juga tempat suara-suara kecil sering kali hilang sebelum sempat didengar.

Erlangga menatap papan pengumuman yang kosong sekali lagi.

Dalam hati, ia berjanji bahwa suatu hari nanti, balai desa itu tidak akan lagi menjadi tempat yang sunyi.

Bukan sunyi karena tidak ada orang.

Melainkan sunyi karena terlalu banyak warga yang memilih diam.

 

BAB III

Perempuan di Rumah Baca

Pagi di Desa Suka Makmur selalu datang dengan cara yang sederhana. Cahaya matahari menyelinap di antara daun-daun pisang, menyentuh atap seng rumah warga, lalu jatuh perlahan di jalan tanah yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara mesin perahu kecil di sungai, bersahutan dengan kokok ayam dan panggilan para ibu kepada anak-anak yang bersiap pergi ke sekolah.

Di sebuah bangunan kecil di samping sekolah dasar, Khinanti sudah membuka pintu Rumah Baca Harapan sejak pagi.

Bangunan itu tidak lebih besar dari ruang kelas sederhana. Dindingnya terbuat dari papan yang dicat putih, meski beberapa bagian telah mulai kusam. Jendelanya lebar agar cahaya matahari dapat masuk dengan cukup. Di dalamnya terdapat dua rak kayu berisi buku cerita anak, buku pelajaran, majalah lama, kamus, beberapa novel, serta buku-buku pengetahuan umum yang sebagian besar berasal dari sumbangan.

Di tengah ruangan, tikar pandan terbentang. Ada meja kecil, papan tulis, dan beberapa kursi plastik yang warnanya sudah tidak seragam. Di salah satu sudut, tergantung tulisan yang dibuat dengan tangan.

“Membaca adalah Jalan untuk Mengenal Dunia.”

Khinanti berdiri di depan rak buku sambil merapikan beberapa buku yang semalam dipinjam anak-anak. Tangannya bergerak pelan, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.

Sejak rapat di balai desa kemarin, wajah Erlangga beberapa kali muncul dalam ingatannya.

Ia tidak menyangka laki-laki itu benar-benar pulang.

Dulu, Erlangga adalah anak muda yang paling sering berbicara tentang mimpi. Ia ingin kuliah, bekerja di kota, dan suatu hari kembali membawa perubahan bagi desa. Khinanti pernah percaya pada kata-kata itu. Mereka tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama, belajar di sekolah yang sama, dan berjalan pulang melewati jalan desa yang sama.

Namun, ketika Erlangga pergi, semuanya berubah.

Pada awalnya, ia masih mengirim kabar. Sesekali ada pesan singkat, cerita tentang kampus, pekerjaan sambilan, dan kehidupan kota yang serba cepat. Lalu, kabar itu semakin jarang. Pesan-pesan yang dahulu datang setiap minggu berubah menjadi sebulan sekali, lalu hilang begitu saja.

Khinanti tidak pernah meminta penjelasan.

Ia memilih menyimpan kecewa itu sendiri.

Bukan karena ia tidak ingin bertanya, tetapi karena ia merasa tidak berhak menahan seseorang yang sedang mengejar masa depannya. Ia hanya belajar menerima bahwa tidak semua orang yang pernah berjalan bersama akan tetap memilih jalan yang sama.

Pintu Rumah Baca Harapan terbuka.

Seorang anak perempuan kecil masuk sambil membawa tas merah muda yang terlihat hampir sebesar tubuhnya.

“Kak Khinanti,” panggilnya riang.

Khinanti menoleh dan tersenyum. “Pagi, Lila. Cepat sekali datangnya.”

“Aku mau pinjam buku cerita putri kerajaan yang kemarin,” jawab Lila.

“Sudah selesai dibaca?”

“Sudah. Tapi aku mau baca lagi.”

Khinanti tertawa kecil. “Kalau begitu, ambil saja. Tapi nanti jangan lupa cerita kepada teman-temanmu, ya.”

Lila mengangguk cepat lalu berlari menuju rak buku.

Tidak lama kemudian, beberapa anak lain mulai berdatangan. Ada yang membawa buku tulis, ada yang membawa pensil pendek, dan ada pula yang datang hanya untuk duduk membaca gambar. Khinanti menyambut mereka satu per satu. Ia menanyakan sekolah mereka, membantu mengerjakan tugas, serta mengingatkan agar buku-buku yang dipinjam dijaga dengan baik.

Bagi sebagian orang, Rumah Baca Harapan mungkin hanya bangunan kecil yang tidak terlalu penting. Namun, bagi Khinanti, tempat itu adalah ruang untuk menjaga mimpi anak-anak desa agar tidak padam terlalu cepat.

Ia pernah melihat banyak anak yang berhenti sekolah karena harus membantu orang tua. Ia pernah melihat remaja yang merasa tidak perlu melanjutkan pendidikan karena menganggap masa depan mereka hanya akan berakhir di kebun atau di tempat kerja jauh dari rumah. Ia tidak pernah memandang pekerjaan di kebun sebagai sesuatu yang rendah. Akan tetapi, ia percaya bahwa setiap anak berhak memiliki pilihan.

Dan pilihan hanya dapat tumbuh jika mereka diberi kesempatan untuk belajar.

Menjelang siang, ketika anak-anak mulai pulang untuk makan, Khinanti duduk di beranda rumah baca sambil memeriksa daftar buku yang rusak. Beberapa halaman sobek. Ada buku yang sampulnya lepas. Sebagian buku pelajaran sudah terlalu lama untuk digunakan, tetapi tetap dibaca karena tidak ada pilihan lain.

Sari datang membawa dua bungkus gorengan dan segelas teh hangat.

“Kau dari tadi belum makan, kan?” tanyanya.

Khinanti menerima gorengan itu. “Terima kasih.”

Sari duduk di sampingnya. “Aku dengar Erlangga datang ke rumah baca kemarin.”

Khinanti menatapnya singkat. “Siapa yang bilang?”

“Anak-anak. Mereka bilang ada abang-abang tinggi datang, berdiri lama di depan pintu, lalu bicara dengan Kak Khinanti.”

Khinanti tersenyum kecil. “Anak-anak memang tidak pernah kehabisan cerita.”

“Jadi, bagaimana? Dia benar-benar pulang untuk tinggal?”

“Katanya begitu.”

Sari mengangguk pelan. “Aku masih ingat dia waktu sekolah. Pintar, aktif, dan selalu punya banyak rencana.”

“Rencana itu mudah dibuat,” jawab Khinanti. “Yang sulit adalah bertahan ketika kenyataan tidak sesuai harapan.”

Sari memperhatikan sahabatnya. “Kau masih marah?”

Khinanti tidak langsung menjawab. Ia memandang jalan di depan rumah baca. Seorang ibu melintas sambil membawa keranjang sayur. Di kejauhan, beberapa anak kecil bermain bola dengan sandal sebagai gawang.

“Aku tidak marah,” katanya akhirnya. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama: terlalu percaya sebelum melihat bukti.”

Sari mengangguk, seolah memahami.

Tidak lama kemudian, suara sepeda motor terdengar dari arah jalan. Jatmiko datang dengan motornya, diikuti Erlangga yang duduk di belakang. Mereka berhenti di depan rumah baca.

Sari menoleh kepada Khinanti sambil tersenyum jahil. “Sepertinya bukti itu sedang datang.”

Khinanti menghela napas pelan. “Jangan mulai.”

Erlangga turun dari motor sambil membawa dua kardus cukup besar. Jatmiko membantu menurunkannya, lalu meletakkannya di dekat pintu rumah baca.

“Assalamu’alaikum,” ucap Erlangga.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Khinanti dan Sari bersamaan.

Khinanti memandang kardus-kardus itu. “Apa ini?”

“Buku,” jawab Erlangga.

“Buku?”

“Aku punya beberapa buku dari kota. Sebagian buku anak-anak, buku pengetahuan umum, buku keterampilan, dan beberapa buku pelajaran. Tidak semuanya baru, tapi masih layak dibaca.”

Khinanti masih tampak ragu. “Kau membawa ini dari kota?”

“Sebagian memang sudah kubawa. Sebagian lagi aku beli sebelum pulang.”

Jatmiko ikut menyahut, “Dia juga menyuruhku membantu cari papan untuk memperbaiki rak buku. Katanya rak di sini sudah miring.”

Khinanti memandang Erlangga. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya, meski hanya sedikit.

“Kau tidak perlu melakukan semua ini,” katanya.

“Aku tahu,” jawab Erlangga. “Aku melakukannya karena ingin.”

Sari tersenyum sambil berdiri. “Kalau begitu, mari kita lihat isinya.”

Mereka membawa kardus-kardus itu ke dalam rumah baca. Anak-anak yang baru kembali dari rumah masing-masing mulai berdatangan dan mengintip dari pintu. Ketika kardus dibuka, beberapa anak langsung berseru gembira.

Ada buku cerita bergambar tentang hewan, buku dongeng nusantara, ensiklopedia sederhana, buku mewarnai, buku tentang tanaman, pertanian, kerajinan tangan, serta beberapa buku pelajaran untuk tingkat sekolah dasar dan menengah.

Lila mengambil sebuah buku bergambar tentang luar angkasa.

“Kak, ini tentang bintang?” tanyanya.

“Iya,” jawab Erlangga sambil tersenyum. “Di situ ada cerita tentang planet, bulan, dan bintang.”

“Kalau aku rajin baca, aku bisa jadi orang yang pergi ke bulan?”

Erlangga terdiam sesaat, lalu berjongkok di hadapan Lila.

“Kalau kau rajin belajar, kau bisa menjadi apa pun yang kau inginkan. Mungkin pergi ke bulan, mungkin menjadi guru, dokter, penulis, atau orang yang membuat desa ini semakin maju.”

Lila tersenyum lebar sambil memeluk buku itu ke dadanya.

Khinanti memperhatikan percakapan tersebut tanpa berkata-kata. Ia melihat cara Erlangga berbicara kepada anak-anak. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Ada ketulusan yang sulit disembunyikan.

Namun, ia tetap menahan dirinya.

Ia tidak ingin satu kebaikan kecil membuatnya melupakan tahun-tahun ketika Erlangga pergi tanpa benar-benar berpamitan.

Siang itu, Erlangga dan Jatmiko membantu memperbaiki rak buku yang sudah mulai goyah. Mereka memindahkan buku-buku, mengencangkan paku, dan mengganti satu papan yang lapuk. Anak-anak duduk di tikar sambil melihat mereka bekerja.

“Abang Erlangga bisa jadi tukang juga?” tanya seorang anak laki-laki bernama Raka.

Jatmiko tertawa keras. “Dia bisa apa saja, asal jangan disuruh masak.”

“Aku bisa masak,” bantah Erlangga.

“Masak mi instan bukan berarti bisa masak,” jawab Jatmiko, membuat anak-anak tertawa.

Suasana di rumah baca menjadi lebih hangat. Untuk pertama kalinya sejak Erlangga pulang, Khinanti melihat laki-laki itu tidak lagi sebagai seseorang dari masa lalu yang datang membawa banyak pertanyaan. Ia mulai melihatnya sebagai seseorang yang mungkin benar-benar ingin terlibat.

Setelah rak buku selesai diperbaiki, anak-anak pulang satu per satu. Matahari mulai condong ke arah barat. Sari pamit lebih dulu karena harus membantu ibunya menyiapkan dagangan.

Jatmiko juga pergi ke bengkel kecil milik pamannya.

Tinggallah Erlangga dan Khinanti di beranda Rumah Baca Harapan.

Angin sore bergerak pelan. Daun-daun kering jatuh di halaman. Dari lapangan sekolah terdengar suara anak-anak yang masih bermain bola.

“Terima kasih,” kata Khinanti akhirnya.

Erlangga menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk buku-buku dan raknya.”

“Itu belum seberapa.”

“Bagi anak-anak di sini, itu cukup berarti.”

Erlangga mengangguk. “Aku ingin membantu lebih banyak, kalau kau tidak keberatan.”

Khinanti memandangnya. “Membantu seperti apa?”

“Aku ingin membuat kegiatan rutin untuk anak-anak dan pemuda. Mungkin kelas belajar tambahan, pelatihan keterampilan sederhana, diskusi untuk remaja, atau kegiatan kebersihan lingkungan.”

“Kau sudah punya rencana?”

“Ada beberapa catatan,” jawab Erlangga. Ia mengambil buku hitam dari tasnya. “Tapi aku tidak ingin menjalankan apa pun tanpa mendengar kebutuhan warga.”

Khinanti menerima buku itu. Ia membuka beberapa halaman. Di dalamnya terdapat tulisan tangan yang rapi: daftar gagasan, jadwal kegiatan, kebutuhan dasar, serta catatan tentang potensi desa.

Ada halaman yang berisi tulisan:

Rumah Baca Harapan bukan hanya tempat membaca. Rumah baca dapat menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, dan ruang tumbuh bagi anak-anak desa.

Khinanti berhenti membaca.

“Kau menulis ini kapan?” tanyanya.

“Beberapa bulan sebelum pulang.”

“Jadi kau sudah merencanakan kepulanganmu?”

Erlangga menghela napas perlahan. “Sudah lama aku ingin pulang. Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut dianggap gagal. Takut Bapak kecewa. Takut orang-orang menganggap aku pulang karena tidak mampu bertahan di kota.”

Khinanti menutup buku itu.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku lebih takut kalau aku tidak pernah mencoba.”

Khinanti terdiam.

Jawaban itu terasa sederhana, tetapi ia dapat merasakan beban yang tersembunyi di dalamnya. Ia tahu tidak mudah bagi seseorang untuk meninggalkan pekerjaan di kota dan kembali ke desa dengan segala ketidakpastian.

Namun, ia juga tahu bahwa niat baik saja belum cukup.

“Kalau kau benar-benar ingin membantu,” kata Khinanti, “mulailah dengan mengenal anak-anak ini. Kenali keluarga mereka. Kenali kenapa ada yang malas sekolah, kenapa ada yang tidak punya buku, kenapa ada yang lebih memilih bekerja. Jangan datang hanya dengan program.”

Erlangga mengangguk sungguh-sungguh. “Aku akan belajar.”

“Dan jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kau lakukan.”

“Aku tidak akan.”

Khinanti berdiri lalu masuk ke dalam rumah baca. Ia mengambil sebuah buku tulis kosong dan menyerahkannya kepada Erlangga.

“Ini daftar anak-anak yang sering datang ke sini,” katanya. “Ada juga catatan kecil tentang kebutuhan mereka. Tidak lengkap, tapi mungkin bisa menjadi awal.”

Erlangga menerima buku itu dengan hati-hati.

“Terima kasih, Khinanti.”

“Jangan berterima kasih dulu,” jawabnya. “Buktikan saja.”

Erlangga tersenyum kecil. Kali ini, Khinanti tidak langsung memalingkan wajah.

Mereka kemudian berjalan bersama menuju jalan utama desa. Matahari senja menyinari jalan tanah dengan warna keemasan. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu beberapa anak yang membawa buku baru dari Rumah Baca Harapan.

“Terima kasih, Abang Erlangga!” teriak Lila sambil melambaikan tangan.

Erlangga membalas lambaian itu.

Khinanti melihat pemandangan tersebut dengan hati yang perlahan berubah. Ia belum sepenuhnya percaya. Ia belum siap membuka kembali pintu yang pernah ia tutup rapat. Namun, sore itu, di antara tawa anak-anak dan buku-buku sederhana, ia mulai memahami bahwa mungkin ada orang yang pulang bukan untuk mengenang masa lalu.

Mungkin ada juga yang pulang untuk memperbaiki masa depan.

Dan bagi Khinanti, Rumah Baca Harapan bukan lagi sekadar tempat ia menjaga mimpi anak-anak desa.

Tempat itu kini menjadi awal dari sebuah kerja sama, sebuah perjuangan, dan mungkin—tanpa ia sadari—awal dari perasaan yang pernah hilang, tetapi belum benar-benar mati.

 

BAB IV

Janji yang Pernah Tertinggal

Malam turun perlahan di Desa Suka Makmur.

Di rumah Pak Sastro, lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Cahaya kuning dari ruang tengah memantul pada dinding papan yang telah lama menjadi saksi kehidupan keluarga itu. Di meja makan, Bu Marni menata lauk sederhana: ikan asin, sayur daun singkong, sambal terasi, dan nasi hangat yang baru matang.

Erlangga duduk di kursi kayu sambil memandangi halaman rumah dari balik jendela. Sejak pulang dari Rumah Baca Harapan, pikirannya tidak berhenti mengingat percakapannya dengan Khinanti. Perempuan itu masih sama dalam banyak hal—tenang, cerdas, dan tidak mudah terbawa oleh kata-kata. Namun, ada jarak yang kini berdiri di antara mereka.

Jarak yang tidak hanya dibentuk oleh waktu.

Ada kesalahan yang pernah ia buat.

Ada janji yang pernah ia tinggalkan.

“Langga, makan dulu,” panggil Bu Marni dari dapur.

Erlangga segera menghampiri meja makan. Pak Sastro sudah duduk di ujung meja dengan wajah tenang. Seperti biasa, ayahnya tidak banyak bicara. Ia hanya mengambil nasi secukupnya, lalu mulai makan perlahan.

“Dari mana saja tadi?” tanya Bu Marni.

“Dari rumah baca, Bu,” jawab Erlangga. “Aku membantu memperbaiki rak buku.”

“Rumah baca yang dikelola Khinanti itu?” Bu Marni bertanya sambil tersenyum tipis.

“Iya.”

Pak Sastro berhenti makan sejenak. “Kau sudah bertemu Khinanti?”

“Sudah, Pak.”

“Dia masih mengajar?”

“Masih. Dia mengelola rumah baca dan membantu anak-anak belajar.”

Pak Sastro mengangguk pelan. “Anak itu dari dulu memang tekun. Tidak banyak bicara, tapi kalau sudah punya niat, dikerjakan sampai selesai.”

Bu Marni melirik suaminya. “Dulu Khinanti sering datang ke rumah. Kadang belajar bersama Erlangga, kadang membantu Ibu menyiapkan makanan kalau ada kegiatan sekolah.”

Erlangga tersenyum kecil. Kenangan itu muncul begitu saja.

Ia teringat Khinanti yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, duduk di beranda rumah sambil membawa buku catatan. Ia teringat caranya mengikat rambut, caranya menunduk ketika malu, dan caranya memandang seseorang dengan mata yang selalu tampak ingin memahami.

Dulu, Khinanti adalah bagian dari hari-hari yang paling sederhana dalam hidupnya.

Mereka sering pulang bersama dari sekolah. Jalan yang mereka lewati sama: melewati kebun karet, jembatan kayu kecil, dan lapangan desa. Di sepanjang perjalanan, mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang guru yang galak, tugas sekolah, keinginan melanjutkan pendidikan, hingga mimpi-mimpi yang terasa begitu besar bagi dua remaja desa.

“Aku ingin menjadi guru,” kata Khinanti suatu sore ketika mereka duduk di tepi sungai.

Erlangga menoleh. “Guru?”

“Iya. Aku ingin mengajar anak-anak di desa ini.”

“Kenapa tidak kerja di kota saja? Guru di kota mungkin lebih enak.”

Khinanti tersenyum. “Kalau semua orang ingin pergi ke kota, siapa yang tinggal untuk anak-anak di sini?”

Erlangga terdiam sejenak.

“Kalau kau sendiri?” tanya Khinanti.

“Aku ingin kuliah. Setelah itu kerja di kota. Belajar banyak hal.”

“Lalu?”

“Lalu pulang.”

“Pulang?”

Erlangga mengangguk. “Aku ingin desa ini berubah. Jalan-jalannya bagus, sekolahnya lebih layak, anak-anaknya bisa punya cita-cita setinggi orang kota.”

Khinanti memandangnya dengan mata berbinar.

“Kalau begitu, jangan lupa,” katanya.

“Tidak akan.”

“Jangan lupa pulang.”

Saat itu, Erlangga tertawa kecil. Ia merasa masa depan begitu jauh dan begitu mudah dijangkau. Ia tidak pernah membayangkan bahwa satu janji sederhana dapat menjadi begitu berat ketika hidup mulai membawa seseorang ke jalan yang berbeda.

Setelah lulus sekolah menengah, Erlangga memperoleh kesempatan kuliah di kota. Keberangkatan itu menjadi kebanggaan bagi keluarga. Pak Sastro menjual sebagian hasil kebun lebih awal untuk biaya awal kuliah. Bu Marni menjahit beberapa pakaian tambahan agar Erlangga memiliki bekal.

Di hari keberangkatan, Khinanti datang membawa sebuah buku catatan bersampul cokelat.

“Untuk apa ini?” tanya Erlangga.

“Untuk menulis,” jawab Khinanti.

“Aku sudah punya buku.”

“Yang ini berbeda. Isi dengan hal-hal yang ingin kau lakukan ketika pulang nanti.”

Erlangga membuka halaman pertama. Di sana, Khinanti menuliskan satu kalimat dengan tinta biru.

Jangan biarkan kota membuatmu lupa jalan pulang.

Erlangga menatap tulisan itu cukup lama.

“Aku tidak akan lupa,” katanya.

Khinanti tersenyum. “Aku percaya.”

Namun, kehidupan di kota tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

Pada tahun pertama kuliah, Erlangga masih sering mengirim kabar. Ia menceritakan gedung kampus, teman-teman baru, tugas yang menumpuk, dan pekerjaan sambilan yang ia jalani pada malam hari. Khinanti membalas dengan cerita tentang sekolah, kegiatan desa, serta kabar teman-teman lama.

Hubungan mereka tetap terjaga, meski dipisahkan jarak.

Pada tahun kedua, ayah Erlangga jatuh sakit. Pak Sastro harus menjalani perawatan cukup lama setelah mengalami kecelakaan kecil saat bekerja di kebun. Biaya pengobatan membuat keadaan keluarga semakin sulit. Erlangga yang saat itu masih kuliah mulai mengambil lebih banyak pekerjaan sambilan. Ia bekerja di sebuah percetakan pada malam hari, menjadi asisten survei pada akhir pekan, dan menerima pekerjaan mengetik untuk mahasiswa lain.

Hari-harinya berubah menjadi rangkaian kuliah, kerja, dan kelelahan.

Ia masih membaca pesan dari Khinanti, tetapi tidak selalu sempat membalas. Ia sering berpikir akan menjawab nanti, ketika tugas selesai. Akan tetapi, nanti selalu bergeser menjadi besok, lalu minggu depan, lalu entah kapan.

Ketika akhirnya ia lulus, Erlangga mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan konsultan pembangunan. Pekerjaan itu tidak mudah, tetapi memberinya penghasilan yang cukup untuk membantu orang tua. Ia mengirim uang setiap bulan, membayar sebagian utang keluarga, dan perlahan memperbaiki rumah mereka.

Di satu sisi, ia merasa telah memenuhi tanggung jawabnya.

Namun, di sisi lain, ia mulai kehilangan banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Salah satunya adalah Khinanti.

Pesan terakhir dari Khinanti datang pada suatu malam ketika Erlangga sedang menyelesaikan laporan proyek di kantor.

Langga, Ibu bilang Bapakmu sudah mulai sehat. Aku ikut senang. Kalau suatu hari kau pulang, Rumah Baca Harapan sudah mulai berjalan. Tidak besar, tapi anak-anak mulai datang. Aku ingin kau melihatnya.

Erlangga membaca pesan itu berulang kali.

Ia ingin membalas. Ia ingin mengatakan bahwa ia bangga. Ia ingin mengatakan bahwa ia merindukan desa, merindukan jalan-jalan sore, merindukan suara Khinanti ketika bercerita.

Namun, malam itu atasannya meminta laporan segera diselesaikan. Erlangga menutup ponselnya, berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan membalas setelah pekerjaan selesai.

Pesan itu tidak pernah ia balas.

Hari berubah menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Saat Erlangga akhirnya mencoba menghubungi Khinanti, nomor perempuan itu sudah tidak aktif. Ia tidak tahu apakah Khinanti mengganti nomor, sengaja menjauh, atau sekadar tidak ingin lagi membuka ruang bagi seseorang yang terlalu lama diam.

Ia tidak pernah benar-benar berani mencari jawaban.

Karena jauh di dalam hati, ia tahu bahwa diamnya adalah jawaban yang paling menyakitkan.

“Langga.”

Suara Bu Marni membuyarkan ingatannya.

Erlangga menoleh. Ia baru menyadari bahwa makanan di piringnya hampir tidak tersentuh.

“Kau melamun dari tadi,” kata ibunya.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Pak Sastro memandang putranya. “Khinanti masih marah?”

Erlangga terdiam.

“Entahlah, Pak,” jawabnya pelan. “Mungkin bukan marah. Mungkin dia hanya sudah tidak percaya lagi.”

Pak Sastro menghela napas. “Kepercayaan itu tidak datang karena kita minta. Kepercayaan datang karena kita menjaga kata-kata.”

Kalimat itu membuat Erlangga menunduk.

Ia tidak membantah. Ayahnya benar.

Setelah makan malam, Erlangga kembali ke kamarnya. Ruangan itu masih seperti dahulu, meski beberapa barang telah dipindahkan. Di sudut meja, terdapat tumpukan buku lama. Di dinding, masih tergantung peta Indonesia yang pernah ia gunakan saat sekolah.

Ia membuka tas yang dibawanya dari kota dan mengeluarkan buku catatan bersampul cokelat.

Buku pemberian Khinanti.

Sudut-sudutnya sudah mulai usang. Halamannya tidak lagi putih seperti dulu. Namun, tulisan pada halaman pertama masih terlihat jelas.

Jangan biarkan kota membuatmu lupa jalan pulang.

Erlangga duduk di tepi tempat tidur sambil membuka halaman-halaman berikutnya. Di sana terdapat banyak catatan yang ia tulis ketika masih kuliah: ide tentang koperasi desa, pelatihan pemuda, perpustakaan kecil, kebun pangan, hingga perbaikan jalan.

Ada pula beberapa halaman kosong.

Halaman-halaman itu terasa seperti gambaran dari banyak rencana yang tidak pernah sempat ia wujudkan.

Malam semakin larut. Di luar, angin bergerak pelan melewati pohon-pohon di halaman. Erlangga menutup buku itu, lalu memandang langit dari jendela.

Ia tidak dapat mengubah masa lalu.

Ia tidak dapat menarik kembali pesan yang tidak pernah dibalas. Ia tidak dapat menghapus rasa kecewa yang mungkin telah tumbuh di hati Khinanti selama bertahun-tahun.

Namun, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki langkahnya hari ini.

Keesokan paginya, Erlangga pergi ke Rumah Baca Harapan membawa beberapa papan kayu yang ia beli dari toko bangunan kecil di desa sebelah. Ia tidak membawa bunga, tidak membawa hadiah mahal, dan tidak membawa kata-kata yang terlalu manis.

Ia hanya membawa bahan untuk membuat meja belajar tambahan.

Ketika sampai, Khinanti sedang menyapu halaman rumah baca. Ia tampak terkejut melihat Erlangga datang dengan papan-papan kayu di belakang motor Jatmiko.

“Kau mau membuat apa?” tanyanya.

“Meja belajar,” jawab Erlangga. “Anak-anak terlalu sering menulis di lantai. Kalau kau setuju, aku ingin membuat beberapa meja kecil.”

Khinanti memandang papan-papan itu, lalu menatap Erlangga.

“Kau tidak perlu membayar semua ini sendiri.”

“Aku tidak merasa sedang membayar apa pun.”

“Lalu apa?”

Erlangga menarik napas.

“Mungkin aku sedang belajar menepati sesuatu yang dulu pernah kujanjikan.”

Khinanti terdiam.

Angin pagi bergerak pelan. Suara anak-anak mulai terdengar dari arah jalan. Mereka datang membawa buku dan pensil, sebagian berlari kecil karena penasaran melihat papan kayu yang diturunkan dari motor.

Khinanti tidak langsung menjawab.

Ia hanya meletakkan sapu di dekat dinding, lalu membuka pintu Rumah Baca Harapan.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “mulailah dari sana.”

Erlangga mengangguk.

Hari itu, mereka bekerja bersama membuat meja belajar sederhana. Jatmiko memotong papan, Erlangga mengukur dan memasang paku, sementara Khinanti membantu mengampelas permukaan kayu. Anak-anak duduk di bawah pohon sambil memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu.

Tidak ada pembicaraan panjang tentang masa lalu.

Tidak ada pengakuan yang dibuat untuk menghapus luka dalam sekejap.

Namun, di antara suara palu, serbuk kayu, dan tawa anak-anak, ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan.

Bukan sekadar kenangan.

Melainkan kesempatan baru.

Kesempatan untuk membuktikan bahwa janji yang pernah tertinggal tidak harus selamanya menjadi penyesalan.

Kadang, janji itu dapat ditemukan kembali di jalan pulang—lalu dijaga dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.

 

BAB V

Gagasan dari Beranda Sekolah

Meja-meja belajar sederhana itu akhirnya selesai dibuat tiga hari kemudian.

Jumlahnya tidak banyak, hanya enam buah. Ukurannya pun tidak sepenuhnya sama karena bahan kayu yang digunakan berasal dari papan-papan sisa yang tersedia di toko bangunan desa sebelah. Namun, bagi anak-anak Rumah Baca Harapan, enam meja itu terasa seperti hadiah besar.

Mereka tidak lagi harus selalu menulis di lantai atau bertumpu pada lutut sendiri. Mereka dapat duduk berdua, membuka buku, dan mengerjakan tugas dengan lebih nyaman.

Pagi itu, Khinanti berdiri di depan pintu rumah baca sambil memandangi anak-anak yang mulai memenuhi ruangan. Beberapa anak langsung memilih meja yang paling dekat dengan jendela. Yang lain berebut duduk bersama sahabatnya.

“Jangan dorong-dorongan,” kata Khinanti sambil tersenyum. “Semua kebagian.”

“Meja ini punya siapa, Kak?” tanya Lila.

“Punya kita semua,” jawab Khinanti.

“Yang buat Abang Erlangga?”

“Iya, dibantu Kak Jatmiko.”

Lila menoleh kepada Erlangga yang sedang menata beberapa buku di rak.

“Terima kasih, Abang.”

Erlangga tersenyum. “Belajarnya yang rajin, ya.”

“Kalau aku rajin belajar, nanti aku bisa buat meja juga?”

“Bisa. Bahkan kau bisa membuat lebih banyak dari ini.”

Lila mengangguk dengan wajah penuh keyakinan, seolah satu kalimat sederhana itu cukup untuk membuat masa depan terasa lebih dekat.

Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri sambil memegang pensil. Ia adalah anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang jarang berbicara. Rambutnya selalu dipotong pendek, wajahnya sedikit lebih gelap karena sering membantu ayahnya di kebun, dan seragam sekolahnya tampak mulai kusam.

Raka masih terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama di desa kecamatan. Namun, ia semakin jarang masuk. Kadang ia datang hanya dua atau tiga hari dalam seminggu. Selebihnya, ia membantu orang tuanya mengangkut hasil kebun atau menjaga adiknya ketika ibunya pergi bekerja.

Khinanti sudah beberapa kali berbicara dengannya. Namun, Raka selalu menjawab singkat.

“Sekolah jauh, Kak.”

“Atau aku harus bantu Bapak.”

“Atau buku pelajarannya susah.”

Khinanti memahami bahwa persoalan Raka tidak sesederhana malas belajar. Ada beban keluarga yang terlalu cepat diletakkan di pundak anak seusianya.

Erlangga memperhatikan Raka dari kejauhan.

“Anak itu siapa?” tanyanya pelan kepada Khinanti.

“Raka,” jawab Khinanti. “Dia sebenarnya pintar. Dulu nilainya bagus. Tapi sekarang sering tidak masuk sekolah.”

“Kenapa?”

“Ayahnya sakit-sakitan. Ibunya bekerja membantu panen di kebun orang. Raka banyak membantu di rumah.”

Erlangga mengangguk. “Apa sekolahnya tahu?”

“Tahu. Gurunya pernah datang, tapi keluarganya merasa malu. Mereka takut dianggap tidak mampu mengurus anak.”

Erlangga menatap Raka yang sedang menggambar sesuatu di buku tulisnya.

“Kita perlu bicara dengannya.”

“Pelan-pelan,” kata Khinanti. “Jangan membuatnya merasa dikasihani.”

“Aku mengerti.”

Menjelang siang, setelah anak-anak pulang, Erlangga duduk di beranda sekolah dasar yang berada tepat di samping Rumah Baca Harapan. Bangunan sekolah itu sepi karena kegiatan belajar telah selesai. Hanya suara sapu penjaga sekolah yang terdengar dari arah belakang.

Khinanti datang membawa dua gelas teh hangat. Ia menyerahkan satu gelas kepada Erlangga, lalu duduk tidak jauh darinya.

“Terima kasih,” kata Erlangga.

“Jangan terlalu sering mengucapkan terima kasih,” jawab Khinanti. “Nanti terdengar seperti orang kota.”

Erlangga tertawa kecil. “Aku memang lama tinggal di kota.”

“Bukan itu maksudku.”

“Aku tahu.”

Mereka terdiam beberapa saat. Angin siang membawa aroma tanah dan daun-daun kering. Dari lapangan, terdengar suara beberapa anak yang masih bermain bola meski matahari cukup terik.

“Kau pernah berpikir,” kata Erlangga perlahan, “kalau rumah baca ini bisa menjadi lebih dari sekadar tempat anak-anak meminjam buku?”

Khinanti menoleh. “Maksudmu?”

“Bisa menjadi tempat belajar tambahan. Tempat remaja berdiskusi. Tempat ibu-ibu belajar keterampilan. Tempat pemuda merencanakan kegiatan. Tempat warga saling bertukar informasi.”

Khinanti memandang bangunan kecil di samping mereka.

“Pernah,” jawabnya. “Tapi untuk membuat semua itu, kita perlu orang, waktu, dan biaya.”

“Tidak semua harus dimulai dengan biaya besar.”

“Kau selalu mengatakan itu.”

“Karena memang begitu.”

Khinanti tersenyum tipis. “Kau masih keras kepala.”

“Bukan keras kepala. Aku hanya percaya bahwa banyak hal bisa dimulai dari yang sederhana.”

“Seperti enam meja belajar?”

“Seperti enam meja belajar.”

Khinanti menatap meja-meja kecil yang tampak dari jendela rumah baca. Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa meja itu dibuat dari papan biasa. Namun, mereka merasakan manfaatnya. Bagi Khinanti, hal kecil semacam itu memang dapat menjadi awal.

“Apa rencanamu?” tanyanya.

Erlangga mengeluarkan buku catatan hitam dari tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang telah dipenuhi tulisan.

“Aku memikirkan beberapa kegiatan,” katanya. “Bukan untuk langsung dijalankan semua. Kita pilih yang paling mungkin.”

Ia menunjukkan catatan itu kepada Khinanti.

Di sana tertulis beberapa gagasan:

  1. Kelas Belajar Sore untuk anak-anak yang membutuhkan pendampingan pelajaran.
  2. Kelas Keterampilan Remaja seperti komputer dasar, menulis, membuat poster, dan pengelolaan media sederhana.
  3. Kelompok Pemuda Peduli Desa untuk kegiatan gotong royong, kebersihan lingkungan, olahraga, dan kerja sosial.
  4. Kebun Pangan Keluarga bersama kelompok ibu-ibu untuk menanam sayur, cabai, dan tanaman obat.
  5. Pojok Informasi Desa yang memuat pengumuman kegiatan, jadwal pelayanan, serta informasi pendidikan dan kesehatan.
  6. Forum Warga Bulanan agar masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan dan persoalan secara terbuka.

Khinanti membaca daftar itu dengan perlahan.

“Ini bagus,” katanya. “Tapi juga cukup banyak.”

“Kita tidak harus menjalankan semuanya.”

“Kalau begitu, mana yang paling penting?”

Erlangga berpikir sejenak. “Menurutku, mulai dari anak-anak dan pemuda. Karena mereka yang paling mudah diajak bergerak.”

Khinanti mengangguk. “Anak-anak memang perlu pendampingan. Pemuda juga banyak yang tidak punya kegiatan.”

“Jatmiko bilang banyak pemuda menghabiskan waktu di warung kopi atau pergi ke kecamatan untuk mencari kerja serabutan.”

“Karena mereka merasa tidak ada yang bisa dilakukan di desa.”

“Kalau begitu, kita buat sesuatu yang membuat mereka merasa dibutuhkan.”

Khinanti menutup buku catatan itu.

“Tidak mudah mengajak pemuda,” katanya. “Mereka sudah sering diajak rapat, tapi biasanya hanya datang di awal. Setelah itu, kegiatan berhenti karena tidak ada yang mengurus.”

“Kalau mereka dilibatkan sejak awal, mungkin berbeda.”

“Kau yakin?”

“Tidak,” jawab Erlangga jujur. “Tapi aku ingin mencoba.”

Khinanti memandangnya cukup lama. Ia mulai memahami bahwa Erlangga tidak datang dengan keyakinan bahwa ia dapat menyelesaikan semua masalah. Ia datang dengan kesediaan untuk belajar dan mencoba.

Itu membuatnya sedikit lebih percaya.

Sore harinya, Erlangga dan Khinanti mengunjungi rumah Jatmiko. Rumah itu berada di dekat bengkel kecil milik pamannya. Di halaman, beberapa pemuda sedang duduk sambil memperbaiki sepeda motor dan berbincang santai.

Jatmiko sedang mengencangkan baut motor ketika melihat mereka datang.

“Wah, lengkap sekali,” katanya. “Ada urusan penting, ya?”

“Ada,” jawab Erlangga. “Kami ingin bicara soal kegiatan pemuda.”

Beberapa pemuda yang duduk di dekat bengkel menoleh. Ada Beni, anak muda yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan; Ardi, pemain bola desa yang dikenal cukup aktif; dan Dimas, pemuda pendiam yang baru pulang dari bekerja di kota tambang.

“Kegiatan apa?” tanya Beni sambil mengusap tangannya yang hitam oleh oli.

“Kami ingin mengadakan pertemuan kecil,” kata Erlangga. “Bukan rapat resmi. Hanya ngobrol tentang apa yang bisa dilakukan pemuda di desa.”

Ardi tertawa kecil. “Biasanya kalau sudah ngomong kegiatan pemuda, ujung-ujungnya bersih-bersih lapangan atau disuruh bantu acara desa.”

“Kalau itu memang perlu, kenapa tidak?” jawab Erlangga.

“Bukan tidak mau,” kata Ardi. “Tapi setelah selesai, ya sudah. Tidak ada kelanjutannya.”

Khinanti melangkah sedikit ke depan.

“Kalau kalian diberi kesempatan memilih kegiatan sendiri, kalian ingin melakukan apa?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat mereka diam.

Beni mengangkat bahu. “Entahlah. Yang penting ada manfaatnya.”

“Manfaat seperti apa?” tanya Khinanti.

“Kalau bisa dapat keterampilan, bagus. Biar tidak cuma jadi buruh harian.”

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Komputer. Banyak kerjaan sekarang minta bisa komputer. Di kota, aku lihat orang yang bisa bikin desain atau urus data lebih mudah dapat kerja.”

Ardi menambahkan, “Kalau ada kegiatan olahraga juga bagus. Anak-anak muda di sini sebenarnya suka bola. Tapi lapangan tidak terurus.”

Erlangga mengangguk sambil mencatat.

“Bagaimana kalau kita mulai dari pertemuan pemuda minggu depan?” katanya. “Kita bahas tiga hal: kegiatan olahraga, pelatihan keterampilan, dan gotong royong memperbaiki lingkungan.”

“Di mana?” tanya Beni.

“Di Rumah Baca Harapan atau di beranda sekolah.”

“Kalau di rumah baca, anak-anak tidak terganggu?” tanya Dimas.

Khinanti menjawab, “Bisa di beranda sekolah setelah sore. Anak-anak biasanya sudah pulang.”

Jatmiko berdiri dan mengusap tangannya dengan kain.

“Kalau begitu, aku yang ajak teman-teman,” katanya. “Tapi jangan terlalu resmi. Kalau terlalu resmi, mereka malas datang.”

“Setuju,” kata Erlangga.

“Dan sediakan kopi,” tambah Ardi.

Khinanti tersenyum. “Kopi bisa diusahakan.”

Pembicaraan itu berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Para pemuda mulai menyampaikan keluhan mereka tentang desa: jalan yang rusak, sulitnya mencari pekerjaan, kurangnya kegiatan, dan perasaan bahwa suara mereka tidak pernah dianggap penting.

Erlangga mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Ia menyadari bahwa selama ini pemuda desa bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk menentukan peran mereka sendiri.

Saat matahari mulai tenggelam, Erlangga dan Khinanti berjalan pulang bersama melewati jalan kecil di samping lapangan. Langit sore berwarna jingga. Di kejauhan, terdengar suara anak-anak memanggil teman-temannya untuk bermain.

“Kau lihat?” kata Erlangga. “Mereka punya banyak gagasan.”

Khinanti mengangguk. “Mereka hanya butuh seseorang yang mau mendengar.”

“Kalau begitu, kita dengarkan.”

Khinanti berhenti sejenak.

“Kita?” tanyanya.

Erlangga menoleh. “Iya. Aku tidak bisa melakukan ini sendiri.”

Khinanti memandang jalan di depan mereka. Kata kita terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang hangat dalam kalimat itu. Selama ini, ia menjalankan Rumah Baca Harapan hampir sendirian. Sari memang sering membantu, begitu pula beberapa ibu kader. Namun, tidak banyak orang yang benar-benar ingin menjadikan tempat itu sebagai ruang bersama.

“Aku akan membantu,” katanya akhirnya. “Tapi satu syarat.”

“Apa?”

“Jangan membuatku menyesal karena percaya lagi.”

Erlangga menatapnya dengan sungguh-sungguh.

“Aku tidak akan pergi tanpa kabar lagi.”

Khinanti tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkahnya.

Namun, untuk pertama kalinya sejak Erlangga pulang, langkah mereka berjalan searah tanpa terasa canggung.

Di belakang mereka, beranda sekolah yang sederhana mulai diselimuti cahaya senja. Tempat itu belum menjadi pusat kegiatan. Belum menjadi ruang besar bagi perubahan. Namun, dari beranda yang sepi itu, gagasan-gagasan kecil mulai lahir.

Gagasan tentang anak-anak yang belajar lebih giat.

Tentang pemuda yang kembali percaya pada kemampuannya.

Tentang warga yang tidak lagi hanya menunggu.

Dan tentang dua orang yang perlahan belajar bahwa membangun desa tidak selalu dimulai dari proyek besar.

Kadang, semuanya berawal dari sebuah meja belajar, secangkir teh, dan keberanian untuk berkata: kita bisa mencoba.

 

BAB VI

Pemuda yang Kehilangan Arah

Sore itu, beranda sekolah dasar Desa Suka Makmur tampak lebih ramai daripada biasanya.

Beberapa kursi plastik disusun seadanya. Sebagian pemuda duduk di lantai beralas tikar, sementara yang lain memilih bersandar di tiang-tiang kayu. Di sudut beranda, Jatmiko menyiapkan termos air panas, beberapa gelas, dan sebungkus besar kopi sachet. Tidak ada meja rapat, tidak ada pengeras suara, dan tidak ada susunan acara yang resmi.

Namun, bagi Erlangga, pertemuan sederhana itu jauh lebih penting daripada rapat besar yang pernah ia hadiri di kota.

Satu per satu pemuda datang.

Beni hadir dengan kaus yang masih berdebu semen karena baru pulang dari pekerjaan bangunan. Ardi datang membawa bola di bawah lengannya. Dimas mengenakan jaket hitam lusuh dan duduk agak jauh dari kerumunan. Ada pula Fajar, Roni, Bagas, Ilham, dan beberapa pemuda lain yang selama ini lebih sering terlihat di warung kopi atau di pinggir lapangan ketika sore.

Khinanti datang bersama Sari membawa gorengan dan pisang rebus. Mereka meletakkan makanan itu di atas tikar.

“Jangan habiskan sebelum pembicaraan dimulai,” kata Sari sambil tersenyum.

“Kalau begitu, cepat mulai,” jawab Ardi, membuat beberapa orang tertawa.

Erlangga berdiri di depan mereka. Ia tidak membawa map, tidak membawa proposal, dan tidak membawa pidato panjang. Hanya buku catatan hitam yang selalu ia simpan di dalam tas.

“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Aku tidak mengundang kalian untuk rapat resmi. Aku hanya ingin mendengar. Kalau kita ingin membuat kegiatan pemuda, harus dimulai dari apa yang kalian butuhkan, bukan dari apa yang aku pikir paling baik.”

Beberapa pemuda saling pandang. Mereka tampak belum terbiasa mendengar kalimat seperti itu.

“Jadi, siapa yang mau mulai?” tanya Erlangga.

Hening.

Jatmiko mengangkat tangan. “Aku mulai, ya. Menurutku, pemuda di sini butuh kegiatan yang jelas. Jangan cuma kalau ada acara tujuh belasan atau kerja bakti baru dicari.”

“Setuju,” kata Beni. “Kalau ada kerjaan, kami mau ikut. Tapi jangan hanya disuruh angkat kursi dan pasang tenda.”

Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut.

Erlangga mengangguk. “Kalau bukan itu, kalian ingin apa?”

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.

“Aku ingin belajar komputer,” katanya pelan. “Di tempat kerja dulu, banyak yang bisa dapat kerja lebih baik karena bisa pakai komputer. Aku tidak perlu langsung ahli. Paling tidak tahu mengetik, bikin surat, atau buat desain sederhana.”

“Komputer dari mana?” tanya Roni.

“Bisa pinjam?” jawab Dimas.

“Pinjam dari siapa?” Roni kembali bertanya.

Suasana kembali hening.

Khinanti kemudian berkata, “Di sekolah ada dua komputer lama. Satu masih bisa dipakai, satu lagi kadang hidup kadang tidak. Kalau kepala sekolah mengizinkan, mungkin bisa digunakan sore hari.”

“Kalau listriknya mati bagaimana?” tanya Bagas.

“Kalau listrik mati, kita belajar yang lain,” jawab Erlangga. “Yang penting mulai dulu.”

Ardi mengangkat bola yang dibawanya.

“Kalau aku, ingin lapangan diperbaiki,” katanya. “Anak-anak muda sebenarnya banyak yang suka bola. Tapi rumputnya tinggi, gawangnya rusak, dan kalau hujan lapangannya jadi kubangan.”

“Bola tidak bikin kita punya pekerjaan,” kata Beni.

“Tidak langsung,” jawab Ardi. “Tapi kalau ada kegiatan olahraga, pemuda tidak cuma nongkrong. Bisa lebih kompak.”

Jatmiko mengangguk. “Itu benar. Dulu kita sering main bola. Sekarang lapangan saja sudah seperti kebun.”

Fajar yang duduk di dekat tiang kayu ikut bicara. “Kalau boleh, ada juga pelatihan usaha kecil. Misalnya servis motor, las, membuat kerajinan, atau cara jualan lewat telepon.”

“Jualan lewat telepon?” Roni tertawa. “Teleponku saja masih tombol.”

“Bukan teleponmu,” jawab Fajar. “Sekarang banyak orang pakai media sosial. Hasil kebun, makanan, atau kerajinan bisa dipromosikan.”

Erlangga mencatat semua pendapat itu.

Ia mulai melihat pola yang jelas. Pemuda Desa Suka Makmur bukan tidak memiliki keinginan. Mereka hanya terbiasa menyimpan keinginan itu karena merasa tidak ada tempat untuk membicarakannya.

“Kita tidak mungkin menjalankan semua sekaligus,” kata Erlangga setelah beberapa saat. “Tapi kita bisa memilih langkah pertama.”

“Langkah pertama apa?” tanya Beni.

Erlangga menoleh kepada mereka satu per satu.

“Membersihkan lapangan dan lingkungan sekitar sekolah,” jawabnya. “Bukan karena itu satu-satunya kegiatan, tetapi karena kita bisa melakukannya tanpa menunggu bantuan besar. Setelah itu, kita bentuk kelompok pemuda. Dari situ, kita bisa menyusun kegiatan olahraga, belajar komputer, dan pelatihan keterampilan.”

Ardi mengangguk. “Kalau lapangan dibersihkan, aku bisa ajak anak-anak ikut.”

“Bagus,” kata Erlangga. “Kita jadwalkan hari Minggu pagi.”

“Pagi?” keluh Roni. “Hari Minggu itu waktu tidur.”

“Kalau begitu, kau tidur di lapangan,” sahut Jatmiko, membuat suasana kembali riuh oleh tawa.

Khinanti yang sejak tadi mendengarkan akhirnya berbicara.

“Selain membersihkan lapangan, bagaimana kalau kita juga membuat kegiatan untuk anak-anak?” katanya. “Mereka bisa ikut memungut sampah, menanam bunga, atau membuat poster tentang menjaga lingkungan.”

“Itu bagus,” kata Sari. “Ibu-ibu juga bisa membantu menyiapkan makanan sederhana.”

“Jangan sampai ibu-ibu yang bekerja lebih banyak daripada pemudanya,” ujar Khinanti sambil memandang para pemuda.

Beni mengangkat kedua tangannya. “Tenang, Kak. Kali ini kami yang kerja.”

Pertemuan sore itu berakhir ketika langit mulai gelap. Tidak ada keputusan besar, tidak ada tanda tangan, dan tidak ada janji muluk. Namun, sebelum pulang, mereka sepakat membentuk kelompok sementara bernama Pemuda Harapan Suka Makmur.

Jatmiko dipilih menjadi koordinator lapangan karena paling mengenal banyak pemuda. Ardi bertanggung jawab pada kegiatan olahraga. Dimas diminta membantu menyiapkan rencana kelas komputer dasar. Beni dan Fajar mengurus peralatan kerja bakti. Erlangga diminta membantu menyusun kegiatan, sementara Khinanti dan Sari mendampingi kegiatan anak-anak serta melibatkan kelompok ibu-ibu.

Ketika semua mulai beranjak pulang, Erlangga memandangi daftar nama yang baru ditulis di buku catatannya.

Jumlahnya tidak banyak.

Hanya dua belas orang.

Namun, dua belas orang yang mau bergerak jauh lebih berarti daripada seratus orang yang hanya menunggu.

Minggu pagi tiba dengan langit cerah.

Sejak pukul tujuh, lapangan desa yang selama ini dipenuhi rumput liar mulai ramai. Pemuda datang membawa parang, cangkul, sapu lidi, karung, dan beberapa alat seadanya. Jatmiko mengatur pembagian tugas dengan suara lantang. Ardi bersama beberapa pemuda membersihkan area gawang. Beni dan Fajar memperbaiki pagar bambu yang roboh. Dimas mengumpulkan sampah plastik di sekitar lapangan.

Anak-anak juga datang membawa kantong kecil. Mereka memungut bungkus makanan dan botol plastik sambil sesekali saling berlomba siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah.

Khinanti mengawasi mereka sambil memberi arahan.

“Jangan ambil pecahan kaca dengan tangan kosong,” katanya. “Kalau menemukan yang tajam, panggil Kak Sari.”

Di bawah pohon mangga, Sari dan beberapa ibu menyiapkan air minum serta singkong rebus. Bu Ratna, Ketua PKK desa, juga datang membawa beberapa ember bibit bunga yang ia ambil dari halaman rumahnya.

“Kalau lapangannya sudah bersih, kita tanam bunga di pinggir jalan,” katanya.

Kegiatan itu mulai menarik perhatian warga.

Beberapa orang yang awalnya hanya lewat berhenti untuk melihat. Ada yang kemudian ikut membantu. Seorang bapak membawa mesin pemotong rumput. Seorang ibu menyumbangkan beberapa kantong bibit cabai. Anak-anak semakin bersemangat ketika melihat lapangan yang perlahan berubah.

Erlangga bekerja bersama Beni mengangkat tumpukan rumput kering ke dalam karung. Keringat membasahi kemejanya. Tangannya mulai kotor oleh tanah. Namun, wajahnya tampak lega.

Pak Sastro datang menjelang siang membawa dua cangkul tambahan.

Erlangga menoleh dengan terkejut.

“Bapak?” katanya.

Pak Sastro menyerahkan salah satu cangkul kepada seorang pemuda.

“Cangkul kalian kurang,” katanya singkat.

Erlangga tersenyum. “Terima kasih, Pak.”

Pak Sastro tidak langsung menjawab. Ia memandang lapangan yang mulai bersih, lalu melihat anak-anak yang sedang menanam bunga bersama Khinanti.

“Kalau mau membangun sesuatu,” katanya pelan, “jangan hanya bicara. Tangan juga harus ikut kotor.”

Erlangga mengangguk.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pengakuan kecil dari ayahnya.

Menjelang tengah hari, lapangan desa tampak berbeda. Rumput liar telah dipotong. Sampah-sampah dikumpulkan. Gawang bambu yang rusak mulai diperbaiki. Di pinggir jalan, anak-anak menanam bunga dan tanaman obat dalam botol-botol bekas yang dicat seadanya.

Tidak sempurna.

Namun, hidup.

Saat semua orang beristirahat, Pak Darmawan datang bersama salah seorang perangkat desa. Ia melihat kegiatan itu dengan wajah cukup terkejut.

“Ramai juga,” katanya.

“Alhamdulillah, Pak,” jawab Jatmiko. “Kami bersih-bersih lapangan.”

Pak Darmawan mengangguk. “Bagus. Pemuda memang harus aktif.”

Erlangga menghampiri kepala desa itu.

“Pak, kalau nanti kegiatan ini berlanjut, kami berharap bisa mendapat dukungan dari desa. Tidak harus besar. Mungkin alat kebersihan, cat untuk gawang, atau peminjaman ruangan untuk pelatihan.”

Pak Darmawan tersenyum tipis. “Bisa dibicarakan. Yang penting kegiatannya berjalan dulu.”

“Baik, Pak.”

Pak Darmawan memandang sekeliling. “Kalau pemuda kompak seperti ini, desa tentu terbantu.”

Namun, tidak semua orang melihat kegiatan itu dengan rasa senang.

Di seberang jalan, Pak Wiryo berdiri di dekat mobil pikap miliknya. Ia tidak ikut mendekat. Ia hanya memandang dari jauh, memperhatikan Erlangga yang berbicara dengan Pak Darmawan, lalu memperhatikan pemuda-pemuda yang tampak semakin akrab dengan kegiatan baru mereka.

Wajahnya sulit dibaca.

Beberapa saat kemudian, ia masuk ke mobil dan pergi tanpa menyapa siapa pun.

Khinanti yang melihatnya dari kejauhan berjalan mendekati Erlangga.

“Kau lihat Pak Wiryo?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Dia tidak suka kalau ada sesuatu yang bergerak tanpa melalui orang-orang tertentu.”

Erlangga menatap jalan tempat mobil pikap itu menghilang.

“Ini hanya kerja bakti.”

“Bagi kita, mungkin. Tapi bagi orang yang terbiasa mengatur arah, kegiatan kecil pun bisa dianggap ancaman.”

Erlangga menghela napas.

“Kalau begitu, kita harus lebih hati-hati.”

Khinanti mengangguk. “Hati-hati, tapi jangan takut.”

Menjelang sore, setelah semua pekerjaan selesai, anak-anak mulai bermain bola di lapangan yang lebih bersih. Ardi berdiri di dekat gawang sambil mengatur permainan. Teriakan dan tawa mereka terdengar hingga ke jalan utama desa.

Raka juga ikut bermain.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tampak tersenyum lepas. Erlangga melihatnya berlari mengejar bola, lalu jatuh di tanah dan bangkit lagi tanpa mengeluh.

Khinanti berdiri di samping Erlangga.

“Lihat Raka,” katanya. “Hari ini dia datang lebih awal daripada anak-anak lain.”

“Dia suka bola,” jawab Erlangga.

“Mungkin kita bisa mengajak dia membantu kegiatan pemuda nanti.”

“Pelan-pelan,” kata Erlangga, mengingat ucapan Khinanti sebelumnya.

Khinanti tersenyum.

Sore itu, lapangan desa bukan lagi tempat yang dipenuhi rumput liar dan sampah. Lapangan itu kembali menjadi ruang bermain, ruang bertemu, dan ruang bagi pemuda untuk merasa bahwa mereka masih memiliki tempat di kampung sendiri.

Erlangga memandangi mereka dengan hati yang penuh harapan.

Ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Kegiatan hari itu tidak serta-merta memperbaiki jalan rusak, membuka lapangan pekerjaan, atau menghapus semua persoalan desa. Namun, setidaknya ada satu hal yang berubah.

Pemuda yang selama ini kehilangan arah mulai menemukan alasan untuk berkumpul.

Bukan hanya untuk menghabiskan waktu.

Melainkan untuk mulai membangun jalan mereka sendiri.

 

BAB VII

Rumah Baca dan Mimpi Anak Desa

Sejak kegiatan bersih-bersih lapangan, suasana Desa Suka Makmur terasa sedikit berbeda.

Perubahan itu belum tampak besar. Jalan desa masih berlubang. Saluran air masih tersumbat di beberapa titik. Sebagian warga tetap berangkat ke kebun sebelum matahari terbit dan pulang menjelang senja dengan tubuh lelah. Namun, ada percakapan baru yang mulai terdengar di warung kopi, di teras rumah, dan di halaman sekolah.

Orang-orang mulai membicarakan kegiatan pemuda.

Mereka membicarakan lapangan yang kini lebih bersih. Mereka membicarakan anak-anak yang menanam bunga di pinggir jalan. Mereka membicarakan Erlangga yang pulang dari kota, lalu ikut mengangkat rumput dan sampah bersama warga.

Sebagian menyambutnya dengan senang.

Sebagian lagi masih menunggu, ingin melihat apakah semua itu hanya semangat sesaat atau benar-benar akan bertahan.

Di Rumah Baca Harapan, Khinanti memilih tidak terlalu memikirkan komentar orang. Baginya, anak-anak tetap harus belajar. Buku-buku tetap harus dirapikan. Meja-meja kecil tetap harus dibersihkan. Dan setiap sore, ketika anak-anak datang membawa tugas sekolah atau sekadar ingin membaca cerita, rumah baca itu harus tetap terbuka.

Hari itu, hujan turun sejak siang.

Langit menjadi gelap lebih cepat. Jalan tanah di depan sekolah berubah menjadi licin. Beberapa anak tidak datang karena orang tua mereka khawatir hujan semakin deras. Namun, beberapa anak tetap hadir, berjalan sambil membawa payung atau mengenakan jas hujan tipis.

Lila datang dengan rambut sedikit basah. Ia memeluk sebuah buku pelajaran di dadanya.

“Kak Khinanti, aku ada tugas,” katanya.

“Tugas apa?”

“Buat cerita tentang cita-cita.”

Khinanti tersenyum. “Sudah tahu mau jadi apa?”

Lila menggeleng. “Aku ingin jadi banyak.”

“Banyak itu seperti apa?”

“Aku ingin jadi guru, dokter, penulis, dan juga orang yang bisa pergi ke bulan.”

Anak-anak lain tertawa mendengar jawaban itu.

Khinanti tidak ikut tertawa. Ia justru mengambil sebuah buku tulis dan memberikannya kepada Lila.

“Kalau begitu, tulis semuanya,” katanya. “Tidak ada yang salah dengan punya banyak cita-cita.”

Lila menerima buku itu dengan wajah berseri.

Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri. Ia datang terlambat dengan celana yang bagian bawahnya basah oleh lumpur. Di tangannya ada buku tulis yang sudah mulai robek di bagian sampul.

Khinanti mendekatinya.

“Kau baru pulang dari kebun?” tanyanya.

Raka mengangguk.

“Bapak minta bantu angkat singkong.”

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Besok sekolah?”

Raka tidak langsung menjawab.

Khinanti duduk di sampingnya. “Raka, Kakak tidak mau memaksa. Tapi Kakak ingin tahu, kenapa kau makin jarang masuk sekolah?”

Raka memandangi lantai.

“Teman-teman sudah jauh pelajarannya,” katanya pelan. “Aku kalau masuk, tidak mengerti. Guru tanya, aku diam. Lebih baik bantu Bapak.”

“Kalau kau tidak mengerti, kita bisa belajar pelan-pelan di sini.”

Raka menggeleng. “Aku tidak sepintar yang lain.”

“Kau bukan tidak pintar,” kata Khinanti. “Kau hanya tertinggal karena terlalu banyak hal yang harus kau pikirkan.”

Raka tidak menjawab lagi.

Khinanti tidak memaksa. Ia tahu, anak seperti Raka membutuhkan waktu. Mereka tidak bisa diselamatkan hanya dengan nasihat. Mereka perlu diyakinkan bahwa ada orang yang benar-benar mau menemani mereka berjalan.

Sore itu, Erlangga datang membawa sebuah tas ransel besar. Bajunya sedikit basah karena hujan. Di belakangnya, Jatmiko membawa sebuah kotak kardus.

“Assalamu’alaikum,” ucap Erlangga dari pintu.

“Wa’alaikumussalam,” jawab anak-anak.

“Ada apa itu, Abang?” tanya Lila dengan penuh rasa ingin tahu.

Erlangga meletakkan tasnya di atas meja.

“Ada beberapa alat belajar,” jawabnya. “Tapi sebelum dibuka, semua harus janji satu hal.”

“Janji apa?” tanya anak-anak serempak.

“Dipakai bersama, dijaga bersama, dan tidak berebut.”

Anak-anak mengangguk cepat.

Erlangga membuka kardus itu. Di dalamnya terdapat beberapa buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, pensil warna, serta dua papan tulis kecil yang dapat dipindahkan. Tidak semuanya baru, tetapi masih bersih dan layak digunakan.

“Ini dari mana?” tanya Khinanti.

“Ada teman di kota yang membantu mengumpulkan. Aku juga membeli sebagian,” jawab Erlangga.

Khinanti menatapnya. “Kau menghubungi teman-temanmu?”

“Iya. Aku cerita tentang rumah baca ini. Ternyata ada beberapa yang mau membantu.”

“Jangan sampai anak-anak menganggap bantuan selalu datang dari luar,” kata Khinanti.

Erlangga mengangguk. “Aku setuju. Karena itu, aku ingin anak-anak juga belajar menjaga dan mengembangkan apa yang sudah ada.”

Ia lalu menempelkan sebuah kertas besar di dinding.

Di bagian atas tertulis:

PETA MIMPI ANAK DESA

“Mulai hari ini,” kata Erlangga, “setiap orang boleh menulis atau menggambar cita-citanya di kertas kecil. Tidak harus hebat. Tidak harus sama dengan orang lain. Setelah itu, kita tempel di sini.”

Anak-anak tampak antusias.

“Aku mau jadi pemain bola!” teriak seorang anak laki-laki.

“Aku mau jadi dokter!” sahut yang lain.

“Aku mau jadi polisi!”

“Aku mau jadi guru seperti Kak Khinanti!”

“Aku mau jadi pembuat kue!” kata seorang anak perempuan dari belakang.

Khinanti tersenyum melihat keramaian itu. Ia mengambil kertas-kertas kecil dan membagikannya kepada anak-anak.

“Tidak perlu malu,” katanya. “Tulis apa yang benar-benar kalian inginkan.”

Anak-anak mulai menulis dan menggambar. Ada yang menulis dengan huruf besar-besar. Ada yang menggambar rumah sakit, pesawat, sekolah, mobil, kebun, dan lapangan bola. Lila menggambar roket besar dengan bintang-bintang di sekelilingnya.

Raka tidak segera menulis.

Ia hanya memegang pensil sambil memandangi kertas kosong di depannya.

Erlangga menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Belum tahu mau menulis apa?” tanya Erlangga.

Raka menggeleng.

“Tidak apa-apa. Dulu aku juga pernah bingung.”

“Abang dulu ingin jadi apa?”

Erlangga berpikir sejenak. “Dulu aku ingin jadi orang yang bisa membuat desa ini lebih baik.”

“Sudah jadi?”

Pertanyaan itu membuat Erlangga tersenyum kecil.

“Belum,” jawabnya jujur. “Aku masih belajar.”

Raka menatapnya.

“Kalau aku tidak punya cita-cita bagaimana?”

“Kau pasti punya. Mungkin belum berani mengucapkannya.”

Raka kembali memandang kertas kosong.

“Aku ingin bisa memperbaiki motor,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Biar bisa punya bengkel. Bapak tidak perlu kerja terlalu berat di kebun.”

Erlangga mengangguk. “Itu cita-cita yang bagus.”

“Tapi aku tidak tahu caranya.”

“Tidak tahu sekarang bukan berarti tidak bisa nanti.”

Erlangga mengambil pensil warna dan menyerahkannya kepada Raka.

“Coba gambar bengkelmu.”

Raka tampak ragu. Namun, beberapa saat kemudian ia mulai menggambar. Garis-garisnya masih sederhana, tetapi terlihat sebuah bangunan kecil dengan papan nama, sepeda motor, dan seorang laki-laki berdiri di depannya.

Khinanti yang memperhatikan dari jauh merasa dadanya menghangat.

Ia tahu, tidak semua anak membutuhkan jawaban. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa mimpi mereka layak didengar.

Hujan mulai reda menjelang sore. Cahaya matahari menembus awan dan masuk melalui jendela rumah baca. Dinding yang tadinya tampak kusam kini dipenuhi kertas-kertas kecil berwarna-warni.

Ada mimpi menjadi guru.

Ada mimpi menjadi dokter.

Ada mimpi menjadi petani yang memiliki kebun besar.

Ada mimpi menjadi pemain bola.

Ada mimpi menjadi polisi.

Ada mimpi menjadi penulis.

Ada pula mimpi sederhana: membantu orang tua, membuat rumah yang nyaman, atau bisa membaca buku sebanyak mungkin.

Di antara semua itu, gambar bengkel milik Raka menempel di bagian bawah.

Khinanti berdiri di depan Peta Mimpi Anak Desa bersama Erlangga.

“Dinding ini akan penuh,” kata Erlangga.

“Semoga,” jawab Khinanti.

“Kalau penuh, kita buat yang lebih besar.”

Khinanti menoleh kepadanya. “Kau selalu berpikir jauh.”

“Karena kalau tidak, kita akan terlalu mudah menyerah.”

Anak-anak mulai pulang ketika hujan benar-benar berhenti. Mereka membawa buku, pensil, dan semangat baru. Lila bahkan berulang kali menoleh ke arah dinding untuk memastikan gambar roketnya masih menempel.

Raka menjadi salah satu anak terakhir yang pulang.

Sebelum keluar, ia berhenti di pintu dan menoleh kepada Khinanti.

“Kak,” katanya.

“Iya?”

“Besok aku mau datang lagi.”

Khinanti tersenyum. “Kakak tunggu.”

Setelah Raka pergi, Rumah Baca Harapan kembali sepi. Hanya suara tetesan air dari atap yang masih terdengar. Erlangga membantu Khinanti merapikan meja dan mengumpulkan pensil warna.

“Kau lihat?” kata Khinanti. “Raka mau datang lagi.”

“Itu langkah kecil,” jawab Erlangga.

“Bagi anak yang hampir menyerah sekolah, langkah kecil bisa berarti besar.”

Erlangga mengangguk.

Mereka lalu duduk di beranda rumah baca. Udara setelah hujan terasa sejuk. Tanah di halaman mengeluarkan aroma khas yang mengingatkan Erlangga pada masa kecilnya.

“Khinanti,” katanya setelah beberapa saat, “aku ingin membuat kelas belajar sore yang lebih teratur.”

Khinanti menoleh. “Setiap hari?”

“Tidak perlu setiap hari. Mungkin tiga kali seminggu. Kita bisa bagi kelompok berdasarkan usia. Anak-anak yang kesulitan membaca, berhitung, atau mengerjakan tugas bisa dibantu.”

“Siapa yang mengajar?”

“Kau, aku, Sari, dan kalau bisa beberapa pemuda yang mau membantu. Dimas mungkin bisa mengajarkan komputer dasar kalau nanti sekolah mengizinkan memakai komputer.”

Khinanti memikirkan gagasan itu.

“Kalau kegiatan terlalu banyak, kita bisa kewalahan,” katanya.

“Kita mulai kecil saja. Sepuluh anak, dua jam, tiga kali seminggu.”

Khinanti mengangguk perlahan. “Baik. Tapi kita harus bicara dengan orang tua mereka.”

“Setuju.”

“Dan jangan sampai kegiatan ini membuat anak-anak merasa seperti sedang dihukum karena tertinggal pelajaran.”

“Kalau begitu, kita buat suasananya menyenangkan.”

Khinanti tersenyum tipis. “Kau punya banyak cara untuk membuat sesuatu terdengar mudah.”

“Bukan mudah,” jawab Erlangga. “Hanya mungkin.”

Sore itu, sebelum pulang, mereka menempelkan satu tulisan baru di bawah Peta Mimpi Anak Desa.

“Mimpi tidak harus lahir dari tempat yang besar. Mimpi hanya membutuhkan tempat untuk dijaga.”

Beberapa hari kemudian, tulisan itu mulai dibaca oleh banyak orang.

Anak-anak membacanya sebelum masuk rumah baca.

Para ibu membacanya ketika menjemput anak.

Pemuda yang lewat di depan sekolah berhenti sejenak untuk melihat dinding penuh cita-cita.

Bahkan Pak Sastro yang suatu sore datang membawa singkong rebus untuk Erlangga, berdiri cukup lama di depan Peta Mimpi Anak Desa.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun, ketika pulang, ia membawa satu lembar kertas kecil yang terjatuh dari dinding. Di atasnya terdapat tulisan seorang anak:

Aku ingin desa kami punya sekolah yang bagus.

Pak Sastro menyimpan kertas itu di saku bajunya.

Di Desa Suka Makmur, rumah baca kecil itu perlahan menjadi lebih dari sekadar tempat meminjam buku.

Ia menjadi tempat anak-anak belajar percaya pada diri sendiri.

Tempat pemuda mulai melihat bahwa mereka dapat menjadi bagian dari perubahan.

Dan bagi Erlangga serta Khinanti, rumah baca itu menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari jalan beton, gedung besar, atau anggaran yang banyak.

Kadang, pembangunan dimulai dari satu anak yang berani menuliskan mimpinya.

Lalu dari satu orang dewasa yang memilih untuk tidak membiarkan mimpi itu hilang.

 

BAB VIII

Jalan yang Tidak Selalu Mulus

Kelas belajar sore mulai berjalan pada minggu berikutnya.

Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, Rumah Baca Harapan kembali dipenuhi suara anak-anak. Mereka datang membawa buku pelajaran, pensil, dan berbagai pertanyaan yang kadang sederhana, kadang sulit dijawab. Ada yang ingin belajar membaca lebih lancar, ada yang kesulitan menghitung pecahan, ada pula yang hanya ingin ditemani mengerjakan tugas sekolah.

Khinanti mengatur anak-anak berdasarkan usia dan kemampuan belajar. Anak-anak kelas rendah duduk di tikar dekat jendela. Mereka belajar membaca suku kata, mengenal angka, dan menulis kalimat sederhana. Anak-anak yang lebih besar menggunakan meja-meja kayu untuk mengerjakan tugas matematika, bahasa Indonesia, dan ilmu pengetahuan alam.

Erlangga membantu di kelompok anak-anak sekolah menengah. Ia tidak selalu mampu menjawab semua pertanyaan, tetapi ia berusaha membuat pelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

“Kalau satu kebun menghasilkan dua puluh karung singkong,” katanya suatu sore kepada Raka dan beberapa temannya, “lalu lima karung dijual dengan harga tertentu, bagaimana kita menghitung pendapatannya?”

Raka yang biasanya diam mulai mencoba menjawab.

“Dikalikan harga satu karung?” katanya ragu.

“Betul,” jawab Erlangga. “Nah, matematika bukan hanya soal angka di buku. Matematika juga membantu kita menghitung hasil kerja orang tua kita.”

Raka tersenyum kecil.

Dimas datang setiap Kamis membawa sebuah laptop lama milik sepupunya. Laptop itu tidak terlalu cepat, beberapa tombolnya mulai pudar, dan baterainya hanya bertahan sebentar. Namun, bagi anak-anak dan pemuda yang belum pernah menggunakan komputer, benda itu terasa seperti jendela menuju dunia baru.

Mereka belajar menyalakan komputer, mengetik nama sendiri, membuat surat sederhana, dan mengenal cara menyimpan dokumen. Kadang mereka berebut ingin mencoba. Kadang layar tiba-tiba macet. Kadang listrik padam sebelum pelajaran selesai.

Namun, tidak ada yang benar-benar mengeluh.

“Besok lanjut lagi,” kata Dimas setiap kali kelas terhenti.

Pelan-pelan, Rumah Baca Harapan menjadi semakin ramai.

Para ibu mulai datang untuk melihat kegiatan anak-anak. Beberapa dari mereka membawa makanan kecil. Ada yang menyumbangkan buku bekas. Ada yang menawarkan diri membantu membersihkan ruangan. Bu Ratna dari PKK bahkan mengusulkan agar suatu hari rumah baca juga digunakan untuk pelatihan membuat makanan ringan dan kerajinan.

Khinanti menyambut semua itu dengan hati-hati. Ia senang karena dukungan mulai tumbuh, tetapi ia juga tidak ingin rumah baca kehilangan arah.

“Kita boleh berkembang,” katanya kepada Erlangga suatu sore, “tapi jangan sampai semua kegiatan masuk tanpa pengaturan. Anak-anak tetap harus menjadi pusatnya.”

Erlangga mengangguk. “Kita buat jadwal yang jelas. Anak-anak sore hari, pemuda malam tertentu, ibu-ibu pada akhir pekan.”

“Dan semua harus bergantian menjaga kebersihan.”

“Setuju.”

Mereka mulai menulis jadwal di papan tulis besar. Di bagian atas, Khinanti menuliskan:

RUMAH BACA HARAPAN

Ruang Belajar, Ruang Bertumbuh, Ruang Bersama

Namun, di balik perkembangan kecil itu, tidak semua hal berjalan mulus.

Suatu pagi, Khinanti datang ke rumah baca lebih awal karena ingin menyiapkan bahan belajar. Ketika membuka pintu, ia terkejut melihat beberapa buku berserakan di lantai. Salah satu meja kayu bergeser dari tempatnya. Di dinding, beberapa kertas Peta Mimpi Anak Desa terlepas dan basah karena terkena air hujan dari jendela yang tidak tertutup rapat.

Khinanti segera memeriksa ruangan.

Tidak ada barang berharga yang hilang. Tidak ada kerusakan besar. Namun, beberapa buku baru tampak tercoret dan satu kotak pensil warna tidak lagi lengkap.

Ia berdiri diam cukup lama.

Pagi itu, Erlangga datang membawa beberapa lembar kertas untuk kelas belajar. Ketika melihat keadaan rumah baca, wajahnya langsung berubah.

“Ada yang masuk?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Khinanti pelan. “Atau anak-anak yang bermain di sini sore kemarin. Aku tidak tahu.”

Erlangga memeriksa jendela belakang. Salah satu kaitnya longgar.

“Ini harus diperbaiki,” katanya.

“Kita perbaiki nanti.”

“Bukan hanya itu. Kita perlu kunci yang lebih baik.”

Khinanti menghela napas. “Kita tidak punya banyak uang untuk semua itu.”

“Aku bisa beli.”

Khinanti menatapnya. “Tidak semua masalah harus kau selesaikan dengan uangmu.”

“Aku hanya ingin rumah baca ini aman.”

“Aku juga ingin. Tapi kalau semua kebutuhan selalu kau tanggung sendiri, orang-orang akan menganggap ini milikmu, bukan milik bersama.”

Erlangga terdiam.

Khinanti melanjutkan, “Kita harus mengajak warga ikut menjaga. Kalau ada yang merusak, warga harus merasa itu juga merusak milik mereka sendiri.”

Erlangga memandang buku-buku yang berserakan. Ia tahu Khinanti benar. Namun, melihat rumah baca dalam keadaan seperti itu membuatnya sulit menahan rasa kesal.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita ajak warga bicara.”

Siang itu, Khinanti dan Erlangga mengumpulkan beberapa anak yang biasa datang ke rumah baca. Mereka tidak ingin langsung menuduh siapa pun. Mereka hanya ingin mendengar.

“Siapa yang terakhir di sini kemarin?” tanya Khinanti.

Beberapa anak saling pandang.

Lila mengangkat tangan. “Aku pulang sebelum hujan.”

“Siapa lagi?”

Raka menunduk.

Erlangga memperhatikan anak itu.

“Raka?” tanyanya pelan.

Raka tidak menjawab.

Khinanti mendekat. “Tidak apa-apa kalau kau tahu sesuatu. Kakak tidak akan marah kalau kau berkata jujur.”

Raka menggigit bibirnya.

“Aku lihat Danu sama dua temannya di belakang rumah baca,” katanya pelan. “Mereka masuk dari jendela.”

“Danu?” Khinanti mengulang.

Danu adalah remaja berusia lima belas tahun yang sudah tidak sekolah. Ia tinggal bersama neneknya di ujung desa. Beberapa bulan terakhir, ia sering terlihat berkeliaran di sekitar warung kopi bersama dua temannya. Ia bukan anak yang dikenal jahat, tetapi ia sering membuat masalah kecil dan mudah terbawa ajakan orang lain.

“Kenapa kau tidak bilang dari kemarin?” tanya Erlangga.

Raka menunduk lebih dalam. “Aku takut.”

Khinanti menatap Erlangga, memberi isyarat agar tidak mendesak Raka.

“Terima kasih sudah jujur,” kata Khinanti lembut. “Kau sudah berani melakukan hal yang benar.”

Sore itu, Erlangga dan Khinanti pergi ke rumah Danu. Rumahnya kecil dan berada di belakang kebun singkong. Nenek Danu sedang duduk di beranda sambil memilah daun singkong.

“Assalamu’alaikum,” sapa Khinanti.

“Wa’alaikumussalam,” jawab nenek itu. “Ada apa, Nak?”

“Kami ingin bertemu Danu, Nek,” kata Erlangga.

Nenek itu memanggil cucunya.

Danu keluar dari dalam rumah dengan wajah datar. Ia mengenakan kaus lusuh dan celana pendek. Ketika melihat Erlangga serta Khinanti, wajahnya tampak sedikit tegang.

“Kami ingin bicara,” kata Khinanti.

“Aku tidak buat apa-apa,” jawab Danu cepat.

“Kami belum mengatakan kau melakukan apa,” kata Erlangga.

Danu terdiam.

Khinanti tidak langsung menuduh. Ia duduk di kursi kayu di beranda rumah itu.

“Kami hanya ingin tahu kenapa kau masuk ke Rumah Baca Harapan kemarin.”

Danu memalingkan wajah.

“Tidak ada apa-apa.”

“Buku-buku berserakan. Ada yang dicoret. Pensil warna hilang,” kata Erlangga, kali ini dengan nada lebih tegas.

Danu mengepalkan tangan.

“Aku cuma mau pinjam,” katanya akhirnya.

“Pinjam tanpa izin?” tanya Erlangga.

Danu tidak menjawab.

Neneknya menatap cucunya dengan wajah sedih. “Danu, benar begitu?”

Danu menunduk.

“Aku cuma mau ambil buku gambar,” katanya pelan. “Adik sepupuku suka gambar. Aku mau kasih dia.”

“Lalu kenapa buku-bukunya berserakan?” tanya Erlangga.

“Teman-temanku yang buat.”

“Dan pensil warnanya?”

Danu diam cukup lama.

“Aku ambil satu kotak,” katanya.

Khinanti memandangnya tanpa marah.

“Kenapa kau tidak datang saja ke rumah baca?” tanyanya.

Danu tertawa kecil, pahit. “Untuk apa? Aku sudah tidak sekolah. Anak-anak di sana pasti lihat aku aneh.”

“Tidak ada yang aneh dengan datang untuk belajar,” kata Khinanti.

“Sudah terlambat,” jawab Danu.

Kalimat itu membuat suasana menjadi sunyi.

Erlangga menatap Danu. Ia melihat sesuatu yang selama ini mungkin tidak diperhatikan banyak orang: bukan keberanian untuk berbuat salah, tetapi rasa malu karena merasa tertinggal.

“Kau masih bisa belajar,” kata Erlangga.

Danu menggeleng. “Aku tidak bisa baca lancar. Kalau disuruh baca, aku malu.”

Khinanti menarik napas pelan.

“Kalau begitu, kita mulai dari sana,” katanya.

Danu menatapnya, seolah tidak percaya.

“Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” lanjut Khinanti. “Kau dan teman-temanmu harus membantu membersihkan rumah baca, mengembalikan barang yang diambil, dan meminta maaf kepada anak-anak.”

Danu menunduk.

“Tapi setelah itu,” kata Khinanti, “kalau kau mau datang untuk belajar, pintu rumah baca tetap terbuka.”

Nenek Danu menatap Khinanti dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak,” katanya pelan. “Danu ini sebenarnya anak baik. Sejak orang tuanya pergi kerja ke luar pulau, dia berubah. Dia sering merasa tidak punya siapa-siapa.”

Danu tetap diam.

Namun, untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi tampak menantang.

Dua hari kemudian, Danu datang ke Rumah Baca Harapan bersama dua temannya. Mereka membawa sapu, ember, dan kain lap. Dengan wajah canggung, mereka membersihkan lantai, merapikan buku, dan memperbaiki jendela belakang yang longgar.

Anak-anak memperhatikan dari kejauhan.

Setelah selesai, Danu berdiri di depan mereka.

“Aku minta maaf,” katanya singkat. “Aku masuk tanpa izin dan bikin berantakan.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ejekan. Hanya keheningan.

Lila kemudian berjalan mendekat sambil membawa sebuah buku gambar.

“Kalau mau gambar, pakai ini saja,” katanya polos.

Danu tampak terkejut.

“Boleh?”

“Boleh. Tapi jangan dibawa pulang tanpa bilang.”

Beberapa anak tertawa kecil.

Danu menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Sejak hari itu, ia mulai datang ke rumah baca setiap Sabtu sore. Awalnya ia hanya duduk di pojok, melihat anak-anak belajar. Namun, Khinanti memberinya buku bacaan paling sederhana. Erlangga mengajaknya membantu memperbaiki kursi dan meja. Jatmiko sesekali mengajarkan dasar-dasar memperbaiki motor.

Pelan-pelan, Danu mulai berubah.

Ia belum banyak bicara. Ia masih sering malu ketika diminta membaca keras-keras. Namun, ia tidak lagi menghindar. Ia mulai membantu mengatur buku, menyapu halaman, dan menjaga anak-anak kecil ketika Khinanti sedang mengajar.

Bagi Erlangga, peristiwa itu menjadi pelajaran penting.

Membangun desa bukan hanya tentang membuat program baru atau memperbaiki fasilitas. Kadang, pembangunan berarti memberi kesempatan kepada seseorang yang sudah terlanjur merasa tidak berguna.

Suatu sore, setelah kelas belajar selesai, Erlangga duduk di beranda rumah baca bersama Khinanti. Matahari hampir tenggelam. Danu sedang membantu Raka membawa beberapa kursi ke dalam ruangan.

“Kau benar,” kata Erlangga.

“Benar tentang apa?”

“Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang.”

Khinanti tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengakuinya.”

“Aku masih belajar.”

“Bagus.”

Erlangga memandang halaman rumah baca yang mulai sepi.

“Aku tadi melihat Danu membantu Raka. Kalau dulu orang hanya memarahinya, mungkin dia tidak akan datang lagi.”

“Orang yang sudah lama merasa tidak diterima biasanya lebih mudah percaya bahwa dirinya memang tidak punya tempat,” kata Khinanti.

“Dan rumah baca ini memberi dia tempat.”

“Bukan hanya rumah baca,” jawab Khinanti. “Orang-orang di dalamnya juga.”

Erlangga mengangguk.

Mereka terdiam beberapa saat.

Di dinding rumah baca, Peta Mimpi Anak Desa masih penuh oleh kertas-kertas kecil. Sebagian mulai pudar. Sebagian ujungnya terlipat. Namun, tulisan-tulisan itu tetap ada.

Di antara gambar roket, sekolah, kebun, dan lapangan bola, kini muncul satu gambar baru.

Sebuah sepeda motor dengan tulisan sederhana di bawahnya:

Aku ingin bisa memperbaiki motor dan punya bengkel.

Gambar itu dibuat oleh Danu.

Erlangga memandangnya cukup lama.

Jalan menuju perubahan memang tidak selalu mulus.

Kadang ada kesalahan.

Kadang ada kekecewaan.

Kadang ada orang yang tersesat karena tidak pernah merasa memiliki tempat untuk kembali.

Namun, selama masih ada pintu yang terbuka, tangan yang mau membimbing, dan hati yang tidak mudah menghakimi, jalan itu selalu dapat ditemukan kembali.

 

BAB IX

Bisik-Bisik di Warung Kopi

Warung kopi Pak Maman berdiri di tepi jalan utama Desa Suka Makmur.

Bangunannya sederhana, berdinding papan dengan atap seng yang mulai kusam. Di depannya terdapat beberapa bangku panjang dari kayu. Di atas meja, selalu tersedia toples berisi kerupuk, kacang goreng, dan rokok. Pada pagi hari, warung itu ramai oleh warga yang hendak pergi ke kebun. Menjelang sore, tempat itu berubah menjadi ruang berkumpul bagi para pemuda, petani, dan warga yang ingin melepas lelah setelah seharian bekerja.

Di desa kecil seperti Suka Makmur, warung kopi bukan hanya tempat minum kopi.

Di sana, kabar beredar.

Di sana, pendapat tumbuh.

Dan di sana pula, kadang-kadang, sebuah niat baik dapat berubah menjadi bahan pembicaraan.

Sore itu, hujan baru saja berhenti. Jalan tanah di depan warung masih basah dan berlumpur. Beberapa motor terparkir di bawah pohon mangga. Di dalam warung, aroma kopi hitam bercampur dengan bau tanah setelah hujan.

Pak Maman sedang menyeduh kopi ketika Pak Wiryo datang bersama dua orang warga, Pak Darto dan Pak Karman. Mereka duduk di bangku paling dekat dengan jendela.

“Ramai juga sekarang Rumah Baca Harapan itu,” kata Pak Darto sambil meniup kopi panasnya.

Pak Karman mengangguk. “Anak-anak memang banyak datang. Kemarin anak saya pulang membawa buku cerita.”

“Bagus, kalau memang begitu,” jawab Pak Darto. “Tapi saya dengar Erlangga yang banyak mengurus sekarang.”

Pak Wiryo yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Dia memang kelihatan aktif,” katanya. “Rumah baca, pemuda, lapangan, kelas belajar. Semua ingin dia urus.”

Nada suaranya datar, tetapi cukup membuat Pak Darto menoleh.

“Menurut Pak Wiryo, itu tidak baik?” tanya Pak Darto.

“Bukan tidak baik,” jawab Pak Wiryo. “Hanya saja, kita harus hati-hati. Orang yang baru pulang dari kota kadang membawa banyak rencana. Awalnya ramai, setelah itu pergi lagi.”

Pak Karman mengangguk pelan. “Memang pernah ada yang begitu. Dulu ada juga yang datang membawa pelatihan, foto-foto, lalu tidak pernah muncul lagi.”

“Betul,” kata Pak Wiryo. “Jangan sampai warga terlalu berharap.”

Percakapan itu didengar oleh Ardi yang sedang duduk di ujung warung bersama Beni dan Roni. Mereka baru selesai memperbaiki salah satu gawang di lapangan desa. Pakaian mereka masih sedikit kotor oleh tanah.

Ardi menatap Beni.

“Dengar itu?” katanya pelan.

Beni menghela napas. “Biarkan saja.”

“Tapi mereka bicara seolah-olah Erlangga cuma cari nama.”

“Kalau kita marah, nanti malah jadi ribut.”

Roni yang biasanya banyak bercanda kali ini tampak serius.

“Orang memang gampang bicara,” katanya. “Mereka tidak ikut bersih-bersih lapangan, tidak ikut memperbaiki rumah baca, tapi paling cepat menilai.”

Pak Maman datang membawa tiga gelas teh hangat untuk mereka.

“Sudah, jangan ikut panas,” katanya. “Di desa, kalau ada orang bergerak, pasti ada yang mendukung dan ada yang meragukan. Itu biasa.”

“Kalau dibiarkan, nanti kabarnya makin macam-macam, Pak,” kata Ardi.

Pak Maman tersenyum tipis. “Kabar itu seperti asap dapur. Kalau tidak ada api, lama-lama hilang sendiri. Tapi kalau ada api besar, baru orang tahu dari mana asalnya.”

Ardi terdiam, mencoba memahami maksud lelaki tua itu.

Di Rumah Baca Harapan, Khinanti sedang menempelkan jadwal kelas belajar sore yang baru di dinding. Di sampingnya, Danu membantu merapikan buku-buku yang telah selesai dibaca. Raka duduk di meja kecil sambil mengerjakan soal matematika.

Sari datang dengan wajah sedikit tergesa.

“Khinanti,” katanya pelan.

“Ada apa?”

“Aku baru dari warung Pak Maman.”

Khinanti berhenti menempelkan kertas.

“Kenapa?”

Sari mendekat dan menurunkan suaranya. “Ada yang membicarakan Erlangga.”

Khinanti menatapnya.

“Membicarakan apa?”

“Katanya Erlangga terlalu banyak ikut campur. Katanya kegiatan rumah baca dan pemuda itu hanya untuk mencari perhatian. Ada juga yang bilang mungkin dia ingin punya jabatan di desa.”

Tangan Khinanti berhenti.

“Siapa yang bilang?”

Sari tidak langsung menjawab.

“Beberapa warga,” katanya akhirnya. “Pak Wiryo juga ada di sana.”

Khinanti menarik napas pelan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia tidak pernah mendengar gosip di desa. Ia tahu, di tempat kecil, setiap langkah mudah menjadi bahan pembicaraan. Namun, ia tidak suka melihat seseorang yang sedang berusaha justru dicurigai.

“Erlangga tahu?” tanyanya.

“Belum. Jatmiko katanya mau memberi tahu.”

Khinanti menatap papan jadwal di dinding. Tulisan-tulisan itu mendadak terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Sore menjelang malam, Erlangga datang ke Rumah Baca Harapan membawa beberapa lembar bahan belajar. Ia tampak biasa saja. Ia menyapa anak-anak, membantu Raka mengerjakan soal, lalu memeriksa jendela belakang yang masih perlu diperkuat.

Khinanti memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Langga, aku mau bicara.”

Erlangga menoleh. “Ada apa?”

“Bisa di luar sebentar?”

Mereka keluar ke beranda rumah baca. Langit mulai berubah gelap. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik. Anak-anak masih berada di dalam ruangan bersama Sari dan Danu.

Khinanti berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.

“Ada orang yang membicarakanmu di warung kopi,” katanya.

Erlangga tidak tampak terkejut.

“Mereka bilang apa?”

“Kau dianggap terlalu banyak ikut campur. Ada yang bilang kau hanya ingin mencari perhatian. Ada yang curiga kau punya maksud lain.”

Erlangga terdiam sesaat.

“Siapa yang bicara?”

“Apakah itu penting?”

“Tidak,” jawab Erlangga. “Aku hanya ingin tahu seberapa jauh kabarnya.”

Khinanti menatapnya. “Kau tidak marah?”

Erlangga tersenyum kecil, tetapi senyumnya tidak benar-benar terlihat bahagia.

“Marah tidak akan mengubah apa-apa.”

“Mereka tidak tahu apa yang sudah kau lakukan.”

“Mereka juga tidak wajib langsung percaya.”

“Kau terlalu tenang.”

“Tidak, Khinanti,” katanya pelan. “Aku hanya pernah pergi terlalu lama. Aku tahu kenapa mereka ragu.”

Khinanti terdiam.

Erlangga melanjutkan, “Aku pulang setelah bertahun-tahun tinggal di kota. Lalu tiba-tiba aku ikut mengurus rumah baca, kegiatan pemuda, dan anak-anak. Wajar kalau ada yang bertanya: apakah aku akan bertahan?”

“Tapi kau memang ingin bertahan.”

“Aku tahu itu. Kau mungkin mulai tahu. Jatmiko dan anak-anak juga tahu. Tapi warga lain belum tentu.”

Khinanti memandang wajahnya. Ada keteguhan di sana, tetapi juga luka kecil yang berusaha ia sembunyikan.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Khinanti.

“Tidak ada.”

“Tidak ada?”

“Aku tidak akan mendatangi warung kopi dan menjelaskan satu per satu. Aku tidak akan membela diri dengan kata-kata. Kalau aku benar-benar serius, waktu akan menjawabnya.”

Khinanti menghela napas.

“Kadang aku ingin membela kamu,” katanya.

Erlangga menatapnya dengan lembut. “Terima kasih. Tapi jangan sampai rumah baca ini berubah menjadi tempat kita melawan orang-orang.”

“Aku hanya tidak suka mereka meremehkanmu.”

“Jangan khawatir. Selama kita tetap bekerja dengan baik, anak-anak tetap belajar, dan pemuda tetap bergerak, orang akan melihat sendiri.”

Malam itu, Khinanti pulang dengan pikiran yang tidak tenang.

Di sepanjang jalan, ia memikirkan kata-kata Erlangga. Ia kagum pada cara laki-laki itu menahan diri. Namun, ia juga merasa kesal karena kebaikan sering kali harus melewati begitu banyak kecurigaan.

Keesokan harinya, kabar dari warung kopi mulai menyebar.

Ada yang mengatakan Erlangga ingin menjadi perangkat desa.

Ada yang mengatakan ia sedang membangun pengaruh agar suatu hari bisa mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Ada pula yang mengatakan kegiatan rumah baca hanya akan bertahan selama Erlangga masih punya uang.

Sebagian warga tidak percaya. Sebagian lagi memilih diam. Namun, bisik-bisik itu cukup untuk membuat beberapa orang mulai menjaga jarak.

Dua ibu yang biasanya datang membawa makanan untuk anak-anak tidak terlihat selama beberapa hari. Seorang pemuda yang sebelumnya ingin ikut kelas komputer mendadak membatalkan niatnya. Bahkan ada orang tua yang bertanya kepada Khinanti apakah anak-anak mereka harus membayar untuk mengikuti kelas belajar.

“Tidak ada biaya,” jawab Khinanti.

“Benarkah? Katanya nanti akan ada iuran.”

“Tidak ada iuran,” ulang Khinanti dengan tegas.

Namun, pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa bisik-bisik telah mulai memengaruhi kepercayaan warga.

Sore itu, jumlah anak yang datang ke rumah baca lebih sedikit dari biasanya.

Lila tetap hadir. Raka datang membawa buku matematika. Danu juga datang, lalu membantu menyapu halaman. Namun, beberapa anak lain tidak muncul.

Khinanti duduk di dekat jendela sambil memandangi kursi-kursi kosong.

Erlangga datang tidak lama kemudian. Ia langsung menyadari suasana yang berbeda.

“Anak-anak lebih sedikit,” katanya.

“Iya.”

“Karena hujan?”

Khinanti menggeleng.

Erlangga tidak bertanya lagi. Ia sudah memahami.

Danu yang sedang menyusun buku di rak tiba-tiba berkata, “Kalau orang-orang tidak percaya, kenapa Abang tetap datang?”

Erlangga menoleh.

Danu tampak ragu, tetapi ia melanjutkan, “Dulu aku juga tidak percaya kalau Kak Khinanti mau menerima aku lagi. Tapi Kak Khinanti tetap bilang aku boleh datang.”

Khinanti memandang Danu.

Erlangga tersenyum kecil.

“Karena kadang orang tidak percaya bukan karena mereka jahat,” jawab Erlangga. “Mereka hanya pernah kecewa.”

“Kalau mereka tetap tidak percaya?” tanya Danu.

“Ya, kita tetap lakukan yang benar.”

Danu mengangguk pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Khinanti, kata-kata Erlangga seperti menguatkan sesuatu di dalam dirinya. Ia lalu berdiri dan mengambil papan tulis kecil.

“Baik,” katanya kepada anak-anak. “Hari ini kita belajar membuat surat.”

“Surat untuk siapa?” tanya Lila.

“Untuk masa depan kalian,” jawab Khinanti.

Anak-anak tampak bingung, tetapi mereka mulai mengambil buku tulis.

Erlangga membantu membagikan kertas. Raka menulis dengan serius. Danu yang masih kesulitan membaca meminta bantuan Khinanti untuk mengeja beberapa kata.

Di luar, langit sore mulai berubah jingga.

Di warung kopi, bisik-bisik mungkin masih berlanjut.

Di beberapa rumah, orang mungkin masih mempertanyakan niat Erlangga.

Namun, di Rumah Baca Harapan, kegiatan tetap berjalan.

Anak-anak tetap membaca.

Pemuda tetap belajar.

Danu tetap mencoba mengeja kata demi kata.

Dan Erlangga tetap datang, bukan untuk membuktikan dirinya dalam satu hari, melainkan untuk menunjukkan bahwa kepulangan tidak selalu harus dijelaskan dengan pidato panjang.

Kadang, kepulangan cukup dibuktikan dengan hadir.

Hari demi hari.

Saat orang lain meragukan.

Saat jalan terasa sepi.

Saat tidak semua orang menyambut.

Karena bagi seseorang yang benar-benar ingin membangun, bisik-bisik bukan alasan untuk berhenti.

Bisik-bisik hanyalah ujian pertama untuk melihat apakah sebuah niat mampu bertahan dalam diam.

 

BAB X

Hujan di Atas Lapangan Desa

Sejak bisik-bisik mulai beredar di warung kopi, suasana kegiatan pemuda di Desa Suka Makmur tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Bukan karena lapangan kembali dipenuhi rumput liar. Bukan pula karena Rumah Baca Harapan berhenti membuka pintunya. Semua kegiatan tetap berjalan, meski dengan langkah yang lebih pelan. Namun, ada sesuatu yang berubah dalam cara sebagian warga memandang Erlangga dan kelompok pemuda.

Beberapa orang yang biasanya hanya menonton dari kejauhan kini terlihat semakin jarang berhenti di sekitar lapangan. Ada pula yang datang, tetapi tidak lagi banyak bertanya atau memberi semangat. Mereka seakan memilih menunggu dari jauh, ingin melihat apakah gerakan kecil itu benar-benar bertahan atau akan hilang seperti kegiatan-kegiatan lain yang pernah datang dan pergi.

Bagi Jatmiko, keadaan itu cukup mengganggu.

Sore itu, ia duduk di pinggir lapangan sambil mengikat tali pada salah satu tiang gawang bambu. Di sebelahnya, Ardi sedang memeriksa bola yang mulai mengempis. Beni dan Fajar membawa beberapa karung pasir untuk menutup bagian lapangan yang berlubang.

“Kita harus jadi mengadakan pertandingan persahabatan itu,” kata Ardi.

“Kalau hujan bagaimana?” tanya Beni.

“Kalau hujan, ya ditunda.”

“Sudah dua minggu hujan hampir tiap sore.”

Ardi menghela napas. “Kalau terus menunggu cuaca bagus, kita tidak akan pernah mulai.”

Jatmiko berhenti mengikat tali.

“Pertandingan ini bukan cuma soal bola,” katanya. “Kita sudah mengundang pemuda dari Dusun Timur. Kalau jadi, warga akan lihat bahwa lapangan ini memang bisa dipakai lagi.”

Beni mengangguk. “Tapi peralatan kita kurang. Gawang masih miring. Garis lapangan belum ada. Bola cuma satu yang layak.”

“Yang penting jalan dulu,” jawab Jatmiko.

Erlangga datang membawa beberapa papan tipis dan cat putih. Ia baru pulang dari rumah Pak Sastro setelah membantu memperbaiki pagar kebun.

“Ini untuk apa?” tanya Ardi.

“Untuk papan skor sederhana,” jawab Erlangga. “Dan cat untuk garis lapangan.”

“Dari mana kau dapat?”

“Ada sisa di gudang rumah.”

Beni tersenyum. “Untung kau pulang dari kota, tapi masih punya barang-barang kampung.”

Erlangga tertawa kecil.

Mereka mulai bekerja. Ardi dan Fajar mengukur lapangan menggunakan tali rafia. Beni mencampur cat dengan air di dalam ember. Jatmiko memasang papan skor dari kayu bekas. Erlangga membantu menegakkan kembali tiang gawang yang miring.

Menjelang petang, awan hitam mulai berkumpul di atas desa.

Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun pohon di sekitar lapangan bergoyang. Anak-anak yang sejak tadi bermain bola mulai berlari ke pinggir lapangan sambil membawa sandal mereka.

“Sepertinya hujan,” kata Fajar.

“Cepat selesaikan garisnya,” jawab Ardi.

Namun, hujan turun sebelum pekerjaan selesai.

Awalnya hanya gerimis kecil. Lalu dalam hitungan menit, air turun semakin deras. Cat putih yang baru saja dibuat di beberapa bagian lapangan mulai larut dan mengalir bersama air. Tanah yang telah diratakan kembali berubah menjadi lumpur. Karung-karung pasir yang belum digunakan basah terkena hujan.

“Angkat catnya!” teriak Beni.

“Papan skornya!” sahut Jatmiko.

Mereka berlari menyelamatkan peralatan seadanya. Erlangga dan Ardi mengangkat papan skor ke bawah atap sekolah. Fajar membawa ember cat. Beni berusaha menahan tiang gawang agar tidak roboh diterpa angin.

Namun, satu tiang bambu tetap patah.

Bunyi retaknya terdengar cukup keras.

Semua orang berhenti sejenak.

Tiang itu jatuh ke tanah berlumpur.

Jatmiko memandangnya dengan wajah kesal.

“Sudah susah-susah diperbaiki,” katanya.

Tidak ada yang menjawab.

Hujan terus turun. Lapangan yang beberapa hari lalu mulai tampak rapi kini kembali dipenuhi genangan. Garis-garis yang dibuat dengan susah payah hilang. Di beberapa bagian, tanah tergerus dan membentuk lubang baru.

Ardi duduk di bawah teras sekolah sambil memegang bola yang basah.

“Pertandingannya pasti batal,” katanya.

“Belum tentu,” jawab Erlangga.

“Lihat lapangannya, Langga. Mau main di mana?”

“Kita lihat besok. Kalau tidak bisa hari Minggu, kita jadwalkan ulang.”

“Kalau dijadwalkan ulang, pemuda Dusun Timur belum tentu bisa datang lagi,” kata Jatmiko. “Mereka juga punya kegiatan sendiri.”

Erlangga memandang lapangan yang diguyur hujan.

Ia memahami kekecewaan teman-temannya. Mereka telah bekerja keras. Mereka ingin membuktikan bahwa pemuda desa mampu membuat sesuatu tanpa selalu menunggu bantuan. Namun, hujan tidak peduli pada rencana mereka.

Khinanti datang membawa beberapa gelas teh hangat dari rumah baca. Ia ditemani Sari yang membawa singkong rebus dalam wadah plastik.

“Kalian semua basah,” kata Khinanti.

“Lapangan lebih basah,” jawab Ardi sambil tersenyum hambar.

Khinanti melihat tiang gawang yang patah dan garis lapangan yang hilang.

“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Yang rusak bisa diperbaiki.”

Jatmiko menggeleng. “Bukan cuma itu, Kak. Orang-orang sudah mulai meragukan kita. Kalau pertandingan batal, mereka akan bilang benar: kegiatan ini cuma ramai di awal.”

Khinanti terdiam.

Ia tahu kata-kata Jatmiko bukan sekadar keluhan. Sejak bisik-bisik di warung kopi menyebar, para pemuda merasa seolah setiap langkah mereka sedang dinilai. Kegagalan kecil bisa berubah menjadi bahan pembicaraan besar.

Erlangga menerima gelas teh dari Khinanti.

“Kita tidak boleh menjalankan kegiatan hanya untuk membungkam omongan orang,” katanya.

“Lalu untuk apa?” tanya Jatmiko.

“Untuk diri kita sendiri. Untuk anak-anak yang ingin punya tempat bermain. Untuk pemuda yang ingin punya kegiatan. Untuk desa yang ingin bergerak.”

“Tapi orang-orang tetap akan bicara.”

“Biarkan.”

Jatmiko memandang Erlangga dengan wajah tidak puas.

“Kau selalu bilang biarkan,” katanya. “Tapi kami yang mendengar omongan itu setiap hari.”

Suasana menjadi hening.

Erlangga tidak langsung menjawab. Ia tahu Jatmiko sedang lelah. Ia juga tahu kemarahan itu bukan sepenuhnya ditujukan kepadanya.

“Aku mengerti,” kata Erlangga akhirnya. “Aku mungkin tidak mendengar semuanya seperti kalian. Tapi aku juga tidak ingin kalian bekerja keras hanya untuk merasa sendirian.”

Jatmiko menunduk.

“Kita cari cara,” lanjut Erlangga. “Kalau lapangan tidak bisa dipakai, pertandingan tidak harus langsung batal. Kita bisa ubah menjadi kegiatan lain. Kita bisa adakan kerja bakti bersama pemuda Dusun Timur. Setelah itu, kita buat diskusi atau latihan di teras sekolah.”

“Latihan apa?” tanya Ardi.

“Latihan kepemimpinan sederhana. Pembagian tim. Rencana kegiatan bersama.”

Beni mengangkat alis. “Orang datang mau main bola, bukan ikut rapat.”

“Tidak perlu rapat panjang,” jawab Erlangga. “Kita tetap main kalau cuaca memungkinkan. Tapi kalau tidak, kita jangan pulang tanpa menghasilkan apa-apa.”

Khinanti memandang Erlangga. Ia mulai memahami arah pikirannya.

“Kita bisa mengajak anak-anak membuat poster dukungan untuk pemuda,” katanya. “Mereka bisa menulis tentang olahraga, kebersihan, dan semangat gotong royong.”

Sari menambahkan, “Ibu-ibu bisa menyiapkan makanan. Bukan besar-besaran, sekadar menyambut tamu dari Dusun Timur.”

Ardi yang sejak tadi diam mulai tampak berpikir.

“Kalau begitu, kegiatan tetap jalan,” katanya.

“Ya,” jawab Erlangga. “Hujan boleh mengubah rencana, tapi tidak harus menghentikan langkah.”

Keesokan harinya, hujan masih turun sejak pagi.

Tidak deras seperti sore sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat lapangan tidak mungkin digunakan. Tanah berubah menjadi lumpur tebal. Genangan air mengisi bagian tengah lapangan. Tiang gawang yang patah belum sempat diperbaiki sepenuhnya.

Jatmiko berdiri di depan lapangan sambil memandangi jalan desa.

“Kalau mereka tidak datang, aku tidak bisa menyalahkan mereka,” katanya.

Namun, menjelang pukul sembilan, terdengar suara beberapa motor dari arah Dusun Timur.

Lima pemuda datang dengan pakaian olahraga yang dilapisi jas hujan. Mereka membawa bola, beberapa botol minum, dan wajah penuh rasa ingin tahu. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Rendi, turun dari motor sambil melihat lapangan yang becek.

“Ini lapangannya?” tanyanya.

“Iya,” jawab Ardi, sedikit malu.

Rendi tertawa kecil. “Kalau main di sini, bukan pertandingan bola. Ini pertandingan cari lumpur.”

Beberapa orang tertawa.

Jatmiko menghampiri mereka.

“Maaf, lapangannya tidak seperti yang kami harapkan. Hujan semalam merusak beberapa bagian.”

Rendi memandang sekeliling. Ia lalu melihat tiang gawang yang patah, garis lapangan yang hilang, dan beberapa pemuda Suka Makmur yang masih membawa cangkul serta karung pasir.

“Kalian tetap mau memperbaikinya?” tanyanya.

“Tentu,” jawab Jatmiko.

Rendi menoleh kepada teman-temannya.

“Kalau begitu, kita bantu dulu,” katanya.

Tidak ada yang menyangka jawaban itu.

Pemuda Dusun Timur melepas jas hujan dan ikut mengambil cangkul. Mereka membantu menutup lubang, mengangkat pasir, memperbaiki tiang gawang, serta membersihkan saluran kecil di pinggir lapangan agar air dapat mengalir keluar.

Kegiatan yang awalnya direncanakan sebagai pertandingan persahabatan berubah menjadi kerja bakti bersama.

Anak-anak datang membawa poster yang dibuat di rumah baca. Di atas kertas-kertas itu tertulis kalimat sederhana:

Lapangan Bersih, Pemuda Kompak.

Olahraga Membuat Kami Sehat.

Desa Kami Bisa Maju Bersama.

Beberapa ibu datang membawa gorengan, teh panas, dan singkong rebus. Bu Ratna ikut membantu membagikan makanan. Pak Maman dari warung kopi datang membawa termos besar berisi kopi.

“Biar yang kerja tidak masuk angin,” katanya.

Erlangga melihat pemandangan itu dengan perasaan hangat.

Tidak semua orang datang karena percaya penuh kepada dirinya. Sebagian mungkin datang karena ingin melihat. Sebagian lagi karena penasaran. Namun, ketika mereka melihat pemuda bekerja bersama di tengah hujan dan lumpur, perlahan sikap mereka mulai berubah.

Pak Karman yang beberapa hari lalu ikut mendengar pembicaraan di warung kopi berdiri di bawah payung. Ia memperhatikan Beni dan Rendi memperbaiki tiang gawang.

“Anak-anak ini serius juga,” katanya kepada Pak Maman.

Pak Maman mengangguk. “Kadang orang baru percaya setelah melihat tangan yang kotor.”

Pak Karman tidak menjawab, tetapi wajahnya tampak berpikir.

Menjelang siang, hujan mulai reda.

Lapangan belum sepenuhnya kering. Pertandingan bola tidak mungkin dilakukan seperti rencana awal. Namun, setelah kerja bakti selesai, Ardi mengajak semua pemuda berdiri membentuk lingkaran di pinggir lapangan.

“Kita mungkin tidak bisa main sebelas lawan sebelas,” katanya. “Tapi kita bisa tetap bermain sebentar di bagian lapangan yang tidak terlalu becek.”

Rendi tersenyum. “Main lima lawan lima saja.”

Mereka lalu membagi tim kecil. Anak-anak bersorak dari pinggir lapangan. Bola bergerak di antara genangan dan tanah basah. Pemuda-pemuda berlari sambil tertawa ketika kaki mereka terpeleset. Tidak ada seragam lengkap. Tidak ada wasit resmi. Tidak ada hadiah.

Namun, ada semangat yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya, lapangan Desa Suka Makmur benar-benar hidup.

Bukan karena semuanya sempurna.

Melainkan karena banyak orang memilih tetap hadir meski keadaan tidak sesuai rencana.

Di pinggir lapangan, Khinanti berdiri bersama Erlangga.

“Kau benar,” katanya.

“Benar tentang apa?”

“Hujan tidak menghentikan langkah.”

Erlangga memandang para pemuda yang masih bermain.

“Bukan aku yang membuat mereka tetap bergerak,” katanya. “Mereka sendiri yang memilih bertahan.”

Khinanti tersenyum.

Di kejauhan, Jatmiko jatuh ke lumpur setelah mencoba merebut bola dari Rendi. Semua orang tertawa. Bahkan Jatmiko sendiri ikut tertawa sambil mengusap wajahnya yang penuh tanah.

Sore hari, ketika kegiatan selesai, pemuda Dusun Timur berpamitan.

“Kami akan datang lagi kalau lapangannya sudah kering,” kata Rendi kepada Ardi.

“Bukan hanya untuk main bola,” tambahnya. “Kita bisa buat kegiatan bersama.”

Ardi mengangguk penuh semangat.

Setelah mereka pergi, Erlangga berdiri di tengah lapangan yang masih basah. Langit mulai cerah. Cahaya matahari sore menembus awan, memantul pada genangan air yang tersisa.

Ia teringat bisik-bisik di warung kopi.

Ia teringat keraguan warga.

Ia teringat wajah Jatmiko yang kesal ketika tiang gawang patah.

Namun, hari itu ia memahami sesuatu.

Kepercayaan tidak tumbuh karena semua rencana berhasil.

Kepercayaan justru tumbuh ketika orang-orang melihat bagaimana seseorang bertahan saat rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Hujan memang telah merusak garis lapangan.

Hujan telah menjatuhkan tiang gawang.

Hujan telah mengubah pertandingan menjadi kerja bakti.

Tetapi hujan juga memperlihatkan siapa yang benar-benar mau tinggal, bekerja, dan berjalan bersama.

Dan di atas lapangan desa yang becek itu, Erlangga melihat sebuah harapan baru tumbuh.

Bukan dari sorak kemenangan.

Melainkan dari lumpur, keringat, dan tangan-tangan yang memilih untuk tidak menyerah.

 

BAB XI

Surat dari Kota

Tiga hari setelah kegiatan di lapangan desa, sebuah surat datang ke rumah Pak Sastro.

Surat itu dibawa oleh Pak Rudi, petugas pengantar surat yang setiap minggu melewati jalan utama Desa Suka Makmur dengan sepeda motor tuanya. Ia biasanya membawa tagihan, undangan, surat dari keluarga yang bekerja di luar daerah, atau dokumen dari kecamatan. Namun, pagi itu ia datang sambil membawa sebuah amplop putih yang tampak lebih rapi daripada surat-surat biasa.

“Untuk Erlangga,” katanya kepada Pak Sastro yang sedang membersihkan halaman.

Pak Sastro menerima amplop itu dan memperhatikan tulisan di bagian depan.

Nama Erlangga tertulis dengan huruf cetak yang jelas.

Di sudut kiri atas terdapat nama sebuah perusahaan dari kota.

Pak Sastro tidak langsung membuka surat itu. Ia membawa amplop tersebut ke dalam rumah, lalu meletakkannya di atas meja. Tidak lama kemudian, Erlangga pulang dari kebun belakang sambil membawa beberapa batang bambu. Ia baru saja membantu Beni memperbaiki tiang gawang yang patah.

“Ada surat untukmu,” kata Pak Sastro.

Erlangga meletakkan bambu di samping rumah.

“Dari siapa?”

Pak Sastro menyerahkan amplop itu tanpa banyak bicara.

Erlangga membuka surat tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan kop perusahaan tempat ia pernah bekerja di kota. Ia membaca beberapa baris pertama dengan wajah yang berubah serius.

Pak Sastro memperhatikannya.

“Dari kota?” tanyanya.

Erlangga mengangguk.

“Pekerjaan?”

“Ya.”

Pak Sastro tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengambil cangkir kopi, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela.

Erlangga kembali membaca surat itu.

Surat tersebut berasal dari Pak Arman, mantan atasannya di perusahaan konsultan pembangunan. Dalam surat itu, Pak Arman menulis bahwa perusahaan sedang membuka kembali posisi koordinator lapangan untuk sebuah proyek besar di kota kabupaten. Erlangga diminta kembali bergabung karena pengalaman dan kemampuannya masih dianggap dibutuhkan.

Tawaran itu bukan tawaran kecil.

Gaji yang dijanjikan jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa ia dapatkan di desa. Ada tempat tinggal, kendaraan operasional, dan kesempatan untuk naik jabatan. Jika ia menerima, hidupnya akan lebih terjamin. Ia tidak perlu lagi memikirkan biaya kegiatan rumah baca, peralatan pemuda, atau kebutuhan kecil yang selama ini sering ia bantu dari tabungannya.

Di bagian akhir surat, Pak Arman menulis:

“Kami menunggu jawabanmu paling lambat dua minggu. Jika kamu bersedia, posisi ini dapat segera kami siapkan.”

Erlangga melipat surat itu kembali.

Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam.

Pak Sastro memandangnya dari kursi.

“Kesempatan bagus?” tanyanya.

“Bagus, Pak.”

“Gajinya besar?”

“Cukup besar.”

Pak Sastro mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang kehilangan sesuatu?”

Pertanyaan itu membuat Erlangga tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Pak Sastro menyesap kopinya.

“Dulu kau pergi ke kota karena ingin hidup lebih baik,” katanya. “Sekarang kota memanggilmu lagi. Tidak ada yang salah kalau kau mempertimbangkannya.”

Erlangga duduk di kursi seberang ayahnya.

“Kalau aku pergi, bagaimana dengan kegiatan di desa?”

“Desa sudah ada sebelum kau pulang.”

“Bukan begitu maksudku.”

“Aku tahu,” kata Pak Sastro. “Tapi jangan merasa semua hal bergantung padamu. Kalau memang yang kau bangun itu baik, harusnya tetap bisa berjalan meski kau tidak selalu ada.”

Erlangga menunduk.

Kata-kata ayahnya terdengar keras, tetapi ia tahu di dalamnya ada kebenaran.

Selama ini, ia sering merasa harus hadir di setiap kegiatan. Ia membantu rumah baca, pemuda, lapangan, dan berbagai kebutuhan kecil. Ia takut jika ia tidak ada, semua akan berhenti. Namun, apakah gerakan yang hanya bertumpu pada satu orang benar-benar dapat bertahan?

Pagi itu, pertanyaan tersebut mengikuti Erlangga ke mana pun ia pergi.

Di Rumah Baca Harapan, Khinanti sedang mengajari anak-anak membuat jadwal belajar. Raka duduk di depan dengan buku tulis terbuka. Danu membantu membagikan pensil. Lila sibuk menggambar rumah impiannya dengan halaman penuh bunga.

Erlangga datang lebih lambat dari biasanya.

Khinanti segera menyadari ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya ketika anak-anak sedang sibuk menulis.

“Aku baik.”

“Kau terlihat tidak seperti biasanya.”

Erlangga tersenyum tipis. “Kau selalu bisa tahu.”

“Karena kau biasanya datang membawa banyak cerita. Hari ini kau datang membawa diam.”

Erlangga memandang anak-anak di dalam ruangan.

“Nanti setelah kelas selesai, aku mau bicara.”

Khinanti mengangguk.

Sore itu, setelah anak-anak pulang, Rumah Baca Harapan kembali sunyi. Cahaya matahari masuk dari jendela, membentuk garis-garis tipis di lantai kayu. Danu dan Raka sudah pulang lebih dulu. Hanya beberapa buku yang masih terbuka di atas meja.

Erlangga mengeluarkan surat dari dalam tasnya.

“Aku dapat ini pagi tadi,” katanya.

Khinanti menerima surat itu dan membacanya perlahan.

Wajahnya berubah ketika sampai pada bagian tentang tawaran pekerjaan.

“Ini kesempatan besar,” katanya.

“Iya.”

“Kau ingin kembali?”

Erlangga tidak langsung menjawab.

“Aku belum tahu.”

Khinanti melipat surat itu dengan hati-hati.

“Kalau kau menerima, kapan harus berangkat?”

“Mungkin dua minggu lagi.”

Khinanti menatap jendela.

Di luar, beberapa anak masih bermain di halaman sekolah. Suara mereka terdengar samar. Salah satu dari mereka memanggil nama Raka. Yang lain tertawa ketika bola kecil mereka masuk ke semak-semak.

“Kau sudah lama menunggu kesempatan seperti ini,” kata Khinanti.

“Aku dulu memang ingin bekerja di tempat yang lebih besar. Aku ingin punya penghasilan tetap, pengalaman, dan hidup yang lebih jelas.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku merasa hidupku ada di sini.”

Khinanti menoleh kepadanya.

“Jangan membuat keputusan hanya karena rumah baca atau karena aku,” katanya pelan.

Erlangga terdiam.

“Aku serius,” lanjut Khinanti. “Aku tidak ingin kau tinggal hanya karena merasa bertanggung jawab pada semua orang. Kalau suatu hari kau menyesal, kau akan menyalahkan desa ini. Kau akan menyalahkan kegiatan ini. Bahkan mungkin kau akan menyalahkan dirimu sendiri.”

“Aku tidak akan begitu.”

“Kita tidak pernah tahu.”

Erlangga menatapnya dengan sungguh-sungguh.

“Khinanti, aku tidak pulang hanya untuk singgah. Aku pulang karena aku mulai lelah mengejar hidup yang tidak pernah benar-benar terasa milikku.”

Khinanti tidak menjawab.

“Aku bekerja di kota,” lanjut Erlangga, “punya gaji, punya tempat tinggal, punya banyak rencana. Tapi setiap kali pulang, aku melihat desa ini seperti menunggu sesuatu. Aku melihat anak-anak yang belajar dengan buku seadanya. Aku melihat pemuda yang ingin bergerak tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Aku melihat Bapak yang semakin tua. Dan aku melihatmu tetap bertahan di rumah baca ini.”

Khinanti menunduk.

“Aku tidak ingin kembali ke kota hanya karena tawarannya lebih besar,” kata Erlangga. “Tapi aku juga tidak ingin menolak tanpa berpikir. Aku harus jujur pada diriku sendiri.”

“Kalau begitu, pikirkan dengan baik,” jawab Khinanti.

Mereka terdiam cukup lama.

Tidak ada kata-kata romantis yang berlebihan. Tidak ada janji yang diucapkan tergesa-gesa. Namun, di antara mereka, ada ketakutan yang sama: kemungkinan bahwa jalan yang mulai mereka tempuh bersama dapat kembali terpisah.

Malam hari, Erlangga pergi ke warung kopi Pak Maman.

Warung itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa warga yang duduk sambil minum kopi. Pak Maman sedang menonton berita dari televisi kecil yang diletakkan di atas rak.

Jatmiko duduk di ujung bangku bersama Ardi dan Beni. Mereka sedang membicarakan rencana memperbaiki lapangan pada akhir pekan.

Ketika Erlangga datang, Jatmiko langsung memanggilnya.

“Langga, sini. Kita mau bahas jadwal.”

Erlangga duduk di dekat mereka.

“Ada apa?” tanya Ardi.

Erlangga mengeluarkan surat dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

“Aku dapat tawaran kerja dari kota.”

Jatmiko mengambil surat itu dan membaca bagian awalnya. Wajahnya langsung berubah.

“Serius?”

Erlangga mengangguk.

“Gajinya besar?” tanya Beni.

“Lumayan.”

“Terus kau mau pergi?” tanya Ardi.

“Aku belum tahu.”

Jatmiko meletakkan surat itu dengan pelan.

“Kalau kau pergi, kegiatan kita bagaimana?”

Pertanyaan itu sama seperti yang terus berputar di dalam kepala Erlangga.

“Kalau kegiatan ini hanya bisa berjalan karena aku ada, berarti kita belum benar-benar membangun apa-apa,” jawab Erlangga.

“Tapi kau yang mulai semuanya,” kata Jatmiko.

“Bukan. Kita yang mulai.”

Jatmiko tampak tidak sepenuhnya setuju.

“Tidak sama,” katanya. “Kalau tidak ada kau, mungkin kami masih duduk di warung seperti dulu.”

Erlangga memandang sahabatnya.

“Kalau aku pergi, apakah kau akan berhenti?”

Jatmiko terdiam.

Ardi menatap meja. Beni mengaduk kopinya tanpa bicara.

Erlangga melanjutkan, “Aku belum memutuskan apa pun. Tapi apa pun keputusanku nanti, aku ingin kalian tetap bergerak. Lapangan ini bukan milikku. Rumah baca bukan milik Khinanti. Desa ini bukan milik satu orang.”

Pak Maman yang mendengar percakapan itu dari balik meja berkata pelan, “Kalau pohon hanya kuat karena satu akar, angin sedikit saja bisa membuatnya tumbang.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Yang kalian bangun harus punya banyak akar,” lanjut Pak Maman. “Biar siapa pun yang pergi atau datang, tetap ada yang menjaga.”

Jatmiko mengangguk perlahan.

Malam semakin larut. Erlangga pulang melewati jalan desa yang sepi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup. Dari beberapa halaman, terdengar suara radio dan percakapan keluarga.

Di depan rumahnya, Pak Sastro masih duduk di beranda.

“Sudah makan?” tanya ayahnya.

“Sudah.”

Pak Sastro mengangguk.

“Kau sudah bicara dengan Khinanti?”

“Sudah.”

“Dengan pemuda?”

“Sudah.”

“Lalu?”

“Aku masih belum tahu, Pak.”

Pak Sastro tersenyum tipis.

“Tidak semua keputusan harus selesai dalam satu malam.”

Erlangga duduk di samping ayahnya.

Mereka memandangi jalan desa yang gelap. Angin malam membawa aroma tanah basah dari kebun-kebun di belakang rumah.

“Pak,” kata Erlangga, “kalau dulu Bapak diberi kesempatan pergi dari desa, Bapak akan pergi?”

Pak Sastro berpikir cukup lama.

“Mungkin,” jawabnya. “Waktu muda, semua orang ingin mencari jalan yang lebih luas. Tapi setelah jauh berjalan, orang biasanya mengerti bahwa jalan luas tidak selalu membawa pulang.”

Erlangga menatap ayahnya.

“Yang penting,” lanjut Pak Sastro, “jangan memilih karena takut. Jangan tinggal karena takut kehilangan. Jangan pergi karena takut dianggap gagal. Pilih karena kau tahu di mana kau bisa menjadi manusia yang paling berguna.”

Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Erlangga.

Malam itu, ia kembali membaca surat dari kota di kamarnya.

Tawaran pekerjaan itu tampak jelas.

Masa depan yang lebih pasti tampak terbuka di hadapannya.

Namun, dari jendela kamarnya, ia juga dapat melihat cahaya redup dari arah rumah baca yang tidak terlalu jauh. Di sana, Khinanti mungkin sedang merapikan buku. Di sana, Raka mungkin besok akan datang membawa soal matematika. Di sana, Danu mungkin akan kembali belajar membaca.

Di luar, lapangan desa masih basah oleh hujan beberapa hari lalu.

Namun, di dalam diri Erlangga, sebuah pertanyaan mulai tumbuh semakin kuat.

Apakah pulang berarti menetap?

Ataukah pulang berarti menemukan alasan untuk tidak lagi pergi tanpa arah?

Surat dari kota belum ia jawab.

Tetapi sejak surat itu datang, Erlangga tahu bahwa hidupnya telah sampai pada sebuah persimpangan.

Dan di persimpangan itu, ia harus memilih bukan hanya antara desa dan kota.

Ia harus memilih antara kehidupan yang menjanjikan kenyamanan, dan kehidupan yang menuntut keberanian untuk bertahan.

 

BAB XII

Pilihan di Persimpangan

Sejak surat dari kota datang, Erlangga menjadi lebih pendiam.

Ia tetap datang ke Rumah Baca Harapan. Ia tetap membantu pemuda memperbaiki lapangan. Ia tetap menyapa warga yang ditemuinya di jalan desa. Namun, Khinanti dapat merasakan bahwa sebagian pikiran Erlangga tidak benar-benar berada di tempat yang sama.

Kadang, ketika anak-anak sedang membaca, Erlangga duduk terlalu lama memandangi halaman rumah baca. Kadang, saat Jatmiko menjelaskan rencana kegiatan pemuda, ia hanya mengangguk tanpa banyak memberi pendapat. Bahkan ketika Pak Sastro memintanya membantu di kebun, Erlangga bekerja dalam diam.

Surat dari kota itu masih tersimpan di dalam tasnya.

Setiap kali melihatnya, Erlangga seperti dihadapkan pada dua jalan.

Jalan pertama membawanya kembali ke kota: pekerjaan yang lebih jelas, penghasilan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih teratur. Di sana, ia tidak perlu memikirkan apakah kegiatan rumah baca memiliki cukup buku atau apakah lapangan desa akan kembali rusak setelah hujan. Ia dapat kembali bekerja di bidang yang telah lama ia tekuni, bertemu orang-orang yang memahami pekerjaannya, dan membangun masa depan yang lebih pasti.

Jalan kedua membawanya tetap tinggal di Desa Suka Makmur.

Jalan itu tidak menjanjikan gaji besar. Tidak ada kantor dengan ruangan nyaman. Tidak ada kendaraan operasional. Tidak ada kepastian bahwa semua gagasan akan diterima warga. Yang ada hanya jalan tanah, rumah baca sederhana, lapangan yang masih perlu diperbaiki, serta orang-orang yang perlahan mulai belajar percaya pada perubahan.

Namun, justru di jalan itu, Erlangga merasa dirinya dibutuhkan.

Suatu pagi, Pak Sastro menemukan Erlangga duduk di bawah pohon mangga di belakang rumah. Di pangkuannya terdapat buku catatan dan surat dari kota yang sudah beberapa kali dilipat.

“Kau belum menjawab surat itu?” tanya Pak Sastro.

“Belum, Pak.”

“Batas waktunya kapan?”

“Empat hari lagi.”

Pak Sastro duduk di sampingnya.

“Sudah kau pikirkan?”

“Setiap hari.”

“Lalu apa yang membuatmu masih ragu?”

Erlangga memandang kebun singkong di depan mereka.

“Aku takut salah memilih.”

Pak Sastro tersenyum tipis.

“Tidak ada orang yang bisa memastikan pilihannya tidak salah.”

“Kalau aku tinggal, aku takut tidak bisa memberi kehidupan yang cukup baik untuk Bapak. Aku juga takut kegiatan di desa ini tidak berkembang seperti yang aku harapkan.”

“Kalau kau pergi?”

“Aku takut semua yang baru mulai di sini akan berhenti.”

Pak Sastro mengambil sehelai daun kering yang jatuh di dekat kakinya.

“Dulu, ketika kau masih kecil, kau pernah bertanya kenapa pohon mangga ini tidak tumbang meski sering diterpa angin,” katanya.

Erlangga menoleh.

“Aku jawab karena akarnya kuat. Tapi sebenarnya, pohon ini juga bertahan karena dia tidak melawan angin dengan kaku. Dia bergerak, menunduk, lalu berdiri lagi.”

Erlangga mendengarkan.

“Pilihan hidup juga begitu,” lanjut Pak Sastro. “Kadang bukan soal memilih jalan yang paling aman. Kadang soal memilih jalan yang membuatmu tetap punya akar.”

“Akar?”

“Orang, tempat, dan nilai yang membuatmu tahu siapa dirimu.”

Erlangga memandangi ayahnya.

“Kalau menurut Bapak, aku harus tinggal?”

Pak Sastro menggeleng.

“Aku tidak akan memilihkan hidupmu. Aku hanya ingin kau memilih dengan jujur. Kalau kau pergi karena ingin berkembang, pergilah dengan baik. Kalau kau tinggal karena ingin mengabdi, tinggallah dengan sungguh-sungguh. Jangan memilih setengah hati.”

Kata-kata itu kembali membuat Erlangga berpikir.

Siang hari, ia pergi ke Rumah Baca Harapan. Khinanti sedang menyusun buku-buku baru yang dikirim oleh seorang teman Erlangga dari kota. Buku-buku itu tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat rak rumah baca tampak lebih penuh.

“Kau datang lebih awal,” kata Khinanti.

“Aku ingin membantu.”

Khinanti menatapnya sebentar. “Atau kau sedang ingin menghindari sesuatu?”

Erlangga tersenyum kecil. “Kau memang sulit dibohongi.”

“Tidak perlu dibohongi.”

Mereka menyusun buku dalam diam. Ada buku cerita anak, buku pengetahuan sederhana, buku latihan matematika, dan beberapa majalah bekas yang masih layak dibaca.

Setelah beberapa saat, Khinanti berkata, “Kau sudah memutuskan?”

“Belum.”

“Batas waktunya semakin dekat.”

“Iya.”

Khinanti berhenti menyusun buku.

“Langga, aku ingin kau tahu satu hal.”

Erlangga menoleh.

“Aku tidak ingin menjadi alasanmu tinggal.”

Erlangga menarik napas.

“Kau sudah pernah mengatakan itu.”

“Aku perlu mengulanginya karena aku tahu keputusan ini berat. Kita sedang membangun banyak hal di desa. Tapi hidupmu tidak boleh berhenti hanya karena semua orang mengandalkanmu.”

“Aku tidak merasa hidupku berhenti di sini.”

“Mungkin sekarang tidak. Tapi bagaimana lima tahun lagi? Sepuluh tahun lagi? Kalau rumah baca ini tetap kecil, kalau kegiatan pemuda tidak berkembang, kalau warga kembali tidak peduli, apakah kau tetap bisa menerima semuanya?”

Erlangga terdiam.

Khinanti melanjutkan, “Aku percaya kau tulus. Tapi ketulusan juga perlu arah. Kau tidak bisa terus mengorbankan masa depanmu tanpa rencana.”

“Aku punya rencana,” kata Erlangga pelan.

“Apa?”

Erlangga mengambil buku catatan dari tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang selama ini penuh coretan.

“Aku ingin membentuk kelompok belajar dan kegiatan pemuda yang bisa berjalan mandiri. Aku ingin Dimas mengelola kelas komputer. Aku ingin Jatmiko memimpin kegiatan pemuda. Aku ingin rumah baca punya jadwal dan pengurus tetap. Aku ingin warga ikut menyumbang, bukan hanya menunggu.”

Khinanti mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Aku juga ingin membantu kelompok ibu-ibu membuat produk sederhana,” lanjut Erlangga. “Mungkin makanan olahan, kerajinan, atau hasil kebun yang bisa dipasarkan. Tidak harus besar. Tapi kalau ada penghasilan kecil, kegiatan ini bisa lebih bertahan.”

“Kau sudah memikirkan semuanya,” kata Khinanti.

“Belum semuanya. Tapi aku tidak ingin tinggal hanya dengan semangat. Aku ingin tinggal dengan rencana.”

Khinanti memandang halaman-halaman catatan itu.

Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa keraguan Erlangga bukan karena ia tidak tahu apa yang diinginkan. Keraguan itu muncul karena ia sedang mencoba memastikan bahwa pilihannya tidak hanya didorong oleh perasaan sesaat.

Sore itu, Jatmiko datang bersama Ardi dan Beni. Mereka membawa beberapa papan kayu untuk memperbaiki tempat duduk di pinggir lapangan.

“Langga, kau jadi ikut ke lapangan?” tanya Jatmiko.

“Nanti aku menyusul.”

Jatmiko melihat surat dari kota yang terletak di atas meja.

“Masih belum dijawab?”

“Belum.”

Jatmiko duduk di kursi dekat pintu.

“Kalau kau mau pergi, bilang saja,” katanya. “Kami tidak akan marah.”

Erlangga menatap sahabatnya.

“Tapi?” tanyanya.

“Tapi jangan pergi karena merasa kami tidak bisa apa-apa tanpa kau,” jawab Jatmiko. “Kami memang baru belajar. Kami masih sering bingung. Tapi kami juga tidak ingin terus bergantung.”

Ardi mengangguk. “Lapangan ini nanti tetap kami urus.”

“Dimas juga bilang kelas komputer bisa tetap jalan,” tambah Beni. “Walaupun cuma satu laptop.”

Jatmiko tersenyum tipis.

“Kalau kau tinggal, kami senang. Kalau kau pergi, kami tetap harus bergerak. Itu yang kau ajarkan, kan?”

Erlangga merasa dadanya menghangat.

Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan apakah desa membutuhkan dirinya. Ia lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga sedang tumbuh. Mereka tidak lagi hanya menunggu arahan. Mereka mulai memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab.

Malam sebelum batas waktu surat itu berakhir, Erlangga pergi sendiri ke lapangan desa.

Langit cerah. Bulan tampak menggantung di atas pohon-pohon. Lapangan masih sederhana, tetapi kini terlihat lebih rapi daripada sebelumnya. Tiang gawang sudah berdiri kembali. Di pinggir lapangan, terdapat beberapa bangku kayu yang baru diperbaiki oleh pemuda.

Erlangga duduk di salah satu bangku.

Ia mengingat hari pertama ketika pulang ke desa. Jalan berdebu. Balai desa yang sunyi. Rumah baca yang hampir tidak dikenal banyak orang. Pemuda yang kehilangan arah. Anak-anak yang membawa mimpi-mimpi kecil di atas kertas.

Ia juga mengingat kota.

Gedung-gedung tinggi. Jalan yang ramai. Ruang kerja yang dingin. Penghasilan yang lebih pasti. Kehidupan yang dulu ia anggap sebagai tujuan.

Namun, malam itu, ia menyadari bahwa pulang bukan berarti menolak masa depan.

Pulang berarti memilih masa depan yang ingin ia bangun sendiri.

Keesokan paginya, Erlangga duduk di meja kecil di kamarnya. Ia menyiapkan selembar kertas dan mulai menulis jawaban untuk Pak Arman.

Ia menulis dengan tangan yang tenang.

Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan. Ia mengakui bahwa tawaran tersebut sangat berarti. Namun, ia juga menjelaskan bahwa saat ini ia memilih untuk tetap berada di Desa Suka Makmur.

Ia tidak menulis bahwa ia menolak kota karena desa lebih mudah.

Ia tidak menulis bahwa ia sudah memiliki semua jawaban.

Ia hanya menulis bahwa ia sedang membangun sesuatu yang ingin ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Setelah selesai, ia membaca surat itu sekali lagi.

Lalu ia memasukkannya ke dalam amplop.

Ketika Erlangga keluar rumah, Pak Sastro sedang menyapu halaman.

“Sudah kau putuskan?” tanya ayahnya.

Erlangga mengangguk.

“Aku memilih tinggal, Pak.”

Pak Sastro berhenti menyapu.

“Sudah yakin?”

“Tidak ada pilihan yang membuatku seratus persen tidak takut. Tapi aku yakin ini jalan yang ingin aku jalani.”

Pak Sastro memandang anaknya cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

“Kalau begitu, jangan hanya tinggal. Bangunlah sesuatu yang membuat orang lain juga bisa berdiri.”

Erlangga mengangguk.

Pagi itu, ia berjalan menuju Rumah Baca Harapan dengan langkah yang terasa lebih ringan.

Di depan rumah baca, Khinanti sedang menyiram tanaman dalam botol-botol bekas. Ketika melihat Erlangga datang, ia tersenyum.

“Kau sudah menjawab surat itu?” tanyanya.

“Sudah.”

“Dan?”

“Aku memilih tinggal.”

Khinanti berhenti menyiram.

“Karena rumah baca?”

“Karena banyak hal,” jawab Erlangga. “Karena Bapak. Karena anak-anak. Karena pemuda. Karena desa ini. Dan karena aku ingin menjalani hidup yang terasa benar bagiku.”

Khinanti menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “jangan tinggal sendirian.”

Erlangga tersenyum.

“Aku tidak akan.”

Mereka berdiri di depan Rumah Baca Harapan yang sederhana. Matahari pagi mulai naik. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak berjalan menuju sekolah.

Di desa itu, tidak ada perayaan besar atas keputusan Erlangga.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada pidato.

Hanya seorang laki-laki yang memilih menetap.

Dan seorang perempuan yang memilih untuk tetap berjalan di sampingnya.

Namun, dari pilihan sederhana itu, sebuah perjalanan baru benar-benar dimulai.

Bukan lagi perjalanan pulang.

Melainkan perjalanan untuk membangun.

 

BAB XIII

Khinanti dan Cahaya yang Hampir Padam

Keputusan Erlangga untuk tetap tinggal di Desa Suka Makmur tidak langsung mengubah keadaan.

Rumah Baca Harapan masih berdinding papan. Rak bukunya masih sederhana. Lapangan desa masih membutuhkan banyak perbaikan. Kegiatan pemuda juga belum selalu ramai. Ada hari-hari ketika hanya beberapa orang datang. Ada hari-hari ketika hujan membuat rencana harus ditunda. Ada pula hari-hari ketika warga kembali sibuk dengan kebun, pekerjaan, dan urusan keluarga masing-masing.

Namun, setelah Erlangga memilih tinggal, ada sesuatu yang berubah dalam cara orang-orang memandang gerakan kecil itu.

Bukan semua warga langsung percaya.

Tetapi sebagian mulai melihat bahwa Erlangga tidak datang hanya untuk membuat kegiatan sesaat. Ia tidak kembali ke kota ketika tawaran pekerjaan datang. Ia tetap berada di desa, membantu kegiatan pemuda, menemani anak-anak belajar, dan berdiskusi dengan warga tentang rencana-rencana sederhana yang mungkin dapat dilakukan bersama.

Khinanti melihat perubahan itu dengan rasa syukur.

Namun, di balik kesibukan yang terus berjalan, ia menyimpan kelelahan yang tidak banyak diketahui orang.

Selama ini, Rumah Baca Harapan hampir selalu bergantung padanya. Ia membuka pintu setiap sore, membersihkan ruangan, menyusun buku, membuat jadwal belajar, mendampingi anak-anak, mencari sumbangan buku, dan terkadang menggunakan uang pribadinya untuk membeli alat tulis.

Ia melakukan semua itu bukan karena merasa paling mampu.

Ia melakukannya karena ia takut jika ia berhenti, tidak ada lagi yang akan menjaga rumah baca itu.

Suatu sore, setelah anak-anak pulang, Khinanti duduk sendirian di dalam rumah baca. Di atas meja terdapat beberapa buku yang perlu diperbaiki sampulnya. Di lantai, masih ada potongan kertas dari kegiatan membuat poster minggu lalu. Jendela sebelah kiri kembali sulit ditutup karena kayunya mulai lapuk.

Khinanti memandang ruangan itu cukup lama.

Biasanya, tempat itu selalu membuatnya merasa tenang.

Namun sore itu, ia justru merasa sangat lelah.

Tangannya memegang sebuah buku cerita anak yang sampulnya sudah sobek. Ia ingin memperbaikinya, tetapi tiba-tiba ia tidak memiliki tenaga untuk bergerak. Ia hanya duduk diam, membiarkan cahaya sore masuk perlahan dari jendela.

Sari datang tidak lama kemudian.

“Khinanti, kau belum pulang?”

Khinanti tersenyum kecil. “Belum.”

“Kau sakit?”

“Tidak.”

“Wajahmu pucat.”

“Aku hanya capek.”

Sari duduk di sebelahnya.

“Kau sudah beberapa hari terlihat capek. Makanmu juga sedikit.”

Khinanti mengangguk pelan.

“Aku hanya banyak pikiran.”

“Karena kegiatan rumah baca?”

“Karena semuanya.”

Sari tidak memaksa. Ia tahu Khinanti bukan orang yang mudah bercerita ketika sedang menghadapi masalah.

Namun, sore itu, Khinanti akhirnya berkata, “Kadang aku takut, Sar.”

“Takut apa?”

“Takut rumah baca ini tidak akan pernah benar-benar kuat. Takut semua orang hanya semangat ketika ada Erlangga. Takut kalau suatu hari aku tidak sanggup, semuanya kembali seperti dulu.”

Sari memandang rak buku yang mulai penuh.

“Kau sudah menjaga tempat ini bertahun-tahun,” katanya. “Tidak mungkin semua yang kau lakukan hilang begitu saja.”

“Tapi aku lelah.”

Kalimat itu keluar begitu pelan, tetapi terasa berat.

Sari menggenggam tangan Khinanti.

“Kalau lelah, jangan dipendam sendiri.”

Khinanti menunduk.

Malam itu, ia pulang lebih cepat dari biasanya. Di rumah, ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil memilah daun singkong untuk dimasak. Wajah ibunya tampak lebih lelah dari biasanya. Sejak beberapa bulan terakhir, kesehatan ibunya memang tidak selalu baik. Ia sering mengeluh pusing dan mudah lelah, tetapi selalu menolak pergi ke puskesmas karena merasa hanya kelelahan biasa.

“Kau pulang cepat,” kata ibunya.

“Iya, Bu.”

“Rumah baca sepi?”

“Tidak. Anak-anak banyak yang datang.”

Ibunya tersenyum.

“Itu bagus. Kau memang senang kalau rumah baca ramai.”

Khinanti duduk di dekat ibunya.

“Ibu sudah minum obat?”

“Sudah.”

“Kapan terakhir periksa ke puskesmas?”

Ibunya menghindari tatapan Khinanti.

“Nanti saja. Tidak apa-apa.”

Khinanti merasa khawatir, tetapi ia tidak ingin membuat ibunya semakin terbebani.

Mereka hidup sederhana. Penghasilan dari kebun kecil dan hasil menjahit ibunya tidak selalu cukup. Selama ini, Khinanti juga membantu dengan mengajar les kecil-kecilan kepada beberapa anak. Namun, kebutuhan rumah semakin banyak. Atap dapur mulai bocor. Beberapa peralatan rumah perlu diperbaiki. Dan biaya untuk memeriksakan kesehatan ibunya bukan sesuatu yang mudah dipenuhi.

Malam itu, Khinanti sulit tidur.

Ia memikirkan rumah baca.

Ia memikirkan ibunya.

Ia memikirkan Erlangga yang kini memilih tinggal di desa.

Di satu sisi, ia merasa bahagia karena Erlangga tidak pergi. Namun, di sisi lain, ia justru merasa takut. Ia takut menjadi beban bagi laki-laki itu. Ia takut orang-orang akan menganggap Erlangga tinggal hanya karena dirinya. Ia takut jika hubungan mereka semakin dekat, semua mimpi dan pengabdian yang mereka bangun akan kembali menjadi bahan bisik-bisik warga.

Beberapa hari kemudian, Khinanti tidak membuka Rumah Baca Harapan.

Di pintu depan, ia menempelkan kertas kecil bertuliskan:

Rumah Baca Harapan libur dua hari. Kegiatan belajar akan dilanjutkan kembali setelah pemberitahuan berikutnya.

Anak-anak yang datang tampak kecewa.

Raka berdiri cukup lama di depan pintu.

“Kenapa Kak Khinanti tidak buka?” tanyanya kepada Danu.

“Mungkin sakit,” jawab Danu.

“Apa kita boleh datang ke rumahnya?”

“Jangan. Nanti mengganggu.”

Danu mengajak Raka pulang, tetapi sebelum mereka pergi, Erlangga datang dari arah jalan desa. Ia membawa beberapa buku yang baru dipinjam dari sekolah kecamatan.

“Kenapa rumah baca tutup?” tanyanya.

Danu menunjuk kertas di pintu.

“Kak Khinanti libur.”

Erlangga membaca tulisan itu, lalu memandang anak-anak.

“Kalian sudah makan?”

“Sudah,” jawab Raka.

“Kalau begitu, hari ini belajar di teras sekolah saja.”

Danu menatapnya ragu.

“Tapi tidak ada Kak Khinanti.”

“Aku tahu. Kita tidak akan menggantikan Kak Khinanti. Kita hanya menjaga supaya kalian tidak berhenti belajar.”

Anak-anak mulai tersenyum.

Erlangga mengajak mereka ke teras sekolah. Ia menggelar tikar kecil yang biasa digunakan untuk kegiatan pemuda. Raka membuka buku matematika. Danu membawa buku bacaan. Beberapa anak lain yang melihat kegiatan itu ikut bergabung.

Sore itu, kelas belajar tetap berjalan meski tanpa Rumah Baca Harapan.

Namun, Erlangga tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah anak-anak pulang, ia pergi ke rumah Khinanti.

Rumah itu berada tidak jauh dari kebun singkong. Halamannya dipenuhi pot tanaman dari botol bekas. Di depan rumah, terdapat kursi bambu yang sudah tua. Ketika Erlangga tiba, Khinanti sedang menjemur pakaian.

“Kau tidak membuka rumah baca,” katanya.

Khinanti menoleh. Wajahnya tampak lelah.

“Aku sedang ada urusan rumah.”

“Apa ibumu sakit?”

Khinanti terdiam sejenak.

“Tidak terlalu. Hanya perlu istirahat.”

Erlangga memperhatikan wajahnya.

“Khinanti, kau tidak harus menjawab semuanya sendiri.”

“Aku bisa mengurusnya.”

“Aku tidak bilang kau tidak bisa.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin tahu apakah kau butuh bantuan.”

Khinanti menghela napas.

“Aku tidak ingin semua orang merasa harus menolongku hanya karena aku mengelola rumah baca.”

“Tidak ada hubungannya dengan itu.”

“Bagi orang desa, semua selalu ada hubungannya.”

Erlangga terdiam.

Khinanti menunduk. Ia tahu kata-katanya terdengar keras, tetapi ia sedang tidak mampu menyembunyikan perasaannya.

“Aku lelah, Langga,” katanya akhirnya. “Aku lelah harus terlihat kuat setiap hari. Aku lelah memikirkan rumah baca, anak-anak, ibu, kebutuhan rumah, dan omongan orang. Aku lelah merasa bahwa kalau aku berhenti sebentar saja, semuanya akan runtuh.”

Erlangga tidak langsung mendekat. Ia memberi Khinanti ruang untuk bicara.

“Kau tidak harus kuat setiap saat,” katanya pelan.

“Kalau aku tidak kuat, siapa yang akan mengurus semuanya?”

“Bukan hanya kau.”

“Siapa? Kau?”

“Bukan aku saja. Sari. Jatmiko. Danu. Anak-anak yang sudah mulai besar. Warga yang mulai percaya. Kita bisa membagi tugas.”

Khinanti menggeleng.

“Tidak semudah itu.”

“Memang tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa.”

Khinanti menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku takut berharap terlalu banyak,” katanya.

Erlangga menatapnya dengan tenang.

“Berharap bukan berarti menyerahkan semuanya kepada orang lain. Berharap berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut peduli.”

Khinanti tidak menjawab.

Di dalam rumah, terdengar suara ibunya batuk.

Khinanti segera masuk. Erlangga mengikuti dari belakang, tetapi berhenti di ambang pintu ketika melihat ibunya berusaha bangun dari tempat tidur.

“Ibu,” kata Khinanti, “kenapa tidak panggil aku?”

Ibunya tersenyum lemah.

“Ibu hanya mau minum.”

Erlangga mengambilkan air hangat dari dapur. Ia membantu meletakkan gelas di meja kecil dekat tempat tidur.

“Terima kasih, Langga,” kata ibu Khinanti.

Erlangga mengangguk sopan.

“Kita sebaiknya periksa ke puskesmas,” katanya hati-hati.

Ibunya menggeleng pelan. “Tidak perlu. Ibu hanya lelah.”

Namun, Khinanti melihat wajah ibunya yang pucat. Kekhawatiran yang selama ini ia tahan semakin besar.

Keesokan pagi, Erlangga datang bersama Sari dan Bu Ratna. Mereka membawa kendaraan milik Pak Maman untuk mengantar ibu Khinanti ke puskesmas kecamatan. Awalnya Khinanti menolak.

“Aku bisa mengantar sendiri,” katanya.

“Kau bisa,” jawab Bu Ratna. “Tapi hari ini tidak perlu sendirian.”

Khinanti akhirnya mengangguk.

Di puskesmas, dokter memeriksa ibu Khinanti. Tidak ada penyakit berat yang langsung mengancam, tetapi ia mengalami tekanan darah yang tidak stabil dan kelelahan yang cukup serius. Dokter meminta agar ia lebih banyak beristirahat, menjaga pola makan, dan rutin memeriksakan diri.

Khinanti merasa lega, tetapi juga semakin menyadari bahwa ia tidak bisa terus memikul semuanya seorang diri.

Sore hari, ketika mereka pulang, beberapa anak sudah menunggu di depan rumah Khinanti.

Raka membawa sebuah gambar.

Danu membawa beberapa buku yang sudah dirapikan.

Lila membawa bunga kecil dari halaman rumahnya.

“Kak Khinanti,” kata Raka, “kami mau rumah baca buka lagi. Tapi kalau Kakak capek, kami bisa bantu bersih-bersih.”

Khinanti memandang mereka satu per satu.

Danu maju selangkah.

“Aku bisa menyapu,” katanya.

“Aku bisa merapikan buku,” kata Lila.

“Aku bisa mengingatkan teman-teman supaya tidak merusak buku,” tambah Raka.

Khinanti menahan air mata.

Selama ini, ia selalu melihat anak-anak sebagai orang yang harus ia bantu. Namun, sore itu, anak-anak itu justru datang membawa kekuatan untuknya.

Ia berjongkok di hadapan mereka.

“Rumah baca akan buka lagi,” katanya pelan. “Tapi mulai sekarang, kita jaga bersama-sama.”

Anak-anak bersorak kecil.

Di kejauhan, Erlangga berdiri bersama Sari dan Bu Ratna. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat Khinanti tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang berat.

Malam itu, Khinanti duduk di beranda rumah bersama Erlangga.

Langit tampak cerah. Cahaya bulan jatuh di atas halaman yang masih basah oleh embun.

“Aku tadi berpikir,” kata Khinanti.

“Pikir apa?”

“Mungkin aku terlalu lama menganggap rumah baca ini hanya tanggung jawabku.”

Erlangga menoleh.

“Rumah baca ini memang kau yang mulai,” lanjutnya. “Tapi mungkin sekarang sudah waktunya menjadi milik banyak orang.”

Erlangga tersenyum.

“Itu bukan berarti peranmu berkurang.”

“Aku tahu. Tapi mungkin peranku harus berubah.”

“Menjadi apa?”

“Menjadi orang yang tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga mengajak orang lain bertumbuh.”

Erlangga memandangnya dengan bangga.

“Kau selalu menjadi cahaya di rumah baca itu,” katanya.

Khinanti tersenyum kecil.

“Cahaya juga bisa redup kalau tidak dijaga.”

“Karena itu, kita jaga bersama.”

Mereka terdiam dalam suasana yang tenang.

Khinanti masih memiliki banyak kekhawatiran. Kondisi ibunya belum sepenuhnya pulih. Rumah baca masih membutuhkan banyak perbaikan. Omongan warga mungkin belum benar-benar berhenti. Namun, malam itu ia tidak lagi merasa sendirian.

Ia mulai memahami bahwa cahaya tidak harus selalu menyala karena satu orang.

Cahaya dapat bertahan karena banyak tangan menjaga nyalanya.

Dan di tengah segala kelelahan yang hampir membuatnya menyerah, Khinanti menemukan kembali alasan untuk tetap berdiri.

Bukan karena ia harus kuat seorang diri.

Melainkan karena kini ia memiliki orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya.

 

BAB XIV

Desa yang Bersatu

Hujan turun sejak sore hari.

Pada awalnya, warga Desa Suka Makmur tidak terlalu mengkhawatirkannya. Hujan adalah bagian dari kehidupan desa. Ia menyuburkan kebun, mengisi parit-parit kecil, dan memberi harapan bagi tanaman warga yang mulai mengering.

Namun, malam itu hujan tidak berhenti.

Langit seakan menumpahkan seluruh airnya ke atas desa. Angin bertiup kencang. Suara petir sesekali membelah kesunyian. Air mulai mengalir deras dari perbukitan menuju permukiman warga.

Menjelang tengah malam, kabar pertama datang dari Dusun Timur.

“Air sudah masuk ke rumah Pak Darto!” teriak seorang pemuda yang datang dengan motor dalam keadaan basah kuyup.

Erlangga yang sedang berada di rumah segera bangkit. Ia mengenakan jas hujan seadanya, lalu bergegas menuju balai desa. Di sana, beberapa warga telah berkumpul dengan wajah cemas.

Khinanti datang tidak lama kemudian. Ia membawa senter, beberapa kain, dan kotak obat sederhana.

“Bagaimana keadaan di Dusun Timur?” tanyanya.

“Air semakin tinggi,” jawab Jatmiko. “Beberapa warga sudah mulai mengungsi ke rumah keluarga mereka yang lebih tinggi.”

Pak Darmawan, Kepala Desa Suka Makmur, segera mengambil keputusan.

“Kita buka balai desa untuk tempat sementara,” katanya tegas. “Pemuda bantu evakuasi. Ibu-ibu siapkan makanan hangat. Yang punya perahu kecil atau gerobak, segera dibawa.”

Tidak ada lagi perdebatan.

Tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa yang harus memulai.

Warga bergerak.

Erlangga bersama Jatmiko, Ardi, dan beberapa pemuda menuju Dusun Timur. Jalan yang biasanya dapat dilalui motor kini berubah menjadi aliran lumpur. Mereka berjalan dengan hati-hati sambil membawa senter dan tali.

Di beberapa rumah, air sudah mencapai lutut orang dewasa.

“Pak, Ibu, keluar dulu ke balai desa!” teriak Erlangga.

Seorang ibu tua tampak kebingungan di dalam rumahnya. Khinanti yang ikut bersama rombongan segera mendekat.

“Bu, mari saya bantu,” katanya.

“Ada cucu saya di dalam,” jawab perempuan itu dengan suara gemetar.

Khinanti masuk ke rumah bersama Ardi. Tidak lama kemudian, mereka keluar sambil membawa seorang anak kecil yang memeluk boneka kain.

Anak itu menangis ketakutan.

“Tidak apa-apa,” kata Khinanti sambil menggendongnya. “Kita ke tempat yang aman.”

Malam itu, Desa Suka Makmur tidak lagi terbagi antara warga pusat desa dan warga Dusun Timur. Tidak ada yang memikirkan perbedaan kepentingan. Tidak ada yang membicarakan siapa yang paling berpengaruh.

Semua hanya memikirkan keselamatan.

Di balai desa, ibu-ibu memasak nasi, mi, dan air jahe. Anak-anak dibaringkan di atas tikar. Para bapak membantu mengangkat barang-barang warga yang berhasil diselamatkan dari rumah.

Bu Ratna membagikan selimut kepada anak-anak.

Sari membantu mencatat nama warga yang datang.

Danu dan Raka membawa gelas air untuk orang-orang yang kelelahan.

“Kak Khinanti, aku bisa bantu lagi?” tanya Danu.

“Kau sudah membantu banyak,” jawab Khinanti. “Sekarang duduk dulu.”

Namun, Danu tetap berdiri. Ia melihat ibunya yang sedang membantu di dapur balai desa.

“Aku mau bantu bagi makanan,” katanya.

Khinanti tersenyum.

“Baik. Tapi hati-hati.”

Menjelang dini hari, hujan mulai reda. Air di beberapa bagian desa perlahan surut, tetapi kerusakan mulai terlihat. Jalan tanah berubah menjadi lumpur. Saluran air tersumbat. Beberapa kebun warga terendam. Pagar rumah roboh. Sebagian hasil panen rusak.

Pagi harinya, warga berkumpul di halaman balai desa.

Wajah mereka tampak lelah. Namun, tidak ada yang pulang begitu saja. Mereka mulai membicarakan apa yang harus dilakukan.

“Kita harus membersihkan jalan,” kata Jatmiko.

“Saluran air juga harus diperbaiki,” tambah Bu Ratna.

“Rumah Pak Darto perlu dibantu dulu. Bagian dapurnya rusak,” ujar seorang warga.

Erlangga memandangi warga yang mulai berbicara satu per satu. Ia tidak berdiri sebagai orang yang memberi perintah. Ia hanya mendengarkan.

Kemudian ia berkata, “Kita tidak bisa menunggu semuanya datang dari luar. Kita harus mulai dari apa yang bisa kita lakukan bersama.”

Kalimat itu membuat warga terdiam.

Pak Wiryo berdiri tidak jauh dari kerumunan. Selama ini, ia dikenal sebagai tokoh yang sering meragukan langkah Erlangga dan Khinanti. Ia pernah menganggap kegiatan rumah baca, kebun kecil, dan gerakan pemuda hanya sebagai kegiatan yang tidak akan bertahan lama.

Namun, pagi itu ia melihat sesuatu yang berbeda.

Ia melihat Erlangga bekerja sejak malam tanpa banyak bicara.

Ia melihat Khinanti menggendong anak-anak, membantu ibu-ibu, dan menenangkan warga.

Ia melihat pemuda yang selama ini dianggap hanya pandai berkumpul kini membersihkan lumpur dan membantu mengangkat barang.

Ia melihat warga yang sebelumnya saling curiga kini duduk dalam satu halaman dengan tujuan yang sama.

Pak Wiryo akhirnya melangkah maju.

“Kalau mau membersihkan jalan, saya punya cangkul dan beberapa alat di rumah,” katanya.

Beberapa warga menoleh.

Erlangga memandang Pak Wiryo.

“Terima kasih, Pak.”

Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan pulang untuk mengambil peralatan.

Sejak pagi hingga sore, warga bekerja bersama.

Pemuda membersihkan jalan.

Para bapak memperbaiki saluran air.

Ibu-ibu menyiapkan makanan.

Anak-anak membantu mengumpulkan sampah ringan dan menyusun barang-barang yang masih dapat digunakan.

Khinanti bersama beberapa remaja membantu membersihkan Rumah Baca Harapan yang terkena cipratan lumpur. Beberapa buku basah, beberapa meja bergeser, dan halaman rumah baca dipenuhi ranting.

Khinanti memegang sebuah buku yang halamannya sudah lembap.

“Sayang sekali,” katanya.

Erlangga yang sedang membersihkan lantai menoleh.

“Kita bisa mengeringkannya.”

“Tidak semuanya bisa diselamatkan.”

“Tidak apa-apa. Yang penting rumah baca ini tetap ada.”

Khinanti menatap Erlangga.

“Kadang aku takut semua yang kita bangun mudah rusak.”

Erlangga berhenti sejenak.

“Bangunan bisa rusak. Jalan bisa rusak. Buku bisa basah. Tapi kalau orang-orangnya tetap mau bergerak, semuanya bisa dibangun lagi.”

Khinanti mengangguk pelan.

Menjelang sore, jalan utama desa mulai dapat dilalui. Saluran air dibuka kembali. Warga yang rumahnya terdampak mulai mendapat bantuan dari tetangga. Tidak semua persoalan selesai dalam sehari, tetapi ada sesuatu yang berubah di Desa Suka Makmur.

Musibah banjir telah memperlihatkan kenyataan yang tidak dapat dibantah.

Desa ini masih memiliki banyak kekurangan.

Jalannya perlu diperbaiki.

Saluran air perlu dibenahi.

Rumah baca perlu diperkuat.

Kebun warga perlu dilindungi.

Pelayanan desa perlu ditata lebih baik.

Namun, musibah itu juga memperlihatkan bahwa warga Desa Suka Makmur tidak lagi ingin hanya menunggu.

Mereka mulai memahami bahwa perubahan tidak dapat ditunda.

Di sore hari, ketika warga mulai beristirahat, Pak Wiryo duduk di teras balai desa. Erlangga datang membawa dua gelas teh hangat.

“Satu untuk Bapak,” katanya.

Pak Wiryo menerima teh itu.

“Kau bekerja keras,” ucapnya.

“Kita semua bekerja keras, Pak.”

Pak Wiryo memandang jalan desa yang masih basah.

“Dulu saya pikir kalian hanya anak muda yang terlalu banyak mimpi.”

Erlangga tersenyum tipis.

“Mungkin kami memang banyak mimpi.”

“Sekarang saya tahu, mimpi kalian bukan untuk diri sendiri.”

Erlangga tidak langsung menjawab.

Pak Wiryo melanjutkan, “Desa ini perlu orang-orang yang mau bertahan. Bukan hanya orang yang pandai bicara.”

Erlangga menatapnya dengan hormat.

“Kami juga masih belajar, Pak.”

Pak Wiryo mengangguk.

Sejak hari itu, pengaruh Pak Wiryo sebagai orang yang sering menanamkan keraguan mulai melemah. Bukan karena ia dipermalukan atau disingkirkan, melainkan karena warga telah melihat sendiri ketulusan Erlangga dan Khinanti.

Mereka hadir ketika desa sedang membutuhkan.

Mereka bekerja tanpa meminta pujian.

Mereka tidak menjanjikan perubahan besar dalam satu malam.

Mereka hanya mengajak warga untuk mulai bergerak.

Di bawah langit sore yang perlahan cerah, Desa Suka Makmur tampak berbeda.

Banjir memang meninggalkan lumpur, kerusakan, dan kesedihan.

Namun, banjir juga meninggalkan kesadaran.

Bahwa sebuah desa tidak akan bangkit hanya dengan keluhan.

Bahwa perubahan tidak akan datang jika semua orang memilih menunggu.

Dan bahwa ketika warga bersatu, keterbatasan bukan lagi alasan untuk menyerah.

Desa Suka Makmur mungkin belum menjadi desa yang maju.

Namun, hari itu, desa tersebut telah menjadi desa yang mulai percaya pada kekuatannya sendiri.

 

BAB XV

Musyawarah Harapan Baru

Tiga hari setelah banjir surut, halaman Balai Desa Suka Makmur kembali ramai.

Lumpur di jalan utama memang belum seluruhnya hilang. Beberapa bagian jalan masih berlubang dan licin. Saluran air di dekat Dusun Timur masih memerlukan perbaikan. Namun, warga mulai kembali menjalani kegiatan sehari-hari. Anak-anak berangkat sekolah. Para petani kembali memeriksa kebun. Ibu-ibu membersihkan rumah dan menjemur barang-barang yang sempat basah.

Di tengah kesibukan itu, Pak Darmawan mengundang seluruh warga untuk menghadiri musyawarah desa.

Undangan disampaikan melalui pengeras suara masjid, papan pengumuman, dan dari mulut ke mulut. Tidak ada undangan mewah. Hanya selembar kertas sederhana yang memuat satu kalimat penting:

Musyawarah Desa Suka Makmur: Menyusun Harapan Baru Bersama Warga.

Sejak sore, kursi-kursi plastik mulai disusun di pendopo balai desa. Para pemuda membantu memasang lampu tambahan. Ibu-ibu menyiapkan teh hangat dan gorengan. Di salah satu sisi ruangan, Sari menempelkan beberapa lembar kertas besar bertuliskan:

  • Jalan dan saluran air
  • Pendidikan dan rumah baca
  • Usaha warga
  • Kebun pangan
  • Pelayanan desa

Khinanti berdiri di depan kertas-kertas itu sambil memeriksa kembali spidol dan alat tulis.

“Semoga warga mau menyampaikan pendapat,” katanya.

Erlangga yang sedang membantu menyusun meja menoleh.

“Mereka akan bicara.”

“Kau yakin?”

“Setelah banjir, mereka tahu bahwa diam tidak menyelesaikan apa-apa.”

Khinanti mengangguk, meski wajahnya masih menyimpan sedikit kekhawatiran.

Selama ini, banyak musyawarah desa hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu. Sebagian warga datang, tetapi memilih diam. Sebagian lagi merasa pendapat mereka tidak akan didengar. Ada pula yang lebih memilih mengeluh di warung daripada menyampaikan persoalan secara terbuka.

Namun, malam itu terasa berbeda.

Satu per satu warga datang.

Para bapak duduk di bagian depan. Ibu-ibu mengambil tempat di sisi kanan pendopo. Pemuda duduk bersama di dekat pintu. Beberapa remaja membantu mencatat kehadiran. Anak-anak yang datang bersama orang tua mereka duduk di belakang sambil bermain pelan.

Pak Wiryo datang agak terlambat. Ia tidak lagi duduk di tempat yang paling depan seperti biasanya. Ia memilih duduk di antara warga lain.

Ketika semua mulai tenang, Pak Darmawan berdiri.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga serempak.

Pak Darmawan memandang seluruh ruangan.

“Banjir yang baru kita alami telah memberi kita pelajaran. Kita tidak bisa hanya menyalahkan keadaan. Kita tidak bisa hanya menunggu bantuan dari luar. Kita harus menyusun langkah bersama agar Desa Suka Makmur menjadi lebih siap, lebih kuat, dan lebih baik.”

Ia berhenti sejenak.

“Malam ini, tidak ada pendapat yang kecil. Tidak ada suara yang tidak penting. Semua warga berhak menyampaikan kebutuhan dan harapan.”

Suasana hening beberapa saat.

Kemudian Pak Darmawan mempersilakan Erlangga untuk menjelaskan tujuan musyawarah.

Erlangga berdiri di depan papan kertas.

“Kita tidak akan membuat rencana yang terlalu jauh dan sulit dilakukan,” katanya. “Kita akan mulai dari masalah yang benar-benar kita rasakan bersama. Jalan, pendidikan anak-anak, usaha warga, pangan keluarga, dan pelayanan desa.”

Ia menunjuk lima kertas yang tertempel di dinding.

“Kita akan membahasnya satu per satu. Apa masalahnya, apa yang bisa dilakukan warga, dan apa yang perlu diperjuangkan melalui pemerintah desa atau kecamatan.”

“Kalau usul kita tidak langsung bisa dilaksanakan bagaimana?” tanya seorang warga dari belakang.

“Usul tetap dicatat,” jawab Erlangga. “Karena rencana pembangunan tidak selalu selesai dalam satu hari. Tapi tanpa usul dan kesepakatan, kita tidak punya arah.”

Pak Darmawan mengangguk.

“Yang penting malam ini kita menentukan prioritas.”

Pembahasan pertama dimulai dari jalan dan saluran air.

Pak Darto, warga Dusun Timur yang rumahnya sempat terendam, berdiri.

“Jalan ke Dusun Timur harus diperbaiki,” katanya. “Kalau hujan datang lagi, kami bisa terisolasi. Anak-anak sulit ke sekolah. Hasil kebun juga sulit dibawa keluar.”

Beberapa warga mengangguk.

“Saluran air juga perlu diperlebar,” tambah Bu Sulastri. “Air dari atas bukit langsung turun ke rumah-rumah kami.”

Jatmiko kemudian berdiri.

“Pemuda bisa membantu kerja bakti dan perbaikan sementara. Tapi untuk pengerasan jalan dan gorong-gorong, kita perlu masukkan sebagai program prioritas desa.”

Pak Darmawan mencatat.

“Baik. Jalan dan saluran air menjadi prioritas pertama.”

Pembahasan kedua adalah rumah baca dan pendidikan anak-anak.

Khinanti berdiri dengan membawa beberapa buku yang sempat rusak karena banjir.

“Rumah Baca Harapan sudah mulai digunakan anak-anak,” katanya. “Tetapi tempatnya masih terbatas. Buku-bukunya belum banyak. Saat hujan, sebagian atap juga bocor.”

Ia menatap warga.

“Anak-anak desa kita membutuhkan ruang belajar. Bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk mengenal dunia di luar desa. Kalau kita ingin desa ini maju, pendidikan tidak boleh dikesampingkan.”

Bu Ratna mengangkat tangan.

“Anak saya sekarang lebih rajin belajar sejak ada rumah baca. Dulu kalau sore hanya bermain. Sekarang ia membawa buku pulang.”

Seorang bapak lain menyahut, “Kalau perlu, kita gotong royong memperbaiki atapnya.”

Sari yang duduk di dekat Khinanti tersenyum.

“Kami juga bisa membuat jadwal relawan untuk membantu anak-anak belajar,” katanya.

Pak Darmawan mencatat lagi.

“Rumah baca menjadi prioritas kedua. Perbaikan tempat, penambahan buku, dan kegiatan belajar anak-anak.”

Pembahasan ketiga adalah kelompok usaha warga.

Bu Ratna berdiri dengan membawa satu bungkus keripik singkong.

“Setelah festival kemarin, banyak warga bertanya apakah keripik singkong ini bisa terus dibuat,” katanya. “Kami ingin membentuk kelompok usaha ibu-ibu. Tidak hanya keripik singkong, mungkin nanti ada olahan pisang, kue kering, atau hasil kebun lain.”

Beberapa ibu-ibu tampak antusias.

“Tapi kami perlu belajar soal kemasan dan pemasaran,” ujar Bu Sulastri.

“Kami juga perlu alat sederhana,” tambah ibu lain.

Erlangga menulis di papan.

“Kelompok usaha warga: pelatihan pengolahan hasil kebun, kemasan, pemasaran, dan penguatan kelompok.”

Pak Darmawan berkata, “Kalau kelompoknya sudah terbentuk, pemerintah desa dapat membantu menghubungkan dengan pelatihan dari kecamatan.”

Wajah Bu Ratna tampak lega.

“Kami siap membentuk kelompoknya,” katanya.

Pembahasan keempat adalah kebun pangan.

Pak Wiryo yang sejak awal lebih banyak diam akhirnya berdiri.

“Saya ingin bicara soal kebun,” katanya.

Semua orang menoleh.

“Waktu banjir, banyak warga kesulitan karena sayur di kebun rusak. Kita terlalu bergantung membeli dari luar. Padahal, tanah di sekitar rumah masih bisa dimanfaatkan.”

Ia memandang Erlangga dan Khinanti.

“Kebun kecil di rumah baca itu memang belum besar. Tapi saya lihat anak-anak mulai belajar menanam. Kalau setiap rumah punya sayur sederhana, setidaknya warga punya cadangan pangan.”

Erlangga tersenyum.

“Itu usul yang baik, Pak.”

Pak Wiryo mengangguk.

“Kita bisa mulai dari bibit cabai, kangkung, bayam, dan sayur yang mudah tumbuh. Tidak perlu langsung besar.”

Khinanti menambahkan, “Kebun pangan juga bisa menjadi tempat belajar anak-anak dan kegiatan ibu-ibu.”

Warga mulai berdiskusi. Ada yang mengusulkan pembagian bibit. Ada yang mengusulkan pelatihan membuat pupuk kompos. Ada pula yang menawarkan lahan kosong di dekat balai desa untuk kebun bersama.

Pak Darmawan mencatat dengan sungguh-sungguh.

“Kebun pangan keluarga dan kebun bersama menjadi prioritas keempat.”

Pembahasan terakhir adalah pelayanan desa.

Seorang warga bernama Pak Hasan berdiri.

“Kalau warga mengurus surat, kadang harus menunggu lama karena informasi tidak jelas,” katanya. “Ada yang tidak tahu syaratnya. Ada yang datang dua kali karena berkas kurang.”

Beberapa warga mengangguk.

“Kalau bisa, di kantor desa ada papan informasi,” tambah Bu Sulastri. “Supaya warga tahu apa yang harus dibawa.”

Erlangga menatap Pak Darmawan.

Pak Darmawan mengangguk.

“Itu masukan yang benar. Pelayanan desa harus lebih terbuka dan mudah dipahami.”

Sari kemudian mengusulkan agar dibuat jadwal pelayanan yang jelas, buku pengaduan warga, serta papan informasi administrasi di depan kantor desa.

“Kalau ada informasi kegiatan desa, bantuan, atau pelayanan, warga juga bisa membacanya,” katanya.

Pak Darmawan tersenyum.

“Baik. Pelayanan desa akan kita benahi bersama.”

Musyawarah berlangsung hingga malam semakin larut.

Tidak semua persoalan dapat langsung diselesaikan. Tidak semua usul dapat langsung dibiayai. Namun, warga mulai melihat bahwa musyawarah bukan sekadar duduk dan mendengar.

Musyawarah adalah ruang untuk menentukan arah.

Setelah seluruh pembahasan selesai, Erlangga membacakan hasil kesepakatan warga.

Pertama, perbaikan jalan dan saluran air.

Kedua, penguatan Rumah Baca Harapan.

Ketiga, pembentukan kelompok usaha warga.

Keempat, pengembangan kebun pangan keluarga dan kebun bersama.

Kelima, peningkatan pelayanan desa yang lebih terbuka dan mudah diakses.

Pak Darmawan kemudian berdiri untuk menutup pertemuan.

“Malam ini, kita telah menyusun harapan baru. Harapan ini bukan hanya milik pemerintah desa. Harapan ini milik kita semua.”

Ia memandang warga satu per satu.

“Besok, kita mulai dari hal kecil. Kita bentuk kelompok kerja. Kita bagi tugas. Kita lakukan apa yang dapat kita lakukan. Untuk hal yang membutuhkan anggaran dan bantuan lebih besar, kita perjuangkan melalui rencana pembangunan desa.”

Tepuk tangan terdengar di pendopo balai desa.

Tidak terlalu riuh, tetapi penuh keyakinan.

Setelah musyawarah selesai, warga mulai pulang perlahan. Beberapa masih berdiskusi di halaman. Ibu-ibu membereskan gelas. Pemuda membantu mengangkat kursi. Anak-anak yang sudah mengantuk digendong oleh orang tua mereka.

Erlangga berdiri di depan papan kertas yang kini penuh dengan catatan.

Khinanti mendekat.

“Banyak sekali yang harus dikerjakan,” katanya.

“Iya,” jawab Erlangga.

“Kau tidak takut?”

Erlangga menatap daftar rencana itu.

“Takut. Tapi sekarang kita tidak mengerjakannya sendiri.”

Khinanti tersenyum.

Di dekat pintu, Pak Wiryo berdiri sambil memandangi hasil musyawarah.

Sebelum pulang, ia menghampiri Erlangga.

“Besok pagi saya akan datang ke lahan kosong dekat balai desa,” katanya.

“Untuk apa, Pak?”

“Kita lihat apakah bisa dipakai untuk kebun bersama.”

Erlangga tersenyum.

“Baik, Pak. Saya juga akan datang.”

Pak Wiryo mengangguk, lalu berjalan pulang.

Malam itu, lampu balai desa masih menyala lebih lama dari biasanya.

Di dalamnya, tersimpan catatan-catatan sederhana tentang jalan, rumah baca, usaha warga, kebun pangan, dan pelayanan desa.

Namun, di balik semua catatan itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Ada warga yang mulai percaya bahwa suara mereka berarti.

Ada desa yang mulai memiliki arah.

Ada harapan yang tidak lagi hanya dibicarakan, tetapi mulai disusun menjadi langkah.

Dan dari musyawarah sederhana itu, Desa Suka Makmur perlahan belajar bahwa masa depan tidak datang begitu saja.

Masa depan harus direncanakan, diperjuangkan, dan dibangun bersama.

 

BAB XVI

Menolak Jalan yang Mudah

Pagi itu, Desa Suka Makmur masih diselimuti sisa embun. Dari halaman rumah-rumah warga, terdengar suara ayam berkokok dan bunyi peralatan dapur yang mulai digunakan. Di kejauhan, beberapa petani berjalan menuju kebun dengan cangkul di bahu.

Namun, bagi Erlangga, pagi itu tidak terasa biasa.

Sejak musyawarah desa berlangsung, pikirannya dipenuhi banyak hal. Catatan hasil musyawarah masih tersimpan rapi di dalam tasnya. Ada rencana perbaikan jalan, penguatan rumah baca, pembentukan kelompok usaha warga, kebun pangan, dan pembenahan pelayanan desa.

Semua rencana itu tampak sederhana ketika dibacakan dalam musyawarah.

Tetapi ketika dipikirkan lebih dalam, Erlangga tahu bahwa semuanya membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan orang-orang yang bersedia bertahan.

Ia duduk di teras rumah sambil memandangi jalan desa yang masih basah oleh embun. Di atas meja kecil di depannya, terdapat sebuah amplop putih yang sudah beberapa hari ia simpan.

Amplop itu datang dari kota.

Dari perusahaan tempat ia pernah bekerja sebelum pulang ke Desa Suka Makmur.

Surat itu berisi tawaran pekerjaan sebagai staf lapangan pada sebuah proyek pembangunan kawasan. Gajinya cukup besar. Ada tempat tinggal. Ada kesempatan mengikuti pelatihan. Ada kemungkinan jenjang karier yang lebih jelas.

Bagi banyak orang, tawaran itu adalah jalan yang mudah.

Jalan menuju kehidupan yang lebih terjamin.

Jalan untuk keluar dari keterbatasan desa.

Erlangga membaca kembali isi surat itu.

Di bagian akhir, tertulis bahwa ia diminta memberikan jawaban dalam waktu tiga hari.

Tiga hari.

Waktu yang singkat untuk menentukan arah hidup.

Bu Marni, ibunya, keluar dari rumah sambil membawa secangkir kopi.

“Kau belum berangkat ke balai desa?” tanyanya.

“Belum, Bu.”

Bu Marni meletakkan kopi di atas meja. Matanya kemudian tertuju pada amplop putih itu.

“Surat dari kota itu lagi?”

Erlangga mengangguk.

“Kau sudah memutuskan?”

“Belum.”

Bu Marni duduk di kursi sebelahnya.

“Dulu kau pergi ke kota karena ingin mencari pekerjaan yang baik. Sekarang pekerjaan itu datang lagi. Kenapa kau ragu?”

Erlangga menunduk.

“Karena sekarang desa ini juga membutuhkan banyak hal.”

“Desa ini sudah ada sejak sebelum kau pulang,” kata Bu Marni pelan. “Dan desa ini tetap akan ada kalau kau pergi.”

Erlangga tersenyum tipis.

“Aku tahu, Bu.”

“Lalu apa yang membuatmu berat?”

Erlangga memandang jalan desa.

“Dulu aku pulang karena merasa lelah hidup di kota. Aku merasa semua yang kulakukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi di sini, walaupun sulit, aku merasa punya alasan untuk bekerja.”

Bu Marni terdiam.

Erlangga melanjutkan, “Musyawarah kemarin membuatku sadar. Warga mulai percaya. Mereka mulai mau bergerak. Kalau aku pergi sekarang, aku takut mereka merasa ditinggalkan.”

Bu Marni memegang tangan anaknya.

“Kau tidak harus memikul semua beban desa seorang diri.”

“Aku tahu.”

“Dan kau juga tidak boleh memilih hanya karena takut mengecewakan orang lain.”

Erlangga mengangguk pelan.

Kata-kata ibunya tidak membuat keputusan itu menjadi lebih mudah. Namun, kata-kata itu membuatnya memahami bahwa pilihan hidup tidak boleh lahir dari ketakutan.

Setelah sarapan, Erlangga berjalan menuju Rumah Baca Harapan.

Di sana, Khinanti sedang menyusun beberapa buku di rak yang baru diperbaiki. Sari duduk di lantai bersama beberapa anak, membantu mereka membuat gambar tentang kebun pangan.

Danu menggambar cabai merah.

Raka menggambar lapangan desa.

Lila menggambar rumah dengan halaman penuh sayur.

“Kak Erlangga,” panggil Danu. “Kalau kita punya kebun besar, apakah semua orang bisa ambil sayur?”

“Kalau kebunnya dirawat bersama, tentu bisa,” jawab Erlangga.

Danu tampak senang.

Khinanti menoleh kepada Erlangga.

“Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”

Erlangga mengangguk.

“Boleh bicara sebentar?”

Khinanti mengajak Erlangga ke halaman belakang rumah baca. Kebun kecil di sana mulai dibersihkan kembali. Beberapa bedeng tanaman sudah dibuat lebih tinggi agar tidak mudah tergenang jika hujan turun.

“Ada apa?” tanya Khinanti.

Erlangga mengeluarkan amplop putih dari tasnya.

“Aku mendapat tawaran kerja dari kota.”

Khinanti memandangi amplop itu.

“Pekerjaan yang dulu?”

“Bukan tempat yang sama, tapi bidangnya hampir sama. Mereka menawarkan gaji yang cukup baik.”

“Kapan kau harus menjawab?”

“Tiga hari lagi.”

Khinanti diam sejenak.

“Dan kau ingin pergi?”

Erlangga tidak langsung menjawab.

“Aku tidak tahu.”

Khinanti memandang tanaman cabai yang tumbuh di dekat mereka.

“Kalau kau pergi, aku tidak akan menyalahkanmu.”

Erlangga menatapnya.

“Tidak?”

“Kau punya hidup. Kau punya masa depan. Pengabdian tidak boleh membuat seseorang kehilangan hak untuk menentukan jalan hidupnya.”

“Tapi bagaimana dengan desa?”

“Desa ini tidak boleh hanya bergantung pada satu orang.”

Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.

Khinanti melanjutkan, “Kita sudah memulai banyak hal. Tapi sekarang warga juga mulai terlibat. Ada Jatmiko dan pemuda. Ada Bu Ratna dan kelompok ibu-ibu. Ada Pak Darmawan. Ada Pak Wiryo yang mulai mau membantu. Ada anak-anak yang sudah punya rasa memiliki terhadap rumah baca.”

Erlangga mengangguk.

“Jadi kau menyuruhku pergi?”

Khinanti tersenyum tipis.

“Aku tidak menyuruhmu pergi. Aku hanya ingin kau memilih dengan jujur.”

Sepanjang hari, kata-kata itu terus teringat dalam pikiran Erlangga.

Siang itu, ia menghadiri pertemuan kecil di balai desa. Jatmiko, Ardi, Beni, dan Rendi sedang membahas pembagian tugas untuk kerja bakti perbaikan jalan. Bu Ratna datang membawa daftar nama ibu-ibu yang ingin bergabung dalam kelompok usaha. Pak Wiryo membawa beberapa contoh bibit sayur untuk kebun bersama.

“Kita mulai dari lahan dekat balai desa,” kata Pak Wiryo. “Tanahnya cukup baik kalau dibersihkan.”

“Kalau bibitnya kurang, saya bisa cari dari kebun saudara,” ujar Pak Hasan.

“Pemuda bisa bantu membuat pagar,” kata Jatmiko.

“Kalau rumah baca butuh meja tambahan, kami bisa buat dari papan bekas,” tambah Ardi.

Erlangga duduk di antara mereka sambil mendengarkan.

Ia melihat bahwa warga mulai bergerak.

Namun, ia juga melihat bahwa gerakan itu masih rapuh. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan hanya dalam bentuk tenaga, tetapi juga dalam bentuk keyakinan bahwa rencana mereka dapat berjalan.

Sore hari, Erlangga berjalan sendiri menuju tepi sungai kecil di belakang desa. Air sungai masih keruh akibat sisa banjir. Ia duduk di atas batu besar dan membuka kembali surat dari kota.

Ia membayangkan kehidupan yang mungkin ia jalani jika menerima tawaran itu.

Pagi hari berangkat ke kantor.

Mendapat gaji tetap.

Tinggal di rumah kontrakan yang layak.

Tidak perlu memikirkan jalan desa yang berlubang.

Tidak perlu memikirkan buku anak-anak yang rusak karena hujan.

Tidak perlu memikirkan bagaimana ibu-ibu menjual keripik singkong.

Tidak perlu memikirkan warga yang datang ke balai desa karena tidak memahami urusan administrasi.

Semua itu terdengar lebih mudah.

Namun, semakin lama ia membayangkannya, semakin ia merasa ada sesuatu yang hilang.

Di kota, ia mungkin memiliki pekerjaan.

Tetapi di desa, ia memiliki tujuan.

Menjelang magrib, Pak Darmawan datang menghampirinya.

“Saya kira kamu ada di rumah,” katanya.

Erlangga tersenyum tipis.

“Saya sedang berpikir, Pak.”

Pak Darmawan duduk di sampingnya.

“Pekerjaan dari kota?”

Erlangga menoleh.

“Bapak sudah tahu?”

“Di desa, kabar sering berjalan lebih cepat daripada motor.”

Erlangga tertawa kecil.

Pak Darmawan memandang aliran sungai.

“Kalau kamu ingin pergi, saya tidak akan melarang. Kamu masih muda. Kamu punya hak untuk mencari kehidupan yang lebih baik.”

“Tapi kalau saya pergi sekarang, apakah saya egois?”

Pak Darmawan menggeleng.

“Tidak. Pergi bukan selalu berarti egois. Tinggal juga bukan selalu berarti mulia. Yang penting adalah alasan di balik pilihan itu.”

Erlangga menatapnya.

“Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan?”

Pak Darmawan tersenyum.

“Saya tidak bisa memilihkan hidupmu. Tapi saya bisa mengatakan satu hal. Desa ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya datang ketika ada kesempatan, tetapi juga bertahan ketika keadaan belum baik.”

Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.

Pak Darmawan berdiri.

“Kalau kamu tinggal, jangan tinggal karena ingin dipuji. Tinggallah karena kamu benar-benar siap bekerja. Kalau kamu pergi, jangan pergi karena takut menghadapi kesulitan. Pergilah karena itu memang jalan yang kamu pilih.”

Setelah Pak Darmawan pergi, Erlangga masih duduk cukup lama di tepi sungai.

Langit perlahan berubah jingga.

Suara azan magrib terdengar dari kejauhan.

Di dalam hati, ia mulai menemukan jawabannya.

Malam itu, Erlangga kembali ke rumah. Ia duduk di meja kecil dengan surat dari kota di hadapannya. Bu Marni melihatnya dari dapur, tetapi tidak mengganggu.

Erlangga mengambil selembar kertas kosong.

Ia menulis dengan perlahan.

Ia mengucapkan terima kasih atas tawaran pekerjaan yang diberikan.

Ia menyampaikan penghargaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Namun, ia juga menulis bahwa untuk saat ini, ia memilih tetap tinggal di Desa Suka Makmur.

Ia ingin melanjutkan kerja bersama masyarakat.

Ia ingin membantu membangun program yang telah direncanakan warga.

Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Setelah selesai menulis, Erlangga membaca surat itu sekali lagi.

Tangannya sempat gemetar.

Bukan karena ia menyesal.

Melainkan karena ia tahu, setelah surat itu dikirim, hidupnya akan berjalan di jalan yang tidak mudah.

Tidak ada gaji besar.

Tidak ada kepastian cepat.

Tidak ada jaminan bahwa semua rencana akan berhasil.

Yang ada hanyalah jalan desa yang masih rusak, rumah baca yang masih sederhana, kelompok usaha yang baru dimulai, kebun pangan yang belum tumbuh, dan warga yang sedang belajar percaya pada kekuatan mereka sendiri.

Namun, di dalam semua keterbatasan itu, Erlangga melihat sesuatu yang lebih berharga.

Harapan.

Keesokan paginya, Erlangga pergi ke kantor pos di kecamatan untuk mengirimkan surat balasan.

Setelah menyerahkan amplop itu kepada petugas, ia berdiri beberapa saat di depan kantor pos.

Ia tahu bahwa ia baru saja menolak jalan yang mudah.

Tetapi ia juga tahu bahwa ia sedang memilih jalan yang membuatnya merasa hidup.

Ketika kembali ke desa, ia melihat beberapa pemuda sedang membawa bambu untuk pagar kebun bersama. Bu Ratna dan beberapa ibu sedang berkumpul membahas nama kelompok usaha. Anak-anak berlari menuju Rumah Baca Harapan sambil membawa buku.

Khinanti berdiri di depan rumah baca.

Ia melihat Erlangga datang, lalu tersenyum.

“Sudah kau kirim?” tanyanya.

Erlangga mengangguk.

“Sudah.”

“Kau memilih tinggal?”

“Iya.”

Khinanti menatapnya beberapa saat.

“Apakah kau yakin?”

Erlangga memandang desa di sekelilingnya.

“Aku tidak tahu apakah semua akan mudah. Tapi aku yakin, aku ingin ada di sini ketika desa ini mulai membangun dirinya.”

Khinanti tersenyum.

“Kalau begitu, kita mulai bekerja.”

Erlangga mengangguk.

Di bawah langit pagi Desa Suka Makmur, ia melangkah menuju halaman rumah baca bersama Khinanti.

Di depan mereka, jalan masih panjang.

Masih ada banyak kesulitan.

Masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai.

Namun, untuk pertama kalinya, Erlangga tidak lagi melihat keterbatasan sebagai alasan untuk pergi.

Ia melihatnya sebagai alasan untuk bertahan.

Dan dari keputusan sederhana itu, sebuah pengabdian mulai menemukan bentuknya.

Bukan dalam kata-kata besar.

Bukan dalam janji yang berlebihan.

Melainkan dalam kesediaan untuk tinggal, bekerja, dan tumbuh bersama desa yang dicintainya.

 

BAB XVII

Cinta yang Bertumbuh Bersama Desa

Sejak Erlangga memutuskan untuk menolak pekerjaan di kota, hari-hari di Desa Suka Makmur terasa semakin sibuk.

Keputusan itu tidak diumumkan dalam acara besar. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada tepuk tangan yang berlebihan. Namun, kabar tersebut cepat menyebar dari rumah ke rumah, dari kebun ke warung, dari balai desa ke halaman rumah baca.

“Erlangga memilih tetap tinggal,” kata warga.

“Dia menolak kerja di kota?”

“Iya. Katanya mau membantu menjalankan rencana desa.”

Sebagian warga merasa kagum. Sebagian lagi hanya mengangguk sambil berkata bahwa pilihan itu tidak mudah. Tetapi bagi Erlangga, keputusan tersebut bukan sesuatu yang ingin ia jadikan bahan pembicaraan.

Ia hanya ingin mulai bekerja.

Pagi hari, ia membantu pemuda membersihkan lahan untuk kebun bersama. Siang hari, ia mendampingi Pak Darmawan menyusun catatan hasil musyawarah. Sore hari, ia datang ke Rumah Baca Harapan untuk membantu anak-anak belajar atau memperbaiki rak buku yang mulai rapuh.

Di sela semua kegiatan itu, Khinanti selalu ada.

Ia mengatur jadwal rumah baca.

Ia mengajak anak-anak menanam sayur.

Ia membantu ibu-ibu menyusun catatan sederhana untuk kelompok usaha.

Ia mengingatkan para pemuda agar tidak lupa membawa alat ketika kerja bakti.

Ia juga sering menjadi orang pertama yang datang ketika ada warga membutuhkan bantuan.

Kebersamaan mereka tidak lagi menjadi sesuatu yang asing bagi warga desa.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah membicarakan perasaan secara terbuka.

Mereka terlalu sibuk dengan banyak hal.

Atau mungkin, mereka sama-sama takut bahwa perasaan dapat membuat langkah mereka menjadi lebih rumit.

Suatu sore, Rumah Baca Harapan dipenuhi anak-anak.

Danu sedang membaca cerita di sudut ruangan. Raka dan Lila membuat gambar kebun pangan. Beberapa anak lain membantu Sari menyusun buku-buku yang baru disumbangkan oleh warga kecamatan.

Khinanti berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan mereka.

“Dulu ruangan ini sunyi,” katanya.

Erlangga yang sedang memperbaiki kaki meja menoleh.

“Sekarang terlalu ramai?”

Khinanti tersenyum.

“Tidak. Sekarang terasa hidup.”

Erlangga memandang anak-anak yang tertawa ketika Raka salah mengeja sebuah kata.

“Kadang aku masih tidak percaya semuanya bisa sampai sejauh ini.”

“Kita belum sampai jauh,” jawab Khinanti. “Kita baru mulai.”

Erlangga mengangguk.

Kalimat itu sederhana, tetapi selalu berhasil membuatnya kembali berpijak.

Mereka memang baru mulai.

Rumah baca masih sederhana.

Kebun bersama masih dalam tahap awal.

Kelompok usaha ibu-ibu masih belajar membuat kemasan.

Jalan desa masih banyak yang rusak.

Namun, setiap hari ada perubahan kecil yang terlihat.

Ada anak yang mulai lancar membaca.

Ada ibu yang berani menjual hasil olahan.

Ada pemuda yang datang lebih awal saat kerja bakti.

Ada warga yang mulai bertanya tentang cara mengurus surat tanpa harus disuruh.

Perubahan-perubahan kecil itu menjadi alasan mereka terus bergerak.

Menjelang magrib, anak-anak mulai pulang satu per satu.

Danu membawa buku cerita yang dipinjamnya.

Raka membawa gambar lapangan sepak bola.

Lila membawa beberapa bibit kangkung yang akan ditanam di halaman rumahnya.

“Kak Khinanti,” kata Danu sebelum pulang, “besok aku mau datang lebih awal.”

“Untuk apa?”

“Aku mau belajar membaca lebih lancar.”

Khinanti tersenyum.

“Baik. Kakak tunggu.”

Setelah anak-anak pulang, Rumah Baca Harapan kembali tenang.

Sari pamit lebih dulu karena harus membantu ibunya di rumah. Tinggallah Erlangga dan Khinanti di dalam ruangan sederhana itu.

Cahaya sore masuk melalui jendela. Rak-rak buku berdiri di sepanjang dinding. Di sudut ruangan, beberapa pot tanaman kecil diletakkan dekat pintu. Di meja tengah, masih ada kertas gambar dan pensil warna yang belum dirapikan.

Erlangga menutup buku yang tadi ia baca.

“Khinanti,” katanya pelan.

Khinanti yang sedang menyusun buku menoleh.

“Iya?”

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”

Khinanti berhenti bergerak.

Wajahnya tampak tenang, tetapi Erlangga dapat melihat bahwa ia mulai menunggu dengan sungguh-sungguh.

Erlangga berdiri. Tangannya terasa sedikit kaku. Ia bukan orang yang pandai merangkai kata-kata indah, terlebih ketika harus berbicara tentang perasaan.

“Aku sudah lama ingin mengatakan ini,” ujarnya.

Khinanti tidak menjawab.

“Aku bersyukur bisa pulang ke desa ini. Aku bersyukur bisa bekerja bersama warga. Tapi di antara semua hal yang terjadi, ada satu hal yang membuatku merasa lebih kuat.”

Ia memandang Khinanti.

“Itu kamu.”

Khinanti menunduk sebentar.

Erlangga melanjutkan.

“Sejak awal, kamu tidak pernah hanya datang untuk memberi saran. Kamu ikut bekerja. Kamu ikut mendengar keluhan warga. Kamu ikut menjaga anak-anak. Kamu ikut berdiri ketika banyak orang masih ragu.”

Suara Erlangga terdengar pelan, tetapi jelas.

“Ketika aku hampir memilih pergi ke kota, kamu tidak memaksaku tinggal. Kamu hanya mengingatkanku untuk memilih dengan jujur. Dan dari situ aku sadar, aku tidak hanya ingin membangun desa ini bersamamu sebagai teman.”

Khinanti mengangkat wajahnya.

Erlangga menarik napas.

“Aku menyayangimu, Khinanti.”

Ruangan itu menjadi hening.

Tidak ada suara selain angin sore yang masuk dari jendela dan bunyi daun-daun yang bergerak di halaman.

Khinanti memegang salah satu buku di tangannya lebih erat.

“Langga,” katanya pelan.

Erlangga menunggu.

“Aku juga sudah lama tahu bahwa perasaanku kepadamu bukan sekadar rasa kagum.”

Erlangga menatapnya.

“Aku melihat caramu bekerja tanpa ingin terlihat hebat. Aku melihat caramu mendengarkan warga. Aku melihat caramu tetap bertahan ketika keadaan sulit.”

Khinanti tersenyum kecil.

“Dan aku juga menyayangimu.”

Erlangga tidak langsung menjawab. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya.

Namun, Khinanti melanjutkan.

“Tapi aku tidak ingin perasaan ini membuat kita lupa pada tujuan.”

Erlangga mengangguk.

“Aku juga tidak.”

“Kalau kita berjalan bersama,” kata Khinanti, “aku ingin kita tetap saling mengingatkan. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang tanggung jawab.”

Erlangga tersenyum.

“Setuju.”

Khinanti memandang sekeliling rumah baca.

“Tempat ini menjadi saksi awal banyak hal. Anak-anak mulai belajar di sini. Warga mulai berkumpul di sini. Kita juga mulai memahami bahwa desa ini bisa berubah.”

Erlangga mengikuti arah pandangnya.

“Dan sekarang tempat ini juga menjadi saksi bahwa kita memilih berjalan bersama.”

Khinanti mengangguk.

Mereka tidak saling mengucapkan janji besar.

Tidak ada kata-kata tentang masa depan yang terlalu jauh.

Tidak ada rencana yang dibuat dengan tergesa-gesa.

Mereka hanya berdiri di dalam rumah baca sederhana, di antara buku-buku, meja kayu, dan gambar-gambar anak-anak.

Namun, bagi mereka, tempat itu terasa lebih berarti daripada ruang mana pun.

Di luar, langit mulai gelap.

Lampu kecil di depan rumah baca menyala. Cahaya kuningnya jatuh ke halaman yang mulai ditumbuhi tanaman. Dari kejauhan, terdengar suara warga yang pulang dari kebun.

Erlangga dan Khinanti keluar ke teras.

Di sana, mereka melihat Danu berlari kembali sambil membawa buku yang tertinggal.

“Kak, bukuku ketinggalan!” katanya.

Khinanti tertawa.

“Masuklah, ambil.”

Danu berlari masuk, lalu keluar lagi dengan wajah ceria.

Sebelum pergi, ia memandang Erlangga dan Khinanti.

“Kak Erlangga, Kak Khinanti, besok jangan lupa datang ke kebun.”

“Kami tidak lupa,” jawab Erlangga.

Danu mengangguk puas, lalu berlari pulang.

Erlangga memandang Khinanti.

“Anak-anak selalu punya cara membuat kita kembali bekerja.”

Khinanti tersenyum.

“Karena mereka tidak tahu kita sedang membicarakan perasaan.”

“Bagus juga begitu.”

“Kenapa?”

“Karena mereka mengingatkan bahwa cinta tidak berhenti pada kata-kata.”

Khinanti menatapnya.

“Lalu cinta harus menjadi apa?”

Erlangga memandang halaman rumah baca, kebun kecil, dan jalan desa yang mulai gelap.

“Cinta harus menjadi alasan untuk saling menguatkan.”

Khinanti mengangguk.

Malam itu, keduanya pulang melalui jalan yang sama, tetapi dengan perasaan yang berbeda.

Mereka tidak lagi hanya dua orang yang bekerja bersama untuk desa.

Mereka adalah dua hati yang mulai memahami bahwa pengabdian dan cinta dapat tumbuh dalam tanah yang sama.

Cinta mereka tidak lahir dari kemewahan.

Tidak tumbuh dari janji-janji yang berlebihan.

Tidak hadir dalam pesta atau kata-kata besar.

Cinta itu tumbuh dari lumpur di jalan desa, dari buku-buku yang disusun di rumah baca, dari kebun yang dirawat bersama, dari musyawarah warga, dan dari keberanian untuk tetap tinggal ketika jalan yang mudah terbuka di depan mata.

Dan seperti desa yang sedang mereka bangun, cinta itu juga masih sederhana.

Masih membutuhkan waktu.

Masih membutuhkan kesabaran.

Masih membutuhkan kerja bersama.

Namun, keduanya percaya bahwa selama mereka tetap berjalan dengan tujuan yang sama, cinta itu akan tumbuh kuat.

Bukan hanya untuk mereka.

Tetapi juga untuk desa yang telah mempertemukan mereka.

 

BAB XVIII

Jalan Baru Desa Suka Makmur

Pagi di Desa Suka Makmur terasa lebih hidup daripada biasanya.

Matahari baru naik ketika suara cangkul mulai terdengar dari lahan kosong di dekat balai desa. Beberapa pemuda telah datang sejak pagi untuk melanjutkan pembuatan pagar kebun bersama. Bambu-bambu dipotong, diikat, lalu ditancapkan mengelilingi tanah yang sudah dibersihkan.

Di sisi lain, beberapa ibu membawa bibit cabai, kangkung, bayam, dan tomat. Ada pula yang membawa pupuk kandang dari rumah masing-masing. Mereka tidak datang dengan perlengkapan lengkap atau modal besar. Namun, mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membuat kebun pangan desa benar-benar tumbuh.

Pak Wiryo berdiri di dekat lahan sambil memeriksa tanah.

“Jangan terlalu dekat menanam cabai,” katanya kepada Ardi. “Kalau terlalu rapat, nanti susah berkembang.”

Ardi mengangguk.

“Baik, Pak.”

Dulu, Pak Wiryo sering menjadi orang yang paling keras meragukan kegiatan warga. Kini, ia justru menjadi salah satu orang yang paling rajin datang ke kebun bersama. Ia membawa pengalaman bertani yang dimilikinya, mengajarkan cara membuat bedeng, memilih bibit, dan mengatur aliran air agar tidak mudah tergenang ketika hujan turun.

Erlangga melihat perubahan itu dari kejauhan.

“Pak Wiryo sekarang lebih sering datang lebih awal daripada kita,” katanya kepada Jatmiko.

Jatmiko tersenyum.

“Kalau sudah bicara soal tanah, beliau memang tidak mau kalah.”

Erlangga tertawa kecil.

“Tidak apa-apa. Desa butuh orang seperti itu.”

Di halaman balai desa, Khinanti sedang mendampingi anak-anak yang datang membawa botol bekas dan kaleng kecil. Botol-botol itu akan digunakan sebagai wadah tanaman untuk program kebun pangan keluarga.

“Yang ini diisi tanah sampai tiga perempat,” kata Khinanti sambil memberi contoh.

Danu mengangkat botol plastik yang sudah dipotong.

“Kalau sudah tumbuh, boleh dibawa pulang?”

“Boleh,” jawab Khinanti. “Tapi harus dirawat. Jangan hanya senang saat menanam, lalu lupa menyiram.”

Raka mengangguk dengan wajah serius.

“Aku mau tanam cabai. Biar ibu tidak beli cabai terus.”

Anak-anak lain tertawa.

Khinanti tersenyum.

“Kalau semua rumah punya cabai, bayam, atau kangkung, itu sudah membantu keluarga.”

Tidak jauh dari mereka, Sari sedang menempelkan jadwal kegiatan Rumah Baca Harapan di papan pengumuman. Jadwal itu dibuat sederhana, tetapi teratur.

Hari Senin untuk membaca bersama.

Hari Rabu untuk belajar berhitung dan menulis.

Hari Jumat untuk kegiatan kebun dan lingkungan.

Hari Minggu untuk kelas keterampilan, seperti menggambar, bercerita, atau membuat kerajinan sederhana.

Sejak rumah baca diperbaiki setelah banjir, jumlah anak yang datang semakin banyak. Beberapa orang tua bahkan mulai bergantian menyumbangkan buku bekas, majalah anak-anak, dan alat tulis.

Khinanti masuk ke rumah baca dan memandangi rak buku yang kini lebih penuh.

“Dulu kita hanya punya beberapa buku,” katanya.

Erlangga yang baru datang membawa papan kayu menoleh.

“Sekarang masih belum banyak.”

“Tapi sudah cukup untuk membuat anak-anak ingin datang.”

Erlangga mengangguk.

“Kadang perubahan memang dimulai dari alasan sederhana. Anak-anak datang karena ingin membaca. Lalu mereka belajar bermimpi.”

Khinanti tersenyum.

“Dan semoga mereka nanti tidak merasa bahwa desa adalah tempat yang harus mereka tinggalkan.”

Erlangga memandang anak-anak yang sedang menanam bibit di halaman.

“Kalaupun mereka pergi untuk belajar, semoga mereka pulang membawa sesuatu.”

Khinanti menatapnya.

“Seperti kamu?”

Erlangga tersenyum kecil.

“Seperti kita.”

Sementara kegiatan rumah baca dan kebun pangan mulai berjalan, kelompok usaha ibu-ibu juga menunjukkan perkembangan.

Bu Ratna bersama beberapa ibu berkumpul di rumahnya setiap Selasa dan Kamis. Mereka membuat keripik singkong, keripik pisang, kue kering, serta olahan sederhana dari hasil kebun warga. Produk-produk itu mulai dikemas dengan plastik bening dan diberi label sederhana bertuliskan:

Rasa Makmur – Produk Warga Desa Suka Makmur

Nama itu dipilih melalui diskusi panjang. Ada yang mengusulkan nama yang lebih modern, ada yang ingin memakai nama kelompok ibu-ibu, tetapi akhirnya mereka sepakat memilih nama yang sederhana dan mudah diingat.

Erlangga membantu membuat catatan pengeluaran dan pemasukan. Ia mengajarkan cara menghitung modal, harga jual, dan keuntungan dengan bahasa yang mudah dipahami.

“Kalau uang hasil jualan langsung habis untuk belanja rumah, nanti kita tidak tahu usaha ini untung atau rugi,” katanya.

Bu Ratna mengangguk.

“Berarti harus dipisahkan?”

“Iya. Tidak harus rumit. Yang penting dicatat.”

Khinanti membantu membuat desain label bersama beberapa remaja putri. Mereka menggambar daun singkong, padi, dan rumah kecil sebagai lambang desa.

Ketika produk pertama selesai dikemas, ibu-ibu memandanginya dengan bangga.

“Kelihatannya seperti barang dari toko,” kata Bu Sulastri.

“Karena memang ini barang dari desa kita,” jawab Bu Ratna.

Produk Rasa Makmur mulai dititipkan di warung Pak Hasan. Beberapa dibawa ke pasar kecamatan. Ada pula yang dibeli oleh pegawai kecamatan ketika mereka datang untuk melihat kegiatan kelompok usaha.

Penjualannya belum besar.

Keuntungannya belum banyak.

Namun, ibu-ibu mulai memiliki keyakinan bahwa hasil kebun dan keterampilan mereka dapat menjadi sumber penghasilan tambahan.

Di kantor desa, perubahan juga mulai terasa.

Pak Darmawan bersama perangkat desa memasang papan informasi di depan kantor. Di papan itu tertulis jadwal pelayanan, persyaratan pembuatan surat, jadwal musyawarah, informasi kegiatan warga, dan nomor yang dapat dihubungi jika ada keperluan mendesak.

Sari membantu membuat buku pengaduan warga.

“Kalau ada keluhan tentang pelayanan atau kebutuhan warga, bisa ditulis di sini,” jelasnya kepada seorang bapak yang datang mengurus surat keterangan.

“Kalau saya tidak bisa menulis?” tanya bapak itu.

“Bisa disampaikan kepada kami. Nanti kami bantu tuliskan.”

Pelayanan desa memang belum sempurna. Kadang perangkat desa masih harus menghadiri kegiatan di kecamatan. Kadang jaringan telepon sulit. Kadang warga datang tanpa membawa berkas lengkap.

Namun, kini warga mulai tahu harus bertanya kepada siapa dan apa yang harus dipersiapkan.

Perubahan kecil itu membuat banyak urusan terasa lebih mudah.

Suatu siang, seorang ibu datang ke kantor desa untuk mengurus surat keterangan.

“Dulu saya takut datang ke kantor desa,” katanya kepada Sari. “Takut salah bawa berkas. Sekarang sudah ada papan informasinya.”

Sari tersenyum.

“Kalau masih kurang jelas, Ibu bisa tanya.”

Ibu itu mengangguk.

“Bagus begini. Rasanya kita tidak bingung lagi.”

Di lapangan desa, pemuda juga mulai memiliki kegiatan yang lebih terarah.

Jatmiko bersama Ardi, Beni, dan Rendi membuat jadwal kerja bakti setiap dua minggu sekali. Selain itu, mereka mengadakan latihan olahraga untuk anak-anak dan remaja. Lapangan yang dulu dipenuhi rumput liar mulai dibersihkan. Tiang gawang diperbaiki. Sebuah papan sederhana dipasang bertuliskan:

Lapangan Desa Suka Makmur: Ruang Bersama untuk Sehat, Kompak, dan Berkarya

Tidak semua pemuda langsung berubah.

Masih ada yang lebih memilih duduk di warung sampai malam. Masih ada yang datang terlambat ketika kerja bakti. Namun, perlahan-lahan, semakin banyak yang mulai ikut terlibat.

Mereka melihat teman-teman mereka bekerja.

Mereka melihat hasil kebun bersama.

Mereka melihat anak-anak yang mulai ramai di rumah baca.

Mereka melihat ibu-ibu yang bangga menjual produk hasil usaha.

Dan mereka mulai merasa bahwa desa juga dapat menjadi tempat untuk berkarya.

Pada suatu sore, warga berkumpul di balai desa untuk melihat perkembangan program yang telah disepakati dalam musyawarah.

Pak Darmawan membuka pertemuan dengan wajah yang lebih cerah daripada biasanya.

“Belum semua rencana selesai,” katanya. “Tetapi kita sudah mulai melihat hasilnya.”

Ia menyebutkan satu per satu perkembangan yang terjadi.

Kebun bersama sudah mulai ditanami.

Rumah baca semakin ramai.

Kelompok usaha ibu-ibu sudah menghasilkan produk.

Pelayanan desa lebih terbuka.

Kerja bakti jalan dan saluran air terus dilakukan sambil menunggu dukungan pembangunan yang lebih besar.

Warga mendengarkan dengan bangga.

Pak Darto dari Dusun Timur berdiri.

“Jalan ke dusun kami memang belum bagus seluruhnya,” katanya. “Tapi saluran air sudah dibersihkan. Kalau hujan datang, air tidak langsung masuk ke rumah seperti kemarin.”

Bu Ratna juga berdiri.

“Kelompok usaha kami belum besar. Tapi sekarang ibu-ibu punya kegiatan. Kami belajar menghitung, mengemas, dan menjual.”

Danu yang duduk bersama anak-anak mengangkat tangan.

“Aku juga mau bicara.”

Warga tertawa kecil.

Pak Darmawan tersenyum.

“Silakan, Danu.”

Danu berdiri dengan sedikit gugup.

“Rumah baca sekarang banyak bukunya. Aku sudah bisa baca cerita sendiri.”

Tepuk tangan terdengar di balai desa.

Khinanti memandang Danu dengan mata berkaca-kaca.

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin sederhana.

Namun, bagi Khinanti, itulah tanda bahwa semua kerja keras mereka tidak sia-sia.

Setelah pertemuan selesai, Erlangga dan Khinanti berjalan menyusuri jalan desa yang mulai dibersihkan.

Matahari sore memantulkan cahaya ke genangan kecil di pinggir jalan. Beberapa warga masih bekerja memperbaiki bagian jalan yang rusak. Anak-anak berlari membawa tanaman dalam botol bekas. Ibu-ibu pulang sambil membawa sisa bahan olahan dari rumah Bu Ratna.

“Desa ini mulai berubah,” kata Khinanti.

Erlangga memandang sekeliling.

“Masih banyak yang harus diperbaiki.”

“Tentu.”

“Jalan belum selesai. Rumah baca masih butuh banyak buku. Usaha ibu-ibu masih kecil. Kebun baru mulai tumbuh.”

Khinanti tersenyum.

“Tapi dulu semuanya belum ada.”

Erlangga mengangguk.

Ia melihat jalan desa yang belum sempurna, tetapi kini lebih ramai oleh langkah warga yang bergerak. Ia melihat balai desa yang tidak lagi hanya menjadi tempat rapat, tetapi juga tempat menyusun rencana. Ia melihat rumah baca yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal harapan. Ia melihat kebun pangan yang menjadi tanda bahwa warga ingin mandiri.

Desa Suka Makmur belum menjadi desa yang sempurna.

Namun, desa itu telah menemukan jalan barunya.

Jalan yang tidak dibangun oleh satu orang.

Jalan yang tidak lahir dari janji besar.

Jalan yang tumbuh dari kerja kecil, gotong royong, dan keberanian untuk memulai.

Di bawah langit sore, Erlangga menggenggam tangan Khinanti.

Khinanti menatapnya.

“Kita sudah sampai sejauh ini,” kata Erlangga.

Khinanti menggeleng pelan.

“Kita belum sampai. Kita sedang berjalan.”

Erlangga tersenyum.

Dan bersama warga Desa Suka Makmur, mereka terus melangkah di jalan baru yang mulai terbuka.

 

BAB XIX

Pesta Rakyat dan Sebuah Lamaran

Bulan Agustus datang dengan langit yang lebih cerah di Desa Suka Makmur.

Setelah musim hujan berlalu, jalan-jalan desa mulai mengering. Di beberapa bagian, warga telah menimbun lubang dengan batu dan tanah keras sambil menunggu program perbaikan jalan yang lebih besar. Saluran air yang dahulu tersumbat kini lebih terawat. Kebun bersama di dekat balai desa mulai menghijau. Daun kangkung tumbuh lebat, cabai mulai berbunga, dan beberapa batang tomat telah menunjukkan buah kecil.

Suasana desa terasa berbeda.

Bukan karena semua persoalan telah selesai.

Bukan karena Desa Suka Makmur tiba-tiba berubah menjadi desa yang serba cukup.

Namun, warga kini memiliki alasan untuk merasa bangga.

Karena pada tahun itu, hari jadi Desa Suka Makmur akan dirayakan dengan cara yang lebih istimewa.

Pak Darmawan mengumumkan rencana perayaan melalui pengeras suara masjid dan papan informasi desa.

Pesta Rakyat Hari Jadi Desa Suka Makmur
Gotong Royong, Kesenian, Produk Warga, dan Doa Bersama untuk Desa

Warga menyambut pengumuman itu dengan antusias.

Para pemuda mulai membersihkan lapangan desa. Mereka memasang bambu untuk membuat gapura sederhana di pintu masuk. Beberapa anak muda mengecat papan kayu bertuliskan:

Selamat Hari Jadi Desa Suka Makmur
Bersatu, Berkarya, dan Bertumbuh Bersama

Ibu-ibu dari kelompok usaha Rasa Makmur menyiapkan berbagai produk untuk dipamerkan. Ada keripik singkong, keripik pisang, kue kering, sambal kemasan, dan minuman jahe. Mereka juga berencana membuka dapur bersama untuk menjual makanan tradisional.

Di Rumah Baca Harapan, Khinanti dan Sari mendampingi anak-anak berlatih membaca puisi, menyanyi lagu daerah, dan menampilkan drama pendek tentang gotong royong.

Danu mendapat peran sebagai anak yang mengajak warga menanam sayur.

Raka mendapat peran sebagai pemuda yang malas, tetapi akhirnya ikut kerja bakti.

Lila menjadi narator yang menjelaskan bahwa desa akan maju jika warganya saling membantu.

“Aku takut lupa dialog,” kata Raka.

“Kau tidak perlu takut,” jawab Khinanti. “Kalau lupa, lihat temanmu. Yang penting jangan berhenti.”

Danu mengangkat tangan.

“Kak, kalau aku lupa?”

“Kau bisa bilang dengan kata-katamu sendiri,” jawab Khinanti.

“Berarti boleh beda?”

“Boleh, asal maksudnya tetap sama.”

Danu tampak lega.

Sementara itu, Erlangga bersama Jatmiko mengurus susunan acara. Mereka membuat jadwal lomba anak-anak, pertandingan olahraga, pameran produk warga, pentas seni, dan doa bersama.

“Kita jangan hanya membuat pesta,” kata Erlangga kepada Jatmiko. “Kita harus membuat warga melihat hasil dari kerja mereka.”

Jatmiko mengangguk.

“Berarti kebun bersama juga harus dibuka untuk dilihat?”

“Iya. Kita buat papan kecil tentang apa yang ditanam dan siapa yang merawat.”

“Kalau jalan yang masih rusak?”

“Kita tidak perlu menutupinya. Justru warga harus tahu bahwa masih ada yang perlu diperjuangkan.”

Jatmiko tersenyum.

“Kau memang selalu ingin semua hal punya makna.”

“Karena kalau tidak punya makna, kita hanya sibuk sebentar lalu lupa.”

Menjelang hari perayaan, seluruh desa tampak bergerak.

Pagi hari, warga bekerja membersihkan lingkungan.

Siang hari, ibu-ibu menyiapkan makanan.

Sore hari, anak-anak berlatih pentas.

Malam hari, pemuda memasang lampu-lampu sederhana di lapangan.

Pak Wiryo juga ikut terlibat. Ia membantu membuat papan informasi di kebun bersama. Dengan tulisan tangannya yang rapi, ia menuliskan nama-nama tanaman dan cara perawatannya.

Ketika Erlangga datang membawa beberapa bambu, Pak Wiryo berkata, “Jangan pasang papan terlalu rendah. Nanti mudah terkena air kalau hujan.”

“Baik, Pak.”

Pak Wiryo menatap kebun yang mulai hijau.

“Dulu saya pikir kegiatan seperti ini hanya akan ramai di awal.”

Erlangga tersenyum.

“Sekarang bagaimana menurut Bapak?”

Pak Wiryo mengangguk ke arah beberapa anak yang sedang menyiram tanaman.

“Sekarang saya tahu, kalau anak-anak sudah ikut menjaga, berarti kegiatan ini punya masa depan.”

Erlangga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Hari yang dinantikan akhirnya tiba.

Sejak pagi, lapangan desa sudah dipenuhi warga. Beberapa warga dari dusun sekitar juga datang untuk melihat perayaan. Gapura bambu di pintu masuk dihiasi daun kelapa muda dan kain merah putih. Di sepanjang lapangan, berdiri tenda-tenda kecil tempat ibu-ibu menjual makanan dan produk Rasa Makmur.

Di satu sisi lapangan, terdapat pameran sederhana tentang perjalanan Desa Suka Makmur.

Ada foto-foto kerja bakti membersihkan jalan.

Ada gambar anak-anak di Rumah Baca Harapan.

Ada catatan musyawarah desa.

Ada foto kebun bersama sebelum dan sesudah ditanami.

Ada pula produk-produk ibu-ibu yang disusun rapi di atas meja.

Warga yang melihat pameran itu tampak bangga.

“Ini foto waktu banjir,” kata Bu Sulastri kepada seorang warga lain.

“Iya. Waktu itu semua orang turun membantu.”

“Sekarang lihat, kebun sudah jadi.”

Di depan panggung sederhana, anak-anak mulai tampil.

Mereka menyanyikan lagu daerah dengan suara yang belum selalu serempak, tetapi penuh semangat. Setelah itu, mereka menampilkan drama pendek tentang gotong royong.

Ketika tiba pada bagian Raka yang berperan sebagai pemuda malas, warga tertawa karena ia sengaja membuat wajah mengantuk dan berjalan sangat lambat.

Namun, ketika Danu berkata, “Kalau kita hanya menunggu, desa ini tidak akan berubah,” suasana menjadi lebih hening.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi warga tahu bahwa kalimat itu menggambarkan apa yang telah mereka alami.

Setelah pentas anak-anak selesai, kelompok ibu-ibu Rasa Makmur memperkenalkan produk mereka. Bu Ratna berdiri di depan panggung dengan wajah sedikit gugup.

“Kami dulu hanya membuat makanan untuk keluarga,” katanya. “Sekarang kami mencoba membuatnya menjadi usaha bersama. Kami masih belajar, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa ibu-ibu desa juga bisa berkarya.”

Tepuk tangan terdengar panjang.

Kemudian, Pak Darmawan naik ke panggung.

“Hari ini bukan hanya hari jadi desa,” katanya. “Hari ini adalah perayaan atas keberanian warga untuk berubah.”

Ia menyebutkan satu per satu hal yang telah dilakukan bersama.

Perbaikan saluran air.

Kerja bakti jalan.

Rumah baca.

Kebun pangan.

Kelompok usaha warga.

Papan informasi pelayanan desa.

“Masih banyak yang harus kita kerjakan,” lanjutnya. “Tetapi kita sudah membuktikan bahwa Desa Suka Makmur tidak hanya pandai berharap. Kita juga mau bekerja.”

Warga bertepuk tangan.

Di tengah keramaian itu, Erlangga berdiri di belakang panggung. Ia memandangi Khinanti yang sedang membantu anak-anak membagikan minuman. Khinanti mengenakan kebaya sederhana berwarna lembut. Rambutnya disanggul rapi, tetapi wajahnya tetap terlihat seperti Khinanti yang biasa: tenang, hangat, dan selalu memperhatikan orang lain.

Sejak mereka saling menyatakan perasaan di Rumah Baca Harapan, hubungan mereka tidak berubah menjadi sesuatu yang berlebihan.

Mereka tetap bekerja.

Tetap berdiskusi.

Tetap berbeda pendapat dalam beberapa hal.

Tetap saling mengingatkan ketika salah satu mulai terlalu lelah.

Namun, perasaan itu kini menjadi kekuatan baru.

Erlangga telah lama memikirkan satu hal.

Ia tidak ingin melamar Khinanti dengan cara yang mewah.

Ia tidak memiliki rumah besar.

Ia belum memiliki tabungan yang banyak.

Ia juga tahu bahwa kehidupan bersama nanti tidak akan selalu mudah.

Namun, ia ingin menyampaikan niatnya dengan jujur, di tempat yang menjadi saksi perjalanan mereka.

Di desa yang telah mengajarkan mereka arti bertahan.

Di hadapan keluarga dan masyarakat yang telah melihat perjuangan mereka.

Menjelang sore, setelah lomba-lomba selesai dan warga mulai berkumpul di depan panggung untuk acara penutupan, Erlangga menghampiri Pak Darmawan.

“Pak, saya ingin menyampaikan sesuatu,” katanya.

Pak Darmawan menatapnya.

“Sesuatu yang penting?”

“Iya, Pak.”

Pak Darmawan tersenyum, seolah sudah memahami.

“Baik. Setelah doa bersama, naiklah ke panggung.”

Erlangga mengangguk.

Jantungnya mulai berdebar.

Ketika matahari mulai condong ke barat, warga berkumpul dalam suasana yang lebih tenang. Doa bersama dipimpin oleh tokoh agama desa. Setelah doa selesai, Pak Darmawan kembali berdiri di depan mikrofon.

“Sebelum acara kita tutup,” katanya, “ada satu hal yang ingin disampaikan oleh salah satu pemuda desa kita.”

Ia menoleh ke arah Erlangga.

“Erlangga, silakan.”

Warga mulai berbisik-bisik.

Erlangga melangkah menuju panggung. Tangannya terasa dingin. Di bawah panggung, ia melihat ibunya, Bu Marni, duduk bersama beberapa ibu. Ia melihat Jatmiko yang tersenyum lebar. Ia melihat Bu Ratna yang menutup mulutnya seperti sudah menebak apa yang akan terjadi.

Lalu ia melihat Khinanti.

Khinanti berdiri di antara anak-anak Rumah Baca Harapan. Wajahnya tampak bingung ketika Erlangga memandangnya.

Erlangga mengambil mikrofon.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga.

Erlangga menarik napas.

“Hari ini, kita merayakan hari jadi Desa Suka Makmur. Kita merayakan kerja warga, kebersamaan, dan harapan yang mulai tumbuh.”

Ia memandang warga.

“Saya bukan orang yang paling hebat di desa ini. Saya juga tidak mungkin melakukan semua hal sendirian. Apa yang kita lihat hari ini ada karena banyak orang yang mau bergerak.”

Ia menoleh ke arah Khinanti.

“Dan di antara orang-orang yang telah menguatkan langkah saya, ada seseorang yang sejak awal percaya bahwa desa ini layak diperjuangkan.”

Khinanti terdiam.

Warga mulai memahami arah kata-kata itu.

Erlangga melanjutkan.

“Dia mengajarkan saya bahwa membangun desa bukan hanya tentang program dan rencana. Membangun desa adalah tentang mendengarkan, bertahan, dan bekerja bersama.”

Ia turun dari panggung perlahan.

Warga memberi jalan.

Erlangga berjalan menuju Khinanti.

Di hadapan keluarga, anak-anak, pemuda, ibu-ibu, dan seluruh warga yang hadir, ia berdiri di depan Khinanti.

“Khinanti,” katanya.

Suara Erlangga terdengar lebih pelan, tetapi tetap jelas.

“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang selalu mudah. Aku tidak bisa menjanjikan semua impian akan segera terwujud. Tetapi aku ingin menjalani perjalanan itu bersamamu.”

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku bajunya.

“Dengan restu keluarga dan masyarakat, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”

Lapangan desa menjadi hening.

Khinanti menatap Erlangga. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia melihat ibunya yang berdiri tidak jauh dari sana. Ia melihat Bu Marni yang tersenyum haru. Ia melihat anak-anak Rumah Baca Harapan yang menunggu dengan wajah penasaran.

Kemudian Khinanti tersenyum.

“Iya,” jawabnya pelan.

Namun, warga tetap mendengar jawaban itu.

Tepuk tangan langsung pecah.

Anak-anak bersorak.

Jatmiko berteriak paling keras.

Bu Ratna memeluk ibu Khinanti.

Pak Wiryo yang berdiri di belakang warga hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

Erlangga memasangkan cincin sederhana di jari Khinanti.

Tidak ada panggung mewah.

Tidak ada lampu besar.

Tidak ada musik yang berlebihan.

Namun, sore itu terasa sangat istimewa.

Karena lamaran tersebut bukan hanya tentang dua orang yang memilih untuk hidup bersama.

Lamaran itu menjadi simbol bahwa cinta mereka tumbuh dari pengabdian.

Dari jalan desa yang berlumpur.

Dari rumah baca yang sederhana.

Dari kebun pangan yang dirawat bersama.

Dari musyawarah warga.

Dari banjir yang pernah menguji mereka.

Dari keberanian untuk menolak jalan yang mudah.

Di tengah pesta rakyat Desa Suka Makmur, Erlangga dan Khinanti berdiri berdampingan.

Warga melihat mereka bukan hanya sebagai sepasang kekasih.

Mereka melihat keduanya sebagai bagian dari harapan desa.

Matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan.

Lampu-lampu sederhana mulai menyala di lapangan.

Musik daerah kembali dimainkan.

Anak-anak berlari di antara warga yang tertawa.

Ibu-ibu melayani pembeli di tenda makanan.

Pemuda membantu membereskan perlengkapan lomba.

Dan di tengah semua itu, Desa Suka Makmur merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pesta.

Desa itu merayakan kebersamaan.

Merayakan harapan.

Merayakan cinta yang tidak hanya tumbuh untuk dua hati, tetapi juga tumbuh untuk banyak orang.

Karena di desa kecil itu, cinta telah menemukan bentuknya.

Bukan sekadar kata.

Melainkan kesediaan untuk tinggal, bekerja, dan membangun masa depan bersama.

 

BAB XX

Pulang untuk Membangun Desa

Pagi itu, jalan utama Desa Suka Makmur dipenuhi suara yang sudah lama dinantikan warga.

Bunyi mesin pemadat tanah.

Suara batu diturunkan dari truk.

Suara cangkul yang membentur tanah.

Suara warga yang saling memanggil dari satu sisi jalan ke sisi lainnya.

Setelah melalui musyawarah, pengajuan program, kerja bakti, dan berbagai upaya yang dilakukan bersama, perbaikan jalan desa akhirnya mulai dikerjakan. Bantuan material dari pemerintah kecamatan telah datang. Pemerintah desa mengatur pelaksanaan pekerjaan. Warga ikut bergotong royong membersihkan sisi jalan, memperbaiki saluran air, dan membantu memastikan akses menuju Dusun Timur dapat dilalui dengan lebih baik.

Jalan itu belum sepenuhnya selesai.

Masih ada bagian yang menunggu pengerasan.

Masih ada jembatan kecil yang perlu diperbaiki.

Masih ada saluran air yang harus diperkuat.

Namun, bagi warga Desa Suka Makmur, hari itu adalah tanda bahwa langkah mereka tidak berhenti di musyawarah dan harapan.

Langkah itu mulai menjadi kenyataan.

Erlangga berdiri di tepi jalan bersama Khinanti.

Keduanya mengenakan pakaian sederhana. Erlangga memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Khinanti mengenakan kerudung dan baju longgar berwarna lembut. Di tangan mereka, masing-masing membawa botol air untuk warga yang sedang bekerja.

Di dekat mereka, Jatmiko mengatur pemuda yang membantu memindahkan batu. Ardi dan Beni memperbaiki aliran parit. Bu Ratna bersama ibu-ibu menyiapkan makanan di bawah tenda sederhana. Pak Wiryo berdiri sambil memperhatikan arah saluran air, sesekali memberi saran agar aliran hujan tidak lagi langsung menuju rumah warga.

Anak-anak dari Rumah Baca Harapan juga datang.

Mereka tidak ikut bekerja dengan alat berat, tetapi mereka membantu membagikan air minum, mengumpulkan sampah plastik, dan membawa pesan kecil yang mereka tulis di kertas warna-warni.

Salah satu kertas itu ditempelkan di papan dekat balai desa.

Tulisan Danu berbunyi:

Jalan Baru untuk Desa Kita.

Tulisan Raka berbunyi:

Kalau Jalannya Bagus, Aku Tidak Telat Sekolah.

Khinanti membaca tulisan itu sambil tersenyum.

“Anak-anak selalu tahu cara mengatakan hal penting dengan sederhana,” katanya.

Erlangga mengangguk.

“Kadang kita yang dewasa terlalu sering membuat semuanya rumit.”

Mereka berjalan perlahan menyusuri bagian jalan yang mulai diratakan.

Di kiri kanan jalan, warga tampak sibuk. Ada yang membawa batu, ada yang mengangkat karung pasir, ada yang membersihkan ranting, dan ada pula yang hanya datang untuk melihat sambil memberi semangat.

Namun, tidak ada yang merasa menjadi penonton.

Semua merasa memiliki jalan itu.

Jalan yang dahulu berlumpur ketika hujan turun.

Jalan yang membuat anak-anak sulit ke sekolah.

Jalan yang menyulitkan petani membawa hasil kebun.

Jalan yang menjadi saksi banjir, kerja bakti, perdebatan, dan perubahan.

Kini, jalan itu perlahan diperbaiki.

Bukan hanya dengan batu dan tanah.

Tetapi juga dengan kesadaran bahwa desa harus dibangun oleh warganya sendiri.

Khinanti berhenti di dekat sebuah pohon besar di pinggir jalan.

“Dulu, waktu kamu pertama kali pulang, jalan ini masih seperti ini juga,” katanya.

Erlangga memandang jalan di hadapannya.

“Iya. Bahkan mungkin lebih buruk.”

“Waktu itu, apakah kamu pernah membayangkan kita akan sampai di sini?”

Erlangga tersenyum kecil.

“Tidak. Waktu itu aku hanya ingin pulang sebentar.”

Khinanti menatapnya.

“Lalu kenapa akhirnya tinggal?”

Erlangga terdiam sejenak.

“Karena aku melihat terlalu banyak hal yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja.”

Ia memandang Rumah Baca Harapan yang terlihat dari kejauhan.

“Aku melihat anak-anak yang ingin belajar.”

Ia memandang kebun bersama yang mulai hijau.

“Aku melihat warga yang ingin mandiri.”

Ia memandang balai desa yang kini memiliki papan informasi.

“Aku melihat desa yang ingin berubah.”

Kemudian ia menatap Khinanti.

“Dan aku bertemu seseorang yang membuatku percaya bahwa semua itu layak diperjuangkan.”

Khinanti tersenyum.

“Jangan terlalu sering bicara seperti itu di depan banyak orang.”

“Kenapa?”

“Nanti anak-anak mendengar.”

Erlangga tertawa.

“Anak-anak sudah tahu kita bertunangan.”

Khinanti menunduk sambil tersenyum.

Tidak jauh dari mereka, Danu dan Raka berlari membawa dua gelas air untuk para pemuda.

“Kak Erlangga!” teriak Danu. “Besok rumah baca tetap buka, kan?”

“Tetap,” jawab Erlangga.

“Walaupun jalan sedang diperbaiki?”

“Justru tetap. Jalan diperbaiki supaya kalian lebih mudah datang belajar.”

Danu tampak puas.

Ia kemudian berlari kembali bersama Raka.

Menjelang siang, warga beristirahat di bawah tenda. Makanan sederhana dibagikan. Ada nasi, sayur, ikan asin, sambal, dan teh hangat. Tidak ada hidangan istimewa, tetapi suasana makan bersama itu terasa hangat.

Pak Darmawan berdiri di depan warga.

“Hari ini kita melihat hasil dari kerja bersama,” katanya. “Namun, saya ingin mengingatkan bahwa jalan ini bukan akhir dari perjuangan kita.”

Warga mendengarkan.

“Setelah jalan, kita masih harus menjaga kebun pangan. Kita harus mengembangkan usaha warga. Kita harus memperkuat rumah baca. Kita harus membenahi pelayanan desa. Kita harus memastikan anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih baik.”

Pak Darmawan menoleh kepada Erlangga dan Khinanti.

“Dan kita harus terus melahirkan pegiat-pegiat desa yang mau bekerja untuk masyarakat.”

Tepuk tangan terdengar.

Erlangga menunduk dengan perasaan haru.

Ia tidak pernah ingin dianggap sebagai orang paling penting di desa. Ia tahu bahwa semua yang terjadi tidak mungkin berjalan tanpa Pak Darmawan, Khinanti, Jatmiko, Bu Ratna, Pak Wiryo, para pemuda, ibu-ibu, dan seluruh warga.

Ia hanya salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang Desa Suka Makmur.

Setelah makan siang, pekerjaan kembali dilanjutkan.

Matahari mulai condong ke barat ketika bagian pertama jalan berhasil diratakan. Warga berdiri di pinggir jalan sambil melihat hasil kerja mereka. Tidak sempurna, tetapi nyata.

Anak-anak bertepuk tangan.

Ibu-ibu tersenyum.

Pemuda saling menepuk bahu.

Pak Wiryo memandang jalan itu cukup lama.

“Kita harus jaga baik-baik,” katanya.

“Pasti, Pak,” jawab Jatmiko.

Sore itu, Erlangga dan Khinanti berjalan kembali ke arah rumah baca. Mereka melewati kebun bersama yang kini mulai menghasilkan sayur. Beberapa ibu sedang memanen kangkung untuk dibawa pulang. Di halaman balai desa, papan informasi terlihat bersih dan penuh pengumuman kegiatan. Di lapangan, beberapa pemuda sedang berlatih sepak bola bersama anak-anak.

Desa Suka Makmur masih memiliki banyak keterbatasan.

Masih ada warga yang hidup sederhana.

Masih ada anak-anak yang harus berjalan jauh ke sekolah lanjutan.

Masih ada kebun yang hasilnya belum selalu baik.

Masih ada jalan-jalan kecil yang belum diperbaiki.

Masih ada persoalan yang akan datang bersama waktu.

Namun, kini desa itu tidak lagi menghadapi semuanya dengan diam.

Warga mulai bertanya.

Mulai bermusyawarah.

Mulai bekerja.

Mulai percaya bahwa perubahan dapat dimulai dari tangan mereka sendiri.

Di depan Rumah Baca Harapan, Erlangga dan Khinanti berhenti.

Pintu rumah baca terbuka. Dari dalam, terdengar suara anak-anak yang sedang membaca bersama Sari.

Khinanti memandang ke dalam.

“Dulu tempat ini hanya ruangan kosong,” katanya.

“Sekarang juga masih sederhana,” jawab Erlangga.

“Ya. Tapi tidak lagi kosong.”

Erlangga mengangguk.

Mereka duduk di bangku kayu di depan rumah baca. Angin sore membawa aroma tanah yang baru dikerjakan. Di kejauhan, suara warga masih terdengar dari jalan yang sedang diperbaiki.

Khinanti memandang Erlangga.

“Setelah semua ini, apa yang ingin kamu lakukan?”

Erlangga tersenyum.

“Besok?”

“Bukan besok.”

“Kalau begitu, aku ingin terus belajar. Aku ingin desa ini punya lebih banyak anak muda yang berani pulang, atau setidaknya berani peduli.”

Khinanti mengangguk.

“Aku ingin rumah baca ini berkembang. Aku ingin anak-anak punya banyak pilihan ketika dewasa nanti. Bukan karena mereka terpaksa pergi, tetapi karena mereka punya kesempatan.”

Erlangga menggenggam tangan Khinanti.

“Berarti kita masih punya banyak pekerjaan.”

“Banyak sekali.”

“Dan apakah kamu siap?”

Khinanti tersenyum.

“Aku siap. Selama kita tidak lupa bahwa desa ini dibangun bersama warga.”

Erlangga mengangguk.

Matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan. Cahaya keemasan jatuh di atas jalan desa yang mulai diperbaiki. Jalan itu membentang ke arah Dusun Timur, melewati kebun, rumah-rumah warga, balai desa, dan Rumah Baca Harapan.

Erlangga dan Khinanti berdiri di sana.

Bukan sebagai dua orang yang telah menyelesaikan semua persoalan.

Bukan sebagai tokoh yang datang membawa keajaiban.

Melainkan sebagai dua orang yang memilih untuk tetap tinggal, bekerja, dan berjalan bersama masyarakat.

Mereka memahami bahwa membangun desa bukan pekerjaan sehari.

Bukan pula pekerjaan setahun.

Membangun desa adalah perjalanan panjang.

Perjalanan yang membutuhkan pengetahuan.

Membutuhkan keberanian.

Membutuhkan gotong royong.

Membutuhkan kesabaran.

Dan, di atas semua itu, membutuhkan cinta.

Cinta kepada tanah kelahiran.

Cinta kepada masyarakat.

Cinta kepada masa depan.

Cinta yang tidak hanya diucapkan dalam kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kerja dan pengabdian.

Di jalan desa yang mulai diperbaiki itu, Erlangga dan Khinanti saling memandang.

Mereka tahu perjalanan masih panjang.

Namun, mereka tidak lagi takut pada panjangnya jalan.

Sebab, mereka telah menemukan alasan untuk terus melangkah.

Mereka telah menemukan arti pulang.

Pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal.

Pulang adalah memilih untuk hadir.

Memilih untuk peduli.

Memilih untuk membangun.

Dan bagi Erlangga dan Khinanti, pulang berarti satu hal:

Pulang untuk membangun desa.

 

EPILOG

Jejak yang Tetap Menyala

Dua tahun telah berlalu sejak jalan utama Desa Suka Makmur mulai diperbaiki.

Pagi itu, desa kembali dipenuhi aktivitas. Jalan yang dahulu berlumpur kini lebih mudah dilalui. Anak-anak berangkat sekolah dengan sepeda atau berjalan kaki tanpa harus takut terpeleset saat hujan. Para petani dapat membawa hasil kebun ke pasar kecamatan dengan lebih lancar. Warga juga semakin mudah datang ke balai desa untuk mengurus kebutuhan administrasi.

Namun, perubahan terbesar Desa Suka Makmur bukan hanya terlihat pada jalan yang mulai baik.

Perubahan itu terlihat pada wajah-wajah warganya.

Rumah Baca Harapan kini memiliki rak buku yang lebih banyak. Sebagian buku datang dari sumbangan, sebagian lagi dibeli dari hasil kegiatan warga. Di dalamnya, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menulis cerita, menggambar, menanam, serta mengenal cita-cita mereka.

Danu yang dahulu masih terbata-bata membaca, kini sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia sering datang ke rumah baca untuk membantu adik-adiknya belajar.

“Kak Khinanti, aku mau jadi guru,” katanya suatu sore.

Khinanti tersenyum bangga.

“Jadilah guru yang membuat anak-anak suka belajar.”

Di kebun bersama, tanaman cabai, kangkung, tomat, dan sayur-sayuran tumbuh semakin rapi. Warga mulai terbiasa menanam di halaman rumah masing-masing. Ibu-ibu kelompok Rasa Makmur juga semakin percaya diri menjual produk mereka ke pasar kecamatan dan beberapa kegiatan di desa sekitar.

Sementara itu, para pemuda tidak lagi hanya berkumpul di warung pada malam hari. Mereka memiliki jadwal olahraga, kerja bakti, kegiatan lingkungan, serta kelompok kecil yang membantu warga ketika ada kebutuhan mendesak.

Desa Suka Makmur belum menjadi desa yang sempurna.

Masih ada jalan kecil yang perlu diperbaiki.

Masih ada warga yang membutuhkan bantuan.

Masih ada anak-anak yang harus berjuang keras untuk melanjutkan pendidikan.

Masih ada persoalan yang datang bersama perubahan zaman.

Namun, kini warga tidak lagi menghadapi semua itu dengan rasa putus asa.

Mereka telah belajar untuk duduk bersama.

Mereka telah belajar untuk menyampaikan pendapat.

Mereka telah belajar bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, perubahan dimulai dari sebuah buku.

Dari bibit sayur.

Dari jalan yang dibersihkan bersama.

Dari ibu-ibu yang berani mencoba usaha.

Dari pemuda yang memilih membantu.

Dari seorang anak yang mulai percaya bahwa ia boleh memiliki cita-cita.

Pada suatu sore, Erlangga dan Khinanti berdiri di depan Rumah Baca Harapan. Tidak jauh dari sana, beberapa anak sedang membaca di teras. Suara tawa mereka bercampur dengan suara angin yang bergerak di antara pepohonan.

Erlangga memandang jalan desa yang membentang ke arah Dusun Timur.

“Dulu aku pulang karena ingin mencari ketenangan,” katanya.

Khinanti menoleh kepadanya.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu, pulang bukan hanya tentang mencari ketenangan.”

“Lalu tentang apa?”

Erlangga tersenyum.

“Pulang adalah tentang menemukan alasan untuk memberi manfaat.”

Khinanti mengangguk pelan.

Mereka kemudian melihat beberapa pemuda membawa bibit tanaman ke arah kebun bersama. Di belakang mereka, Bu Ratna berjalan sambil membawa beberapa produk Rasa Makmur untuk dikirim ke pasar. Pak Wiryo duduk di bawah pohon sambil mengawasi anak-anak yang bermain, sesekali memberi nasihat tentang cara merawat tanaman.

Desa itu terus bergerak.

Tidak cepat.

Tidak selalu mudah.

Tetapi terus bergerak.

Erlangga dan Khinanti memahami bahwa pengabdian tidak pernah selesai hanya karena satu program berhasil atau satu jalan telah diperbaiki. Pengabdian adalah kesediaan untuk tetap hadir ketika desa membutuhkan tenaga, pikiran, dan kepedulian.

Mereka juga memahami bahwa cinta tidak hanya hidup dalam kata-kata manis.

Cinta hidup dalam kesediaan untuk saling menguatkan.

Dalam keberanian untuk bertahan.

Dalam keputusan untuk berjalan bersama, meski jalan yang dilalui tidak selalu rata.

Di bawah langit sore Desa Suka Makmur, cahaya matahari perlahan menyentuh jalan yang dahulu penuh lumpur.

Kini, jalan itu menjadi saksi.

Saksi tentang warga yang pernah ragu.

Saksi tentang banjir yang pernah menguji.

Saksi tentang musyawarah yang melahirkan harapan.

Saksi tentang cinta yang tumbuh bersama pengabdian.

Dan saksi tentang dua orang yang memilih pulang bukan untuk berdiam diri, melainkan untuk membangun.

Sebab, desa bukan hanya tempat untuk kembali.

Desa adalah tempat untuk menanam harapan, merawat kebersamaan, dan meninggalkan jejak yang tetap menyala.

TAMAT

 

© 2013 Rahadian. All rights resevered. Designed by Templateism